Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Jiwa Ditubuh Maya
Satu jam lalu, sebelum Maya pingsan...
JLEB!
JLEB!
JLEB!
Suara tusukan yang menghantam tubuh itu terdengar jelas di telinga Priska. Di ruangan sempit yang dipenuhi aroma besi bercampur darah, dia hanya mampu menatap nanar sosok yang berdiri di hadapannya. Tangannya sudah terlalu lemah untuk bergerak, tubuhnya terasa dingin, dan napasnya makin pendek setiap detik.
Sosok yang berdiri di depannya bukan orang asing. Itu Yasmin, sahabat yang selama ini selalu berada di sisinya.
Tatapan mata Yasmin membara penuh amarah. Tak ada lagi kelembutan atau rasa peduli seperti biasanya. Yang tersisa hanyalah kebencian yang begitu dalam. Dengan tangan gemetar namun penuh emosi, Yasmin terus menghujamkan pisau ke tubuh Priska tanpa ragu.
Priska ingin bertanya kenapa. Ingin berteriak. Ingin melawan. Namun semua terasa sia-sia. Tubuhnya sudah terlalu lemah akibat kehilangan banyak darah. Setiap luka membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya seperti api yang membakar dari dalam. Penglihatannya perlahan kabur, tetapi dia masih bisa melihat jelas ekspresi wajah Yasmin yang dipenuhi dendam.
Priska tahu. Siapa pun yang nanti menemukan jasadnya pasti akan mengerti kalau pembunuhan ini bukan terjadi karena kebetulan. Cara Yasmin menyerangnya menunjukkan satu hal yang jelas, ada kebencian besar yang dipendam sejak lama.
Darah menetes ke lantai satu demi satu. Suara napas Priska terdengar berat. Dia mencoba mengangkat tangan, tetapi gagal. Tenaganya habis. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari dunia gelap mafia, Priska merasakan ketakutan yang benar-benar nyata. Bukan takut pada kematian. Melainkan takut karena dirinya dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Yasmin akhirnya berhenti. Dadanya naik turun menahan emosi. Pisau di tangannya berlumuran darah.
Priska menatapnya lemah. Bibirnya bergerak pelan, berusaha mengatakan sesuatu. Namun tidak ada suara yang keluar. Dunia di sekelilingnya mulai gelap. Pendengarannya perlahan menghilang. Rasa sakit yang tadi begitu kuat berubah menjadi kehampaan.
Pada akhirnya, Priska menutup mata. Kegelapan langsung menyelimuti semuanya. Tidak ada suara. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada apa pun. Anehnya, kegelapan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa saat kemudian, Priska perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia rasakan adalah dingin. Bukan dingin kematian. Melainkan dingin ruangan ber-AC. Dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang rumah sakit.
Langit-langit putih menyambut pandangannya. Lampu ruangan menyala redup. Kesunyian terasa begitu aneh. Priska langsung duduk pelan sambil memegang kepalanya yang terasa berat. Dia masih mengingat jelas bagaimana Yasmin membunuhnya.
Kalau begitu, kenapa dia masih hidup? Napasnya memburu. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencoba memahami keadaan. Ruangan itu tampak biasa saja. Tidak ada siapa-siapa. Saat pandangannya berhenti pada jendela di sisi ruangan, tubuh Priska langsung membeku. Di sana ada pantulan wajah seseorang.
Seorang gadis remaja dengan wajah pucat dan tubuh kurus. Itu bukan dirinya. Priska langsung turun dari ranjang dengan langkah tergesa. Jantungnya berdetak begitu cepat. Dia berlari menuju kamar mandi kecil di dalam ruang rawat. Begitu sampai di depan cermin, napasnya tercekat.
Wajah itu kembali muncul. Wajah asing. Mata besar yang tampak lelah. Kulit pucat. Bibir kering. Tidak ada sedikit pun kemiripan dengan dirinya.
“AAAA!”
Priska refleks berteriak sambil melangkah mundur. Tubuhnya hampir jatuh karena syok melihat pantulan di depan cermin.
“Apa-apaan ini?” gumamnya panik. Tangannya langsung memegang wajah itu. Pipinya, rambutnya, semua terasa nyata.
“Ini bukan aku... ini bukan wajahku...” ucapnya lirih.
Priska menampar pipinya beberapa kali, berharap semua itu hanyalah mimpi buruk. Namun rasa sakit yang muncul justru membuatnya sadar. Ini nyata. Dia benar-benar hidup. Tetapi bukan sebagai dirinya sendiri.
Priska menatap pantulan itu lama sekali. Pikirannya kacau. Dia ingat dengan jelas bagaimana pisau Yasmin menembus tubuhnya berkali-kali. Dia seharusnya mati.
Lalu kenapa sekarang dia berada di tubuh orang lain?
Belum sempat dia menemukan jawaban, tiba-tiba kepalanya terasa nyeri. Priska memegang pelipis sambil meringis. Dalam sekejap, kilatan-kilatan ingatan asing mulai bermunculan di kepalanya. Begitu cepat dan jelas.
Priska melihat kehidupan seorang gadis bernama Maya. Semakin banyak ingatan itu muncul, semakin dalam pula rasa marah yang tumbuh di dalam dirinya. Maya ternyata memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengannya. Jika Priska dikenal sebagai wanita kuat yang hidup di dunia mafia dan terbiasa menghadapi kekerasan, maka Maya adalah kebalikannya.
Maya terlalu lemah dan takut melawan. Ingatan demi ingatan terus mengalir. Priska melihat bagaimana Maya selalu diperlakukan buruk di rumah. Kakak tirinya sering bersikap kasar dan melewati batas terhadap dirinya. Maya berkali-kali diperlakukan dengan tidak pantas, sementara setiap penolakan hanya membuatnya menerima bentakan dan kekerasan.
Tidak ada yang melindunginya. Tidak ada yang peduli. Maya hanya diam. Menangis sendirian. Memendam semua rasa takutnya. Tetapi penderitaan Maya tidak berhenti di rumah.
Di sekolah, hidupnya bahkan lebih buruk. Priska bisa melihat jelas bagaimana Maya menjadi sasaran perundungan hampir setiap hari. Tasnya dibuang. Bukunya dirusak. Dia dihina di depan banyak orang. Bahkan tidak sedikit murid lain yang ikut menertawakan penderitaannya.
Yang paling membuat Priska marah adalah saat dia melihat salah satu kenangan ketika Maya disakiti dengan bara rokok. Maya hanya menahan sakit sambil menangis. Tidak melawan dan juga membalas.
“Sialan...” desis Priska pelan. Kilatan ingatan itu akhirnya berhenti. Napasnya memburu. Dia menatap pantulan tubuh Maya di depan cermin dengan mata tajam.
Tanpa sadar, tangannya bergerak membuka lengan baju rumah sakit yang dikenakannya. Benar saja, ada beberapa bekas luka kecil di lengannya. Bekas perlakuan buruk yang diterima Maya. Tatapan Priska langsung berubah dingin.
“Kenapa kau diam saja saat mendapatkan semua ini?” gumamnya lirih seolah berbicara kepada Maya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat.
Sebagai seseorang yang tumbuh di dunia penuh kekerasan, Priska tahu satu hal. Kalau dunia tidak akan pernah berhenti menyakiti orang lemah.
Dan Maya terlalu lemah untuk bertahan sendirian. Priska mengedarkan pandangan ke seluruh kamar mandi.
“Maya... kalau sekarang aku yang ada di tubuhmu, lalu kau di mana?” tanyanya.
Tentu saja tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan dari luar. Priska memejamkan mata beberapa detik. Dia mencoba memahami situasi aneh yang sedang dialaminya.
Tubuh baru. Kehidupan baru. Kesempatan kedua. Perlahan, dia mulai menyadari sesuatu. Mungkin dirinya memang sudah mati. Entah bagaimana, dia kini hidup di tubuh Maya.
Bukan tanpa alasan. Priska membuka mata kembali. Tatapannya kini berubah tajam dan penuh tekad.
“Mungkin alasan aku ada di tubuh ini karena anak ini terlalu lemah,” ucapnya pelan.
Dia kembali menatap pantulan dirinya di cermin. “Atau mungkin... dunia sedang memberiku kesempatan kedua.”
Bibirnya membentuk senyum tipis. Senyum itu bukan senyum lembut. Melainkan senyum dingin yang mengandung ancaman.
“Kalau begitu, akan aku tunjukkan apa itu perlawanan.”
Aura yang keluar dari dirinya berubah. Meski tubuh yang dia tempati sekarang terlihat lemah dan rapuh, jiwa di dalamnya tetaplah Priska. Wanita yang selama ini hidup di dunia mafia. Wanita yang tidak pernah takut menghadapi kekerasan. Sekarang orang-orang yang dulu menyakiti Maya akan segera menyesali semuanya.
Priska menarik napas panjang lalu keluar dari kamar mandi. Baru beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara dari luar ruangan.
“May? Kau di toilet?”
Priska langsung menghentikan langkah. Dia mengenali suara itu dari ingatan Maya.
Jamie, kakak tiri Maya. Orang yang selama ini sering membuat hidup Maya penuh ketakutan. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka pelan. Seorang pria masuk sambil membawa plastik berisi makanan.
Wajahnya terlihat santai seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Namun bagi Priska, sosok itu langsung membangkitkan rasa muak.
Dalam ingatan Maya, Jamie berkali-kali bersikap tidak pantas dan membuat gadis itu hidup dalam ketakutan. Maya menatap Jamie tanpa berkedip. Tatapan dingin yang sama sekali berbeda dari Maya biasanya.
Jamie tampak tidak menyadari perubahan itu. Dia tetap melangkah masuk sambil mengangkat plastik makanan.
Maya perlahan tersenyum. Namun senyum itu bukan senyum hangat. Melainkan senyum tipis penuh arti. Senyum sinis.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔