Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BABAK BARU SHINTA EMPIRE
BABAK BARU SHINTA EMPIRE
Pagi itu, langit Jakarta di atas kawasan Sudirman tampak begitu cerah, seolah ikut merayakan lahirnya sebuah dinasti baru. Di depan lobi utama gedung perkantoran setinggi dua puluh lantai yang dulunya dipenuhi aura kelam keserakan keluarga Pratama, kini riuh oleh tepuk tangan ratusan karyawan dan jepretan kamera wartawan.
Kain selubung beludru hitam berukuran raksasa perlahan ditarik turun dari atas fasad gedung. Di balik kain itu, lambang lama Snack Pratama telah lenyap seutuhnya, digantikan oleh jajaran huruf logam kuningan tebal berwarna emas yang berkilau mewah di bawah sinar matahari: SHINTA GROUP.
Amira berdiri di atas podium kecil di tengah pelataran lobi. Penampilannya benar-benar memancarkan aura seorang ratu bisnis yang sah. Ia mengenakan gaun terusan hamil berpotongan formal berwarna putih salju, dipadukan dengan blazer berwarna krem yang senada. Rambutnya disanggul modern dengan rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak segar dan bercahaya.
Kandungan Amira kini telah resmi memasuki bulan ketiga. Meskipun ia sempat berjuang melawan rasa mual yang parah di minggu-minggu awal konflik, pagi ini tubuhnya terasa begitu bertenaga. Sinar matanya tidak lagi memancarkan kesedihan, melainkan ketegasan seorang wanita mandiri yang siap memimpin puluhan ribu karyawannya menuju masa depan yang baru.
"Mulai hari ini," suara Amira bergaung jernih melalui pengeras suara, terdengar begitu tenang namun penuh dengan wibawa mutlak, "kita tidak hanya memproduksi makanan ringan untuk pasar lokal. Kita akan melakukan ekspansi besar-besaran, merombak standar kualitas, dan membuktikan bahwa nama Shinta Group adalah simbol dari integritas, kerja keras, dan profesionalisme."
Gemuruh tepuk tangan karyawan baru dan tim manajemen bentukan Pak Sanusi membahana memenuhi pelataran gedung. Setelah memotong pita peresmian secara simbolis, Amira melangkah masuk ke dalam lobi utama dengan kepala tegak, diapit oleh Pak Sanusi dan dua pengawal setianya.
Lantai dua puluh, ruang kerja Direktur Utama.
Ruangan yang dulunya dipenuhi oleh berkas-berkas korupsi Aris dan barang-barang mewah norak pilihan Lista kini telah dirombak total oleh Amira. Desainnya berubah menjadi sangat elegan dengan sentuhan kayu jati muda, dinding bercat abu-abu lembut, dan beberapa tanaman hijau segar di sudut ruangan yang memberikan ketenangan.
Amira mendudukkan dirinya di kursi kulit besar di balik meja kerja mahoni yang luas. Ia mengembuskan napas panjang, menatap pemandangan cakrawala kota Jakarta dari balik dinding kaca besar di depannya. Di tangannya, ia memegang sebuah proposal rencana perluasan jaringan distribusi yang baru saja disiapkan.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruang kerja diketuk perlahan. Sekretaris baru Amira, seorang wanita muda yang sangat profesional bernama rhea, melangkah masuk dengan wajah yang sedikit bingung sambil membawa sebuah kotak kargo berukuran sedang yang dibungkus kertas semen tanpa nama pengirim.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Ibu Amira," ujar Rhea sambil membungkuk hormat. "Ada sebuah paket kilat yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis bawah. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi di atas kotak tertulis dengan jelas bahwa paket ini hanya boleh dibuka oleh Ibu Amira sendiri."
Amira mengernyitkan dahi. Pak Sanusi yang sedang duduk di sofa ruang tamu kerja langsung berdiri dan mendekat dengan waspada. "Biar pengawal yang memeriksanya dulu, Nduk. Kita tidak tahu apakah ini sisa-sisa teror dari simpatisan Aris atau bukan."
"Tidak apa-apa, Pak Sanusi. Biarkan ditaruh di atas meja," jawab Amira tenang.
Setelah Rhea meletakkan kotak itu dan pamit keluar, Amira menggunakan pisau pemotong kertas kecil untuk membuka lakban pengikatnya. Begitu tutup kotak terbuka, tidak ada bom atau barang berbahaya di dalamnya. Hanya ada seberkas bundel dokumen tebal bersampul plastik hitam.
Amira menarik dokumen itu keluar. Namun, begitu ia membaca halaman sampulnya, jantungnya berdegup kencang.
Itu adalah Berkas Analisis Pasar Ekspor Internasional milik Shinta Group yang drafnya baru saja selesai disusun oleh tim internal mereka kemarin malam secara rahasia. Yang membuat bulu kuduk meremang adalah seluruh lembaran halaman putih dokumen tersebut sengaja dicoret-coret dengan tinta tebal berwarna merah darah.
Di halaman paling belakang, terdapat sebuah tulisan tangan besar yang sangat tajam dan kasar menggunakan tinta merah yang sama:
"KAU PIKIR SETELAH MENYINGKIRKAN KECOAK SEPERTI ARIS, KAU BISA DENGAN MUDAH MENGUASAI PASAR? NIKMATILAH TAKHTA PALSUMU SEMENTARA WAKTU, AMIRA. KERAJAAN BISNIS BARUMU INI AKAN SEGERA MENJADI KUBURAN BAGI ANAK DI DALAM RAHIMMU."
Pak Sanusi yang ikut membaca tulisan tersebut langsung membelalakkan mata, wajahnya menegang drastis. "Astaga! Ini ancaman pembunuhan dan sabotase korporasi skala besar! Siapa... siapa sebenarnya yang berani mengirimkan ini ke kantor pusat kita?!"
Amira meremas tepian kertas dokumen tersebut hingga sedikit lecek. Alih-alih gemetar ketakutan seperti saat ia menghadapi intimidasi Aris dulu, mata Amira justru berkilat tajam, memancarkan amarah yang dingin dan mematikan. Kompetitor bisnis baru telah resmi menyatakan perang terbuka padanya, mengincar takhta yang baru saja ia rebut kembali dari tangan para pengkhianat.
Amira melemparkan dokumen bernoda tinta merah itu ke atas meja dengan suara hantaman yang keras, sementara Pak Sanusi bergegas menelepon tim keamanan siber untuk melacak asal kurir pengantar paket. Sesuai dengan alur Outline Plot Arc 2 di Bab 32 besok pagi: Amira tidak akan mundur selangkah pun dari ancaman teror ini, melainkan langsung menggelar pertemuan darurat luar biasa bersama Om Harlan untuk menandatangani Aliansi Resmi bersama Wijaya Holdings Singapura guna mengunci jalur ekspor dan membalikkan keadaan melawan kompetitor misterius tersebut.