Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
***
Mesin mobil Rolls-Royce itu menderu halus, membelah jalanan kota yang mulai sepi di tengah malam. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, suasana terasa sangat kontras. Nadia duduk di kursi belakang, masih dengan gaun midnight blue-nya yang memukau, namun wajahnya ditekuk. Ia terus mendumel pelan, mengabaikan kemewahan di sekelilingnya.
"Dasar ulat keket nggak tahu diri. Bisa-bisanya dia bahas soal asal-usul bayi di depan umum. Kalau bukan karena aku jaga image keluarga Hadiwinata, sudah kupastikan sanggulnya miring sebelah tadi," gerutu Nadia sambil melipat tangan di depan dada.
Raditya yang duduk di sebelahnya hanya diam. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang empuk, matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya jelas tidak sedang berada di jalanan.
"Mas Radit juga! Kenapa tadi diam saja pas Siska ngomong begitu? Harusnya Mas bantuin aku dong, bukannya malah bengong kayak patung manekin," lanjut Nadia, kini sasarannya berpindah pada suaminya.
Raditya tetap bergeming. Ia hanya mengangkat tangannya, perlahan menarik simpul dasinya hingga melonggar, lalu membuka satu kancing teratas kemeja putihnya. Gerakan itu terlihat sangat maskulin dan penuh tekanan.
"Mas dengar nggak sih? Aku ini lagi bela harga diri kita, lho. Kalau mereka meragukan bayi ini, itu sama saja meragukan Mas sebagai laki-laki!" Nadia menoleh, menatap tajam ke arah Raditya yang masih tampak sangat tenang.
Raditya memiringkan kepalanya sedikit. Cahaya lampu jalanan yang masuk secara bergantian melalui jendela mobil menciptakan bayangan dramatis di wajah tegasnya. Matanya yang tajam menatap Nadia tanpa berkedip sebuah tatapan yang sulit diartikan, namun mengandung kilatan yang membuat bulu kuduk Nadia meremang.
"Sudah bicaranya?" suara Raditya terdengar sangat rendah, hampir menyerupai geraman halus yang bergetar di udara.
Nadia tersentak. Ia mencoba menegakkan punggung, berusaha mempertahankan sisa-sisa keberanian "barbar"-nya. "I-iya, sudah. Kenapa? Mas mau marah karena aku terlalu berisik? Mas mau bilang kalau aku nggak sopan lagi?"
Raditya tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menggeser posisi duduknya. Perlahan, namun dengan dominasi yang pasti, ia mendekat ke arah Nadia. Nadia secara refleks mundur hingga punggungnya menempel keras pada pintu mobil, terjebak di antara kemewahan interior mobil dan sosok suaminya yang mengintimidasi.
"Tadi di pesta... saya mendengar sesuatu yang sangat menarik, Nadia," ucap Raditya. Ia mengangkat lengannya, meletakkannya di sandaran kursi tepat di belakang kepala Nadia, mengurung wanita itu dalam jangkauan tubuhnya. "Sesuatu tentang betapa 'perkasanya' suamimu ini di ranjang."
Wajah Nadia yang tadinya merah karena sisa amarah, kini berubah menjadi merah padam karena rasa malu yang meledak. Ia menelan saliva dengan susah payah, merasa tenggorokannya mendadak kering.
"Itu... itu kan cuma alibi! Strategi, Mas! Aku kan cuma mau membungkam mulut ulat-ulat keket itu yang sudah kotor meragukan bayi ini!" Nadia mencoba membela diri dengan suara yang sedikit bergetar. "Mas harusnya berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan reputasi Mas, bukan malah menyudutkan aku begini!"
"Bukan malah apa?" potong Raditya cepat. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nadia. Aroma parfum kayu cendana dan citrus yang maskulin mulai menguasai seluruh indra penciuman Nadia, membuatnya sedikit pening. "Kamu bilang saya 'tidak kenal ampun' dan 'tidak memberikan celah untuk menolak', bukan? Kalimat itu terdengar sangat meyakinkan keluar dari bibirmu tadi."
Nadia memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan intens yang seolah bisa menembus jantungnya itu. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
"Ya... ya habisnya mereka nyebelin banget! Siska itu kalau nggak dikasih syok terapi nggak bakal diam! Aku harus kasih mereka sesuatu yang bikin mereka bungkam dan malu sendiri. Jadi, ya... aku cuma asal ngomong saja tadi! Spontan!"
"Asal ngomong?" Raditya terkekeh pelan. Suara tawa itu tidak terdengar lucu, melainkan sangat berbahaya sekaligus menggoda.
Pria itu menggunakan tangan satunya untuk menarik dagu Nadia dengan lembut namun tegas, memaksa wanita itu kembali menatap matanya yang gelap.
"Nadia, kamu baru saja memberikan ekspektasi yang sangat tinggi pada semua nyonya besar di sana. Mereka sekarang membayangkan suamimu ini sebagai sosok yang sangat berbeda di balik pintu kamar."
Raditya menjeda kalimatnya, suaranya memberat. "Dan yang lebih penting... kamu baru saja memberikan ekspektasi itu pada saya."
Nadia mengerjap, matanya membelalak. "M-maksudnya?"
"Maksud saya, kamu tidak bisa menyebarkan 'iklan' sehebat itu lalu berharap saya tidak menagih buktinya," bisik Raditya, bibirnya hampir menyentuh telinga Nadia. "Kamu sudah membuat klaim, Nyonya Hadiwinata. Dan sekarang, saya jadi penasaran... bagaimana cara saya menunjukkan bahwa ucapanmu itu bukan sekadar bualan?"
Nadia benar-benar salah tingkah. Jiwa Aurelia yang biasanya berani kini mendadak menciut di bawah dominasi Raditya yang selama ini ia kira hanya sebuah "robot" kaku. Ternyata, di balik jas mahal dan sikap dingin itu, tersimpan sisi predator yang sangat mematikan.
"Mas... Mas jangan aneh-aneh ya," bisik Nadia lemah, tangannya secara tidak sadar mencengkeram lengan kemeja Raditya.
"Saya tidak aneh-aneh. Saya hanya ingin mempertanggungjawabkan reputasi yang sudah kamu bangun untuk saya," sahut Raditya dengan senyum tipis yang terlihat sangat licik namun tampan di saat bersamaan.
Di dalam kabin yang panas itu, Nadia menyadari satu hal: Ia baru saja menggoda singa yang sedang tidur, dan sekarang singa itu benar-benar bangun.
Nadia salah tingkah. Keberanian "barbar"-nya seolah menguap begitu saja saat berhadapan dengan mode Raditya yang seperti ini. "Mas... Mas jangan kaku-kaku banget lah. Itu kan cuma akting sosialita."
"Tapi saya bukan aktor, Nadia. Saya pebisnis. Dan dalam bisnis, jika seseorang membuat klaim, dia harus bisa mempertanggungjawabkannya," bisik Raditya tepat di depan bibir Nadia.
Nadia bisa merasakan napas hangat Raditya menyentuh kulitnya. Perut buncitnya terasa sedikit kencang karena detak jantungnya yang menggila. "Ma-maksud Mas apa?"
"Maksud saya..." Raditya menatap mata Nadia dengan dalam, menelusuri setiap inci wajah cantik istrinya yang kini tampak sangat menggemaskan dalam ketakutannya. "Bagaimana jika perkataanmu tadi kita buktikan saja? Agar kamu tidak dianggap berbohong oleh kolega saya."
Nadia membelalak. "Mas! Aku lagi hamil empat bulan, ya! Mas jangan macam-macam!"
Raditya tidak mundur. Ia justru semakin mendekat, hidung mereka kini hampir bersentuhan. Suasana di dalam mobil itu terasa begitu intim dan penuh debaran. "Saya tahu kamu hamil. Dan saya tahu batasannya. Tapi bukankah kamu sendiri yang bilang kalau saya 'tidak kenal ampun'?"
Nadia merasa tubuhnya melemas. Dinding pertahanan yang ia bangun runtuh seketika. "Mas... Mas Kulkas kok jadi begini, sih? Mana Raditya yang dingin dan membosankan itu?"
Raditya terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis benar-benar tipis namun sangat menawan—muncul di bibirnya. "Dia sedang libur malam ini. Sekarang yang ada di depanmu adalah suami yang menuntut 'hak' atas promosi yang sudah kamu sebarkan."
Nadia tidak tahu harus menjawab apa. Ia benar-benar kalah telak. Jiwa Aurelia yang biasanya barbar kini hanya bisa terdiam membisu di bawah dominasi pria yang selama ini ia sebut robot.
Tepat saat Raditya semakin menipiskan jarak, mobil perlahan berhenti. Mereka telah sampai di pelataran mansion.
Raditya menjauhkan tubuhnya sedikit, namun matanya tetap mengunci Nadia. Ia kembali merapikan kerah kemejanya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kita sudah sampai," ucap Raditya kembali ke nada datarnya, namun dengan sorot mata yang masih menyimpan percikan api. "Turunlah. Dan persiapkan dirimu... karena pertanggungjawabanmu baru saja dimulai."
Nadia keluar dari mobil dengan langkah yang terasa melayang. Ia memegangi perutnya, berbisik pada bayinya, "Nak... Papa kamu beneran rusak programnya. Tapi kok... Mama malah deg-degan ya?"
Di belakangnya, Raditya berjalan mengikuti dengan langkah tegap, menatap punggung Nadia dengan senyum misterius yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada siapa pun.
****
Bersambung....
Otw unboxing Aurelie nih, xixixi ....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor