Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.Seni Jimat — Kematian Sang Raja Emas dan Cincin Pertama
Nyala api dari ketiga bola itu meledak tepat di atas tubuh kekar Beruang Emas Pencabik. Di saat yang sama, tiga tiang kayu runcing yang masih tertancap kokoh di tanah itu seolah tersentuh oleh kekuatan rahasia, menyerap energi panas dari ledakan tadi lalu ikut terbakar habis menjadi obor raksasa.
Seperti hukum alam yang tak terbantahkan — kayu adalah bahan bakar terbaik bagi api — kobaran yang tadinya hanya sepercik, seketika menjulang tinggi, melilit seluruh tubuh makhluk buas itu hingga melewati puncak kepalanya.
Dalam sekejap, ia terkurung di tengah lautan api yang mengamuk, udara di sekelilingnya menjadi panas menyengat hingga tanah di bawah kakinya mulai retak dan mengering.
"Mengaummm—!!"
Raungan kesakitan yang mengerikan membelah udara. Rasa panas itu bukan sekadar membakar bulu atau kulit luarnya;
karena api itu masuk lewat tiga luka tusukan yang masih terbuka lebar, rasa sakit itu menembus hingga ke daging, ke otot, hingga ke tulang-tulangnya sendiri.
Rasanya seolah seluruh tubuhnya sedang direbus hidup-hidup. Beruang Emas itu mengamuk tak tentu arah, menghentakkan kaki besarnya ke tanah, berusaha menggelindingkan diri untuk memadamkan nyala api itu,
namun semakin ia bergerak, semakin luas jangkauan api yang menjalar. Di bawah siksaan rasa sakit yang tak tertahankan itu, ia mengerahkan seluruh tenaga kasarnya, aura kekuatan jiwa berwarna keemasan meletup dari dalam tubuhnya,
dan dengan satu hantaman cakar yang penuh amarah, ia akhirnya berhasil merobohkan salah satu tiang kayu pembatas itu, menerobos keluar dari lingkaran api meskipun bulu keemasannya kini sudah hangus hitam, kulitnya penuh luka bakar, dan asap hitam mengepul dari seluruh tubuhnya.
Namun kemenangan itu hampa. Ia berdiri di sana, napasnya memburu, pandangannya kabur oleh rasa sakit dan amarah yang meluap-luap. Di dalam kepalanya yang sederhana, hanya ada satu tujuan: menemukan musuh kecil yang licik ini dan merobeknya menjadi debu.
Raungannya bergema begitu dahsyat hingga mengguncang seluruh penjuru hutan, membuat makhluk-makhluk buas bertingkat rendah di sekitarnya lari tunggang langgang ketakutan. Beberapa kelompok pemburu roh yang sedang berburu di radius beberapa kilometer pun berhenti sejenak, menoleh ke arah sumber suara itu dengan wajah pucat.
"Itu... suara Beruang Emas Pencabik? Siapa yang berani mengganggu makhluk itu?"
"Gila. Bahkan Tetua Roh tingkat tiga puluh ke atas pun harus berhati-hati, apalagi menyerangnya. Siapa gerangan yang begitu berani?"
Mereka bertanya-tanya, namun tak ada satu pun yang menyangka bahwa sosok yang memicu kekacauan dahsyat ini hanyalah seorang pemuda berusia dua belas tahun, dengan kekuatan jiwa tingkat sepuluh, yang kini sedang duduk diam bersembunyi di dahan pohon raksasa yang tinggi, matanya dingin dan penuh perhitungan, mengamati setiap gerak-gerik musuhnya dari balik dedaunan lebat.
Xiao Xuan sama sekali tidak berniat turun ke tanah dan beradu kekuatan fisik secara langsung. Ia tidak bodoh. Ia tahu betul apa bedanya kekuatan tubuh manusia dengan makhluk buas berusia empat ratus tahun itu.
Strateginya sederhana namun mematikan: menyerang dari bayang-bayang, menggunakan seni jimat yang ia pelajari, dan memanfaatkan kelemahan musuh sampai benar-benar tidak berdaya.
Di bawah sana, Beruang Emas itu masih mengamuk, merobohkan pohon-pohon besar seolah itu hanya rumput liar, melampiaskan rasa sakit dan kemarahannya pada apa saja yang ada di jangkauannya.
Namun perlahan namun pasti, tenaganya mulai menipis. Luka bakar yang parah, ditambah kehilangan banyak darah akibat tusukan sebelumnya, membuat gerakannya menjadi lebih lambat, napasnya semakin berat dan pendek. Akhirnya,
setelah kelelahan menguasai dirinya, ia menyeret tubuhnya yang penuh luka dan menghitam itu berjalan terhuyung-huyung kembali ke arah sarangnya sebuah gua dangkal di balik tumpukan bebatuan besar, tempat yang selama ini ia anggap sebagai benteng teraman.
Ia mengira bahaya sudah berlalu. Ia mengira musuhnya sudah lari ketakutan atau tersembunyi entah ke mana. Kewaspadaannya yang sudah rendah kini semakin jatuh ke titik terendah. Ia hanya ingin sampai ke sarang, berbaring, dan memulihkan tenaganya.
Namun tepat saat ia melangkah masuk ke bawah naungan bebatuan, saat sinar matahari tertutup di atas kepalanya...Rembesan udara yang berat dan tebal tiba-tiba terasa.
Beruang Emas itu mendongak samar-samar, matanya yang kabur menangkap bayangan besar yang menghalangi cahaya di atasnya.
Sebelum otak binatang itu sempat memproses apa yang terjadi, suara ledakan tertahan terdengar, dan sepotong dinding tanah raksasa tebalnya lebih dari satu meter, lebar tiga meter jatuh menukik lurus ke bawah dengan kekuatan gravitasi yang dahsyat.
DUKK!!
Suara benturan yang berat dan memekakkan telinga menggema. Tanah bergetar hebat. Beruang Emas itu yang sedang lengah dan sama sekali tidak bersiap,
langsung tertimpa beban berat itu, tubuhnya terjepit kuat ke tanah, kaki-kakinya terbenam ke dalam tanah yang lunak karena tekanan yang luar biasa.
Ia meraung kaget dan kesakitan, mencoba mengangkat kepala dan bahunya yang kekar itu untuk melepaskan diri, tenaga sisa yang besar masih tersimpan di otot-ototnya.
Namun Xiao Xuan sudah memperhitungkan hal itu.
Dari tempat persembunyiannya, jari-jarinya bergerak cepat, dua lembar jimat berwarna cokelat tanah lainnya melayang ke udara,
dan seketika itu juga dua dinding tanah raksasa lainnya muncul dari kiri dan kanan, jatuh dan menindih tubuh bagian belakang dan pinggang makhluk itu.
Dukk! Dukk!
Sekarang, tubuh raksasa itu terjepit rapat di bawah tiga dinding tanah padat yang saling menyilang, membentuk sangkar berat yang tak tergoyahkan.
Tidak peduli seberapa kuat tenaganya, berat tanah dan batu itu berkali-kali lipat lebih besar dari daya angkatnya. Ia terkurung, tidak bisa bergerak, hanya bisa menggeram marah di bawah tumpukan tanah itu.
"Permainan sudah berakhir," bisik Xiao Xuan pelan dari atas pohon, matanya berkilat dingin.
Tangan kanannya kembali meraih dua lembar jimat hijau tua lainnya Jimat Duri Kayu Penusuk. Kali ini, ia tidak menunggu lagi. Ia mengaktifkan kedua jimat itu sekaligus, menyalurkan kekuatan jiwanya secara langsung ke titik-titik paling vital yang bisa ia lihat melalui celah-celah tanah itu.
"Keluar!"
Dua suara melengking terdengar seolah benda tajam menembus udara. Di bawah sana, tepat di bagian dada dan perut
Beruang Emas yang sudah terluka parah itu, dua tiang kayu tajam kembali menembus naik dari dalam tanah, menusuk masuk ke dalam tubuhnya tepat di bekas luka lama yang belum tertutup.
"Engaaaaa—!!"
Kali ini bukan lagi raungan amarah, melainkan jeritan kepedihan yang panjang dan parau. Darah merah segar seketika membanjiri celah di antara dinding tanah dan tubuhnya, mengalir deras ke tanah, membuat bau besi yang pekat memenuhi udara.
Tusukan itu bukan hanya melukai daging, tetapi juga merobek pembuluh darah besar dan organ dalamnya. Kekuatan hidupnya yang besar kini mengucur keluar bersama darah itu dengan kecepatan yang mengerikan.
Gerakan perlawanannya melemah drastis. Raungannya semakin pendek, semakin lemah. Tubuh besarnya yang bergetar hebat perlahan menjadi diam,
hanya tersentak-sentak kecil karena sisa-sisa rasa sakit yang menyiksa. Ia terbaring di sana, terjepit tak berdaya, menunggu detik-detik terakhir hidupnya habis dikuras habis oleh waktu dan luka yang mematikan itu.
Xiao Xuan diam memperhatikan dari atas. Ada rasa kagum yang samar di matanya, bukan pada makhluk itu, melainkan pada seni jimat yang ia kuasai.
Tanpa perlu menebas pedang, tanpa perlu beradu pukulan, hanya dengan menggambar simbol-simbol dan memahami rahasia energi alam, ia mampu menjatuhkan makhluk yang bahkan seorang Tetua Roh pun enggan untuk dijadikan lawan.
Memang seni yang luar biasa, batinnya. Selama kecerdasan makhluk itu terbatas dan cara berpikirnya masih sederhana, strategi ini akan selalu berhasil. Dan semakin kuat jimat yang bisa kugambar nanti... kekuatannya pasti akan melampaui imajinasi.
Waktu berlalu perlahan. Matahari bergeser ke barat. Berjam-jam lamanya Xiao Xuan menunggu dengan sabar, tidak turun sedikit pun, tetap waspada.
Hingga akhirnya, gerakan di bawah sana benar-benar hilang. Napas berat itu sudah tidak terdengar lagi. Aura buas yang dahsyat itu perlahan memudar, menjadi samar, lalu lenyap sepenuhnya.
Kini saatnya.
Xiao Xuan melompat turun dari dahan pohon setinggi belasan meter itu, tubuhnya melayang ringan menyentuh tanah tanpa suara sedikit pun.
Ia berjalan mendekati tumpukan dinding tanah itu, lalu dengan sentuhan kekuatan jiwa ringan, ia memecah struktur tanah buatan itu. Tembok-tembok raksasa itu hancur kembali menjadi gumpalan tanah biasa, tersingkaplah sosok Beruang Emas Pencabik yang kini terbaring diam.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kecil dan kurus dibandingkan saat masih hidup, akibat kehilangan darah yang sangat banyak. Kulitnya yang gosong dan penuh luka kini terlihat kaku dan pucat.
Xiao Xuan mengeluarkan pisau kecil tajam yang dibelinya dari kota, langkah kakinya tenang dan mantap. Saat ia berdiri di samping kepala makhluk itu, sepasang mata besar yang masih sedikit terbuka perlahan bergerak, menatap ke arahnya dengan sisa kebencian terakhir.
Mulutnya bergerak pelan, taringnya yang panjang dan tajam sedikit terbuka seolah ingin menggeram atau mengumpat, namun tak ada suara yang keluar lagi.
"Sudah selesai," ucap Xiao Xuan datar, tanpa emosi, namun juga tanpa ejekan.
Tangan kanannya bergerak cepat. Pisau kecil itu menusuk tepat ke tengah celah di antara kedua mata, menembus masuk hingga ke otak, memastikan bahwa nyawa makhluk itu benar-benar sudah habis, tak ada lagi kesempatan untuk bangkit.
Tubuh besar itu tersentak satu kali, lalu benar-benar diam selamanya.
Tak lama kemudian, cahaya berwarna kuning keemasan perlahan memancar keluar dari tubuh bangkai itu. Cahaya itu berputar, memadat, dan perlahan naik melayang ke udara, membentuk sebuah cincin berkilauan yang memancarkan hawa kekuatan yang berat dan padat Cincin Roh Beruang Emas Pencabik, usia 400 tahun.
Xiao Xuan tersenyum tipis. Akhirnya. Ini adalah cincin roh pertamanya.
Namun ia tidak langsung menyentuhnya. Ia mengingat catatan-catatan yang pernah dibacanya. Konon, semakin kuat emosi binatang roh sebelum mati, semakin besar kemungkinan ia meninggalkan Tulang Roh bagian tubuh yang mengandung kekuatan murni dan kemampuan khusus yang jauh lebih berharga daripada cincin roh biasa.
Ia mulai memeriksa seluruh bagian tubuh bangkai itu dengan teliti, dari kepala hingga kaki, meraba tulang-tulangnya, mencari bagian yang terasa berbeda atau memancarkan energi khusus.
Namun setelah berputar berulang kali, ia hanya menghela napas panjang. Tidak ada apa-apa selain cincin itu saja.
"Katanya kalau marah besar sebelum mati peluangnya makin besar..." gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala sedikit kecewa. "Ah, sudahlah. Mungkin memang belum rezeki. Mendapatkan cincin empat ratus tahun ini saja sudah jauh melampaui harapan siapa pun di tingkatku."
Ia tidak membuang waktu lagi. Dengan tenaga yang tersisa, ia menyeret bangkai besar itu masuk ke dalam gua tempat tinggalnya, lalu menumpuk bebatuan di pintu masuk secara kasar untuk menutupinya sedikit.
Tempat ini adalah wilayah kekuasaan makhluk itu, jadi binatang roh lain pasti enggan mendekat karena masih merasakan sisa aura pemilik tempat ini.
Di dalam sana, dengan penerangan api kecil yang ia nyalakan, ini adalah tempat paling aman untuk melakukan penyerapan energi roh.
Xiao Xuan duduk bersila di lantai tanah gua yang kering. Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan napasnya, dan memulihkan sedikit kekuatan jiwanya yang sempat terpakai saat mengendalikan jimat-jimat tadi.
Berbeda dengan pertarungan fisik, seni jimat memang menguras energi batin, namun untungnya ia hampir tidak menggunakan tenaga fisik sama sekali, jadi kondisinya masih cukup baik.
Setelah merasa siap sepenuhnya, ia mengulurkan tangan kanannya ke udara, menarik cincin roh berwarna kuning emas itu perlahan mendekat ke arah dadanya.
Saat cincin itu menyentuh kulit dadanya, suara dengungan panjang terdengar, rendah namun bergetar hingga ke seluruh tulang sum-sumnya.
"Berdengunggggg...!!"