NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Bab 17: Pertemuan di Bengkel

Hendra mengamuk di ruang kerjanya.

“Belum ada kabar sama sekali?!”

Suara bentakannya menggema.

Seminggu berlalu. Anak buahnya belum menemukan jejak Liana dan Arka.

---

Siang itu, Liana naik taksi menuju kafe.

Di tengah jalan, taksinya mogok. Pas kebetulan, bengkel tua ada tepat di depan.

Liana turun, dan napasnya tercekat.

Di depan pintu bengkel, berdiri seorang pria paruh baya dengan overall lusuh. Wajahnya familiar.

“Pak Hadi?” suara Liana bergetar.

Pria itu menoleh. Matanya membulat.

“Nona Liana…”

Tanpa pikir panjang, Liana langsung memeluknya erat.

Bagi Liana, Pak Hadi bukan sekadar sopir ayahnya. Dia keluarga.

“Kau baik-baik saja, Nona?” suara Pak Hadi bergetar balik.

“Kalau kau mau tahu kebenaran… masuklah ke dalam.”

Liana mengangguk. Mereka baru saja melangkah masuk ketika ponsel Liana bergetar.

SMS dari Arka:

“Jangan keluar dari bengkel itu. Di luar nggak aman.”

Liana terpaku.

“Ada apa, Nona?” tanya Pak Hadi pelan.

Belum sempat Liana menjawab—

BRAK!

Pintu bengkel didobrak dari luar.

Empat pengawal berseragam hitam masuk, diikuti Hendra dengan wajah penuh amarah.

“Selamat, Pak Hadi. Orang kepercayaan Pak Dimas Saraswati,” ejek Hendra sambil tersenyum miring.

“Liana, kembalikan flashdisk itu padaku. Jangan sampai aku harus pakai kekerasan.”

Pak Hadi langsung melangkah maju, menutupi Liana.

Ia berbisik cepat:

“Nona, lari lewat pintu belakang. Sekarang!”

Belum sempat Liana bergerak—

BUK!

Arka muncul dari luar, menendang salah satu pengawal hingga terjatuh.

Matanya tajam menatap Hendra.

“Ohh… jadi ini salah satu pengkhianat di Wijaya Group,” ucap Hendra pelan, nadanya dingin dan tegas.

“Demi melindungi orang asing, kau berani melawan pamanku sendiri?”

Arka meludah ke samping, bibirnya sudah pecah.

“Sebelum kau menyentuh Liana… langkahi dulu mayatku.”

Tanpa aba-aba, adu jotos pecah.

Arka melawan dua pengawal sekaligus. Tinju bertubi-tubi mendarat. Darah mengalir dari pelipisnya, tapi ia tidak mundur.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melesat dari sudut ruangan.

Satu pukulan tepat mendarat di rahang pengawal terakhir. Orang itu roboh seketika.

Semua terdiam.

Sosok itu perlahan melepas masker hitamnya.

Hendra menatap, wajahnya memucat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.

“K-Ka… kamu?”

Pria itu menatap Hendra lurus-lurus.

“Kau tidak berubah, Hendra.”

Hendra mundur selangkah.

“Bukannya… kau sudah meninggal?”

Arka tersenyum tipis meski bibirnya berdarah.

Pak Dimas—ayah Liana—berdiri di sana, hidup.

Belum sempat ada yang bicara, Hendra refleks merogoh pinggangnya.

DOR!

Tembakan meletus.

Pak Dimas tanpa ragu melompat, menutupi Arka.

“AAHH!”

Tubuh Pak Dimas tersentak. Darah mulai membasahi kemejanya.

“LIAAA!” Arka berteriak.

Liana hanya bisa berdiri mematung. Kakinya seperti dipaku di lantai. Air mata mengalir tanpa suara.

Dari kejauhan, suara sirene polisi semakin dekat.

Hendra mengumpat pelan.

“Pergi! Sekarang!”

Ia dan pengawalnya langsung kabur lewat pintu belakang, meninggalkan kekacauan.

---

Ruangan kembali hening.

Hanya ada suara napas berat, dan suara Pak Dimas yang berbisik pelan:

“Liana… ayah pulang.”

Lampu lorong rumah sakit putih menyilaukan.

Bau antiseptik menusuk hidung.

Pak Dimas langsung dilarikan ke ruang operasi. Liana ikut berlari di samping Brankar, tangannya mencengkeram ujung selimut ayahnya seolah takut dilepas sedikit saja, ia akan kehilangan lagi.

“Operasi butuh waktu 2 jam,” kata dokter.

Liana hanya mengangguk. Ia duduk di depan ruang ICU, lututnya gemetar. Arka duduk di sampingnya, diam tapi tangannya menggenggam bahu Liana erat.

Tiga jam kemudian, lampu operasi padam.

Pintu terbuka.

Dokter keluar, melepas masker.

“Operasi berjalan lancar. Pelurunya tidak mengenai organ vital. Tapi pasien masih lemah. Boleh dijenguk 5 menit, satu orang saja.”

Liana langsung berdiri.

“Aku.”

---

Di dalam ruang ICU

Suara mesin detak jantung tit… tit… tit… mengisi ruangan.

Pak Dimas terbaring, wajahnya pucat, selang oksigen menempel di hidungnya.

Liana mendekat perlahan, takut mengganggu. Ia menggenggam tangan ayahnya yang dingin.

“Ayah…” suaranya pecah.

Kelopak mata Pak Dimas bergerak pelan. Saat melihat Liana, sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Liana…” suaranya parau, hampir tak terdengar.

Liana langsung menunduk, menempelkan dahinya di tangan ayahnya.

“Jangan ngomong dulu, Yah. Hemat tenaga. Ayah harus sembuh.”

Pak Dimas menggeleng pelan. Tangannya mengusap punggung tangan Liana dengan lemah.

“Nggak… Ayah harus ngomong sekarang. Kalau nggak, Ayah takut nggak sempat.”

Liana mengangkat kepala, matanya merah.

“Ngomong apa, Yah?”

Pak Dimas menarik napas pendek.

“Maaf… karena Ayah ninggalin kamu sendirian selama ini. Maaf karena bawa kamu ke dalam bahaya ini.”

Liana menggeleng cepat.

“Jangan minta maaf, Yah. Kalau bukan karena Ayah, aku nggak akan pernah tahu kebenaran. Aku nggak akan sekuat ini.”

Pak Dimas tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu mirip ibumu… keras kepala, tapi hatinya lembut. Ayah bangga sama kamu, Lia. Bangga banget.”

Liana menahan tangisnya.

“Ayah jangan ngomong kayak mau pergi. Kita udah sampai sini. Ayah harus lihat Hendra dipenjara. Ayah harus lihat aku menang.”

Pak Dimas mengangguk pelan.

“Ayah akan lihat. Ayah janji.”

Ia mengangkat tangan gemetar, menyentuh pipi Liana.

“Jaga diri kamu ya, nak. Arka itu anak baik. Dia jagain kamu dengan nyawanya.”

Liana menoleh ke pintu, di luar Arka masih menunggu. Ia mengangguk.

“Iya, Yah. Aku tahu.”

Dokter mengetuk pintu pelan.

“Waktunya habis, Nona.”

Liana mencium kening ayahnya hati-hati.

“Istirahat ya, Yah. Aku nggak akan jauh. Aku tunggu di luar.”

Pak Dimas menutup mata pelan.

“Ayah… sayang kamu.”

Liana berbisik balik, suaranya nyaris tak terdengar.

“Aku juga sayang Ayah. Lebih dari apa pun.”

---

Pintu ICU tertutup lagi.

Liana keluar dengan mata bengkak, tapi punggungnya tegak.

Arka langsung berdiri.

“Gimana?”

Liana mengangguk.

“Ayah kuat. Kita kuat.”

Mereka berdua duduk di kursi tunggu. Di luar, langit mulai gelap. Tapi untuk pertama kalinya dalam seminggu, Liana merasa… ada harapan.

Bersambung...

🙏🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!