NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:144k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebrutalan Xavier

Gerakan pinggul Xavier makin cepat, kasar, dan tak kenal ampun. Suara benturan tubuh mereka menggema di dalam tenda, bercampur dengan rintihan tertahan dan napas berat yang memenuhi ruangan itu. Tidak ada kelembutan, tidak ada rasa sayang, yang ada hanyalah amarah yang meledak-ledak dan hasrat yang meluap-luap, keduanya menyatu menjadi satu kekuatan dahsyat yang menghancurkan pertahanan diri Azura.

Bagi Xavier, setiap kali ia bergerak masuk dan keluar dari tubuh Azura, rasanya seperti sedang melampiaskan semua rasa sakit, kekecewaan, dan rasa dikhianati yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Setiap tusukan itu seakan berkata,

Lihat apa yang kau lakukan padaku, dan apa yang kau dapatkan sekarang.

Ia merasa kecewa luar biasa, hatinya terasa remuk saat menyadari Azura ternyata bukan lagi wanita suci seperti yang ia bayangkan. Pemikiran buruk mulai memenuhi kepalanya, berpikir bahwa wanita ini memang murahan, bahwa ia mungkin telah menyerahkan dirinya pada laki-laki lain sebelum menikah, bahkan mungkin bukan hanya pada satu pria. Pikiran itu membuat api kemarahannya semakin berkobar hebat, membuat gerakannya makin buas dan menyakitkan.

"Kau memang wanita murahan!" desis Xavier di sela-sela napasnya yang memburu, suaranya terdengar kasar dan penuh kebencian.

"Sangat mudah dijamah, sangat mudah menyerahkan tubuhmu. Tidak heran kau begitu pandai bermain peran dan menipu."

Azura yang terbaring di bawahnya sudah tidak mampu lagi melawan. Tubuhnya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh perlakuan brutal Xavier. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari bagian paling dalam tubuhnya, namun anehnya, rasa sakit itu bercampur dengan sensasi nikmat yang memalukan dan tak bisa ia tolak.

Tubuhnya seolah punya kehendak sendiri, menyesuaikan diri dengan gerakan Xavier, bahkan terkadang bergerak menyambut setiap tusukan kasar itu. Ia benci dirinya sendiri karena merasakan hal itu, benci karena tubuhnya ternyata masih merespons sentuhan lelaki yang sangat membencinya itu.

"Xavier... s-sakit..." rintihnya pelan dengan nada memohon.

"Tolong... k-kurangi kecepatannya ..." air matanya keluar dari sudut mata.

Namun permohonannya sama sekali tidak didengar oleh Xavier. Lelaki itu justru mempercepat gerakannya, menabrakkan pinggulnya semakin keras hingga menimbulkan rasa nyeri yang menusuk tulang. Bagi Xavier, rintihan itu bukan tanda kesakitan, melainkan suara kenikmatan palsu yang biasa dilakukan wanita licik seperti dirinya. Ia menganggap Azura sedang berpura-pura lagi, sedang mencoba memanipulasinya dengan kepura-puraannya yang tak ada habisnya itu.

"Berhenti berakting!" bentak Xavier tajam, matanya menatap tajam ke wajah Azura yang memerah dan berkeringat.

"Aku tidak akan terbuai lagi dengan air matamu atau rintihanmu! Nikmati saja apa yang kau mulai sendiri!"

Tak lama kemudian, sebuah gelombang rasa nikmat yang luar biasa tiba-tiba melanda seluruh tubuh Azura, membuatnya menegang kaku sejenak, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan suara jeritan tertahan yang panjang.

Kakinya melengkung kaku, keringat dingin membasahi seluruh kulitnya, dan tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai puncak kenikmatan itu meski di tengah rasa sakit yang mendera. Ia malu sekali, ingin rasanya ia menghilang saja dari bumi ini saat menyadari bahwa Xavier berhasil membuatnya mencapai puncak itu dalam kondisi yang begitu menyedihkan dan penuh kebencian ini.

Xavier sendiri terkejut sekaligus puas melihat reaksi tubuh Azura. Senyum sinis terukir di bibirnya. Ia merasa menang, merasa berhasil menundukkan wanita itu, berhasil membuktikan bahwa bagaimanapun juga tubuh Azura tetap menginginkannya, meski hati dan mulutnya berkata lain.

Tanpa memberi jeda sedikitpun untuk memulihkan diri, Xavier tiba-tiba menarik miliknya keluar, lalu dengan kasar membalikkan tubuh Azura hingga kini posisi wanita itu tengkurap di atas kasur, pantatnya terangkat tinggi menghadap ke arahnya.

Azura terengah-engah, dadanya naik turun hebat, wajahnya menempel di kain kasar kasur itu. Ia sudah sangat lelah, tulang-tulangnya terasa nyeri dan sakit sekali. Namun ia tak berdaya, tenaganya sudah habis terkuras. Ia hanya bisa pasrah saat Xavier menekan punggungnya hingga ia tak bisa bergerak sama sekali, lalu kembali membuka paha wanita itu lebar-lebar.

Posisi ini membuat serangan Xavier menjadi jauh lebih dalam, jauh lebih tajam, dan jauh lebih menyakitkan sekaligus nikmat. Tanpa peringatan, Xavier kembali menusuk masuk hingga ke dasar, membuat Azura tersentak keras dan kembali menjerit kecil.

Gerakannya kini makin tak terkendali, didorong oleh gairah yang memuncak tinggi dan keinginan untuk menghukum wanita itu habis-habisan. Ia bergerak seperti binatang buas yang kelaparan, menghantam berulang kali dengan irama yang cepat dan kuat.

Azura merasa seolah tubuhnya akan hancur lebur dihantam berkali-kali. Suara tamparan tubuh mereka terdengar begitu jelas dan keras, berpadu dengan suara napas berat dan rintihan yang kian lama kian melelahkan. Azura sudah tidak sanggup lagi.

"Cukup, Pangeran ... tolong... s-sudah... aku tidak kuat lagi..." ucapnya dengan suara parau yang hampir tak terdengar.

"Tolong berhenti... aku mohon..."

Lagi-lagi Xavier tidak mendengarnya. Ia terus melanjutkan permainannya, bahkan makin mengerahkan tenaganya. Ia terus dan terus melakukannya, mengubah posisi sesuka hatinya, memainkan tubuh Azura seolah itu hanyalah mainan tak bernyawa yang bisa ia perlakukan sesuka hati.

Mereka melakukannya berulang kali, bergelut di atas kasur itu hingga baju dan seprai menjadi kusut dan basah oleh keringat dan cairan. Azura sudah berkali-kali mencapai puncaknya hingga ia merasa pusing, lemas, dan hampir pingsan karena kehabisan tenaga, sementara gairah Xavier seolah tak ada habisnya, terus membara dan menuntut lebih banyak lagi.

Hingga akhirnya, setelah satu serangan terakhir yang begitu dalam dan dahsyat, Xavier mengeluarkan erangan berat panjang, tubuhnya menegang kaku sejenak, lalu akhirnya ia melepaskan isinya di dalam tubuh Azura. Ia tetap diam di posisinya selama beberapa detik, terengah-engah hebat, menyalurkan sisa-sisa rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Perlahan, Xavier menarik batangnya keluar dan jatuh terbaring lemas di samping Azura. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun hebat, keringat mengucur deras dari pelipis dan tubuh kekarnya. Ia menoleh ke samping, menatap sosok Azura yang kini terbaring diam tak berdaya, telentang dengan mata terpejam rapat, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah yang pucat. Tubuh wanita itu penuh dengan bekas merah dan memar di sana-sini, bukti nyata betapa kejam dan kasarnya perlakuan Xavier barusan.

Suasana di dalam tenda itu mendadak menjadi hening, hanya terdengar suara napas berat keduanya yang perlahan mulai teratur kembali. Tidak ada yang bicara. Xavier masih dipenuhi rasa marah, kecewa, dan bingung, sementara Azura dipenuhi rasa sakit dan malu luar biasa.

Bagi Azura, apa yang baru saja terjadi bukanlah hubungan suami istri yang mesra dan penuh cinta, melainkan sebuah pelecehan, penghinaan, dan hukuman berat yang harus ia tanggung karena takdir dan kesalahannya terhadap laki-laki itu.

Xavier akhirnya bangkit dari tidurnya, berdiri dengan tubuh yang masih terasa lemas namun hatinya terasa aneh. Ia menatap Azura sekali lagi dengan tatapan dingin yang kosong, lalu dengan acuh tak acuh ia mengambil pakaiannya, mengenakannya kembali seolah tak terjadi apa-apa barusan. Setelah itu ia beranjak pergi, keluar dari tenda itu.

1
j4v4n3s w0m3n
lanjuttt ahhh 👍
j4v4n3s w0m3n
aduh azura.knp.gak cerita aja sih ...
Usagi tzukino
cieee yg marah istrinya di jelekin orang,
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
Soraya
mampir thor
van aurora
puas bgt part ini..arghh..gitu dong xavier
Hanima
👍👍👍
Hanima
/Sweat//Cry/
Ko
Rasainnn kau azura.. Xavier itu tulus menyayangi & merawat kau dlu tapi kau menipunya. Dasar wanita jahat. Lagian udh gak suci lg sbg istri pangeran mahkota..
Syifa Azhar
ana dan isol baiknya kalian laporkan keadaan azura pada pangeran Xavier biar bisa bantu selamatkan putranya😀💪
🌿🌺WINA🌸🌿
Pangeran xavier tidak rela istrinya dihina dan direndahkan, bagus pangeran xavier bela istrimu...pangeran xavier sampai mengancam elish kasih pelajaran...
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...

putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...

putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...

pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...

kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
wanti astuti
Mamposs loh elish... Makanya mulut tuh di jaga jangan kaya ember bocor nyerocoss aja terus luh
mimief
harga diri istrinya adalah muka sang suami bukan?
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
🌿🌺WINA🌸🌿
Demi keselamatan anaknya, putri azura rela diperlukan kasar sama pangeran xavier... pangeran xavier makin marah dan emosi salahpaham, putri azura tidak mau berkata jujur...

putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....

tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...

pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
Bunda Dzi'3
Ana Isol Hrsnya Klian Ceritakan ke Xavier menderitanya Azura Di kerajaan nya Sndri 😭
faridah ida
kereen̈ Xavier ...👍👍👍👍
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍
Rina
perjalanan mereka kayaknya rumit Dan masih panjang.. semoga Ada kebahagiaan ya..
faridah ida
bener Xavier , maka nya kamu jangan percaya sama mulut Elish ..
faridah ida
bener2 nih sih Elish mulut nya jahat banget ,...
faridah ida
harusnya kamu sama Xavier bilang jujur aja Azura ...
Lembang Azam
coba pelayan putri Azura bilang yg sebenarnya sama pangeran, dg jaminan keselamatan thorrr😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!