Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Udara pagi di Swiss terasa begitu segar, seolah setiap tarikan napas membawa ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Matahari baru saja muncul, langit terlihat berwarna biru pucat dengan semburat keemasan. Jalanan tampak bersih dan rapi, dengan bangunan-bangunan klasik yang berdiri anggun di sepanjang sisi jalan.
Zayyan sudah duduk di lobi hotel sejak beberapa menit yang lalu. Ia mengenakan jaket tebal berwarna gelap, tangannya sesekali dimasukkan ke dalam saku untuk menahan dingin. Pandangannya sesekali melirik ke arah lift menunggu sang kekasih.
Tak lama, pintu lift terbuka. Lolly muncul dengan mantel panjang berwarna krem, rambutnya tergerai rapi. Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian Zayyan, gadis itu tidak menatap sekelilingnya, mencari keberadaannya. Matanya justru terpaku pada layar ponsel di tangannya.
Jempolnya bergerak cepat, sesekali ia tersenyum kecil, bahkan tertawa pelan.
Zayyan mengernyit. Dia beranjak dari tempat duduknya menghampiri gadis itu
“Ayo,” ajaknya.
Lolly hanya mengangguk tanpa benar-benar menatapnya. Ia berjalan di samping Zayyan, tapi seolah pikirannya berada di tempat lain. Mereka berdua masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa janggal.
Lolly yang biasanya banyak bicara, tapi hari ini, ia justru diam. Bahkan saat Zayyan beberapa kali mencoba membuka percakapan, jawabannya hanya singkat dan seadanya.
“Lihat itu, pemandangannya sangat bagus?” kata Zayyan sambil menunjuk sebuah danau dengan air sebening kaca.
“Iya,” jawab Lolly tanpa menoleh.
Zayyan menghela napas pelan.
Mobil yang membawa mereka berhenti. Zayyan dan Lolly turun dari mobil, keduanya berjalan beriringan, dan berhenti di sebuah trotoar kecil dengan bangku kayu menghadap danau. Orang-orang mulai berlalu lalang, beberapa turis tampak sibuk mengambil foto.
Namun lagi-lagi, Lolly justru berdiri di sana sambil terus mengetik di ponselnya. Kesabaran Zayyan mulai menipis, tapi ia masih berusaha menahan diri.
“Kamu sedang chattingan sama siapa?” tanya Zayyan akhirnya.
“Mama,” jawab Lolly singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Beberapa detik kemudian, gadis itu tersenyum sendiri membaca pesan di layar ponselnya.
Zayyan menatapnya lekat.
“Kalian sedang membahas apa? Sepertinya seru” tanyanya lagi.
“Tidak ada, kami hanya mengobrol biasa saja” jawab Lolly cepat, kali ini sedikit gugup, tapi tetap tidak menatapnya.
Hening.
Angin dingin berhembus melewati mereka, membawa aroma air dan pepohonan. Namun suasana di antara mereka justru terasa kaku.
Zayyan menoleh ke arah danau, berusaha tetap tenang. Ia bukan tipe orang yang mudah curiga, atau cemburu, tapi sikap Lolly pagi ini jelas berbeda. Tidak seperti saat berangkat.
“Baby,” panggilnya pelan.
“Iya?” jawab gadis itu, masih fokus pada layar.
“Bisa simpan dulu ponselnya?” ucap Zayyan, kali ini nadanya lebih serius. "Aku ingin kita menikmati acara liburan ini"
Lolly akhirnya mengangkat wajahnya, melihat ke arah Zayyan. Dia terdiam sejenak menatap laki-laki itu.
“Iya maaf” jawabnya pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Namun, wajahnya terlihay kesal.
Zayyan menyadari itu, dan entah kenapa, hatinya justru terasa semakin tidak nyaman.
“Mama kamu kenapa?” tanyanya, mencoba mencari penjelasan.
Lolly ragu sejenak sebelum menjawab.
“Tidak kenapa-kenapa kok. Cuma... nanya kabar aja.”
Zayyan mengangguk pelan, tapi jelas ia tidak sepenuhnya percaya.
“Terus kenapa kamu kelihatan... beda?” tanyanya lagi, lebih pelan, lebih hati-hati.
Lolly mengalihkan pandangannya ke arah danau.
“Aku cuma lagi mikir,” jawabnya.
“Mikir apa?”
Lolly terdiam. Angin kembali berhembus, membuat ujung rambutnya bergerak pelan.
“Aku kangen rumah,” ucapnya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
Zayyan terdiam. Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti alasan saja. Ia menatap Lolly beberapa saat, mencoba membaca ekspresi gadis itu. Namun Lolly justru menunduk, menghindari tatapannya.
Zayyan menghela napas panjang. “Kalau kamu kangen, kita bisa pulang lebih cepat,” katanya. Dia tidak ingin liburan jika Lolly tidak menikmatinya.
Lolly langsung menggeleng.
“Tidak usah. Kita kan baru sampai.”
“Terus?”
“Aku cuma... lagi pengen sendiri aja” jawabnya.
Kata-kata itu membuat Zayyan sedikit tersentak.
Sendiri? Padahal sejak awal, perjalanan ini adalah rencana mereka berdua, untuk mengabulkan impian Lolly. Untuk menciptakan kenangan berdua, tanpa gangguan siapa pun. Namun sekarang, justru Lolly yang menciptakan jarak.
Zayyan bangkit dari duduknya.
“Ya sudah, kita lanjut aja” ucapnya singkat.
Lolly ikut berdiri, tapi kali ini langkahnya sedikit lebih lambat. Mereka kembali berjalan berdampingan, namun suasananya tidak lagi sama seperti yang Zayyan bayangkan semalam.
Tidak ada tawa, tidak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Hanya langkah kaki yang terdengar di antara dinginnya pagi Swiss.
Dan di dalam hati Zayyan, mulai tumbuh satu pertanyaan yang mengganggu. Benarkah Lolly hanya chatting dengan mamanya? Atau ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan?
Perjalanan mereka berlanjut dalam diam yang terasa semakin menekan. Zayyan tetap berjalan di depan, sesekali menoleh memastikan Lolly masih mengikutinya. Sementara Lolly berjalan beberapa langkah di belakang, memeluk dirinya sendiri, entah karena dingin… atau karena perasaan yang tak ia mengerti.
Sampai akhirnya sampai di sebuah tempat yang begitu indah, sebuah dataran tinggi dengan hamparan padang rumput hijau, dihiasi bunga-bunga liar berwarna-warni. Di kejauhan, pegunungan Alpen berdiri megah, puncaknya diselimuti salju putih yang berkilauan terkena sinar matahari. Di sisi lain, sebuah danau tenang memantulkan langit biru seperti cermin raksasa.
Angin berhembus lembut, membawa ketenangan yang seharusnya bisa dirasakan siapa pun yang berdiri di sana.
Lolly menatap sekelilingnya, wajahnya tampak berbinar melihat pemandangan di hadapannya.
“Oh God… indah banget…” lirihnya tanpa sadar.
Zayyan menoleh, memperhatikan ekspresi Lolly. Ada senyum tipis yang akhirnya muncul di wajahnya. Hatinya sedikit menghangat melihat itu.
“Makanya aku bawa kamu ke sini,” ucap Zayyan pelan.
Lolly menatapnya sekilas, lalu kembali melihat pemandangan di depan. “Terima kasih,” katanya tulus.
Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam, menikmati suasana. Namun kali ini, diamnya terasa berbeda, lebih tenang, meski masih ada jarak yang belum terjembatani.
Zayyan menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.Tangannya masuk ke dalam saku mantel.
“Sayang,” panggilnya.
“Iya?” Lolly menoleh.
Zayyan melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini hanya sejengkal. Tatapannya dalam, berbeda dari biasanya.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan ke kamu” ucapnya serius.
Lolly mengernyitkan keningnya, wajahnya terlihat bingung.
Zayyan menatapnya beberapa detik, lalu perlahan berlutut di hadapan gadis itu.
Lolly langsung membelalak kaget.
“Zayyan… kamu ngapain?” suaranya bergetar.
Namun Zayyan tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Dan membukanya. Sebuah cincin sederhana namun elegan berkilau di dalamnya, memantulkan cahaya matahari.
“Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku sudah memikirkan ini matang-matang" ucap Zayyan, suaranya dalam dan penuh kesungguhan.
Lolly menutup mulutnya, tak menyangka.
“Aku sudah berjanji sama diriku sendiri… kalau aku nggak akan menyentuh kamu sebelum aku halalkan kamu,” lanjut Zayyan. “Dan satu-satunya cara untuk itu… ya dengan menikahimu.”
Angin berhembus pelan, seakan ikut menjadi saksi.
“Aku nggak butuh waktu lama buat yakin sama kamu, Lolly. Aku tahu kamu orang yang aku mau ajak hidup bareng. Bukan cuma hari ini… tapi selamanya.”
Zayyan menatapnya dalam. “Will you marry me"
Sunyi. Dunia seakan berhenti sejenak. Lolly menatap cincin itu… lalu menatap Zayyan. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun bukan karena bahagia, melainkan karena sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.
“Zayyan…” suaranya lirih.
Zayyan menunggu. Harapan jelas terlihat di matanya.
Namun beberapa detik kemudian, Lolly menggeleng pelan. Satu gerakan kecil… yang terasa seperti menghancurkan segalanya.
“Maaf…” ucapnya pelan.
Zayyan terpaku. Senyum yang tadi sempat muncul kini perlahan memudar.
“Aku… nggak bisa,” lanjut Lolly, suaranya semakin bergetar.
Zayyan masih diam. Seolah belum benar-benar mencerna apa yang baru saja ia dengar.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya, pelan… tapi penuh tekanan.
Lolly menunduk. “Aku belum siap,” jawabnya.
“Belum siap… atau memang nggak mau?” potong Zayyan, kali ini nadanya berubah lebih tajam.
Lolly terdiam. Diamnya… justru menjadi jawaban.
Zayyan tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena menahan kecewa yang tiba-tiba memuncak. “Jadi selama ini aku salah ya?” ucapnya. Dia berpikir selama ini Lolly benar-benar mencintainya dan ingin hidup bersama dengannya. Tapi ternyata tidak.
“Bukan gitu—”
“Terus apa?” Zayyan berdiri, menatap Lolly dengan mata yang mulai memerah.
Lolly meneteskan air mata. “Aku mencintaimu Zayyan, sungguh"
“Kalau kamu mencintaiku, lalu kenapa kamu menolakku?,” tanya Zayyan.
Sunyi kembali menyelimuti. Lolly menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis.
“Aku tidak bisa menikah dengan kamu"
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tepat di dada Zayyan.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥