NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUMPAHAN AIR MATA DAN RASA SAKIT

Alana melangkah mendekati ranjang dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia menyentuh lengan Samudera sekilas, lalu memberikan kode dengan gerakan kepala ke arah luar kamar.

​Samudera mendongak. Ia mengangguk paham. Dengan sangat hati-hati, ia melepaskan jari telunjuknya yang sempat digenggam Arka, membetulkan letak selimut tipis sang putra, lalu bangkit berdiri. Tubuh jangkungnya melangkah anggun mengekor di belakang Alana keluar dari kamar bernuansa biru tersebut.

​Alana menutup pintu kamar Arka dengan sangat rapat, menyisakan sedikit celah agar suara mereka tidak mengganggu tidur siang putranya.

​Mereka berjalan menuju area ruang tengah yang kini terasa begitu sepi. Udara siang yang gerah sedikit terobati oleh embusan angin dari jendela yang sengaja Alana buka setengah. Alana berbalik, melipat kedua tangannya di dada—sebuah gestur pertahanan diri yang reflek ia lakukan setiap kali merasa terintimidasi oleh kehadiran Samudera.

​"Kita perlu bicara," ucap Alana membuka percakapan, suaranya pelan namun terdengar sangat serius dan dingin. "Tapi bukan di sini. Ayo ke teras belakang."

​Samudera hanya diam dan mengikuti langkah kaki Alana menuju teras belakang rumah yang langsung menghadap ke taman kecil berisi beberapa tanaman hias. Tempat ini lebih aman dari risiko membangunkan Arka.

​Begitu sampai di luar, Alana membalikkan badannya. Matanya yang sembap menatap lurus ke sepasang mata tajam Samudera.

​"Aku berterima kasih untuk apa yang kamu lakukan pada Arka tadi," ujar Alana, memulai dengan pengakuan yang jujur walau terasa berat di lidahnya. "Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada putraku."

​Samudera menghela napas pendek, menyandarkan paruh tubuhnya pada pembatas teras. "Dia putraku juga, Alana. Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Kamu tidak perlu berterima kasih untuk itu."

​"Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa selama empat tahun ini dia hanya mengenalku!" serang Alana cepat, nadanya kembali defensif. "Kamu datang tiba-tiba, membuat janji ini-itu pada anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Kamu tahu seberapa besar dampak kata-katamu tadi bagi psikologis Arka?"

​Samudera menatap Alana lekat-lekat. Aura bersalah di matanya berganti menjadi kilat ketegasan seorang pria yang tidak ingin lagi melarikan diri dari tanggung jawab. "Lalu apa yang kamu inginkan, Alana? Membiarkanku berpura-pura menjadi orang asing setelah dia sendiri yang meminta aku menjadi ayahnya? Membiarkan dia terus merasa sedih setiap kali guru lesnya bertanya tentang sosok ayahnya?"

​Pertanyaan balik dari Samudera membuat Alana bungkam seketika. Pertahanan yang ia bangun dengan ego seolah membentur kebenaran yang tak terbantahkan.

Kata-kata Samudera barusan menjadi jarum terakhir yang meletuskan balon emosi yang dipendam Alana selama empat tahun ini. Pertahanan dirinya runtuh total. Rasa lelah karena berjuang sendirian, rasa takut kehilangan Arka, dan rasa bersalah karena membiarkan anaknya merindukan sosok ayah, semuanya tumpah menjadi satu.

​"Kamu tidak mengerti!" jerit Alana tertahan, suaranya serak menahan tangis agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar Arka.

​Alana melangkah maju, air matanya meluncur deras membasahi pipi. Dengan kedua tangan yang mengepal, ia mulai memukuli dada bidang Samudera.

​Buk! Buk! Buk!

​"Kamu tidak tahu rasanya menjadi aku, Samudera! Kamu tidak tahu rasanya diusir oleh keluarga sendiri saat perutku mulai membesar!" Alana terus memukuli dada Samudera dengan sisa-sisa kekuatannya. Pukulan-pukulan itu tidak kuat bagi tubuh tegap Samudera, namun setiap pukulannya membawa beban penderitaan yang teramat berat.

​"Aku harus menahan mual di depan murid-murid lesku demi uang! Aku harus menahan sakit sendirian di rumah sakit saat melahirkan Arka! Di mana kamu saat itu? Di mana?!" Alana terisak hebat, pukulannya perlahan melemah, berubah menjadi remasan tidak berdaya pada kemeja putih Samudera. Tubuhnya melorot lemas, namun Samudera dengan cekatan langsung menangkap pinggang Alana.

​Samudera tidak menghindar, tidak juga membalas. Ia membiarkan dada dan kemejanya menjadi sasaran kemarahan dan rasa sakit hati Alana. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar setiap untaian kalimat yang keluar dari bibir wanita itu. Rasa bersalahnya kini semakin menggunung, mengalir menjadi penyesalan yang teramat dalam.

​"Maaf... maafkan aku, Alana," bisik Samudera lirih.

​Ia menarik tubuh Alana yang terkulai lemas ke dalam dekapan dadanya, memeluk wanita itu dengan sangat erat seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang telah Alana lalui sendirian selama empat tahun ini. Tangan besarnya mengusap lembut rambut Alana, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya di dadanya, membasahi kemejanya dengan air mata yang telah lama tertahan.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!