Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Maya
"Jangan, Kak Jamie! Aku mohon..." ujar Maya sambil berlinang air mata. Dia berusaha menolak sentuhan paksa dari kakak tirinya, Jamie.
Saat itu memang mereka hanya berduaan di rumah. Jamie selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyentuh adik tirinya sendiri. Jujur saja, itu sudah lama dia lakukan. Tepatnya satu tahun lalu, semenjak Maya menginjak kelas satu SMA.
Maya berusaha melawan sekuat tenaga. Dia bahkan menepis tangan Jamie saat cowok itu berusaha melepas bajunya.
PLAK!
Sebuah tamparan keras Jamie daratkan ke pipi Maya. Matanya menyalang penuh amarah.
"Berhentilah melawan, bitc*h! Kau itu lemah! Jadi nggak ada gunanya ngelawan!" geram Jamie.
Maya seketika mematung. Tangisannya kian menjadi-jadi. Namun dia menghentikan perlawanan karena tamparan itu. Alhasil Jamie kini bisa dengan mudahnya melucuti pakaian Maya.
Ketika tak ada satu helai benang pun yang menutupi tubuh Maya, Jamie langsung melancarkan aksi bejat yang sudah dianggap hal biasa baginya.
"Ah! Aah Ah!" Desahan Jamie terdengar jelas di telinga Maya. Sementara Maya sendiri hanya bisa menangis.
Sentuhan yang diberikan Jamie sekarang, sama sekali tidak nikmat bagi Maya. Malah sebaliknya, sentuhan itu menyakitkan. Rasanya Maya merasa tubuhnya seperti dicabik-cabik oleh binatang buas.
Maya benar-benar tak mengerti kenapa kakak tirinya itu sangat bernafsu dengannya. Padahal Jamie diketahui punya paras tampan dan sudah punya pacar. Cowok itu pasti mampu meniduri cewek lain di luar sana. Tapi kenapa di antara semua cewek, Jamie malah memilih adik tirinya sendiri.
Ketika puncak kenikmatan hampir tiba, Jamie langsung menghentikan penyatuan. Dia sengaja mengeluarkan cairannya di luar agar Maya tidak hamil. Itulah yang Jamie lakukan untuk menyembunyikan aksi bejatnya.
Senyuman lebar yang menampakkan gigi itu terukir di wajah Jamie. Namun menambah beban mental untuk Maya.
"Tubuhmu kenapa memar-memar begitu, hah? Kau juga makin kurus aja," hina Jamie.
Maya tak menjawab. Entah kenapa dia merasa tubuhnya sangat lemas. Dia bahkan tak berdaya untuk mengenakan pakaian. Air mata bercucuran di pipinya. Ia rasanya sudah tak sanggup dengan semua penderitaan ini. Di rumah maupun di sekolah, Maya selalu mendapat penindasan. Sampai akhirnya rasa sesak menyerang dadanya.
Maya merasakan dadanya terasa berat. Rasanya saluran pernafasannya terganggu.
"Eh! Eh! Kau kenapa?" Jamie sontak panik.
Namun sesak yang menyerang Maya justru tambah parah. Mata cewek itu bahkan mulai berkunang-kunang.
Buru-buru Jamie memakaikan Maya baju dengan cepat. Dia lalu bergegas menggendong Maya keluar dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Tapi saat dalam perjalanan, Maya pingsan. Maka semakin paniklah Jamie. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Sial! Sial! Sial!" umpat Jamie. Dia takut sekali Maya akan mati gara-gara perbuatan dirinya.
Setibanya di rumah sakit, Maya langsung dapat penanganan oleh pihak medis. Sementara Jamie disuruh menunggu di luar.
Beberapa menit kemudian, dokter selesai melakukan pemeriksaan. Jamie mendengus lega saat dokter mengatakan kalau Maya hanya kelelahan karena kurang makan. Dokter menyarankan agar Maya bisa segera makan saat sadar nanti.
Jamie lantas meninggalkan Maya sendiri di kamar perawatan. Dia berniat ingin membeli makanan untuk adik tirinya tersebut.
"Dasar! Merepotkan saja. Lagian kenapa dia nggak makan coba? Emang nggak lapar?" keluh Jamie yang terpaksa memakai uang sakunya untuk membeli makanan.
Usai membeli makanan, Jamie kembali mendatangi Maya. Namun cewek itu tidak ada di kasurnya.
"Maya? Kau di toilet?" panggil Jamie seraya mendekati pintu toilet.
Brak!
Pintu toilet mendadak terbuka. Maya tersenyum singkat dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dia bahkan tak mengenakan kacamatanya seperti biasa.
"Aku lapar!" ungkap Maya.
"Kau memang seharusnya merasa begitu. Ini aku sudah bawakan kau--" ucapan Jamie terpotong saat Maya mengambil semua plastik berisi makanan yang ada di tangannya. Cewek itu lalu duduk ke atas kasur sambil membawa infusnya.
Maya makan sangat lahap sekali. Dia tidak terlihat seperti biasanya.
Dahi Jamie berkerut dalam. Dia heran dengan sikap Maya yang mendadak berubah.
Maya mulai melahap makanan dengan brutal. Dari caranya makan, dia seperti tidak makan selama tiga hari. Jamie sampai dibuat bergidik melihatnya. Belum lagi tatapan Maya yang tampak melotot ke arahnya.
Cuh!
Tanpa diduga, Maya meludahkan tulang kecil tepat ke wajah Jamie.
"Sialan!" Jamie sontak marah. Tangannya sudah terangkat karena ingin segera menampar Maya. Namun belum sempat tamparan itu mendarat, Maya langsung berteriak.
"Dokter! Suster!"
Jamie otomatis menurunkan tangannya. Dia langsung menoleh ke pintu. Namun tak ada siapapun yang datang. Saat itulah dia kembali mengangkat tangannya.
Ketika menatap ke arah Maya, Jamie melihat cewek itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia tiba-tiba ada di sana tanpa suara langkah kaki yang jelas.
"Kau--"
BUGH!
Belum sempat Jamie mengatakan apapun, sebuah tendangan keras Maya layangkan ke aset pribadi cowok tersebut.
"Aaaaakh!" Jamie menjerit kesakitan. Dia langsung jatuh terduduk sambil memegangi aset pribadinya dengan dua tangan.
Bersamaan dengan itu, tiga perawat masuk ke kamar karena panik mendengar teriakan Jamie. Ketiga perawat itu mematung di depan pintu.
"Dasar cewek sialan! Awas saja kau! Aku akan--'
"Apa?! Kau mau apa? Menamparku? Memperkosa Maya lagi?!" potong Maya sambil menyeringai.
"Sialan kau! Jangan bicara sembarangan!" Jamie panik.
Maya menatap tiga perawat yang berdiri di depan pintu. "Kalian dengar itu kan? Maya sudah beberapa kali diperkosa oleh lelaki bejat ini. Dan salah satu alasan Maya mati juga karena dia!" ungkapnya.
"Kau bicara apa, HAH?!" pekik Jamie tak terima. Dia menoleh ke arah tiga perawat dan berkata, "Enggak! Itu salah. Yang dia katakan itu bohong!"
"Kebetulan Maya, eh aku maksudnya. Aku belum membersihkan diri. Aku bisa membuktikannya dengan visum," kata Maya. Dengan wajah sedih yang dibuat-buat. "Aku yakin sperm* dia bisa ditemukan di tubuhku."
Seketika wajah Jamie memucat. Dia tak mampu berkata-kata lagi. Dia juga keheranan melihat perubahan Maya yang tiba-tiba super berani.
"Ka-kau kenapa tiba-tiba begini? Apa kepalamu terbentur?" ujar Jamie sampai tergagap. Jujur saja, sikap Maya yang begini membuatnya takut.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔