NovelToon NovelToon
Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.

Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.

Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Bara yang Menyala

Ruang makan itu mendadak hening seketika. Kehadiran Xavier yang tiba-tiba dengan aura dominasi yang begitu pekat membuat atmosfer hangat pagi itu lenyap tanpa sisa.

Daniel membungkuk lebih dalam, menyadari bahwa salah satu langkah saja dalam menyampaikan informasi ini bisa memicu kemarahan sang serigala penguasa.

Xavier melangkah mendekat, lalu menarik kursi di ujung meja, tepat di sebelah Eli. Dia tidak langsung menginterogasi Daniel; tangan besarnya justru bergerak meraih jemari Eli yang terasa sedingin es.

Merasakan kehangatan tangan suaminya, Eli sedikit tersentak namun memilih untuk bersandar pada kekuatan tersebut.

"Bibi Ami, bawa Kenji dan Kiana ke ruang bermain sekarang," perintah Xavier, suaranya terdengar datar namun tak membantah.

Bibi Ami yang tanggap segera mengajak kedua anak kembar itu berdiri. Kiana sempat merengek kecil karena susunya belum habis, namun tatapan tegas dari Kenji membuat sang adik akhirnya patuh.

Setelah pintu ruang makan tertutup rapat dari luar, meninggalkan mereka bertiga, Xavier kembali mengalihkan pandangan tajamnya pada asisten pribadinya.

"Sekarang, bicaralah, Daniel. Jangan biarkan aku mengulang pertanyaanku," desis Xavier, rahang tegasnya mengeras.

Daniel menegakkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam. "Baik, Tuan. Dua jam yang lalu, kepala sipir menghubungi saya. Nona Valencia mengalami histeris hebat di dalam sel isolasi. Dia meracau tentang sebuah konspirasi.

Sebelum tim medis membawanya ke fasilitas psikiatri, dia berteriak bahwa obat perangsang yang diberikan kepada Nyonya Eli enam tahun lalu bukan berasal dari Adrian."

Napas Eli tercekat di tenggorokan.

Dia menatap Daniel dengan mata membelalak tak percaya. "Apa? Tapi Adrian sendiri yang mengakui..."

"Adrian hanya memanfaatkan situasi, Nyonya," potong Daniel dengan nada penuh kehati-hatian.

"Menurut pengakuan Valencia yang sempat dicatat oleh petugas, Adrian malam itu terlilit utang judi yang sangat besar pada salah satu sindikat bawah tanah. Seseorang dari sindikat tersebut yang memberikan obat itu dan memerintahkan Adrian untuk menjebak Anda di Kamar 909.

Tujuannya bukan hanya untuk menghancurkan nama baik Anda, tetapi untuk memeras keluarga Arisatya sejak awal."

Mendengar penjelasan itu, kilatan amarah yang membara seketika berkobar di sepasang mata elang Xavier.

Jika selama ini dia mengira malam di Kamar 909 murni karena kebetulan dan kebebalan Adrian, kenyataan ini membuktikan bahwa ada tangan gurita lain yang mencoba bermain-main dengan takdirnya.

"Sindikat mana, Daniel?" tanya Xavier, suaranya kini beralih menjadi sangat rendah dan berbahaya. Keheningan yang menyertainya jauh lebih menakutkan daripada bentakan kasar.

"Mereka menyebut nama The Black Viper, Tuan. Organisasi yang beberapa tahun lalu sempat Anda pangkas jalur distribusinya di pelabuhan utara," jawab Daniel, menyerahkan sebuah tablet digital yang berisi transkrip rekaman suara histeris Valencia.

Xavier menerima tablet itu, matanya membaca dengan cepat setiap baris kalimat yang tertera di sana. Senyuman kejam dan meremehkan perlahan terukir di sudut bibirnya—sebuah senyuman yang menandakan bahwa perburuan baru akan segera dimulai.

"Menarik," gumam Xavier sinis. Dia melemparkan tablet itu ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara dentingan keras. "Rupanya sisa-sisa kecoak yang lolos dari pembersihan waktu itu mencoba menggunakan istriku sebagai alat balas dendam."

Eli mencengkeram lengan kemeja hitam Xavier, matanya berkaca-kaca dipenuhi kecemasan baru. "Xavier... jika ini melibatkan sindikat berbahaya, artinya kita belum sepenuhnya aman? Bagaimana dengan Kenji dan Kiana? Mereka... mereka bisa saja menjadi sasaran selanjutnya."

Xavier membalikkan tubuhnya menghadap Eli. Dia menarik tengkuk wanita itu lembut, menyatukan kening mereka agar Eli bisa merasakan ketenangan dan keyakinan mutlak yang dia miliki. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Xavier kembali menjadi benteng pertahanan bagi batin Eli yang sempat goyah.

"Dengarkan aku, Eli," bisik Xavier tepat di depan bibir istrinya, suaranya sarat akan penekanan posesif yang tak tergoyahkan. "Di kota ini, tidak ada satu pun organisasi bawah tanah yang bisa bergerak tanpa sepengetahuanku.

Jika mereka berani merancang jebakan ini enam tahun lalu, maka hari ini, aku sendiri yang akan memastikan bahwa kepala pimpinan mereka terkubur di dasar pelabuhan utara."

Xavier mengecup bibir manis Eli dengan tegas, sebuah ciuman yang tidak hanya menuntut gairah, tetapi juga menyegel janji perlindungan mutlak miliknya. Dia melepaskan pagutannya perlahan, lalu kembali menatap Daniel dengan tatapan dinginnya yang biasa.

"Daniel, siapkan tim Alpha. Aku ingin seluruh pergerakan The Black Viper dipetakan dalam waktu dua puluh empat jam. Dan pastikan penjagaan di sekitar mansion ini ditingkatkan menjadi lima lapis. Jangan biarkan seekor lalat pun masuk tanpa izin dariku," perintah Xavier mutlak.

"Baik, Tuan Xavier. Segera dilaksanakan," jawab Daniel takzim, sebelum akhirnya berbalik melangkah cepat meninggalkan ruangan.

Setelah Daniel pergi, Xavier kembali merangkul pinggang ramping Eli, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat. "Tetap di sisiku, Eli. Jangan pernah melangkah keluar dari garis perlindunganku.

Biarkan aku yang menyelesaikan sisa bara yang mencoba menyala ini, hingga tidak ada lagi satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatmu menangis ketakutan."

Eli menyandarkan kepalanya di dada bidang Xavier, mendengarkan detak jantung suaminya yang konstan dan berwibawa. Di dalam sangkar emas ini, di tengah ancaman baru yang mulai mengintai dari kegelapan, Eli tahu bahwa selama tangan kekar sang serigala penguasa mendekapnya, dia berada di tempat yang paling aman di dunia.

1
Bu Dewi
seru kak 👍👍👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!