NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anjing Mati Lagi

"Luka!" panggil Seravina keras. Suaranya bergema di langit-langit kamar yang tinggi.

Hening. Tidak ada jawaban. Biasanya, dalam hitungan detik, pria itu sudah akan berdiri tegak di ambang pintu dengan kepala tertunduk patuh.

Seravina mendecit kesal. Ia menyambar tas kecilnya dan melangkah keluar kamar. "Luka! Berhenti bersembunyi atau aku akan menembak bahumu yang satunya lagi!" teriaknya sambil menuruni tangga marmer yang megah.

Ia melewati lorong panjang, menuju area dapur dan ruang pelayan, tapi bayangan pengawalnya itu tak kunjung terlihat. Seravina mulai merasa terganggu. Seharusnya, setelah kejadian di pemandian tadi, Luka menjadi lebih "jinak", bukan malah menghilang.

"Anjing sialan. Berani-beraninya dia mogok kerja hanya karena peluru kecil," gerutunya sambil berjalan menuju pintu lobi utama. Tangannya sudah bersiap merogoh ponsel untuk melacak GPS pengawalnya itu.

Seravina baru saja akan mendorong pintu ganda mansion saat tiba-tiba...

"AAAAAAAAAAAHH!"

Pekikan melengking itu merobek kesunyian malam dari arah halaman depan, disusul bunyi klontang! nyaring dari nampan perak yang menghantam lantai batu.

Seravina terhenti sejenak, alisnya bertaut. "Berisik sekali," gumamnya dingin. Ia mendorong pintu itu dengan kasar, tepat saat Ivan dan Nikolai muncul dari arah ruang tengah karena gangguan yang sama.

Ivan melangkah keluar dengan sangat santai, jemarinya lincah membuka kaleng minuman energi—cesss! Ia menyesapnya tanpa minat. Di belakangnya, Nikolai mengekor dengan tangan tenggelam di saku celana, wajahnya kusut dan matanya merah karena mengantuk.

"Sialan, telingaku mau pecah," gerutu Nikolai, suaranya serak dan kesal. Matanya beralih ke onggokan daging di depan gerbang. "Hoi, Ivan. Lihat. Akhirnya anjing kesayangan adik kita mampus juga."

Ivan berjongkok di samping mayat yang tergeletak kaku itu. Ia menatap leher yang patah ke arah yang salah dan genangan darah pekat yang mulai mendingin di atas marmer putih.

"Tusukan yang rapi. Tepat di jantung," gumam Ivan datar, seolah sedang memeriksa komponen komputer yang rusak.

Seravina melangkah maju, melewati kedua kakaknya. Langkah kakinya yang anggun terhenti tepat di depan jasad pengawalnya. Matanya menyipit, menatap lubang di jantung pria yang beberapa jam lalu masih menciumnya dengan liar itu. Tidak ada setetes pun air mata. Yang ada hanyalah amarah dingin yang berkilat di bola matanya.

"Siapa?" tanya Seravina pendek. Nadanya setajam silet.

"Jangan lirik aku," Ivan mengangkat tangan. "Aku sibuk mengacak-acak database kementerian dari tadi. Bukan gayaku membunuh dengan cara sekotor ini."

Seravina perlahan memutar kepalanya, menatap Nikolai. Abang tirinya itu berdiri menjulang, membuat Seravina yang mungil harus mendongak tajam. Di bawah lampu taman yang temaram, Seravina menangkap noda darah kering di buku jari Nikolai.

"Kau, Nikolai," desis Seravina. Ia melangkah maju hingga dadanya hampir bersentuhan dengan tubuh tegap Nikolai. "Kau selalu cemburu karena Luka selalu menempel padaku, kan? Kau yang mematahkan lehernya?"

Nikolai mengerutkan kening, emosinya langsung tersulut. Ia mencengkeram bahu Seravina dengan kasar.

"Apa?! Kau menuduhku gara-gara bangkai ini?" Nikolai membentak tepat di depan wajah adiknya. "Seravina, kalau aku memang ingin melenyapkannya, aku akan memenggal kepalanya dan menyajikannya di atas meja makanmu sebagai hadiah!"

"Tanganmu berdarah," Seravina menepis tangan Nikolai dengan kasar, matanya berkilat penuh kebencian. "Logikanya gampang saja. Kau benci dia, kau punya tenaga untuk meremukkan lehernya, dan kau sedang emosi malam ini. Siapa lagi kalau bukan kau yang cukup bodoh untuk membunuh asetku tanpa izin?"

"Ini darah orang jalanan yang tadi cari masalah denganku, Adik Kecil! Pakai otakmu!" balas Nikolai tak kalah tinggi.

Seravina tidak peduli. Baginya, Nikolai adalah tersangka paling masuk akal di rumah gila ini. Ia merapikan gaunnya, menatap Nikolai dengan pandangan menghina.

"Kalau memang benar kau pelakunya, Niko... sebaiknya kau mulai belajar tidur dengan mata terbuka," ancam Seravina dingin. Ia berbalik, berjalan menuju mobilnya sendiri. "Aku pergi. Aku mau balik ke mansionku."

Ivan terkekeh sinis sambil melihat punggung adiknya menjauh. "Yah, selamat, Nikolai. Sepertinya kau baru saja masuk ke daftar hitam orang yang paling ingin dia mutilasi."

"Diam kau, Ivan! Urusi saja laptop busukmu itu!" umpat Nikolai frustrasi.

......................

Duar! Duar! Duar!

Di sudut gym yang remang dan berbau apak campuran keringat serta besi berkarat, Viktor sedang menyiksa sebuah samsak kulit yang sudah robek di beberapa bagian.

Tubuh besarnya bergerak dengan presisi yang mengerikan. Setiap kali tinjunya yang hanya dibalut handwrap tipis mendarat, samsak seberat 100 kg itu terlempar ke atas, membuat rantai besinya mengerang seolah akan putus. Keringat mengucur deras dari rambut pirangnya, mengalir melewati otot-otot punggung yang dipenuhi bekas luka cambuk dan jahitan kasar.

"Kau tahu, samsak itu tidak bisa membalas. Cobalah cari lawan yang punya detak jantung."

Sesosok pria bersandar di bingkai pintu besi yang miring.

Damian.

Ia berdiri di sana dengan seringai tipis, mengamati monster di depannya dengan tatapan yang sudah terbiasa. Damian berjalan mendekat, langkah sepatunya bergema di lantai semen yang retak-retak. Ia meletakkan dua cup kopi panas di atas meja kayu tua yang penuh bercak oli, lalu menyalakan sebatang rokok.

Viktor tidak berhenti. Satu tendangan rendah menghantam bagian bawah samsak dengan bunyi krak yang solid. Ia baru berhenti saat napasnya mulai memburu, uap panas keluar dari mulutnya karena suhu pagi yang dingin.

"Kau terlambat," suara Viktor berat dan serak, hampir seperti geraman.

"Yah, jalanan sedang macet oleh mobil polisi yang mengangkut mayat entah siapa pagi tadi," Damian mengembuskan asap rokoknya ke udara. Ia menyodorkan salah satu cup kopi saat Viktor berjalan mendekat. "Tangannmu berdarah lagi. Kau bertarung seolah kau punya dendam pada Tuhan."

Viktor menerima kopi itu. Ia tidak meminumnya, melainkan menempelkan cup plastik panas itu ke buku-buku jarinya yang pecah dan berdarah. Sensasi terbakar dari suhu kopi itu membuatnya memejamkan mata sejenak. Rasa sakit adalah satu-satunya cara dia tahu bahwa dia masih bernapas.

"Tidak ada Tuhan di tempat seperti ini," jawab Viktor pendek. Ia kemudian meneguk kopi hitam pekat itu dalam satu tarikan napas, seolah itu bukan cairan mendidih.

Damian terkekeh pelan. "Benar. Hanya ada uang dan kematian. Omong-omong, kudengar bos arena sedang menyiapkan pertarungan. Bukan pertarungan biasa. Seseorang dari kelas atas butuh monster untuk menjaga nyawa mereka. Mereka lagi mencari anjing yang butuh majikan."

Viktor menatap cup kosong di tangannya, lalu meremasnya hingga hancur. Tatapannya kosong, hampa, namun mematikan. "Aku tidak butuh majikan."

"Semua orang punya majikan, Viktor. Entah itu uang, wanita, atau rasa sakit," Damian menepuk bahu Viktor yang sekeras batu. "Pikirkanlah. Menjadi anjing penjaga di mansion mewah jauh lebih baik daripada mati membusuk di gym yang pengap ini."

Viktor tidak menjawab. Ia berbalik, kembali berdiri di depan samsak yang berayun pelan. Bagi dunia, dia adalah mesin pembunuh. Bagi dirinya sendiri, dia hanyalah tumpukan daging yang menunggu alasan untuk berhenti bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!