NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Matahari siang di Los Angeles seakan merayakan keangkuhannya, memancarkan gelombang panas yang membakar aspal pelataran universitas dan memantulkan kilau menyengat pada dinding-dinding kaca gedung Fakultas Bisnis.

Koridor-koridor yang semula lengang kini kembali dipadati oleh para mahasiswa yang tergesa-gesa menyusuri lantai porselen, berkejaran dengan waktu sebelum bel tanda dimulainya jam kuliah kedua berdengung.

Maximilian Valerio melangkah memasuki ruang kelas bersama Carter dan Demon.

Suasana di dalam ruang kuliah berundak itu tampak riuh rendah oleh gumaman para mahasiswa yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Max mengambil posisi di barisan tengah, tempat yang cukup strategis untuk mengamati tanpa harus menjadi pusat perhatian, meskipun perawakan tegap dan aura asingnya tetap memancing beberapa pasang mata untuk melirik curiga sekaligus kagum.

Bzzzt.

Geteran halus dari saku celana jinsnya membuat Max merengkuh ponsel pintar miliknya. Sebuah pesan singkat dari Emme, saudari kembarannya, terpampang di layar.

> Emme: Semangat hari pertamanya di LA, Kak! Jangan buat Daddy kirim kamu kekampus baru, karena hancurin mobil orang lagi. Hahaha. Temukan hal menyenangkan di sana!

Max hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah ekspresi langka yang langsung menghilang saat dia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja kayu.

Tepat ketika dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, keheningan mendadak merayap dari arah depan kelas. Daun pintu kayu jati di dekat podium terbuka dengan sentakan pelan.

Langkah kaki dengan ketukan high heels yang ritmis dan tegas menggema, menginterupsi seluruh kegaduhan.

Sosok wanita dengan rambut hitam yang diikat tinggi selembar sutra berjalan memasuki ruangan. Amieyara Walker.

Wanita yang beberapa waktu lalu mengatainya "bocah birahi" di tengah kantin, kini berdiri di depan kelas dengan membawa beberapa map tebal dan buku literatur hukum bisnis.

Pandangan matanya yang tajam menyapu seluruh isi ruangan, dan untuk sepersekian detik, netra sedingin es itu sempat terpaku pada sosok Max sebelum akhirnya beralih dengan acuh tak acuh.

"Selamat siang semuanya," suara Yara mengalun datar namun sarat akan otoritas.

Hari ini, dia bertindak sebagai asisten profesor yang akan memimpin jalannya pemaparan materi Hukum Bisnis mengenai regulasi merger korporasi.

Max menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap tajam ke depan. Sepasang matanya tidak lepas dari sosok Yara. Ada kilat kepuasan yang tertahan di wajah Max; takdir rupanya bekerja sangat cepat untuk mempertemukan mereka kembali.

Yara mulai membuka kelas dan memaparkan materi. Suaranya terdengar lantang dan penuh penekanan, mencoba menguasai forum. Namun, bagi seorang Maximilian yang telah melahap habis kurikulum tingkat tinggi di Harvard University, pemaparan Yara siang ini terasa sangat hambar.

Bukan hanya dasar, tetapi Max dapat merasakan dengan jelas bahwa Yara tidak sepenuhnya menguasai materi yang sedang dia bawakan.

Penjelasan Yara terlalu bertumpu pada teks di proyektor, dan ketika memasuki bagian analisis studi kasus hukum persaingan usaha, Yara tampak ragu-ragu dan beberapa kali salah dalam menjabarkan pasal.

Sang genius pindahan Harvard itu memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan taringnya.

"Maaf, Nona Walker," sebuah suara bariton yang berat dan tenang menginterupsi dari barisan belakang.

Yara menghentikan penjelasannya, menoleh ke arah sumber suara. Ketika matanya menangkap sosok Max, rahang Yara tampak menegang seketika.

"Ya? Ada yang kurang jelas, Mahasiswa Baru?"

Max menegakkan tubuhnya, menatap Yara dengan pandangan meremehkan yang amat kentara. "Pemaparan Anda pada poin hukum tadi keliru. Anda menggunakan dasar hukum regulasi tahun dua ribu belas yang sudah diamandemen tiga tahun lalu. Jika sebuah korporasi menggunakan analisis Anda untuk melakukan penggabungan usaha di Los Angeles saat ini, mereka akan langsung dijatuhi sanksi pembatalan oleh otoritas federal."

Seluruh kelas menahan napas. Demon dan Carter di samping Max langsung membelalakkan mata, menyenggol lengan Max agar berhenti, namun Max mengabaikannya.

Wajah Yara seketika berubah pias sebelum akhirnya memerah menahan amarah yang luar biasa. Dia merasa wibawanya sebagai pengajar diinjak-injak di depan puluhan mahasiswa oleh seorang anak baru. Yara memukul meja dosen dengan telapak tangannya, mencoba mengembalikan kendali.

"Saya sedang menjelaskan dasar teoritisnya, Saudara Valerio! Jangan memotong penjelasan saya jika Anda tidak tahu arah analisis ini!" seru Yara, mencoba membela diri walau batinnya tahu bahwa interupsi Max sepenuhnya benar.

Max terkekeh pelan, sebuah tawa merendahkan yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Yara.

"Dasar teoritis yang usang tidak akan menyelamatkan sebuah bisnis dari kebangkrutan, Nona Walker. Sebagai asisten profesor, bukankah seharusnya Anda menguasai materi sebelum berdiri di depan kami? Atau... apakah rumor di luar sana benar, bahwa Anda mendapatkan posisi ini bukan karena isi kepala Anda?"

Kasak-kusuk langsung riuh rendah di dalam kelas.

Yara tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Dia melangkah keluar dari balik meja dosen, berjalan mendekati barisan kursi Max dengan langkah yang gemetar karena amarah yang memuncak.

Dia berhenti tepat di depan meja Max, matanya menghujam sedingin es, menatap lurus ke dalam manik mata pemuda itu.

"Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard, Valerio!" desis Yara, suaranya bergetar rendah namun sarat akan kebencian yang mendalam.

Maximilian Valerio tidak gentar sedikit pun. Dia justru menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Yara dari atas ke bawah.

"Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?" balas Max dengan nada yang sengaja dikeraskan agar beberapa mahasiswa di sekitar mereka bisa mendengarnya.

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!" ancam Yara, napasnya memburu, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri," ucap Max. Kali ini, dia sengaja menurunkan intonasi suaranya, menatap Yara dengan tatapan yang sengaja dibuat mesum dan menilai—menatap lekuk tubuh Yara yang terbalut pakaian formal, seolah sedang menelanjangi wanita itu lewat pandangan matanya.

Tatapan yang sengaja dia gunakan untuk membalas tuduhan 'bocah birahi' yang Yara lontarkan tadi pagi.

Yara merasa harga dirinya runtuh berkeping-keping. Dia berbalik dengan kasar, kembali ke depan kelas dengan tubuh yang bergetar. "Kelas hari ini selesai. Silakan keluar!" ucapnya dengan suara serak.

Para mahasiswa segera berkemas dan keluar dari ruangan dengan terburu-buru, menyadari bahwa atmosfer di dalam kelas sudah sangat beracun. Demon dan Carter menarik lengan Max. "Gila lo, Max! Lo bener-bener cari mati," bisik Carter ketakutan.

"Kalian duluan saja ke parkiran. Ada hal yang harus kuselesaikan," jawab Max tenang.

Demon dan Carter tidak punya pilihan selain meninggalkan Max sendirian.

Dalam hitungan menit, ruang kuliah yang luas itu kini telah sepi, menyisakan Maximilian yang masih duduk di kursinya dan Amieyara yang sedang merapikan buku-bukunya di depan kelas dengan tangan yang masih gemetar.

Max berdiri, melangkah perlahan menuruni anak tangga kelas yang sunyi. Suara langkah sepatunya bergaung di dinding ruangan, membuat Yara menoleh dengan waspada.

"Kenapa kau belum keluar?" tanya Yara dingin, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketegarannya.

Max berhenti tepat di hadapan meja dosen, bersandar pada pinggiran meja sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Sisi liar dan taringnya yang terbentuk selama hidup di Boston—di mana dia terbiasa bergaul dalam lingkungan keras dan ikut dalam perbincangan-perbincangan mesum para pria—kini dia keluarkan sepenuhnya di hadapan Yara.

"Aku hanya ingin meluruskan sesuatu, Yara," ucap Max, wajahnya kini tidak lagi memancarkan gurauan, melainkan intensitas yang berbahaya. "Kau menuduhku melakukan trik murahan di kantin tadi pagi. Kau memanggilku bocah birahi di depan semua orang."

Yara mendengus sinis. "Karena memang itu kenyataannya."

Max maju satu langkah, membuat Yara terpaksa mundur hingga punggungnya membentur papan tulis. Max mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga Yara bisa mencium aroma tembakau dan parfum maskulin yang kuat dari tubuh Max.

"Dengar, Nona Asisten Profesor yang terhormat," bisik Max, suaranya terdengar serak dan mengintimidasi. "Jika aku memang berniat berbuat mesum padamu, aku tidak akan menggunakan trik sekuno berjalan mundur di kantin yang ramai. Di Boston, aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan secara langsung."

Max menatap bibir Yara sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Rumor di luar mengatakan tubuhmu sangat luar biasa hingga kau dijuluki wanita panggilan. Jadi, jangan berlagak seolah kau adalah orang suci yang tersentuh sedikit saja langsung hancur. Sikap angkuhmu ini justru membuatku berpikir bahwa kau sedang mencoba menarik perhatianku."

Yara mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan keras ke pipi Max, namun dengan sigap, tangan kekar Max menangkap pergelangan tangan Yara di udara, mencengkeramnya dengan erat namun tidak sampai menyakiti.

"Lepaskan aku, Brengsek!" umpat Yara, matanya menyala oleh amarah dan keterkejutan.

"Aku akan melepaskanmu setelah kau paham satu hal," desis Max, menatap Yara dengan tatapan dominan yang belum pernah Yara lihat dari pria mana pun, bahkan tidak dari David.

"Jangan pernah memfitnahku lagi. Aku bukan mantan suamimu yang pengecut, dan aku bukan pria-pria bodoh di kampus ini yang bisa kau kendalikan dengan statusmu. Di mataku, kau hanyalah wanita penuh masalah yang butuh diajari bagaimana cara sopan santun."

Max melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan pelan, lalu mundur beberapa langkah.

Dia mengambil tas ranselnya yang berada di kursi depan, menyampirkannya di bahu, lalu berjalan menuju pintu keluar kelas tanpa menoleh lagi.

Yara berdiri mematung di depan papan tulis, memegangi pergelangan tangannya yang masih terasa hangat akibat cengkeraman Max.

Dadanya naik turun karena napas yang memburu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, setelah semua hinaan yang dia terima dari dunia luar, Yara merasakan sebuah ancaman yang nyata dari seorang pria.

Maximilian Valerio bukan sekadar mahasiswa sombong dari Harvard; pria itu adalah bahaya besar yang siap menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang telah dia bangun dengan susah payah.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!