Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Sarah dan kalung liontin merah
“Apa?! Kamu bercanda, Sarah?” Dio menatap gadis di depannya dengan wajah tidak percaya.
Salju di luar jendela terus turun tanpa henti, sementara ruangan apartemen terasa semakin dingin.
Sarah melipat kedua tangannya. “Aku tidak sedang bercanda.” Tatapannya terlihat serius. “Dua hari lagi dunia akan mulai berubah.”
Dio mendecih kecil. “Kamu kebanyakan baca novel.”
Namun Sarah tidak marah. Karena ia tahu sebentar lagi semuanya akan terbukti. “Gunung berapi di Pulau Lotte akan meletus. Dan bersamaan dengan itu…” Sarah berhenti sesaat. “…energi spiritual pertama akan muncul.”
Ruangan langsung hening. Dio menatap Sarah lama sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Kekuatan spiritual? Kultivasi? Dunia modern mana ada hal begitu?”
Sarah mengepalkan tangannya pelan.
Kalau bukan karena misi sistemnya, ia bahkan tidak ingin menjelaskan apa pun kepada pria bodoh seperti Dio.
Namun ia membutuhkan pria itu. Setidaknya untuk sementara. “Percaya atau tidak terserah. Tapi aku tetap akan pergi ke Utara.”
Dio terdiam. Meski terdengar tidak masuk akal, entah kenapa ia merasa Sarah tidak sedang berbohong.
Dan kalau semua itu benar maka wanita di depannya sangat berharga. Sementara itu, Sarah menggigit bibir pelan. “Kenapa aku harus masuk ke dunia game sialan ini…” batinnya kesal.
Tiba-tiba—
DING!!
Sebuah layar biru transparan muncul di depan Sarah.
[Host Sarah, harap ingat misi utama.]
Sarah langsung memutar matanya malas.
“Ya, ya… aku tahu, Lila.”
Sistem AI miliknya langsung menampilkan tulisan baru.
[Target utama: dapatkan liontin merah milik Reina.]
[Item tersebut memiliki ruang dimensi tingkat tinggi.]
Mata Sarah langsung menyipit. Liontin itu adalah salah satu item terpenting di awal permainan.
Dengan ruang dimensi tanpa batas penggunanya bisa: menyimpan persediaan, berkultivasi lebih cepat, bahkan bertahan hidup lebih mudah saat kiamat datang.
Dan yang paling penting item itu seharusnya menjadi milik tokoh utama. “Kalau aku bisa merebutnya…” Sarah tersenyum kecil.
“Aku bisa mengambil posisi protagonis.”
DING!!
Layar sistem berubah tiba-tiba.
Kesukaan Dio: 40%
Kepercayaan Dio: 20%
“Apa?!”
Wajah Sarah langsung berubah.
“Kenapa turun?!”
[Host melanggar aturan sistem.]
[Kamu terlalu banyak membocorkan informasi.]
Sarah langsung panik.
“Tunggu dulu—”
DING!!
[Hukuman dimulai.]
Tubuh Sarah tiba-tiba terasa aneh. Beberapa detik kemudian perutnya sedikit membesar.
Mata Sarah langsung membelalak. “LILA!!”
[Tubuh sempurna level 1 dicabut sementara.]
Sarah hampir menangis. Di saat yang sama Dio menatap Sarah dengan bingung. “…Kamu kelihatan sedikit berbeda.”
“DIAM!” Sarah langsung pergi meninggalkan ruangan sebelum Dio semakin curiga.
Jauh dari kota… di sebuah pulau terpencil dekat garis khatulistiwa seorang pria perlahan membuka matanya.
Salju menutupi mulut goa tempat ia bersemedi. Sudah hampir dua ribu tahun. Dan hari yang ia tunggu akhirnya tiba.
“Hampir waktunya…” gumam pria itu pelan.
Namanya:
Dewa Arkan.
Pria itu berdiri perlahan. Aura dingin langsung menyebar memenuhi goa.
Di tangannya terdapat Lentera cahaya kecil berwarna emas kemerahan. Setengah jiwa. Setengah kekuatan.
Milik seseorang yang telah lama menghilang. “Dewi Sinta…”
Tatapan Arkan berubah rumit. “Aku harus menemukanmu sebelum gerbang terbuka.”
Tubuhnya langsung menghilang dari dalam goa. Sementara itu Reina berdiri diam di dekat gang sempit yang dipenuhi salju.
Tatapannya terus melihat jam di tangannya. “Sebentar lagi…”
Di kehidupan sebelumnya, ia bertemu seorang kakek misterius di tempat ini. Dan dari pertemuan itulah takdirnya berubah.
Beberapa menit kemudian sebuah bayangan tua akhirnya muncul di ujung gang. Seorang kakek berjalan tertatih-tatih sambil memegangi dinding. Tubuhnya hampir membeku.
Melihat itu, Reina segera berlari menghampiri. “Kakek!”
Ia langsung membantu pria tua itu berdiri. Mata kakek itu sedikit menyipit melihat Reina. “Aneh…”
gumamnya pelan. “Kenapa rasanya seperti kau memang sedang menungguku?”
Tubuh Reina langsung menegang kecil. Namun ia cepat tersenyum gugup. “Ti-tidak kok.”
Kakek itu tertawa kecil. Tatapannya terlihat dalam. Seolah bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat manusia biasa.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di apartemen Reina. Ruangan hangat perlahan menghilangkan dingin di tubuh sang kakek.
Reina menyodorkan semangkuk sup hangat. Kakek itu menerimanya perlahan. Lalu tiba-tiba berkata: “Kau pernah mati, ya?”
SENDOK di tangan Reina langsung berhenti. Matanya membesar.
Namun kakek itu tetap meminum sup dengan santai. Seolah mengatakan hal seperti itu adalah sesuatu yang biasa.
“Dunia ini…” ucapnya pelan. “…jauh lebih misterius daripada yang manusia kira.”
Reina menggenggam tangannya perlahan. “Jadi… benar ada reinkarnasi?”
Kakek itu tersenyum kecil. “Bukan hanya reinkarnasi.”
“Para dewa juga ada.”
Jantung Reina langsung berdetak lebih cepat.
Dan malam itu untuk pertama kalinya Reina mulai mengetahui bahwa kiamat yang akan datang…
bukan sekadar kehancuran dunia biasa.