Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalas dengan Cara yang Sama
Salma melangkah mantap bersama Aksa menuju tengah lantai dansa, mengabaikan tatapan meremehkan dari para tamu yang menunggu tontonan memalukan.
Musik mulai mengalun. Dengan gerakan yang sangat sopan dan elegan, Aksa mengulurkan tangannya, mengundang Salma untuk berdansa.
Salma menyambutnya dengan senyum tipis.
Begitu tangan mereka bertaut, keduanya berputar dengan ritme yang begitu pas, seolah-olah mereka sudah berlatih ribuan kali.
Di antara empat pasangan lainnya, Salma dan Aksa yang awalnya dianggap paling "asing" justru terlihat seperti sepasang angsa di antara kerumunan bebek.
Gerakan mereka begitu mengalir, indah, dan penuh penjiwaan.
Orang-orang yang tadinya berniat mengejek perlahan-lahan terdiam, mata mereka membelalak tidak percaya.
Sosok Aksa yang berpakaian kuno dan Salma yang tampak pucat mendadak terlihat seperti pangeran dan putri yang sedang menari di sebuah pesta kerajaan.
Begitu musik berakhir, tepuk tangan meriah membahana di seluruh taman.
Manda dan Melly Gunawan terpaku. Kepalan tangan Manda mengeras hingga kuku-kukunya memutih.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa si pecundang Aksa dan si pemberontak Salma menari seindah itu?
Rasa iri membakar hati Manda saat mendengar bisikan-bisikan pujian dari teman-teman sekolah mereka.
"Gila, chemistry Salma sama Aksa keren banget!"
"Ternyata Aksa kalau lagi dansa kelihatan ganteng ya?"
"Salma cantik banget malam ini, auranya beda."
Salma menangkap ekspresi kesal yang berusaha disembunyikan Manda. Ia merasa sangat puas.
Saat Manda datang mendekat untuk memeluknya dengan sandiwara "kakak yang bangga", Salma berbisik tepat di telinganya dengan nada mengejek.
"Kak, makasih ya sudah kasih aku panggung di acara ulang tahunmu sendiri. Aku senang banget."
Wajah Manda menegang, tapi karena Papa Seno ada di dekat mereka, ia hanya bisa memaksakan senyum manis meski hatinya meradang.
"Ayah, Salma dan Aksa serasi sekali ya? Sepertinya hubungan mereka di sekolah memang sangat dekat," pancing Manda, mencoba menggiring opini ayahnya ke arah isu pacaran di bawah umur.
Salma langsung menggelayut manja di lengan Papa Seno sebelum ayahnya sempat mengerutkan kening.
"Pa, tadi aku takut banget bakal nginjek kakinya Aksa. Makanya aku sempat ragu mau dansa, tapi nggak enak kalau nolak di acara Kak Manda. Untung aja dia jago."
Papa Seno tertawa kecil, rasa curiganya menguap begitu saja melihat tingkah manja putri kandungnya.
"Kamu ini, bisa saja. Sejak kapan kamu belajar dansa sehebat itu? Katanya nggak suka?"
"Hehe, itu kejutan buat ulang tahun Papa nanti, tapi malah ketahuan duluan di sini karena disuruh Kak Manda," jawab Salma berbohong kecil.
Tidak mungkin ia bilang bahwa ia belajar semua itu saat menjadi roh yang gentayangan di kehidupan sebelumnya.
Setelah merasa cukup membuat Manda kepanasan, Salma pamit untuk beristirahat di kamar dengan alasan masih pusing akibat alergi kemarin.
Ia menolak tawaran Manda yang ingin mengantarnya, karena ia ingat betul di kehidupan lalu, Manda sengaja membuatnya terjatuh di tangga dan menyalahkannya di depan semua orang.
Dua hari kemudian, Salma kembali menginjakkan kaki di Citra Bangsa Global High School.
Suasana sekolah masih sama, tapi ada yang berbeda dari penampilannya. Salma kini mengenakan seragam dengan rapi, rambutnya tertata, tak lagi bergaya ala preman sekolah seperti biasanya.
"Eh, itu Salma? Dia pakai seragam beneran?"
"Katanya sih dia beneran jadian sama si kutu buku Aksa, makanya jadi tobat."
Salma hanya tersenyum dingin mendengar gosip itu. Begitu melihat dua siswi yang asyik berbisik-bisik sambil menunjuknya, Salma berhenti tepat di depan mereka.
"Permisi, teman-teman," suara Salma terdengar lembut namun menusuk.
"Aku cuma mau tanya, sejak kapan kalian jadi peramal? Aku sendiri saja belum tahu kalau aku pacaran, kok kalian sudah tahu?"
Tatapan Salma mendadak menjadi tajam dan dingin, membuat kedua siswi itu bergidik ngeri.
"Lain kali, sebelum bicara, pastikan lidah kalian tidak membawa masalah.
Aku tidak segan membuat kalian keluar dari sekolah ini kalau masih hobi menyebar fitnah."
Salma melenggang pergi, meninggalkan mereka yang mematung ketakutan.
Masuk ke kelas XI-7, suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Salma duduk di bangkunya, membuka buku pelajaran dengan tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bagas, siswa yang duduk di belakangnya, mulai memprovokasi.
"Wuih, Salma sekarang akting jadi anak rajin? Capek nggak sih pura-pura? Mending jadi anak mami kayak Manda atau tetap jadi preman?" ejek Bagas, disambut tawa teman-temannya.
"Atau memang benar ini karena selera kamu sekarang cuma sekelas Aksa si cupu?"
Aksa, yang duduk tak jauh dari sana, tiba-tiba berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi ia menatap Bagas dengan penuh keberanian.
"K-kalian... tidak pantas bicara begitu tentang Salma!"
"Wah, pahlawan kesiangan datang! Berani lo sama gue, cupu?" Bagas berdiri, menantang dengan kepalan tangan terangkat.
Sebelum kepalan tangan Bagas mengenai Aksa, Salma sudah lebih dulu melompat berdiri.
Dengan kecepatan yang mengejutkan, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Bagas.
Cengkeramannya begitu kuat hingga Bagas meringis kesakitan.
"Bagas, sepertinya kamu lupa gosok gigi pagi ini. Bau mulutmu... ah tidak, bau sampah dari kata-katamu ini benar-benar bikin mual," sindir Salma pedas.
Seluruh kelas melongo. Bagas yang badannya jauh lebih besar tidak bisa bergerak sedikit pun.
Salma kemudian menyeret Bagas keluar menuju koridor, di mana banyak siswa kelas lain sedang berkumpul sebelum bel masuk.
"Minta maaf," tuntut Salma dingin.
"Nggak mau! Lepasin gue, gila!" teriak Bagas malu karena ditonton banyak orang.
Tepat saat itu, Manda muncul dengan "pasukan pelindungnya".
Ia melangkah mendekat dengan wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat.
"Salma, astaga! Lepasin Bagas. Ini sekolah, jangan bikin keributan lagi. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik," ujar Manda lembut, mencoba mengambil peran sebagai penengah yang bijak.
Salma tidak melepaskan Bagas, melainkan justru membiarkan air matanya jatuh, akting yang sempurna.
"Kak, kenapa Kakak selalu menyalahkanku tanpa tanya dulu? Bagas menghinaku dan Aksa di depan semua orang dengan kata-kata kasar.
Aku cuma minta dia minta maaf karena aku merasa sangat terluka. Apa salah kalau aku membela harga diriku?"
Manda tertegun. Ia tidak menyangka Salma akan membalasnya dengan cara yang sama, bermain peran sebagai korban.
Aksa pun maju memberikan kesaksian, diikuti beberapa siswa lain yang memang tidak suka dengan sifat sombong Bagas.
"B-benar, Bagas yang m-mulai duluan," bela Aksa.
Manda terpojok. Ia harus menjaga citranya di depan umum.
Akhirnya, ia berbalik menatap Bagas dengan tegas yang dipaksakan. "Bagas, kalau memang kamu salah bicara, sebaiknya minta maaf pada adikku."
Bagas yang ketakutan melihat sorot mata Salma yang sebenarnya sangat dingin di balik air mata itu, akhirnya menunduk.
"Oke, gue minta maaf, Sal. Gue tadi cuma bercanda."
"Minta maaf itu harus tulus, bukan karena terpaksa," potong Salma sambil menyeka air mata, suaranya kembali tegar.
Ia menatap kerumunan siswa. "Aku tidak akan mentoleransi siapapun yang mencoba menginjak-injakku lagi.
Dan kalian," ia menunjuk Melly dan pengikut Manda lainnya, "jangan jadi 'anjing penjaga' yang cuma bisa menggonggong tanpa tahu masalah aslinya."
Mendengar itu Melly spontan meradang. "Salma, jaga bicaramu! Manda itu sayang banget sama kamu, jangan kurang ajar!"
Salma tersenyum manis pada Manda. "Aku tahu Kak Manda sayang aku. Makanya, Kakak nggak akan keberatan kan kalau aku bilang ke orang-orang kalau teman-teman Kakak ini justru yang sering mengadu domba kita? Mereka sering bilang Kakak benci aku di belakangku."
Wajah Manda menjadi pucat pasi. Ia terpaksa memeluk Salma dan berkata, "Tentu saja, Sayang. Mereka hanya salah paham."
Dalam hati, Manda ingin sekali mencekik Salma saat itu juga.
Salma kemudian berbalik pada Aksa, "Aksa, nanti pulang sekolah tunggu aku ya. Kita ada janji makan, kan?"
Aksa mengangguk pelan dengan rona merah di pipinya.
penampilan cupu ternyata suhu 😂