Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pria Paling Tampan Itu Aku
Suasana dingin di dalam mobil membuat Anita Lewis duduk tegak dengan cemas. Perasaan ini begitu asing baginya. Sebagai Michelle Valen, dulu dia tak pernah segugup ini, bahkan saat berhadapan dengan pembunuh bayaran kelas kakap sekalipun. Tapi aura Dion Leach... sungguh sangat mengintimidasi.
Di depan, Philip, sang sopir, ikut tegang. Melirik dari kaca spion, ia khawatir melihat ekspresi Dion yang gelap. Apa tuan muda akan kehilangan kesabarannya?
Sebenarnya, Dion kesal bukan main. Bagaimana bisa Anita dengan entengnya menyerahkan posisinya sebagai istri pada orang lain? Apa dia tak berarti apa-apa baginya?
Anita menyetujui penggantian itu tanpa protes, bahkan tanpa permintaan maaf. Duduk tenang di sana, seolah tak menyadari kesalahannya. Semakin Dion memikirkannya, amarahnya kian membara, membuat suasana di dalam mobil semakin membeku. Philip sampai menahan napas, takut menjadi sasaran kemarahan sang tuan muda.
Anita sendiri merasa tak nyaman. Ia mulai mengetuk-ngetukkan jari di lututnya, lalu meraih ponselnya, berusaha mengalihkan perhatian.
Dion memperhatikan gerak-geriknya. Kemarahan yang tadi mereda kini kembali menyala. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri, lalu menoleh pada Anita.
"Anita," ucapnya berat.
Anita mendongak. "Ya? Ada apa?"
Melihat ekspresi polos di wajahnya, seolah tak ada yang salah, Dion menajamkan suaranya. "Kau... benar-benar setuju digantikan tadi?"
Apa dia sungguh akan membiarkan Selene menggantikannya jika Dion tak datang dan turun tangan di pemakaman itu?
Anita menangkap nada dingin dan berbahaya dalam suara Dion. Ia menggeleng cepat. "Nggak, lah! Kan aku yang bakal jadi Nyonya Leach!"
Anita tak berbohong. Ia memang berniat kembali ke kota S dengan identitas baru sebagai wanita dari keluarga Leach.
Mendengar itu, Dion yang tadinya merengut langsung merasa sedikit lega. Ia tersenyum tipis, lalu menatap Anita serius. "Jangan pernah bilang begitu lagi. Nyonya Leach itu cuma kamu, dan nggak akan pernah ada yang lain!"
Anita tertegun menatapnya.
Tiba-tiba, Dion mencium aroma anyir darah. Perasaannya yang tadi membaik langsung lenyap. Ia menatap Anita dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengerutkan kening. "Kamu terluka?"
Anita melirik betis kanannya, tempat darah sudah mengering. "Ah, ini... hanya luka kecil kok. Nggak apa-apa."
Belum selesai ia bicara, Dion sudah bergerak mendekat. Tangannya meraih paha Anita, mengangkat roknya sedikit untuk melihat luka di betisnya dengan jelas.
Jarak mereka begitu dekat, Anita bisa mencium aroma obat yang khas bercampur dengan wangi tubuh Dion. Wajahnya langsung terasa panas.
Telapak tangan Dion menyentuh pahanya, kehangatannya menjalar melalui kain rok yang tipis. Ini pertama kalinya Anita sedekat ini dengan seorang pria. Jantungnya langsung berdebar kencang, ia menahan napas karena gugup.
Dion menatap luka di betis Anita dengan tatapan marah. Darah yang mengering itu tampak begitu mencolok di kulitnya.
"Ini nggak serius kamu bilang?" Dion menatapnya tajam. "Siapa yang bikin kamu kayak gini?"
Anita bingung melihat kemarahan Dion. Ia menjawab pelan, "Nggak serius kok. Aku sendiri yang bikin. Nggak ada hubungannya sama orang lain."
Dion kembali bertanya, suaranya dingin menusuk tulang. "Siapa yang nyakitin kamu? Gimana bisa kamu terluka?"
Dia bersumpah akan mematahkan kaki orang yang berani melukai Anita!
"Eh... beneran... ini gara-gara aku sendiri, makanya terluka." Anita baru saja membuka mulutnya ketika melihat mata Dion yang agak merah. Pertanda burukakan terjadi. Kegilaannya akan menyerang lagi.
Anita buru-buru berkata, "Gerry yang ambil kendi kaca buat mukul aku, tapi aku nendang dia duluan. Kendinya jatuh ke tanah, pecahannya mental, terus kena kaki aku. Lukanya nggak parah kok, nggak sakit juga."
Selesai bicara, ia mengangkat tangannya, menutupi mata Dion. Mencegahnya melihat darah. "Udah, jangan marah. Kamu serem bangat kalau marah seperti gitu."
Bagaimanapun juga, begitu kegilaan Dion kambuh, dia bisa membunuh siapa saja yang ada di dekatnya. Anita tak mau lehernya dicekik lagi.
Mata Dion tertutup, membuatnya lebih sensitif pada bau darah. Namun, aroma obat samar dari tangan Anita yang halus melilit hidungnya. Suara lembutnya meredakan kekerasannya.
Dion tahu betul betapa menakutkannya dia saat penyakitnya menyerang. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. "Oke," jawabnya pelan.
Saat itu, Philip menemukan tempat parkir yang aman. Ia menepi, lalu mengeluarkan peralatan medis dari bagasi. "Nona, biar saya obati kaki Anda."
Di dalam kotak P3K itu selalu tersedia obat-obatan Dion, termasuk alkohol untuk disinfeksi dan hemostatik. Saat Dion kambuh, dia tak hanya melukai orang lain, tapi juga dirinya sendiri. Jadi, obat-obatan ini selalu siap sedia, diperbarui setiap minggu.
Dion berkata lembut, "Biar aku saja yang obati."
Anita menatap kotak P3K itu dengan ragu. "Luka kecil kayak gini nggak perlu diperban, kok."
Baginya, luka sekecil itu tak ada bedanya dengan gigitan nyamuk.
Tapi Dion bersikeras. Ia ingin mengobati lukanya Anita sendiri.
Philip membuka pintu mobil sambil memegang kotak obat, berdiri di samping mereka. Ia tersenyum tipis. "Tuan Muda sangat peduli pada Anda. Dia bahkan nggak peduli sama lukanya sendiri."
Philip parkir di dekat taman, memastikan ada cukup ruang bagi Dion untuk berjongkok.
Anita menatap Dion. "Dion, ini cuma luka kecil, beneran deh... aku baik-baik saja."
Dion tak menjawab. Ia berlutut dengan satu kaki, lalu dengan hati-hati meraih kaki Anita dan meletakkannya di lututnya.
Anita mencoba menarik kakinya, tapi Dion menahannya dengan kuat. "Kalau kamu gerak lagi, aku patahin kakimu."
Anita, " ......."
Benar-benar pria yang suka mendominasi!
Anita duduk di dalam mobil, menatap Dion yang berlutut di depannya.
Dengan serius dan hati-hati, Dion membersihkan lukanya. Seolah takut menyakitinya, dia begitu lembut, memperlakukannya seperti boneka porselen yang bisa hancur jika disentuh terlalu keras.
Pemandangan Dion berlutut mengingatkannya pada saat Andrew Morris melamarnya dulu.
Siaran lamaran itu disiarkan ke seluruh negeri. Andrew berlutut di hadapannya, memegang bunga di satu tangan dan cincin berlian di tangan lainnya.
Saat itu, Anita tak merasa gembira, terkejut, atau malu. Ia hanya kaget dan kesal karena dipaksa menerima lamaran di depan umum.
Sekarang, menatap Dion, ia merasakan emosi yang berbeda.
Mungkin karena perbedaan niat kedua pria itu.
Andrew melamarnya sebagai bagian dari misi, dengan motif tersembunyi untuk menguasai properti keluarga Valen.
Sementara Dion hanya khawatir ia terluka.
Mengingat perseteruan berdarah yang belum terbalaskan, Anita berusaha menepis emosi aneh yang mulai tumbuh di hatinya.
Setelah membersihkan luka dan membalutnya dengan kain kasa, Dion menatap Anita. "Jangan hadapi apa pun sendirian. Tuan Leach-mu ini bukan cuma pajangan."
Anita menatap simpul pita yang berantakan di betisnya. Hasil karya Dion. Ia mendongak menatap Dion, lalu mengangguk. "Oke, oke Tuan Leach...."
Ia kehilangan orang tuanya di usia lima belas tahun, dan saudara laki-lakinya hilang di laut. Ia sendirian saat para tetua keluarga Valen mengincar Grup Valen. Ia harus berjuang sendiri.
Dulu, ada Andrew, Vebri, dan Joy, yang selalu ada untuknya. Mereka bilang dia tak sendirian. Dia mempercayai mereka.
Tapi kini, dua di antara mereka telah mengkhianatinya, bahkan membunuhnya. Sementara Joy masih tak tahu apa-apa dan masih berteman dengan para pengkhianat itu.
Jadi, pada akhirnya, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Dion menyadari perubahan emosi Anita yang mendadak. Ada kesedihan di sana. Ia mengerutkan kening, tapi tak berkata apa-apa.
Philip merasakan perubahan suasana. Dengan hati-hati, ia bertanya, "Tuan Muda, apa kita langsung ke kantor, atau..."
Dion menjawab, "Pulang dulu."
Anita menyahut, "Ke Klub Moonshine aja, Philip."
Dion menundukkan pandangannya, menatap Anita dengan tidak senang. "Nyonya Leach, apa kamu lupa kalau kamu itu istriku?"
Klub Moonshine adalah klub malam terbesar di Kota F. Tempat para pramugari dan pelayan bar bekerja.
Ada banyak gadis-gadis muda yang menjual diri, ada pula penghibur kelas atas yang hanya melakukan pertunjukan.
Tentu saja, target tamu Moonshine Club hanya tertuju pada kekuasaan dan uang.
Dion sendiri kadang pergi ke Moonshine Club untuk urusan bisnis.
Tapi sekarang, dia tak mau Anita pergi ke sana. Karena semua "anak laki-laki" yang dulu dipelihara Anita berasal dari Klub Moonshine!
Mengizinkan Anita pergi ke Klub Moonshine sama saja dengan mengkhianati dirinya sendiri.
Anita menatap Dion, berkata dengan serius, "Aku mau cari orang yang bisa periksa obatmu. Sekalian, aku mau nyingkirin orang-orang itu."
Dion menatap Anita cukup lama, mencari kebohongan di matanya. Namu tak menemukannya, ia akhirnya mengangguk. "Kamu boleh pergi setelah lukamu sembuh."
Dia mempercayai Anita saat dia bilang akan melakukan pemeriksaan obat.
Anita ingin mengatakan, kalau saja Dion tak menemukan lukanya secepat ini, mungkin lukanya sudah sembuh sekarang.
Tapi ia tak mau protes. Cukup puas karena Dion sudah mengalah. "Baiklah, terimakasih suamiku."
Philip bergegas menyetir, berbalik arah menuju kediaman keluarga Leach. Ia merasa lega melihat suasana sudah membaik lagi.
Mobil berhenti dengan mulus di halaman rumah. Tanpa sepatah kata pun, Anita keluar dari mobil, tapi Dion langsung mengangkatnya.
Anita tak berdaya untuk menolak ajakan Dion. "Ahh...Dion aku bisa jalan sendiri."
Dion tak menjawab. Ia menggendong Anita ke dalam rumah, meninggalkan Drake Leach yang tua di ruang tamu dengan ekspresi tercengang.
Dion membawanya ke kamar, membaringkannya di tempat tidur. "Istirahat yang benar karena kamu terluka. Jangan ke mana-mana, dan jangan sampai lukamu kena air."
Lebih baik menuruti laki-laki yang suka mendominasi, pikir Anita. Ia mengangguk patuh. "Oke."
Dion merasa lega, berbalik untuk pergi. Sesampainya di pintu, ia berhenti, dan memanggilnya tanpa menoleh. "Anita."
Anita mendongak menatapnya. Dion tak berbalik, jadi ia hanya bisa melihat punggung ramping dan bagian belakang kepalanya. "Ada apa?"
Meski baru dua hari, Anita menyadari bahwa Dion memanggilnya "Nyonya Leach" saat suasana hatinya sedang baik, dan "Anita" saat suasana hatinya sedang buruk.
Sepertinya, "Nyonya Leach" adalah nama panggilannya.
Dion pun berkata, "Pria paling tampan di Kota F itu adalah aku."
Artinya kalau dia menginginkan pria tampan, dia hanya boleh menatapnya.
"Anak laki-laki" yang dulu dia pelihara itu vulgar dan tak enak dipandang!
Anita tertegun. "Eh... apa?!"
Dion menatapnya, bertanya, "Ngerti , kan?"
Bersambung......