NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Elena mencoba mengatur napas di sela isakannya. Tangannya menggenggam erat kain rok, berusaha menahan gemetar yang tak kunjung reda. Hatinya berantakan, pikirannya penuh dengan amarah bercampur putus asa.

“Aku benci dia… aku benci Alexander…” bisiknya parau. Tapi semakin ia ucapkan kata itu, semakin perih rasanya di dada.

Ia meraih tisu di atas wastafel, buru-buru menyeka air matanya, lalu menatap wajah sendiri di cermin. Wajah pucat dengan mata merah bengkak menatap balik kepadanya. Ia menggertakkan gigi. Aku tidak boleh terlihat seperti ini. Tidak di depan Steve, apalagi Leon.

Setelah menarik napas panjang, Elena berusaha menenangkan diri, merapikan rambutnya, lalu keluar dari toilet.

---

Di meja, Steve sedang mengobrol dengan Leon yang asyik menggambar di kertas tisu dengan pensil warna yang selalu dibawanya. Ketika Elena kembali, Steve langsung berdiri. “Elena, kau baik-baik saja? Wajahmu… pucat sekali.”

Elena tersenyum kaku, berusaha menutupi getaran di suaranya. “Aku hanya… merasa sedikit pusing. Tidak apa-apa.”

Leon menoleh, matanya berbinar polos. “Mama, kau lama sekali! Leon sampai sudah menggambar Uncle Steve jadi superhero.” Ia menunjukkan kertas tisu penuh coretan dengan bangga.

Elena mengangguk, menyentuh kepala putranya lembut. “Bagus sekali, sayang.”

Namun saat ia duduk, ia merasakan tatapan Steve yang tajam meneliti dirinya. Steve mencondongkan tubuh, suaranya lebih pelan. “Elena, apa ada sesuatu yang terjadi? Kau… terlihat habis menangis.”

Elena terkejut sejenak, buru-buru menggeleng. “Tidak… tidak ada apa-apa. Jangan khawatir.”

Tapi jelas sekali kebohongan itu mudah terbaca. Steve ingin bertanya lebih jauh, namun tatapan Elena yang memohon membuatnya memilih diam. Ia hanya menaruh tangannya di atas meja, mendekat ke arah Elena seakan memberi kehangatan lewat jarak yang terbatas.

Di sudut ruangan, tanpa mereka sadari, Alexander berdiri tegak di balik kaca besar restoran, rokok menyala di jarinya. Tatapannya menusuk ke arah Elena dan Steve.

“Kau hanya milikku, Elena.”

Leon menggenggam pensil warnanya, tapi matanya tak lagi fokus pada gambar. Sesekali ia melirik ke arah Mamanya yang berusaha tersenyum, meski jelas sekali mata itu sembab. 'Mama habis menangis…' pikirnya dalam hati, bibir kecilnya menekuk.

Tatapan Leon menyapu sekeliling restoran. Awalnya polos, tapi lalu berhenti di arah jendela besar. Ia melihat sekilas bayangan tegap pria dengan rokok menyala di jarinya. Mata tajam itu menatap langsung ke arah mereka.

Leon terdiam. Bola matanya berkilat. 'Papa…'

Tangannya yang mungil meraih ponsel kecil dari saku jaketnya. Meski usianya baru lima tahun, jemari Leon lincah mengetik kode rahasia di layar. Cahaya ponsel itu sesaat memantul di matanya yang penuh ketenangan misterius.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

---

Di luar restoran, Alexander berdiri sambil terus memperhatikan Elena dan Steve. Asap rokok mengepul tipis di udara. Rahangnya mengeras, pikirannya hanya dipenuhi rasa marah bercampur cemburu.

Tiba-tiba...

DRRTT… DRRTT…

Ponselnya bergetar. Alexander mengangkatnya. “Apa?”

Suara panik sang asisten terdengar. “Tuan! Sistem utama perusahaan… diserang virus! Semua data penting terkunci. Kami sudah memanggil tim keamanan siber, bahkan beberapa hacker profesional, tapi tidak ada yang bisa menembusnya!”

Alexander menyipitkan mata, rokok di jarinya nyaris jatuh. “Apa kau bilang?!”

“Jika tidak segera diatasi, semua data riset bisa hilang, Tuan!”

Alexander mengumpat pelan, wajahnya berubah tegang. Pandangannya sempat kembali ke arah Elena di dalam restoran, lalu ia menghentakkan rokoknya ke asbak terdekat. “Siapkan mobil. Aku segera ke kantor.”

Telepon ditutup. Dengan langkah cepat dan aura dingin, Alexander meninggalkan restoran.

---

Di dalam, Leon menatap punggung Papanya yang menjauh dengan tatapan penuh arti. Senyum kecil muncul di wajah mungilnya.

Ia menunduk kembali pada kertas tisu yang tadi ia gambar. Dia kembali terlihat menggambar seperti anak kecil pada umumnya.

Bisikan lirih keluar dari bibirnya.

“Itu hukumanmu, Papa… karena berani menyakiti Mama.”

Sementara Elena masih berusaha mengatur napasnya, Steve tersenyum menutupi kecanggungan. “Leon, gambarmu semakin bagus, ya. Superhero Uncle Steve ini keren sekali,” ujarnya, berusaha mencairkan suasana.

Leon hanya tersenyum polos, meski sorot matanya masih menyimpan sesuatu. Ia kembali menggambar seolah tidak terjadi apa-apa, padahal hatinya dipenuhi kepuasan. 'Papa pasti sekarang sibuk, tidak akan mengganggu Mama lagi.'

Elena menatap anaknya dengan lembut. Ia tidak tahu bahwa di balik wajah polos itu, Leon menyimpan rahasia besar yang bahkan orang dewasa pun sulit melakukannya.

---

Sementara itu, di kantor pusat Thorne tower, suasana mencekam. Alarm darurat di ruang server berbunyi nyaring, layar-layar monitor penuh dengan kode merah yang terus bergulir cepat.

“Data enkripsi kita terkunci total, Tuan!” salah satu teknisi panik. “Virus ini… bukan virus biasa. Ia seperti punya AI yang bisa menyesuaikan serangan setiap kali kita mencoba melawannya.”

Alexander berdiri di tengah ruangan dengan wajah kelam. Jas hitamnya masih melekat, tapi dasinya sudah longgar. Rahangnya mengeras, matanya tajam menusuk layar.

“Berapa lama lagi sebelum sistem benar-benar runtuh?” tanyanya dingin.

“Hitungan jam, Tuan. Kalau tidak segera diatasi, seluruh riset BioNano Project akan hilang.”

Alexander mengepalkan tangannya. “Panggil semua hacker bayaran di daftar kita. Aku tidak peduli berapa bayarannya. Aku ingin sistem ini kembali normal malam ini juga.”

“Asalkan Tuan tahu…” teknisi itu menelan ludah. “…virus ini seolah tahu cara kerja kita dari dalam. Seperti… diciptakan oleh seseorang yang sangat jenius.”

Suasana ruang server semakin mencekam. Hanya suara beep dari alarm dan dentingan cepat jari para teknisi di keyboard yang terdengar.

Alexander berdiri tegap di tengah ruangan, wajahnya gelap, rahangnya mengeras. Asap rokok terakhirnya masih terasa di tenggorokannya, tapi pikirannya lebih panas dari bara api.

Saat itulah, Ava, asisten pribadinya yang selalu setia, melangkah mendekat. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tegas namun tenang. Ia menunduk sedikit, suaranya rendah tapi jelas.

“Tuan, jika boleh memberi saran…”

Alexander melirik sekilas, sorot matanya tajam. “Bicara, Ava.”

Ava menatap layar yang penuh kode merah, lalu kembali menoleh ke arah Alexander. “Panggil dia.”

Kening Alexander berkerut. “Dia?”

“Leo S,” jawab Ava mantap. “Pemuda yang beberapa bulan lalu menjual prototipe alat enkripsi BioShield kepada kita. Sistem pertahanan siber yang sekarang menjadi keunggulan Thorne Corporation… itu ciptaannya. Jika ada orang di dunia ini yang bisa menembus dan menghancurkan virus ini, maka hanya dia.”

Ruangan hening seketika. Semua kepala teknisi mendongak, menatap Alexander dengan harapan.

Nama itu, Leo S. Alexander ingat betul. Seorang jenius misterius yang usianya masih belasan tahun, tapi hasil karyanya mengalahkan tim R&D dengan ratusan ilmuwan. Ia tak pernah muncul langsung di hadapan publik. Semua transaksi dilakukan lewat perantara, dengan identitas yang dirahasiakan.

Alexander menyalakan rokok lagi, hisapan pertamanya berat, lalu mengepulkan asap. “Kenapa dia?” suaranya dingin.

“Karena,” jawab Ava, menatap mata bosnya tanpa gentar, “bahkan virus ini… terlihat seperti sengaja dibuat untuk menguji kelemahan BioShield. Siapa lagi yang bisa menandingi sistem secerdas itu, kalau bukan penciptanya sendiri?”

Alexander terdiam lama. Matanya menyipit. “Kau yakin Leo S mau membantu kita?”

Ava mengangguk pelan. “Uang bukan masalah baginya. Tapi… aku rasa ada alasan lain kenapa dia selalu menerima kerjasama dengan perusahaan kita.”

Alexander menoleh cepat, tatapannya penuh curiga. “Alasan lain?”

Senyum samar muncul di bibir Ava. “Entah bagaimana, aku merasa… Leo S punya ikatan pribadi denganmu, Tuan.”

Alexander terdiam, jantungnya berdentum tanpa alasan.

---

Sementara itu…

Di restoran kecil tadi, Leon sudah tertidur di pangkuan Elena. Senyum polosnya masih terukir, seperti malaikat kecil yang lelah setelah makan siang. Elena mengusap rambut anaknya dengan lembut, tak menyadari bahwa ponsel mungil di saku Leon masih menyala, layar gelapnya menampilkan simbol S berwarna biru, identitas tersembunyi Leo S.

Leon, si bocah lima tahun yang dicintai Elena… adalah dalang di balik badai digital yang kini mengguncang kerajaan bisnis Alexander.

Senyum kecil muncul di bibir mungilnya dalam tidur.

‘Papa… kau harus belajar. Kau tak bisa menyakiti Mama sesukamu lagi.’

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!