NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota Tanpa Ratu

Makan malam di kediaman utama keluarga Bagaskara kali ini terasa berbeda.

Tidak ada ketegangan yang mencekik seperti minggu lalu. Tidak ada tamu undangan yang membawa anak gadis mereka untuk dipamerkan. Hanya ada denting halus pisau dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen, memotong steak Wagyu A5 yang dimasak medium rare.

Edward Bagaskara meletakkan serbetnya di meja, lalu menyesap wine merah tua di gelasnya. Ia menatap putranya dari ujung meja. Tatapan itu bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan tatapan penuh perhitungan—tatapan sesama predator yang mengakui kekuatan lawannya.

"Aku harus akui," suara Edward memecah keheningan, nadanya tenang namun berwibawa. "Langkahmu memotong Bank Sentosa dan menggandeng konsorsium Jepang... itu berisiko tinggi. Sangat nekat. Orang Jepang terkenal sangat detail dan kaku soal kepatuhan."

William tetap mengunyah makanannya dengan tenang, tidak terintimidasi. "Mereka kaku, tapi mereka menghargai loyalitas dan data, Yah. Bukan politik keluarga."

Edward tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat. "Kau benar. Kau mengingatkanku pada diriku saat muda. Agresif. Tak kenal takut. Kau membuktikan bahwa kau bukan sekadar pewaris yang duduk di kursi empuk, tapi kau adalah pemimpin yang bisa berdarah-darah demi mempertahankan wilayahmu."

Nyonya Sofia ikut tersenyum bangga, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran ibu-ibu sosialita. "Teman-teman arisan Mama heboh semua, Will. Mereka bilang saham Bagaskara jadi primadona baru di bursa Asia karena masuknya dana Yen itu. Kamu benar-benar membuat nama keluarga kita makin disegani."

William meletakkan pisaunya. "Terima kasih. Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan."

"Nah," Edward menyandarkan punggungnya di kursi. "Sekarang, karena urusan bisnis sudah stabil, dan kau sudah membuktikan kemampuanmu... kita kembali ke topik yang tertunda."

Jantung William berdetak waspada. Ini dia.

"William," lanjut ibunya lembut. "Kamu sudah 30 tahun. Karirmu di puncak. Hartamu tidak akan habis tujuh turunan. Apa lagi yang kamu cari?"

"Ekspansi pasar Asia Timur, Bu," jawab William cepat. "Dan integrasi teknologi robotik Jepang ke sistem logistik kita."

"Bukan itu maksud Mama!" Sofia mendesah. "Maksud Mama, pendamping hidup. Istri. Ratu untuk kerajaannmu yang megah itu."

Edward mengangguk setuju. "Kami tidak akan memaksamu dengan Celine lagi. Kau sudah membuktikan kau tidak butuh koneksi bank bapaknya. Tapi kau tetap butuh istri, William. Seorang CEO butuh stabilitas di rumah. Dan yang lebih penting, Bagaskara butuh pewaris."

Edward mencondongkan tubuh ke depan. "Kau boleh pilih siapa saja. Asal dia wanita baik-baik, berpendidikan, dan jelas asal-usulnya. Bawa dia ke hadapan kami. Nikahi dia tahun ini."

William terdiam. Ia menatap pantulan wajahnya di gelas wine.

Menikah?

Bayangan wajah Adinda melintas di benaknya. Adinda dengan pakaian serba hitam yang tajam di pameran seni (yang ia lihat fotonya di media sosial Arthur secara diam-diam). Adinda yang tertawa saat makan sate.

Menikah dengan wanita lain selain Adinda terasa seperti pengkhianatan terhadap hatinya sendiri. Tapi membawa Adinda masuk ke keluarga ini sekarang sama saja dengan melempar domba ke kandang serigala. Orang tuanya baru saja mulai menghormatinya; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan gencatan senjata ini.

"Tidak sekarang," jawab William tegas.

Wajah ibunya berubah kecewa. "Kenapa lagi, Will? Kau mau menunggu sampai ubanan?"

"Karena saya sibuk, Bu," William beralih ke mode CEO-nya yang dingin dan penuh logika. "Masuknya dana investasi Jepang membawa tanggung jawab besar. Saya harus mengawasi proyek Green City 24 jam sehari sesuai standar Kaizen mereka. Saya akan terbang ke Tokyo bulan depan, lalu ke Osaka, lalu ke New York untuk roadshow saham."

William menatap kedua orang tuanya bergantian.

"Pernikahan butuh waktu dan dedikasi. Saya tidak mau menikahi wanita hanya untuk menjadikannya pajangan di rumah kosong sementara suaminya keliling dunia. Itu tidak adil bagi dia, dan tidak efisien bagi saya."

Edward menatap putranya tajam, mencari celah kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah tembok profesionalisme yang kokoh.

"Kau benar-benar gila kerja," gumam Edward, setengah kesal setengah kagum. "Kau menjadikan pekerjaanmu sebagai istrimu."

"Untuk saat ini, ya. Bagaskara Corp adalah prioritas tunggal saya," tegas William.

Nyonya Sofia tampak ingin membantah, tapi Edward mengangkat tangan, menghentikan istrinya.

"Baiklah," putus Edward. "Fokuslah pada ekspansimu. Buat investor Jepang itu senang. Tapi ingat, William... jam biologis terus berdetak. Aku beri kau waktu dua tahun. Setelah itu, tidak ada alasan lagi. Kau harus memberikan kami cucu."

"Dua tahun," ulang William. "Sepakat."

William bangkit dari kursi, merapikan jasnya. "Terima kasih makan malamnya. Saya harus kembali ke kantor. Ada laporan dari tim teknis Tokyo yang harus saya tinjau karena perbedaan zona waktu."

"Malam-malam begini?" tanya ibunya heran.

"Uang tidak pernah tidur, Bu."

William mencium tangan kedua orang tuanya dengan hormat, lalu berjalan keluar dari ruang makan megah itu dengan langkah tegap.

Saat ia sampai di mobilnya yang terparkir di halaman, William menghela napas panjang. Bahunya merosot sedikit.

Ia berbohong.

Dia tidak sesibuk itu. Timnya solid, Rudi kompeten, dan sistem perusahaan berjalan otomatis. Dia sengaja menimbun dirinya dengan pekerjaan agar dia punya alasan untuk tidak pulang ke rumah yang sepi. Agar dia punya alasan untuk menolak wanita manapun yang mendekat.

William masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin. Ia melihat ke kursi penumpang yang kosong.

"Dua tahun, Dinda," bisik William pada kekosongan di sebelahnya.

Dua tahun adalah waktu yang ia beli dari orang tuanya.

Dua tahun untuk membuat posisinya tak tergoyahkan.

Dua tahun untuk membiarkan Adinda menyelesaikan kuliahnya dan tumbuh menjadi wanita yang kuat.

William memegang setir erat-erat. Ia rela menunggu. Ia rela bekerja sampai mati rasa, asalkan di ujung jalan sana, ada kemungkinan—sekecil apa pun—bahwa ia bisa bersanding dengan satu-satunya wanita yang membuatnya merasa hidup.

Malam itu, William Bagaskara kembali ke kantornya, memilih berteman dengan tumpukan kertas dan cahaya layar laptop daripada kehangatan palsu sebuah pernikahan tanpa cinta.

Bersambung...

1
gina altira
Suka sama ceritanya, ga lebay. Bikin nagih bacanya, tiap hari nunggu update.
Qyzz🇲🇾
maaf kak author..aku ingin bertanya,bukan bermaksud untuk menjatuhkan kak author.novel ini menggunakan AI ke?sebab penggunaan kata macam AI.maaf kalau soalan ni mengganggu kak author.🙏
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!