cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR BELADIRI DI PADEPOKAN MERPATI PUTIH
Bab 16 – Napas yang Ditempa
Pagi masih berkabut ketika Sandi tiba di padepokan Merpati Putih. Tanah halaman masih basah oleh embun, udara dingin menyusup hingga ke tulang. Ia berdiri tegak di tengah lapangan, tanpa alas kaki, mengenakan pakaian latihan hitam sederhana.
Di hadapannya, Master Darmaji—atau yang oleh murid-murid senior disebut Aster Darmaji—berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Tatapannya lebih tajam dari biasanya.
“Kau sudah menyentuh batas,” ucap sang guru tanpa basa-basi.
“Sekarang kita lihat… apakah kau layak melampauinya, atau justru dihancurkan olehnya.”
Sandi menunduk hormat.
“Saya siap, Guru.”
Latihan hari itu berbeda.
Bukan pukulan.
Bukan tendangan.
Aster Darmaji memerintahkan Sandi duduk bersila di atas batu datar, tepat di bawah pohon tua. Di sekelilingnya, murid-murid lain berdiri membentuk lingkaran, menjaga jarak.
“Napas,” kata sang guru pelan,
“bukan hanya untuk menguatkan. Tapi untuk menahan.”
Ia meletakkan telapak tangannya perlahan di dada Sandi—tepat di atas jantung.
“Tarik.”
Sandi menarik napas dalam.
“Tahan.”
Detik demi detik berlalu. Dada Sandi terasa seperti ditekan dari dalam. Keringat mulai mengalir meski udara dingin.
“Lepaskan… perlahan.”
Saat napas dilepas, Aster Darmaji mendorong ringan—namun dorongan itu seperti gelombang. Tubuh Sandi terdorong mundur satu meter, namun ia tidak jatuh.
Alis sang guru terangkat tipis.
“Kau mulai bisa menyalurkan… tanpa meledak.”
Latihan berlanjut hingga matahari naik.
Sandi dipaksa berlari mengelilingi padepokan sambil mengatur napas, lalu langsung masuk ke sesi tanding bertubi-tubi. Setiap kesalahan kecil dihukum dengan pengulangan. Setiap emosi yang muncul—marah, takut, ragu—langsung dihentikan.
“Jika hatimu goyah,” bentak Aster Darmaji,
“tenaga dalam akan berubah jadi racun!”
Sandi menggertakkan gigi, menahan rasa perih di otot dan dada.
Ia jatuh. Bangkit. Jatuh lagi. Bangkit lagi.
Hingga siang menjelang.
Hari itu, dua mobil berhenti di depan padepokan.
Dr. Hadijah turun lebih dulu, mengenakan hijab biru tua. Di belakangnya, Laura dan Anisa melompat turun hampir bersamaan. Anisa langsung berlari kecil, matanya berbinar melihat halaman luas dan para pesilat berlatih.
“Ini tempat Mas Sandi latihan?” tanya Laura kagum.
Dr. Hadijah mengangguk.
“Tempat di mana disiplin ditempa… bukan hanya otot.”
Mereka disambut oleh salah satu murid senior dan dipersilakan duduk di pendopo samping. Dari sana, mereka bisa melihat jelas arena latihan utama.
Laura langsung mengenali sosok Sandi.
Ia terdiam.
Sandi berdiri di tengah lapangan, berhadapan dengan tiga murid senior sekaligus. Napasnya teratur, wajahnya tenang—namun aura di sekelilingnya terasa berbeda. Lebih padat. Lebih sunyi.
“Mas Sandi…” bisik Laura.
Anisa memegangi tangan kakaknya.
“Dia kayak pahlawan,” katanya polos.
Aster Darmaji memberi aba-aba.
Serangan dimulai.
Tiga lawan bergerak cepat—namun Sandi tidak mundur. Ia melangkah masuk, memutar badan, menangkis dengan siku, lalu satu sentuhan singkat ke bahu lawan pertama. Lawan itu langsung terhenti, jatuh berlutut sambil memegangi lengannya.
Yang kedua menyerang dari samping—Sandi hanya menggeser kaki, telapak tangannya menempel sebentar di punggung lawan.
BRUK.
Lawan itu terjatuh tanpa terlempar keras—namun tidak bisa bangun.
Lawan ketiga ragu sesaat.
Dan keraguan itu cukup.
Sandi menatapnya—bukan dengan marah, tapi dengan kendali penuh.
Satu langkah. Satu dorongan pendek ke dada.
Latihan dihentikan.
Aster Darmaji mengangkat tangan.
“Cukup.”
Lapangan sunyi.
Laura menelan ludah.
“Mas Sandi… beda,” ucapnya lirih.
Dr. Hadijah menatap dengan wajah serius—bukan takut, tapi penuh pemahaman.
“Itu kekuatan yang mahal harganya,” katanya pelan.
“Jika salah arah… ia menghancurkan pemiliknya.”
Sandi akhirnya melihat ke arah pendopo.
Tatapannya bertemu Laura dan Anisa.
Ia tersenyum kecil—lelah, tapi tulus.
Anisa langsung melambai dengan dua tangan.
“Mas Sandiii!”
Sandi tertawa kecil, lalu menunduk hormat ke arah gurunya.
Aster Darmaji mendekat ke Dr. Hadijah.
“Anak ini,” katanya singkat,
“sedang berdiri di persimpangan.”
“Antara pelindung… atau senjata.”
Dr. Hadijah mengangguk pelan.
“Maka tugas kita,” jawabnya,
“adalah memastikan ia tetap manusia.”
Di kejauhan, angin berembus pelan.
Tak seorang pun menyadari—
bahwa di balik pagar padepokan,
sepasang mata asing mengintai.
Dan bahwa ujian Sandi…
belum mencapai puncaknya.
Sore itu, padepokan Merpati Putih kembali lengang. Latihan telah usai, murid-murid pulang satu per satu. Aroma tanah basah bercampur keringat masih menggantung di udara.
Sandi duduk bersila di pendopo, handuk melingkar di leher. Napasnya sudah kembali normal, namun pikirannya belum sepenuhnya tenang. Adegan latihan siang tadi terus terulang di benaknya—tatapan Laura, sorak polos Anisa, dan kalimat Aster Darmaji yang terasa seperti peringatan, bukan pujian.
“Mas Sandi.”
Ia menoleh. Laura berdiri ragu di tepi pendopo, sementara Anisa sibuk mengejar capung di halaman.
“Kamu nggak capek?” tanya Laura sambil tersenyum kecil.
“Capek,” jawab Sandi jujur.
“Tapi ini bagian dari jalan.”
Laura duduk berhadapan dengannya, menjaga jarak sopan.
“Aku baru sadar… dunia kamu jauh lebih berbahaya dari yang kelihatan.”
Sandi tersenyum tipis.
“Bahaya itu selalu ada. Bedanya sekarang… aku mulai tahu cara menghadapinya.”
Di kejauhan, Dr. Hadijah berbincang singkat dengan Aster Darmaji. Wajah mereka serius, seperti membicarakan sesuatu yang tak bisa didengar sembarang orang.
“Anak itu akan jadi magnet,” ujar Aster Darmaji pelan.
“Masalah akan datang kepadanya, cepat atau lambat.”
Dr. Hadijah mengangguk.
“Di Palestina, kami belajar satu hal: orang yang berdiri di tengah… selalu jadi sasaran.”
Sementara itu, Amelia berdiri di balik tiang kayu pendopo lain. Ia datang menyusul setelah mendapat kabar latihan diperpanjang. Dari kejauhan, ia melihat Sandi dan Laura duduk berhadapan, berbincang tenang.
Dadanya kembali terasa sesak.
Namun kali ini berbeda.
Bukan cemburu yang membakar—melainkan kesadaran.
“Dia hidup di dua dunia,” gumam Amelia dalam hati.
“Dan aku… hanya melihat satu sisi.”
Ia menarik napas dalam, lalu melangkah mendekat.
“Sandi,” sapanya lembut.
Sandi menoleh dan tersenyum.
“Amel.”
Laura langsung berdiri.
“Oh—aku ke Anisa dulu ya,” katanya cepat, memberi ruang tanpa diminta.
Amelia duduk menggantikan posisi Laura. Ada jeda canggung, tapi bukan yang menyakitkan.
“Kamu makin berubah,” kata Amelia pelan.
“Bukan cuma kuat… tapi juga jauh.”
Sandi terdiam sesaat.
“Aku juga ngerasain itu,” jawabnya jujur.
“Kadang aku takut… kalau suatu hari aku nggak bisa kembali jadi Sandi yang kalian kenal.”
Amelia menatapnya lekat-lekat.
“Selama kamu masih takut kehilangan dirimu sendiri… kamu belum hilang.”
Kata-kata itu menancap lebih dalam dari pukulan mana pun.
Malam hari, hujan turun deras membasahi Cirebon.
Di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota, dua pria duduk menghadap layar ponsel. Foto Sandi terpampang jelas—diambil dari kejauhan, di depan padepokan.
“Ini dia,” ujar salah satu dengan suara parau.
“Yang bikin Kala Hitam hancur.”
Pria satunya tersenyum miring.
“Perintah dari atas jelas. Kita nggak sentuh dia sekarang.”
“Lalu?”
“Kita sentuh… lingkarannya.”
Hujan semakin deras.
Keesokan paginya, kabar buruk datang.
Salah satu dosen pendamping observasi lapangan dilarikan ke rumah sakit. Diserang orang tak dikenal sepulang mengajar malam. Tidak fatal—namun jelas pesan.
Sandi membaca pesan itu di grup kampus. Tangannya mengepal.
Aster Darmaji hanya berkata satu kalimat saat Sandi pamit latihan pagi itu:
“Musuhmu mulai mengubah arah.”
Sandi mengangguk pelan.
Ia tahu—ini bukan lagi soal dirinya saja.
Ini tentang orang-orang di sekitarnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menapaki jalan kekuatan itu,
Sandi benar-benar bertanya pada dirinya sendiri:
Sejauh apa aku sanggup melindungi… tanpa berubah menjadi sesuatu yang kutakuti?
Langit Cirebon mendung.
Dan badai berikutnya… sudah bergerak.
Malam itu, hujan turun seperti tirai besi. Jalanan Cirebon lengang, lampu-lampu kota memantul di genangan air. Sandi berjalan cepat menyusuri trotoar menuju kos Amelia. Perasaan tak enak sejak sore tadi tak mau pergi—seperti firasat yang menekan dada.
Ponselnya bergetar.
Amelia: “Sand… ada orang mencurigakan di depan kos. Aku takut.”
Sandi berhenti. Napasnya tertahan sesaat.
“Di kamar. Kunci pintu. Jangan keluar,” balasnya singkat.
Ia berbelok masuk gang sempit. Langkahnya kini tanpa suara. Napasnya diatur—tarik, tahan, lepaskan. Dunia di sekitarnya terasa menyempit, fokusnya mengeras.
Di depan kos Amelia, dua motor tanpa plat berhenti. Tiga pria berdiri di bawah payung, satu lagi duduk di motor sambil merokok. Jaket hitam. Topi ditarik rendah. Kala Hitam—atau sisa-sisanya.
Sandi muncul dari balik bayangan.
“Cari siapa?” suaranya datar.
Keempatnya menoleh bersamaan.
“Anak kampus sok pahlawan,” salah satu menyeringai. “Datang juga.”
Tanpa aba-aba, satu pria melempar besi pendek. Sandi memiringkan tubuh—besi melesat, menghantam dinding. Ia melangkah masuk, satu sentuhan telapak ke pergelangan tangan penyerang. KREK. Teriakan pecah.
Yang lain menyerang beruntun. Sandi mundur setengah langkah, memutar bahu, menangkis siku, lalu dorongan pendek ke dada. Lawan terhuyung, muntah, jatuh terduduk.
Namun malam itu mereka tidak ceroboh.
Dari sisi gang, dua sosok lain muncul—membawa stik besi panjang. Jumlah kini enam.
“Bagi!” teriak salah satu.
Sandi terdesak ke dinding. Hujan menampar wajahnya. Stik pertama menyambar—ia menahan dengan lengan, rasa nyeri menjalar. Stik kedua menghantam paha—lututnya nyaris jatuh.
Ia menutup mata sepersekian detik.
Napas… kendali.
Saat membuka mata, geraknya berubah. Lebih pendek. Lebih sunyi.
Ia masuk ke sela dua stik, dua sentuhan cepat—ke rusuk kiri dan bawah dada. Dua pria roboh bersamaan, napas mereka putus-putus. Sandi berputar, menyapu kaki penyerang ketiga. BRUK.
Namun pukulan berat mendarat di punggungnya. Dunia berputar. Sandi jatuh berlutut.
“Sekarang!” teriak seseorang.
Pisau berkilat di bawah lampu.
Dari lantai dua kos, pintu terbuka sedikit.
“Sandii!” teriak Amelia—panik.
Itu kesalahan mereka.
Sandi bangkit. Amarahnya naik—lalu ia memadamkannya. Diganti dingin yang mematikan.
Ia melangkah maju, bukan menyerang. Pisau menusuk—Sandi menggeser badan, menempelkan telapak ke bahu penyerang, mengalirkan dorongan dalam. Pria itu terlempar ke belakang, menghantam motor, tak bergerak.
Tersisa dua.
Salah satunya mundur, wajahnya pucat. Yang terakhir nekat menyerang membabi buta. Sandi menangkis, memutar pergelangan, kunci siku, lalu mendorong ringan.
Pria itu jatuh—menangis kesakitan.
Hening.
Hanya hujan dan napas Sandi yang teratur.
Sirene jauh terdengar—entah siapa yang memanggil.
Sandi menoleh ke atas. Amelia sudah di tangga, wajahnya basah oleh air mata dan hujan.
“Aku baik-baik saja,” kata Sandi cepat.
Amelia berlari turun, memeluknya erat. “Jangan bilang begitu lagi… aku takut.”
Sandi menutup mata sesaat. Tubuhnya gemetar—bukan karena dingin.
Tak jauh dari sana, di atap ruko kosong, seorang pria menurunkan teropong kecil.
“Dia naik level,” gumamnya.
Ponselnya diangkat. “Laporkan. Bukan anak biasa. Kita butuh cara lain.”
Keesokan harinya, Aster Darmaji memeriksa memar di lengan Sandi.
“Kau menahan,” katanya.
“Itu benar.”
Lalu tatapannya mengeras.
“Tapi malam tadi… kau hampir melampaui batas.”
Sandi mengangguk. “Mereka bawa pisau, Guru.”
“Dan itulah ujianmu,” jawab sang guru.
“Menang tanpa kehilangan diri.”
Di pendopo, Dr. Hadijah mendengar kabar itu dengan wajah tegang. Laura memeluk Anisa erat.
“Mas Sandi terluka?” tanya Anisa polos.
Sandi tersenyum kecil. “Sedikit.”
Laura menatapnya lama—tak berkata apa-apa. Hanya kekhawatiran yang jujur.
Aster Darmaji menutup latihan pagi itu dengan satu kalimat:
“Mulai hari ini… kau tidak bertarung sendirian.”
Di kejauhan, awan hitam berkumpul lagi.
Dan pertempuran berikutnya—
tidak akan memilih tempat.
Kabar itu akhirnya terkonfirmasi.
Lewat jalur sunyi yang tak pernah tercatat di laporan polisi, Aster Darmaji mendapat informasi jelas:
orang-orang yang menyerang Sandi malam itu bukan preman lepas.
Mereka adalah orang suruhan langsung Bos Kala Hitam—figur bayangan yang selama ini tak pernah muncul ke permukaan. Bukan sekadar pimpinan lapangan, melainkan otak lama yang mengendalikan jaringan dari balik layar. Ia tidak turun tangan. Ia membalas dendam dengan cara paling kotor: memakai orang lain.
Aster Darmaji hanya menghela napas panjang saat mendengarnya.
“Kalau sudah menyentuh muridku,” gumamnya,
“berarti dia ingin ditutup jalannya.”
Malam itu, Keraton Kanoman tampak hidup oleh cahaya lampu dan iringan gamelan. Undangan kehormatan dari Raja Keraton Kanoman menjadi penutup rangkaian kunjungan Dr. Hadijah di Cirebon. Jamuan berlangsung hangat—penuh dialog budaya, sejarah, dan doa-doa untuk kemanusiaan.
Laura tampak anggun dengan kebaya sederhana. Anisa tertidur di pangkuan Dr. Hadijah menjelang acara usai. Sandi dan Aster Darmaji berdiri tak jauh, tenang, namun waspada—seperti dua penjaga yang memahami sunyi lebih dari keramaian.
Saat rombongan meninggalkan keraton, malam sudah turun sepenuhnya.
Mobil melaju perlahan melewati jalan lama Kanoman—lebih sepi, lebih gelap, dengan deretan bangunan tua di kiri kanan.
Aster Darmaji tiba-tiba berkata singkat,
“Berhenti.”
Sandi langsung mengerem.
Lima sosok muncul dari bayangan.
Tubuh-tubuh besar. Wajah keras. Jaket hitam tanpa simbol, namun aura mereka tak asing.
Salah satu melangkah maju.
“Anak kampus,” katanya dingin.
“Dan guru tuanya.”
Dr. Hadijah refleks memeluk Anisa. Laura menahan napas.
“Turun,” perintah pria itu.
“Urusan lama. Dendam.”
Sandi turun lebih dulu. Tangannya mengepal. Napasnya diatur.
“Ini nggak ada hubungannya sama mereka,” ucapnya tenang.
“Kalau mau, hadapi aku.”
Lima orang menyeringai.
Serangan dimulai.
Dua orang maju bersamaan. Sandi menangkis satu, terkena pukulan berat dari sisi lain. Tubuhnya terdorong mundur. Ia membalas dengan dorongan telapak—lawan terlempar, namun belum tumbang.
Yang ketiga menyerang rendah. Tendangan mengenai paha Sandi. Lututnya nyaris goyah.
Sandi menggertakkan gigi.
Ia bangkit—masuk ke jarak dekat.
Satu sentuhan ke rusuk.
Satu pukulan pendek ke dada.
BRUK.
Dua jatuh.
Yang keempat lebih licik—menghantam dari belakang. Sandi terjatuh, punggungnya menghantam aspal. Dunia berputar. Darah terasa di pelipis.
Laura menjerit.
“Mas Sandi!”
Sandi bangkit dengan susah payah. Napasnya berat. Ototnya menjerit. Namun matanya tetap menyala.
Dengan sisa tenaga dan kendali terakhir, ia melangkah masuk—bukan keras, tapi tepat.
Satu dorongan dalam ke perut lawan keempat.
Pria itu terjatuh, menggeliat, tak bisa berdiri lagi.
Empat orang tumbang.
Tersisa satu.
Pimpinan mereka.
Tubuhnya paling besar. Bahunya lebar. Tatapannya dingin—tanpa emosi. Ia melangkah maju perlahan, seperti tembok yang bergerak.
“Bagus,” katanya rendah.
“Tapi kamu sudah habis.”
Sandi mencoba berdiri tegak—namun napasnya tersendat. Ia tahu, tenaganya benar-benar di ujung.
Langkah berat itu semakin dekat.
Dan saat itulah—
Aster Darmaji maju satu langkah.
“Berhenti,” ucapnya pelan.
Preman besar itu tertawa kasar.
“Kakek tua, minggir.”
Ia melangkah maju—dan tiba-tiba berhenti.
Wajahnya berubah.
Matanya membelalak. Napasnya tersedak.
Tangannya mencengkeram dada—lalu perut.
“Ap—apa ini…?”
Aster Darmaji tidak menyentuhnya.
Ia hanya berdiri, satu kaki sedikit maju, telapak tangan terbuka—mengarah, bukan menyerang.
“Tenagamu sendiri,” kata Aster Darmaji datar,
“kembali padamu.”
Tubuh besar itu gemetar hebat. Keringat dingin mengucur deras. Ia berlutut—lalu ambruk ke aspal, napasnya terputus-putus, wajahnya pucat kebiruan.
Sunyi.
Tak ada teriakan.
Tak ada benturan.
Hanya malam yang menelan semuanya.
Dr. Hadijah menatap Aster Darmaji dengan campuran takzim dan gentar.
“Ilmu itu…”
“Untuk menghentikan,” jawab sang guru singkat.
“Bukan untuk pamer.”
Sandi terduduk lemas. Aster Darmaji menoleh padanya.
“Kau bertahan,” katanya pelan.
“Itu cukup.”
Laura berlari menghampiri, air mata jatuh tanpa suara. Anisa terbangun dan memeluk Sandi kecil-kecil.
“Mas Sandi jangan pergi,” bisiknya polos.
Sandi tersenyum lemah.
Di kejauhan, suara sirene kembali terdengar.
Bos Kala Hitam mungkin belum terlihat.
Namun malam itu, ia menerima pesan paling jelas:
Jalan menuju Sandi… telah ditutup.
Bukan oleh kekerasan semata—
melainkan oleh kendali yang sempurna.
Dan bagi Sandi, pertarungan pamungkas itu bukan akhir.
Ia adalah tanda
bahwa hidupnya tak akan pernah kembali sederhana.
Tidak akan memberi peringatan.