NovelToon NovelToon
Buku Harian Sang Antagonis

Buku Harian Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
​Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sruput... sruput... sruput....

Jaka Utama mengisap luka di betis Ratna Menur. Darah yang menghitam dan mengental itu segera berubah menjadi aliran hawa hangat setelah masuk ke mulutnya. Aliran hangat itu melewati tenggorokan, melintasi rongga dada, dan akhirnya memusat di dantian (pusat tenaga dalam) perutnya.

Perlahan-lahan, di dalam pusat tenaga dalamnya, sebuah pil hitam seukuran kelereng mulai memadat.

Ini adalah Pil Ledakan Racun, kan?

Jaka bisa melihat situasi di dalam tubuhnya. Ada ruang biru kecil, dan Pil Ledakan Racun hitam itu melayang dengan tenang di sana. Setelah pil itu berhenti memadat, mulut Jaka melepaskan betis Ratna Menur.

Ia melihat lubang luka yang tadinya menghitam kini kembali merah normal. Bahkan darahnya sudah berhenti mengalir. Jelas sekali, racun dari luka itu telah diisap habis.

Sistem asu ini memang hebat! puji Jaka dalam hati.

Ratna Menur juga berhenti menangis. Ia menatap Jaka dengan gugup sambil menyeka sisa air matanya.

"Jaka... apa aku... apa aku masih bisa selamat?".

"Tentu! Jangan khawatir, aku pasti akan membuat Menur bahagia!" Jaka memberinya senyum yang menenangkan (meski dalam hati dia sedang berakting).

Kemudian, satu per satu, Jaka mengisap lubang luka menghitam lainnya. Setelah semua racun di kedua betis Ratna diisap habis, Ratna mulai merasakan sensasi perih yang normal di kakinya.

"Aku bisa merasakannya! Jaka, aku bisa merasakan kakiku lagi! Huwaaa!"

Dia begitu bahagia hingga menangis lagi, seperti gadis kecil polos yang menemukan kembali barang berharganya yang hilang.

Di samping mereka, Naningsih merasa takjub. Dia tidak habis pikir. Secara logika, racun itu sudah masuk ke sumsum tulang, yang berarti sudah tidak ada harapan. Tapi Jaka mengisap racun itu dengan mulutnya dan dia sendiri tampak sehat-sehat saja?

Mungkinkah... dia punya rahasia yang tidak diketahui siapa pun di dalam tubuhnya? Aku harus memeriksa tubuhnya saat kita kembali ke padepokan nanti.

"Ningsih, berikan aku salep obat, jenis kualitas terbaik yang bisa sembuhkan luka luar," pinta Jaka sambil menyeka darah dari sudut mulutnya.

Naningsih mengeluarkan botol keramik putih berisi cairan obat dari ikat pinggang pusakanya dan menyerahkannya. Sambil lalu, dia berbisik pelan.

"Di bagian pahanya, masih ada luka."

Masih ada di paha?

Tanpa pikir panjang, Jaka langsung mengangkat sedikit kain kebaya hijau lumut milik Ratna Menur. Dia memegang paha itu dan memindainya dengan teliti, serius, dari atas ke bawah, 360 derajat, sampai lebih dari sepuluh kali hanya untuk memastikan posisi lukanya.

Ratna Menur menutupi pahanya dengan tangan karena panik, malu, dan geram. "Bajingan! Dasar kurang ajar! Kamu... jangan melihat!"

Kamu pikir aku ingin melihatnya? Bagaimana aku bisa mengisap lukamu kalau tidak dilihat! Sialan! umpat Jaka dalam hati. Namun di permukaan, dia memasang ekspresi sangat khawatir.

"Menur, bersabarlah, aku akan mengisap sisa racunnya sekarang. Aku harus menyembuhkanmu!"

Setelah berakting, dia mengabaikan teriakan protes wanita itu.

Tepat saat itu, sebuah teriakan marah menggelegar dari balik rimbunnya hutan.

"BAJINGAN! Apa yang kamu lakukan pada Menur! Lepaskan dia!"

Sesosok bayangan hitam melompat keluar dari hutan dan langsung melesat menuju posisi mereka.

"Ningsih, hadang dia dulu!"

Jaka tidak berhenti dan tetap membenamkan kepalanya di balik kain kebaya Ratna untuk mengisap luka di pahanya. Dia mengenali suara itu; itu suara Langgeng Sakti.

Sebagai protagonis utama, melihat Ratna Menur "dipermainkan" oleh si penjahat seperti ini, mana mungkin dia tidak mengamuk? Dan jika Langgeng mengamuk, hanya Naningsih yang bisa menahannya. Apalagi Langgeng punya "kartu as" yaitu gurunya yang berlevel Dewa Siluman.

Naningsih maju dua langkah. Tubuhnya bergejolak dengan energi batin, rambut dan kainnya berkibar ditiup aura tenaga dalam. Tatapannya acuh tak acuh menatap Langgeng Sakti yang datang dengan murka.

Tepat ketika jarak mereka tinggal sepuluh meter...

Boom!

Tekanan tenaga dalam yang tak kasat mata namun sangat kuat terpancar dari tubuh Naningsih, menekan ke arah Langgeng bagaikan gunung yang runtuh.

"Puih!"

Langgeng Sakti tertekan hingga memuntahkan seteguk darah dan jatuh berlutut di tanah. Tekanan itu begitu hebat hingga dia tidak bisa maju selangkah pun! Dia mendongak dengan susah payah. Seolah yang berdiri di depannya bukan Naningsih, melainkan sebuah gunung yang agung.

"Ini adalah... tekanan batin tingkat tinggi!" batin Langgeng takjub.

Tekanan batin hanya bisa dimiliki ketika tingkat kesaktian seseorang telah mencapai tingkat 'Penyatuan Asal'. Dengan tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam' miliknya sekarang, dia tidak mampu melawan!

"Guru! Aku... butuh kekuatan!!!" raung Langgeng dalam pikirannya.

Namun, terdengar suara serak dan dingin di kepalanya.

[Bodoh, lihat kaki Ratna Menur dulu.]

Kaki Menur?

Tatapan Langgeng melewati Naningsih dan melihat Ratna Menur yang sedang berbaring sambil menangis sesenggukan. Betisnya berlumuran darah, dengan bekas lendir putih menutupi lukanya.

"Guru, itu kenapa?"

[Ada Siluman Pohon Getah Darah di tepi telaga. Sepertinya Ratna terinfeksi racunnya. Dan Jaka Utama... sepertinya dia sedang menyelamatkannya.]

Apa! Menur diracuni?

Wajah Langgeng berubah drastis. Dia menoleh ke arah telaga dan melihat pohon merah raksasa yang sudah terbelah dua. Dia juga melihat lima mayat kering pengawal Ratna.

Dia menoleh kembali ke arah Jaka Utama yang masih "sibuk" di balik kebaya Ratna. Kemarahan di matanya perlahan memudar. Kuharap dia benar-benar menyelamatkan Menur! Kalau tidak, akan kuhabisi dia!

Langgeng berdiri dengan susah payah dan melompat mundur menjauhi tekanan batin Naningsih. Melihat itu, Naningsih menarik kembali auranya. Di dalam hati, Naningsih mengevaluasi: Mampu menahan tekananku di tingkat Pengumpul Tenaga Dalam, anak ini memang punya bakat.

Ia melirik Jaka yang masih di tanah dengan ekspresi aneh. Kalau Jaka yang diposisikan seperti itu, mungkin dia sudah hancur jadi rempeyek.

Pada saat ini, Jaka sudah selesai. Dia merangkulkan lengannya ke pinggang Ratna Menur, menyampirkan tangan wanita itu ke bahunya, dan perlahan mengangkatnya berdiri.

"Menur, coba berdiri pelan-pelan."

Ratna menyeka air mata dan mencoba berdiri. Kakinya terasa lemas dan sakit, tapi karena racunnya sudah diisap Jaka, tidak ada lagi darah hitam atau rasa mati rasa.

"Bisa! Jaka, kakiku sudah membaik! Huwaaa!"

Ratna tiba-tiba memeluk Jaka dengan erat dan menangis bahagia.

Hal ini membuat Jaka ketakutan setengah mati!

Sial! Kamu itu heroine, kenapa malah peluk penjahat! Mana di depan mata si protagonis lagi! Kalau begini terus, gimana aku bisa akting jadi penjilat? Gimana caranya aku dihajar Langgeng terus kabur kayak anjing? Plotnya hancur semua!

Jaka buru-buru mencoba mendorong Ratna. Tapi tenaganya kalah kuat.

"Menur... itu, Langgeng Sakti datang mencarimu. Kamu harus segera kembali ke kapal udara bersamanya."

"Wooooooooo!" Ratna malah makin kencang nangisnya di pundak Jaka.

Jaka benar-benar panik. Sial, sifat Ratna Menur ini pasti sudah melenceng! Dia sudah aneh sejak kemarin!

Dia melirik Langgeng Sakti di kejauhan, berdoa dalam hati: Ayo Langgeng, ikuti naskahnya, datang dan pukuli aku sekarang...

Di kejauhan, tinju Langgeng mengepal. Dia ingin sekali lari ke sana, menarik Jaka menjauh, dan menghajarnya. Tapi kenyataannya Jaka baru saja menyelamatkan nyawa Ratna. Kalau dia menyerang, dia akan dianggap tidak tahu terima kasih.

Langgeng menarik napas panjang, berusaha tenang. Dia menatap mereka berdua dan berkata dengan nada sedatar mungkin:

"Gusti Jaka, terima kasih telah menyelamatkan Menur. Sekarang, tolong lepaskan dia."

SIALAN! batin Jaka berteriak. Pemeran utamanya malah tidak marah? Aku baru saja pegang-pegang kakinya di depan matamu! Bukannya pukulin aku, kamu malah terima kasih?

Tidak! Jaka harus melakukan sesuatu. Demi menyelamatkan alur cerita agar dia dipukuli, Jaka memutuskan untuk nekat mengorbankan martabatnya!

Dia menangkup wajah cantik Ratna Menur dengan kedua tangannya. Kemudian, di bawah firasat buruk Langgeng, di bawah tatapan penasaran Naningsih, dan di bawah tatapan terpaku Ratna Menur...

Cup—muuuaah!!!

1
_Khayy☕
Katanya dua,banyak bener tambahannya 🤣
_Khayy☕
Wkwkw Belajar Fiqih nih🤣
_Khayy☕
Semangat min🤭 gacor nih Novel
_Khayy☕
Juozz😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!