Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Masih terasa jauh.
Hati Bang Rico terasa penuh.
'Jika ada wanita lain yang mengisi hidupmu, kupastikan dia akan bernasib sama sepertiku. Dia dan anaknya tidak akan pernah sempat saling melihat, kecuali aku mati.'
Kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran Bang Rico
Pagi hari, Kinan sudah bangun mendengar Adzan subuh berkumandang. Satu kali dirinya membangunkan suaminya namun tak ada respon berarti.
Kinan pun memilih mengaji di kamar, namun beberapa saat hatinya cemas karena tidak seperti biasanya 'Abangnya' itu meninggalkan sholat. Ia pun melepas mukenanya dan segera menghampiri.
"Bang, sudah waktunya sholat."
"B******n, kau tidak lihat saya tidur???? Saya capek..!!!" Bentak Bang Rico. Matanya merah menyala penuh amarah.
Kinan tersentak kaget dan mundur selangkah tapi Bang Rico sudah terlanjur tersulut emosi.
Bang Rico yang kesal langsung menarik tangan Kinan hingga gadis itu jatuh menimpanya. Ia langsung memutar arah dan balik menindih Kinan.
"Mass, Kinan takuuutt..!!!!"
"Kalau takut kenapa mengganggu?????" Tanya Bang Rico.
Aroma alkohol bercampur asap rokok manguar menusuk hidung Kinan.
"Mas Rico mabuk ya???"
Bang Rico menyeringai. "Memangnya kenapa??? Benci??? Minta pulang????"
"Nggak, Mas.. Tapi........."
Bang Rico menarik paksa Kinan menuju kamar dan melemparnya di atas tempat tidur. Kasarnya perlakuan Bang Rico membuat rok Kinan sobek melebihi atas lutut. Ia menarik kaosnya, melonggarkan ikat pinggang lalu membebaskan tawanan. Kinan yang polos mencoba berontak sekuat tenaga.
Penolakan itu membuat Bang Rico semakin gelap mata hingga menampar pipi Kinan dengan kerasnya.
plaaaakk..
Kinan terdiam saat Bang Rico 'menanganinya', sela bibirnya meleleh darah segar. Desah nafas Bang Rico begitu kuat.
"Rania.. Sayaaang..!!!" Desahnya merintih lirih.
Kinan yang mendengarnya begitu terluka, tubuhnya yang sudah lemas semakin lemas.
...
Bang Rico terbangun, perutnya masih merasa mual, kepalanya berdenyut nyeri. Matanya menyesuaikan dengan keadaan cahaya sekitar.
Saat melihat ke arah sekitar, ia melihat Kinan tidur terkapar di sampingnya.
"Astaghfirullah, Lailaha ilallah..!!!!! Kiiinn..!!! Ini beneran Abang yang buat kamu begini???? Sadar, Kiin.. Sadaaarr..!!!"
...
Bang Rico duduk memegangi kepalanya. Sebelah tangannya mengusap puncak kepala Kinan. Sudah dua kali istri kecilnya itu pingsan. Sekarang semua terasa semakin kacau, dadanya semakin terasa sesak yang berusaha ia tahan kuat.
Rasanya sungguh tidak pernah, dirinya mampu melakukan hal sekeji itu pada seorang wanita. Semalam rasanya memang dirinya bermimpi bersama seorang wanita tapi ia sungguh tidak menyadari kalau wanita itu sungguh nyata dan dia adalah Kinan.
"Maaf..!!"
"Nggak apa-apa, suami boleh melakukan apapun pada istrinya. Kinan ikhlas..!!" Jawab Kinan. Matanya memandang langit-langit dengan tatapan kosong.
"Abang harus kembali ke satuan dinas lama untuk mengurus berkas pindah. Setelah beres, kamu menyusul Abang kesana. Abang siapkan dulu tempat tinggalmu. Jangan ikut di mess sama Abang..!!"
Kinan hanya mengangguk saja mendengarnya, tak ada perlawanan apapun.
\=\=\=
Para sahabat menyambut Bang Rico di tempat dinas yang baru setelah satu bulan lamanya mengurus berkas kepindahan dirinya.
Ia meninggalkan Kinan sendiri dan tidak mengajaknya. Hatinya masih belum bisa menerima kehadiran Kinan dalam hidupnya, baginya hanya Rania yang bisa mengerti dirinya. Tapi semakin dirinya menolak Kinan, rasa khawatirnya semakin menjadi.
Bang Rico mengambil ponselnya. "Abang belikan tiket ya, Kin. Berangkat kesini sekarang. Nanti Abang jemput."
Bang Rama dan Bang Arben saling melirik.
"Kamu ajak Kinan kesini??" Tanya Bang Rama.
"Iya." Jawab Bang Rico sambil mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa nggak bilang, Ting. Tau begitu saya siapkan mess transit." Kata Bang Arben.
"Apa mau di rumahku saja, temani Dinda." Bang Rama pun ikut menawari.
"Nanti di kamar mess ku saja nggak apa-apa."
Bang Rama dan Bang Arben kembali saling lirik.
"Yaaa.. jangan lah, biar ada temannya juga adikmu itu." Bang Rama mengalihkan pembicaraan.
Bang Rico diam saja, raganya disana tapi pikirannya seakan melayang entah kemana.
...
Malam harinya, Bang Rama dan Bang Arben ikut menjemput Kinan karena sekalian akan membeli kebutuhan bulanan di kota.
Dari kejauhan Kinan mencium punggung tangan Bang Rico.
Kening Bang Rama mengernyit melihat pemandangan tersebut. Seperti ada yang aneh. Seorang Rico hanya berani memainkan perempuan yang 'layak untuk dimainkan', selebihnya Bang Rico tidak pernah berani untuk mendekat, bahkan dengan 'adiknya' itu, Rico pun juga menjaga sikap.
"Hmm.. Bang, kira-kira bagaimana perkembangan tentang Hanna dan Bang Rico??" Tanya Dinda tiba-tiba.
Bang Rama pun panik mendengarnya. "Jangan tanya apapun kalau ada Rico. Belum tentu Rico suka sama Hanna." Jawab Bang Rico.
"Memangnya Hanna nggak cantik?"
Bang Arben ikut mengurut kening mendengarnya, ia tak paham kenapa hal mudah bisa jadi serumit itu.
Desah nafas Bang Rama terdengar berat. "Cantik itu relatif. Mungkin bagi Arben kamu biasa saja, tapi bagi Abang... Kamu cantik tiada duanya. Rico pun begitu, belum tentu Hanna yang cantik."
Mendengar kata itu Dinda terdiam.
:
Setelah berada di mobil, Dinda dan Dira berkenalan dengan Kinan. Obrolan pun langsung berjalan mulus. Dinda juga tidak membahas segala tentang Hanna sesuai permintaan Bang Rama.
Tak berapa lama, mobil Bang Arben berbelok di sekitar pusat pertokoan bersama seorang mudi, mobil milik Bang Rama di kemudikannya sendiri karena Dinda sering tidak tahan jika mudi lain yang 'membawa' mobilnya.
Lokasi pusat pertokoan memang tidak begitu jauh dari asrama militer.
"Makan malam dulu saja, ini bumilku belum makan."
Bang Rico mengangguk karena pastinya Kinan pun sudah lapar.
...
Saat turun dari mobil, Bang Rico sedikit merasa curiga dengan mobil yang melaju di belakangnya, mobil tersebut keluar dari bandara membawa tiga orang pria dan melaju mengikuti mobilnya.
Tak ingin menaruh curiga berlebihan, Bang Rico segera mengabaikannya.
Tak ada hal menonjol dari saat makan hingga acara makan malam itu usai.
"Bang, Kinan mau ke toilet." Pamit Kinan.
"Abang antar." Kata Bang Rico. Ia pun beranjak dari duduknya.
"Nggak usah, dekat kok. Kin sendiri saja."
Saat Kinan berada di toilet, ada keributan di depan rumah makan. Perhatian Bang Rico sempat teralihkan pada keributan tersenyum, namun saat tau ketiga pria tersebut tidak berada di tempatnya, Bang Rico waspada dan mencari Kinan di toilet.
Tak peduli apapun, Bang Rico menerobos toilet wanita.
braaakk..
Benar saja, saat masuk di area toilet wanita sudah ada tiga orang pria. Pria pertama menyudutkan Kinan, pria kedua menodongkan pisau di leher dan pria ketiga mengarahkan pisau pada Bang Rico saat dia masuk ke dalam toilet tersebut.
"Siapa kalian??" Tanya Bang Rico.
"Ketua memerintahkan kami untuk menghabisi wanita ini." Jawab pria yang menodongkan pisau pada Kinan.
deg..
Jantung Bang Rico bagai tersambar petir, darahnya memanas.
"Lepaskan Kinan, dia tidak tau apa-apa. Urusan kalian hanya dengan saya." Kata Bang Rico.
"Tapi ketua tidak menyukainya." Ujar pria pertama kemudian mengambil pistol dari balik kaos lalu ikut menodongkan pistol pada perut Kinan.
Kinan panik, ia gugup berusaha melindungi perutnya. Jantung Bang Rico kembali berdebar kencang. Serasa ada sesuatu yang mengikat, Bang Rico tak butuh penjelasan apapun.
"Dek?????" Antara percaya dan tidak, perasaan Bang Rico terasa campur aduk.
"Maas...." Suara Kinan seperti tercekat. "A_bang... Kinan takut."
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara