Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh oleh dari Langit
Suara gesekan dahan pohon di luar jendela membuat jantung Senja hampir melompat. Tak lama kemudian, sebuah tangan kokoh muncul di bingkai jendela, diikuti oleh kepala Langit yang muncul dengan rambut sedikit acak-acak karena terkena daun.
"Langit!" bisik Senja panik sambil menghampiri jendela. "Kamu gila! Ini tinggi banget!"
Dengan gerakan lincah seperti atlet parkour, Langit melompat masuk ke dalam kamar dan segera menutup jendela itu rapat-rapat. Ia terengah-engah, namun sebuah senyum kemenangan terukir di wajah tampannya.
"Demi ketemu bidadari, manjat pohon setinggi ini mah kecil, Ja," ucap Langit sambil mengatur napasnya.
Senja segera memukul lengan Langit pelan. "Kalau jatuh gimana? Kalau ketahuan keamanan gimana? Kamu bisa dihukum ta'zir, Langit!"
Tanpa menjawab, Langit justru menarik Senja ke dalam pelukan eratnya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Senja, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan.
Senja yang tadinya ingin marah, seketika luluh. Ia membalas pelukan itu tak kalah erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit yang masih berdegup kencang karena aksi nekatnya.
"Saya cuma mau kasih 'oleh-oleh' yang ketinggalan," bisik Langit pelan.
Senja mendongak, menatap mata hitam pekat suaminya dalam temaram lampu tidur. "Apa?"
Langit tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, lembut, dan penuh dengan rasa rindu yang tertahan sejak kepulangan dari Bali. Ciuman itu seolah merangkum semua janji setia dan rasa cinta yang mereka miliki.
Senja memejamkan mata, tangannya meremas kaos Langit, membiarkan dirinya hanyut dalam keintiman rahasia ini. Di tengah kesunyian pesantren yang suci, di dalam kamar yang sempit namun penuh cinta, mereka seolah kembali berada di tepi pantai Bali.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Langit melepaskan ciumannya perlahan. Ia menempelkan dahinya ke dahi Senja.
"Itu oleh-olehnya. Ciuman selamat tidur supaya kamu nggak senyum-senyum sendiri lagi pas bangun tidur nanti."
Senja tertawa kecil, air mata bahagia sedikit menggenang di sudut matanya. "Kamu benar-benar gila, Langit Sterling."
"Iya, gila karena kamu," sahut Langit sambil mencium hidung Senja dengan gemas.
"Sekarang saya harus balik sebelum subuh, atau saya benar-benar akan dikurung di gudang pesantren."
Pagi harinya, suasana di kelas santriwati tampak berbeda. Senja duduk di barisan depan dengan kitab Fathul Qorib terbuka di hadapannya, namun pikirannya jelas tidak sedang membedah hukum-hukum fikih. Wajahnya terlihat begitu segar, rona merah di pipinya alami, dan sebuah senyuman tipis terus menghiasi bibirnya tanpa ia sadari.
Teman-teman akrabnya, Fatimah dan Zahra, yang duduk di sampingnya mulai saling lirik. Mereka merasa ada yang "mencurigakan" dari putri Kyai ini sejak kepulangannya dari Bali.
"Senja," bisik Fatimah sambil menyenggol lengan Senja. "Kamu habis mimpi apa sih semalam? Dari tadi senyum-senyum sendiri, kitabnya belum dibalik lho dari sepuluh menit yang lalu."
Senja tersentak, langsung membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Eh? Oh, ini... aku cuma lagi mengagumi indahnya tulisan di kitab ini, Tim."
"Halah, alasan!" sahut Zahra sambil mendekatkan wajahnya. "Atau jangan-jangan... semalam ada 'pangeran' yang datang ke mimpi kamu? Kamu kelihatan berseri-seri banget, Ja. Kayak orang yang baru dapat suplai kebahagiaan mendadak."
Senja semakin salah tingkah. Ia teringat kembali bagaimana Langit dengan nekatnya memanjat pohon dan menyelinap masuk hanya untuk memberikan ciuman selamat tidur yang membuatnya tidak bisa tidur lagi karena terlalu bahagia. Tangannya tanpa sadar meraba bibirnya sendiri, membuat Fatimah dan Zahra semakin curiga.
Tiba-tiba, dari arah luar jendela kelas yang menghadap ke lapangan utama, terdengar suara riuh santri putra yang sedang kerja bakti. Senja refleks menoleh ke arah jendela. Di sana, di bawah sinar matahari pagi, ia melihat Langit sedang mengangkat ember besar bersama santri lain.
Langit, yang seolah memiliki radar terhadap keberadaan istrinya, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh tepat ke arah jendela kelas Senja. Begitu mata mereka bertemu, Langit memberikan kedipan sebelah mata yang sangat cepat namun sangat "berbahaya" bagi jantung Senja, lalu ia melanjutkan kerjanya sambil bersiul santai seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Oalah! Ternyata gara-gara si anak baru itu!" seru Fatimah tertahan sambil menutup mulutnya. "Ja, kamu jangan terlalu dekat sama Langit ya, dia itu nakal. Tapi kok kamu kelihatannya malah makin akrab?"
Senja hanya menunduk dalam, mencoba menyembunyikan senyum lebarnya. 'Kalian nggak tahu saja kalau si anak nakal itu pangeran yang aku maksud,' batinnya.
Saat jam istirahat tiba, sebuah kejutan lain menunggu Senja. Di dalam lipatan kitabnya yang ia tinggalkan di meja, terselip sebuah kelopak bunga kamboja kering—bunga yang identik dengan Bali—dan selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Langit yang berantakan namun tegas:
"Tadi malam cuma intro. Nanti malam saya datang lagi, tapi bawain martabak manis kesukaan kamu. Jangan dikunci lagi ya, Jendelanya — L."
Senja memegang kertas itu erat di dadanya, antara ingin memarahi kenekatan Langit atau justru menantikan jam dinding segera berputar ke angka dua belas malam.
Malam kedua di pesantren terasa lebih mencekam. Langit, dengan jaket hoodie gelap dan kotak martabak manis yang ia sembunyikan di balik baju, kembali melakukan aksi akrobatiknya. Namun, kali ini nasib baik hampir meninggalkannya.
Tepat saat Langit baru saja menapakkan kakinya di lantai kamar Senja setelah melompat dari jendela, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dan sorot lampu senter yang menyapu dinding luar asrama putri.
"Siapa itu?! Woi, berhenti!" teriak salah satu Kang Santri keamanan yang sedang patroli.
Senja yang baru saja akan menyambut Langit langsung pucat pasi. "Langit, kamu ketahuan!" bisiknya dengan nada panik luar biasa.
Suara langkah kaki itu terdengar menaiki tangga asrama dengan cepat. Tanpa berpikir panjang, Langit menyambar tangan Senja. "Masuk, Ja! Cepat!"
Langit menarik Senja masuk ke dalam lemari kayu besar tempat Senja menyimpan mukena dan gamis-gamisnya. Lemari itu sempit, hanya cukup untuk satu orang, namun Langit memaksakan diri masuk dan menutup pintunya dari dalam.
Kondisi di dalam lemari itu sangat gelap dan luar biasa sempit. Tubuh atletis Langit menempel sempurna dengan tubuh mungil Senja. Senja bisa merasakan detak jantung Langit yang berdegup kencang karena adrenalin, sementara Langit bisa mencium aroma wangi dari tubuh istrinya yang terhimpit di antara tumpukan kain.
TOK! TOK! TOK!
"Mbak Senja? Mbak Senja di dalam?" suara Kang Santri terdengar tepat di depan pintu kamar.
Senja menahan napas, tangannya meremas kuat kaos Langit. Langit sendiri membungkam mulut Senja dengan telapak tangannya, sementara tangan satunya melingkar erat di pinggang Senja untuk menahan posisi mereka agar tidak jatuh dan menabrak pintu lemari.
"I-iya, Kang? Ada apa?" jawab Senja dengan suara bergetar dari dalam lemari, berusaha terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.
"Tadi kayak ada orang manjat pohon di dekat jendela Mbak. Mbak nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Kang. Tadi cuma suara kucing kayaknya. Saya sudah kunci jendela kok," bohong Senja, sambil menatap mata Langit yang berkilat di kegelapan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara langkah kaki itu akhirnya menjauh. Namun, Langit tidak segera keluar. Ia justru semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Senja, menikmati keintiman paksa yang tercipta karena situasi darurat ini.
"Langit... dia sudah pergi. Ayo keluar, sempit banget," bisik Senja pelan, namun ia tidak menolak saat Langit justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Sempit sih, tapi saya suka. Wangi kamu enak banget di sini," goda Langit dengan suara rendah yang menggetarkan dada Senja.
"Kayaknya kita harus sering-sering sembunyi di lemari, Ja."
"Kamu ini! Martabaknya sampai penyet tahu!" Senja mencubit pinggang Langit, membuat pria itu tertawa tanpa suara.
Di dalam lemari yang sempit itu, di tengah risiko hukuman pesantren yang membayangi, mereka justru hanyut dalam tawa pelan dan ciuman-ciuman kecil yang mencuri waktu.
Setelah memastikan suasana benar-benar aman dan suara langkah Kang Santri sudah tidak terdengar lagi, Langit perlahan mendorong pintu lemari. Mereka berdua keluar sambil menghirup udara segar, seolah baru saja menyelesaikan misi rahasia yang mempertaruhkan nyawa.
"Hampir saja, Ja. Kalau tadi ketahuan, saya bukan cuma kena hukuman ta'zir gundul, tapi mungkin langsung dinikahkan ulang di depan seluruh santri," canda Langit sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Senja masih mengatur napasnya yang tidak beraturan, wajahnya masih memerah akibat posisi intim di dalam lemari tadi. "Makanya jangan nekat terus, Langit! Aku beneran takut tadi."
Langit tertawa pelan, lalu teringat sesuatu. Ia mengambil kotak martabak yang tadi sempat terhimpit. "Nah, ini dia perjuangannya. Agak penyet sedikit, tapi rasanya tetap manis kok, semanis yang bawain."
Mereka berdua akhirnya duduk bersimpuh di atas lantai kamar yang beralaskan karpet tipis. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, mereka menikmati martabak manis itu berdua.
Langit menyuapi Senja dengan penuh perhatian, sesekali menghapus sisa cokelat di sudut bibir istrinya dengan ibu jari, yang kemudian ia akhiri dengan kecupan singkat.
"Ja," panggil Langit tiba-tiba, suaranya berubah menjadi lebih serius dan dalam.
"Iya?" Senja menoleh, menatap mata suaminya yang memantulkan cahaya lampu.
Langit meraih tangan Senja, menggenggamnya erat.
"Tadi pas di dalam lemari, saya mikir. Saya nggak mau selamanya kita sembunyi-sembunyi begini. Saya mau secepatnya lulus dari sini, lalu bawa kamu ke rumah kita sendiri. Rumah di mana saya bebas peluk kamu di ruang tamu, di dapur, atau di mana pun tanpa harus takut ada Kang Santri patroli."
Senja tertegun mendengar kesungguhan Langit. "Kamu serius, Langit?"
"Serius, Sayang. Saya mau memboyong kamu keluar, membangun keluarga kecil kita. Saya ingin kamu jadi wanita pertama yang saya lihat setiap pagi tanpa ada sekat pembatas masjid atau dinding asrama,"
Langit mencium punggung tangan Senja dengan takzim. "Sabar sedikit lagi ya? Saya akan berusaha jadi laki-laki yang pantas buat jadi imam kamu seutuhnya."
Senja tersenyum haru, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Langit.
"Aku akan tunggu saat itu, Langit. Berapa lama pun, aku akan tetap di samping kamu."