Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
🦋
Flashback on
Suara hujan sore itu terdengar lirih di luar rumah. Di ruang tamu sederhana yang diterangi lampu kuning redup, suasana berubah tegang. Suara piring dari dapur berhenti. Tak ada yang berani bersuara selain dua orang yang kini saling berhadapan, Fayzel dan Fahira.
"Mas, coba pikirkan lagi," suara Fahira bergetar, menahan emosi. "Nadira itu masih kecil... baru lulus SD. Masa sudah mau dipisahkan dari kita?"
Fayzel menghela napas panjang, rahangnya mengeras. "Kamu lihat anaknya Mbak Riana, Ranjaya. Dia diurus Bapak dan berhasil lulus STM, dan kerja enak sekarang. Nadira juga harus begitu."
"Tapi anaknya Mbak Riana itu laki-laki mas," balas Fahira cepat, nadanya meninggi. "Nadira perempuan,! Di rumah itu cuma ada laki-laki saja. Istrinya Rigel kan sudah lama pergi."
Fayzel mengusap wajahnya kasar. "Fahira, cobalah berpikir logis. Bapak sudah tua. Tidak adil kalau hanya anak Riana dan Rigel yang beliau urus. Anak kita juga cucunya."
"Mas..." suara Fahira makin lirih, "Nadira baru sembuh dari sakitnya. Dia belum sekuat dulu."
"Justru itu alasannya!" bentak Fayzel. "Di Lampung dekat dengan rumah sakit. Di sana Bapak punya sawah, sapi—hidupnya lebih tenang daripada di kota yang penuh pergaulan aneh!"
Fahira menunduk. Matanya mulai basah, tangan mengepal di pangkuan. Ia kehabisan kata. Suaminya tak pernah bisa dibantah bila sudah bicara soal logika.
Suasana kian panas ketika Arzan dan Keona masuk dari teras. Mereka saling pandang, ragu untuk ikut campur tapi tak tahan melihat pertengkaran itu.
"Pak, Buk…" suara Arzan meninggi sedikit. "Berhenti dulu, tolong."
Fayzel menatap tajam, tapi Keona maju satu langkah, bicara dengan hati-hati.
"Menurut kami, sebaiknya adek Nadira jangan dulu di titipkan di Lampung, Pak. Nadira masih kecil, belum bisa mandiri."
"Ibu juga maunya begitu Ona," sambung Fahira cepat, seolah mendapatkan sekutu. "Tapi bapak kalian keras kepala."
"Bapak cuma mau yang terbaik untuk Nadira!" seru Fayzel, kali ini dengan nada nyaris membentak. "Sekolah di sini jauh, pergaulannya tidak sehat. Aku gak mau anakku rusak."
Arzan menatap ayahnya dalam diam beberapa detik. Lalu dengan nada tegas ia menjawab, "Yang paling mengerikan justru kalau Nadira tumbuh tanpa pengawasan kita, Pak."
Sunyi.
Hanya suara detak jam dinding yang terdengar menggema di antara mereka.
Dari balik pintu kamar, Nadira berdiri menunduk, memeluk boneka beruang di dadanya. Matanya bengkak. Ia mendengar semuanya, setiap kata yang keluar dari mulut orangtuanya, dari mas dan kakak iparnya. Tentang dirinya. Tentang keputusan yang akan merenggut masa kecilnya.
"Bapak tidak mau dengar penolakan lagi," suara Fayzel terdengar tegas, menutup perdebatan. "Pokoknya Nadira sekolah di Lampung."
Hening kembali. Lalu suara Arzan pecah, datar namun tajam. "Oke. Kami setuju, Pak." Ia berhenti sebentar, menatap ayahnya lurus.
"Tapi kalau nanti terjadi sesuatu pada Nadira… Bapak harus siap disalahkan." Arzan pergi meninggalkan ruang tamu. Keona mengejar di belakang, menahan air mata.
Fahira duduk terpaku, bahunya bergetar. Sementara di balik pintu, Nadira menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
("Aku sebenarnya ingin bilang tidak, tapi… pasti nanti Bapak marah lagi. Aku gak mau buat Bapak kecewa.") Ia menelan isakannya sendiri, memeluk bonekanya lebih erat.
Dua Minggu Kemudian
Langit pagi masih berkabut ketika mobil keluarga itu melaju meninggalkan rumah. Nadira duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Di dalam hatinya, ada rasa campur aduk antara takut dan rindu yang belum sempat lahir.
Dua hari satu malam perjalanan menuju Lampung Timur. Jalanan sepi, sawah terbentang, dan langit tampak lebih biru di luar sana. Nadira diam saja, jarinya menggenggam erat buku kecil yang ia bawa dari rumah.
Kadang matanya berair, tapi buru-buru ia usap agar tak ada yang tahu.
("Anak mana yang gak sedih ditinggal orangtua?") pikirnya lirih. Ia menunduk, pura-pura tidur di bahu ibunya.
Halaman Rumah Kakek Wiratama
Mobil berhenti di halaman rumah tua bercat putih, dengan dinding bata yang mulai pudar. Udara pedesaan menyapa dengan aroma tanah basah dan suara ayam dari kejauhan.
"Sudah sampai," ujar Fayzel singkat.
Fahira menatap rumah itu dalam diam, sementara Nadira perlahan turun dari mobil. Matanya menelusuri halaman, dua pohon mangga besar di depan rumah dan pohon rambutan besar beradaptasi di samping, sumur tua di belakang, dan gudang kecil di samping rumah.
Gudang itu dulunya adalah rumah ayahnya saat kecil. Tapi di sana juga, sepuluh tahun yang lalu, ia pernah menyaksikan sesuatu yang tak pernah hilang dari ingatannya.
Saat paman Rigel menyeret istrinya yang sedang hamil dari halaman sampai ke dalam rumah.
Jeritan perempuan itu masih terngiang jelas di telinganya. Dan kini, Nadira kembali berdiri di tempat yang sama.
Pertengkaran paman Rigel dan ayahnya membuat ayahnya memutuskan untuk merantau.
Udara mendadak terasa dingin. Hatinya berdesir, seperti firasat buruk yang perlahan menelusup ke dadanya.
***
Langit malam di Lampung Timur pekat tanpa bintang. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan di luar rumah tua bercat putih itu. Angin malam menelusup lewat celah jendela, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang gugur.
Nadira duduk di tepi ranjang kayu di kamar barunya. Lampu pijar di langit-langit berpendar kuning redup, menyorot bayangan yang menari di dinding. Dinding kamar dipenuhi bekas paku dan noda waktu; setiap sudut terasa asing.
Dari luar, terdengar suara kayu tua berderit, entah karena angin, atau langkah seseorang.
Nadira menegakkan punggungnya. "Siapa…?" bisiknya pelan.
Tak ada jawaban.
Hanya suara ranting jatuh dari atap dan lolongan anjing dari kejauhan.
Pintu kamar berderit sedikit terbuka. Kakek Wiratama muncul di ambang pintu, membawa lampu minyak kecil di tangannya.
"Belum tidur, Nak?" suaranya serak, berat, seperti membawa puluhan tahun lelah.
Nadira cepat-cepat berdiri. “Belum, Kek. Dira belum ngantuk aja.”
Kakek Wiratama melangkah masuk, cahaya lampu minyak membuat bayangan tubuhnya bergerak panjang di dinding. “Rumah ini memang suka bunyi kalau malam. Kayunya udah tua. Jangan takut ya.”
Nadira mengangguk kecil. Tapi matanya tetap terpaku pada jendela yang terbuka sedikit, di luar, samar-samar terlihat gudang kecil yang gelap.
Gudang itu terasa seperti memandang balik ke arahnya.
"Besok pagi, bantu kakek kasih makan sapi, ya?"
"Iya, Kek."
Wiratama tersenyum tipis, menepuk bahu cucunya. "Kamu kuat, Nadira. Di sini aman, gak ada yang akan ganggu kamu."
Ia mematikan lampu minyak dan menutup pintu. Gelap menelan kamar itu seketika.
Nadira menarik selimutnya, tapi udara terasa dingin. Ia menatap langit-langit, mendengar detak jam tua dari ruang tamu berdentang perlahan.
Satu… dua… tiga…
Sampai akhirnya matanya terpejam, tepat ketika suara langkah kaki samar terdengar dari arah gudang.
***
Udara pagi terasa lembap. Embun masih menempel di dedaunan pisang di belakang rumah. Nadira berdiri di depan rumah, mengenakan rok biru dan kaus putih bersih. Rambutnya dikepang dua, pipinya masih sembab karena semalam ia menangis dalam diam.
Fahira memeluk putrinya erat-erat, seolah takut waktu akan mencuri kesempatan terakhir itu.
"Nak," suaranya lirih, "kalau malam jangan lupa baca doa sebelum tidur, ya? Kalau kangen sama Ibu, telepon aja."
Nadira menahan air mata. "Iya, Bu. Nadira janji."
Fayzel hanya berdiri di belakang, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya keras, tapi bola matanya menyimpan cemas yang tak ia tunjukkan.
"Kamu harus rajin belajar di sini. Jangan bikin Kakek kecewa."
"Iya, Pak," jawab Nadira pelan.
Arzan dan Keona menghampiri, membawa beberapa tas ke mobil. Diana, anak kecil mereka, berlari memeluk Nadira.
"Aunty jangan lupa kirim pesan, ya!" katanya polos.
Nadira tersenyum samar, "Iya, Diana."
Ketika semua sudah masuk ke mobil, hanya Fahira yang masih berdiri di depan rumah. Ia menatap putri kecilnya sekali lagi, menahan air mata yang kini benar-benar tumpah.
"Jaga diri baik-baik, Nak… kalau ada apa-apa, cepat beritahu ibu. Ibu pasti datang."
Nadira menunduk, menatap ujung sepatunya. "Ibu juga jaga diri ya, jangan telat makan lagi."
Mobil perlahan melaju keluar halaman. Nadira berlari kecil ke tepi jalan, melambaikan tangan sampai mobil itu lenyap di tikungan.
Saat mobil menghilang, hening menyelimuti desa. Hanya angin yang menggerakkan daun-daun bambu di belakang rumah.