NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK KABUT CAKRAWALA

Perahu motor kayu itu terombang-ambing di atas ombak yang semakin kasar saat mereka menjauh dari garis pantai Jakarta. Langit yang semula terik kini berubah menjadi kelabu gelap, seolah alam sedang ikut berduka atas hancurnya dunia Alea. Baskara fokus pada kemudi, matanya terus memindai cakrawala, mencari tanda-tanda apakah ada kapal patroli atau speedboat pribadi Mahardika Group yang mengejar mereka.

Alea masih meringkuk di buritan, kakinya yang kotor oleh debu pasar kini basah oleh percikan air laut. Ia memeluk lututnya erat-erat, menatap kosong ke arah buih ombak. Ia tidak menangis lagi; air matanya seolah sudah mengering, meninggalkan rasa perih yang menjalar hingga ke ulu hati.

"Kita hampir sampai," suara Baskara memecah keheningan, berusaha mengalahkan deru mesin dan suara angin.

Alea tidak menyahut. Ia merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang tidak memiliki pintu keluar. Bayangan Sarah yang berdiri tegak di dermaga tadi terus menghantuinya. Bagaimana mungkin wanita yang mengusap kepalanya setiap kali ia sakit, wanita yang memilihkan gaun-gaun terbaik untuknya, adalah orang yang sama yang membayar seorang pria untuk menghancurkan mobil orang tua kandungnya?

Di depan mereka, sebuah pulau kecil dengan vegetasi yang rimbun mulai terlihat. Di sisi barat pulau itu, terdapat sebuah gudang tua milik perusahaan kargo yang sudah bangkrut—salah satu aset yang berhasil disembunyikan Reno dari radar audit Mahardika.

Baskara mematikan mesin dan membiarkan perahu menepi pelan ke dermaga kayu yang sudah rapuh. Ia melompat turun terlebih dahulu, mengikat tali perahu, lalu mengulurkan tangannya pada Alea.

Alea menatap tangan itu lama. Tangan yang telah menyeretnya keluar dari kenyamanan palsu. Ia meraihnya, namun cengkeramannya lemah. Saat ia berdiri, ia hampir jatuh karena kakinya yang luka terasa kaku. Baskara dengan sigap menangkap pinggangnya.

"Aku bisa sendiri," bisik Alea ketus, melepaskan diri dari pegangan Baskara.

"Jangan keras kepala. Kau terluka," ujar Baskara, suaranya tetap datar namun ada ketegasan di sana.

Mereka berjalan menuju gudang tua itu. Begitu pintu besi yang berkarat terbuka, aroma debu, oli, dan perangkat elektronik menyapa mereka. Di tengah ruangan yang luas dan remang-remang itu, terdapat sebuah meja panjang yang dipenuhi monitor dan tumpukan kabel. Reno sedang duduk di sana, terlihat panik sambil terus menekan tombol di keyboard-nya.

"Syukurlah kalian masih utuh!" Reno berdiri, wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa. "Bas, kau gila. Kau membawa dia ke Yusuf saat Sarah sudah memasang pelacak di rekening yayasannya?"

"Aku tidak punya pilihan, Ren. Waktu kita habis," jawab Baskara sambil membantu Alea duduk di sebuah sofa tua yang berdebu.

Reno menatap Alea dengan tatapan kasihan. "Nona Alea... saya minta maaf Anda harus mengetahui semua ini dengan cara seperti ini. Saya Reno, teman Baskara."

Alea hanya mengangguk pelan, ia terlalu lelah untuk berbicara. Matanya tertuju pada salah satu monitor Reno yang menampilkan rekaman berita televisi lokal yang disiarkan secara langsung.

"Berita Utama: Putri angkat dari pengusaha ternama Sarah Mahardika, Alea Mahardika, dikabarkan telah diculik oleh seorang pria yang diidentifikasi sebagai Baskara, anggota keluarga Mahardika yang baru saja kembali dari luar negeri. Pihak kepolisian telah mengeluarkan status waspada dan menutup akses pelabuhan..."

"Diculik?" Alea berbisik, suaranya bergetar. "Dia bilang aku diculik?"

Baskara berjalan mendekati monitor, rahangnya mengeras. "Taktik klasik Sarah. Dengan menjadikanku buronan penculikan, dia bisa mengerahkan seluruh kekuatan kepolisian untuk memburu kita secara legal. Dia tidak ingin kau bicara, Alea. Dia ingin kau kembali ke rumah itu sebagai 'korban yang trauma', lalu dia akan menguncimu di kamar selamanya dengan alasan perlindungan."

"Dia benar-benar monster," gumam Alea. Ia menoleh ke arah Baskara. "Dan kau... kau tahu ini akan terjadi, kan? Kau tahu bahwa dengan membawaku bersamamu, kau menjadikanku buronan juga?"

Baskara terdiam. Ia menatap Alea dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sana setelah kau tahu kebenarannya. Sarah akan menyadarinya dari matamu, dan kau akan berakhir seperti orang tuamu."

"Lalu sekarang apa?" tanya Alea. "Kita terjebak di pulau ini, polisi mencari kita, dan seluruh dunia menganggapmu penjahat."

Reno menginterupsi, "Sebenarnya, tidak seluruh dunia. Bas, aku berhasil men-download data terakhir dari flash drive merah itu sebelum enkripsinya mengunci sendiri. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar Yusuf si supir truk."

Baskara mendekat ke meja Reno. "Apa itu?"

"Ada komunikasi email terenkripsi antara ayahmu, Baskoro, dan seorang pejabat tinggi di kementerian agraria pada tahun 1996. Mereka tidak hanya mengambil alih Suryakencana. Mereka melakukan pembersihan lahan besar-besaran di area yang sekarang menjadi proyek Griya Mahardika. Ada puluhan keluarga lain yang 'dihilangkan' atau dipaksa pindah tanpa ganti rugi. Dan tebak siapa yang memegang sertifikat asli tanah-tanah itu?"

Reno menekan sebuah tombol, dan sebuah dokumen muncul di layar besar.

"Sertifikatnya masih atas nama konsorsium Arkananta. Itu artinya, secara hukum, tanah tempat proyek terbesar Mahardika Group dibangun saat ini... adalah milik Alea," lanjut Reno.

Baskara menatap Alea. Gadis itu tampak terkejut, namun lebih dari itu, ia tampak merasa ngeri. Warisan yang seharusnya menjadi berkah, kini terasa seperti tumpukan tulang belulang yang menghantuinya.

"Itu alasan kenapa Sarah tidak pernah melepaskanmu," ujar Baskara pelan. "Bukan karena dia mencintaimu sebagai anak. Kau adalah pemegang kunci legalitas seluruh kekayaannya. Jika kau mati tanpa ahli waris, atau jika kau menghilang, dia bisa menguasainya. Tapi jika kau tetap hidup dan berada di bawah kendalinya, dia aman dari tuntutan hukum apa pun."

Alea menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Semua yang kualami... setiap ulang tahun, setiap hadiah, setiap pelukan... itu semua hanya bagian dari transaksi bisnis?"

"Maafkan aku, Alea," ujar Baskara. Ini adalah pertama kalinya ia meminta maaf tanpa ada nada manipulasi di suaranya. "Tapi sekarang kau punya pilihan. Kau bisa tetap bersembunyi di sini dan membiarkan mereka menang, atau kau membantuku menghancurkan mereka dari dasar."

Alea menurunkan tangannya. Matanya yang merah kini menatap Baskara dengan ketajaman yang baru. "Bagaimana caranya? Kita tidak punya apa-apa."

"Kita punya data ini," Baskara menunjuk monitor. "Dan kita punya sesuatu yang tidak dimiliki Sarah: kebenaran. Kita akan melakukan infiltrasi digital dan sosial. Kita akan menghancurkan reputasi Mahardika Group sebelum mereka sempat menangkap kita."

"Tapi kita butuh satu hal lagi," tambah Reno. "Kita butuh orang dalam yang masih setia pada mendiang Adrian Arkananta. Aku menemukan satu nama: mantan pengacara keluarga Arkananta yang sekarang hidup sebagai gelandangan di pinggiran Jakarta setelah karirnya dihancurkan oleh Sarah."

Baskara mengangguk. "Kita akan menemukannya. Tapi sebelum itu..." ia menoleh pada Alea. "Kau harus belajar satu hal, Alea. Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar bisa dipercayai kecuali dirimu sendiri. Termasuk aku."

Alea berdiri, meski kakinya masih gemetar. "Aku sudah tahu itu sejak aku melihat Yusuf di panti jompo tadi. Jadi, jangan harap aku akan menjadi pengikutmu yang patuh, Baskara. Aku akan membantumu menjatuhkan Sarah, tapi setelah itu... aku ingin hidupku kembali."

Baskara melihat api dendam yang mulai menyala di dalam diri Alea—api yang sama yang telah membakarnya selama bertahun-tahun. Ia tahu, mulai saat ini, hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi. Mereka bukan lagi kakak tiri dan adik angkat. Mereka adalah dua orang asing yang dipersatukan oleh rasa sakit yang sama, berlayar di atas kapal yang sama menuju badai yang mungkin akan menelan mereka berdua.

"Istirahatlah," ujar Baskara. "Besok, kita akan mulai membalas."

Di luar gudang, petir menyambar di atas laut, menerangi pulau itu sejenak sebelum kembali ditelan kegelapan. Perang besar baru saja dimulai, dan di kediaman Mahardika, Sarah sedang menatap layar cctv yang mati, meremas gelas kristalnya hingga retak, menyadari bahwa aset paling berharganya kini telah menjadi senjata yang paling mematikan bagi dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!