SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MAHKOTA EMAS VS KNALPOT BRONG
Pukul 06.30 WIB
Jalan Anggrek Nomor 1, Perbatasan Jakarta Selatan
Dunia ini tidak adil. Itu adalah fakta mutlak yang tertulis di aspal Jalan Anggrek.
Di sisi timur jalan, berdiri sebuah gerbang besi setinggi lima meter dengan ukiran gaya Eropa klasik yang dicat emas berkilauan. Di balik gerbang itu, terhampar gedung-gedung putih megah dengan pilar-pilar Romawi, taman bunga yang dirawat oleh lima tukang kebun profesional, dan air mancur marmer yang airnya jernih seperti air mata bidadari.
Itu adalah SMA PERTIWI. Wilayah "Surga". Tempat di mana hand sanitizer tersedia di setiap lima langkah dan udaranya wangi Jo Malone.
Tepat di sebelahnya, hanya dipisahkan oleh satu tembok beton kusam setinggi tiga meter yang atasnya ditaburi pecahan beling tajam, adalah dunia yang berbeda 180 derajat.
Gerbangnya karatan dan miring sebelah. Gedungnya abu-abu kusam dengan cat yang mengelupas seperti kulit terbakar matahari. Halamannya bukan rumput jepang, melainkan paving block retak-retak yang ternoda oli hitam abadi. Udaranya bau bensin, rokok kretek, dan keringat perjuangan.
Itu adalah STM RAJAWALI. Wilayah "Neraka". Tempat di mana hukum rimba berlaku dan hand sanitizer dianggap barang mewah yang cuma bikin tangan lengket.
Pagi ini, seperti biasa, terjadi pemandangan kontras yang menyakitkan mata.
Sebuah sedan Mercedes-Benz S-Class hitam mengkilap berhenti mulus tepat di depan lobi utama SMA Pertiwi. Supir berseragam rapi turun, membukakan pintu penumpang dengan gerakan terlatih.
Sepatu loafers hak tinggi merek Prada menapak anggun di lantai marmer lobi.
Keluarlah Roseanna Vallerian.
Sang Ratu Pertiwi. Ketua OSIS yang memegang kekuasaan absolut. Seragamnya putih bersih tanpa satu pun kerutan, seolah baru saja disetrika oleh malaikat. Rok abu-abunya pas di atas lutut, blazer navy-nya membalut tubuhnya dengan sempurna.
Roseanna melepas kacamata hitamnya, menatap sekeliling lobi dengan tatapan memindai. Tatapan yang membuat adik-adik kelas menahan napas.
"Naura," panggil Roseanna tanpa menoleh.
Naura Louviera, sekretaris OSIS yang selalu membawa tablet kemana-mana, muncul di sampingnya. Matanya menyipit di balik kacamata tebal, curiga pada pot bunga di pojok lobi.
"Siap, Rose. Gue udah cek log keamanan pagi ini. Satpam shift malam tidur jam 2 pagi. Ada celah keamanan selama 3 jam," lapor Naura dengan nada konspirasi. "Gue curiga ada nyamuk yang menyusup masuk tanpa izin."
"Pecat satpamnya. Ganti sama yang punya sertifikat begadang," perintah Roseanna datar. "Gue nggak mau ada kesalahan. Hari ini ada kunjungan donatur."
Di belakang mereka, Aqeela Azalea turun dari Alphard putihnya. Aqeela sedang sibuk mengelap layar HP-nya dengan tisu basah antiseptik.
"Duh, Rose... debu di Jakarta jahat banget ya," keluh Aqeela dengan wajah polos. "Masa baru turun mobil, layar HP aku udah ada debunya satu titik? Apa perlu aku suruh Papah pasang kubah kaca di atas sekolah kita biar steril?"
"Jangan gila, Qeel. Nanti kita kayak ikan di akuarium," sahut Raisa Azure yang baru datang dengan motor Vespa Matic kuningnya. Raisa melepas helm, rambut kuncir kudanya bergoyang. Wajahnya sudah terlihat emosi padahal baru jam setengah tujuh. "Minggir lo semua! Yang jalannya lambat gue tekel!"
Raisa menyenggol bahu seorang siswi yang sedang membetulkan tali sepatu. "Woy! Kalau mau iket sepatu di pinggir! Jangan di tengah jalan! Lo pikir ini jalan nenek moyang lo?!"
Siswi itu langsung lari ketakutan.
Dan terakhir, Waulia Seraphin (Lia) turun dari mobil Mini Cooper-nya. Lia berjalan paling santai. Dia memakai headphone Sony besar di lehernya, matanya terpaku pada layar HP, scrolling Instagram.
"Lia," panggil Roseanna.
Hening. Lia terus berjalan, melewati Roseanna begitu saja.
"Lia!" panggil Roseanna lebih keras, nadanya mulai bossy.
Lia berhenti, tapi tidak menoleh. Dia hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat 'tunggu sebentar' tanpa mengalihkan pandangan dari HP.
"Lia, dasi lo miring," tegur Roseanna, berjalan mendekat dan menarik dasi Lia dengan kasar untuk membetulkannya.
Lia akhirnya mendongak, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Apaan sih, Rose? Gue lagi nonton tutorial shading hidung. Jangan ganggu konsentrasi gue."
"Lo Wakil Ketua Geng Royals. Penampilan lo harus sempurna," omel Roseanna sambil merapikan kerah baju Lia. "Dan berhentilah bersikap seolah lo hidup sendirian di dunia ini. Sapa orang kek."
"Males. Manusia itu berisik," jawab Lia singkat, lalu kembali memasang headphone-nya dan berjalan pergi. "Gue ke kelas. Bye."
Roseanna menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Mengurus kerajaan ini memang melelahkan.
Sementara itu, di balik tembok pembatas...
BREEEMMM! BREEEMMM! TENG-TENG-TENG!
Suara knalpot motor yang dimodifikasi sebrutal mungkin meraung-raung di halaman STM Rajawali. Asap putih mengepul tebal, menciptakan kabut polusi lokal.
Fattah Maverick duduk di atas jok motor CB modifikasinya di tengah lapangan upacara. Dia adalah Raja Jalanan di sini. Seragamnya dikeluarkan, lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang terbiasa mengangkat mesin. Kancing atasnya terbuka dua biji, menampilkan kaos dalam hitam.
"Tarik, Bos! Panasin mesinnya!" teriak Harry Nareswara dari atas pohon mangga di pinggir lapangan. Harry sedang nongkrong di dahan pohon kayak monyet, sambil genjreng gitar.
"Berisik, Har! Turun lo, nanti jatoh gue ketawain!" teriak Fattah sambil mematikan mesin motornya. Dia menyugar rambutnya yang agak gondrong dan berantakan kena helm. Gayanya tengil minta ampun.
Di pojokan kantin yang kumuh (tapi makanannya enak dunia akhirat), Mohan Alveric sedang duduk di bangku panjang. Badannya sebesar lemari dua pintu, tinggi 190 cm, ototnya kawat tulang besi. Tapi apa yang dia lakukan?
Dia sedang menyuapi seekor anak kucing kurus dengan sosis.
"Aaa... buka mulutnya, Meng," kata Mohan dengan suara imut yang kontras banget sama badannya. "Makan yang banyak biar gede kayak Om Mohan ya. Jangan nakal, nanti dicakar kucing garong."
"Han, lo ngomong sama kucing lagi?" tanya Oliver Sagara yang duduk di sebelahnya sambil membaca buku tebal berjudul Teori Relativitas Einstein. Oliver membetulkan letak kacamatanya. "Secara ilmiah, kucing tidak memahami bahasa manusia, apalagi bahasa bayi yang lo pake."
"Biarin, Ver. Si Belang ngerti kok. Dia kan soulmate gue," jawab Mohan polos sambil mengelus kepala kucing itu dengan jari telunjuknya yang segede jempol kaki orang normal.
Tiba-tiba, Ilham Mahendra datang dengan wajah yang ditekuk tujuh lipatan. Dia membanting tas ranselnya ke meja kantin sampai gelas kopi Pak Bon tumpah dikit.
BRAKK!
"Anjing emang!" umpat Ilham. Napasnya memburu.
"Kenapa lagi lo, Ham? Pagi-pagi udah darah tinggi," tanya Fattah santai, mengambil gorengan bakwan.
"Gue dicuekin!" teriak Ilham frustrasi. "Gue nyapa adek kelas cewek tadi di depan gerbang, eh dia malah masang earphone terus jalan gitu aja! Maksudnya apa coba?! Gue kurang ganteng apa?! Gue ini Wakil Ketua Vanguards, dihormatin satu tongkrongan, tapi dicuekin sama bocil?!"
"Mungkin dia budek, Ham," celetuk Harry dari atas pohon.
"Budek mata lo!" Ilham menendang kaki meja. "Gue paling benci dicuekin! Rasanya pengen gue bakar tuh earphone-nya!"
Fattah tertawa renyah. "Lo emang haus perhatian, Ham. Makanya cari pacar, jangan nyari musuh mulu."
"Bacot lo, Bos!"
Tiba-tiba, Fattah mengangkat tangan, menyuruh teman-temannya diam. Telinganya menangkap suara dari balik tembok sebelah. Suara piano klasik dan nyanyian paduan suara yang mendayu-dayu.
"Denger nggak?" tanya Fattah.
"Suara apaan tuh? Kayak orang mau mati," komentar Harry.
"Itu lagu kebangsaan sekolah sebelah," kata Fattah sambil menyeringai tengil. "Sok elit banget pagi-pagi udah nyanyi opera. Kuping gue gatel dengernya."
Fattah berdiri, matanya berkilat jahil.
"Harry! Bawa sound system masjid yang lagi diservis di bengkel itu ke sini! Oliver, sambungin ke gitar lo!" perintah Fattah.
"Siap, Komandan!" Harry langsung meluncur turun dari pohon.
Dalam waktu lima menit, speaker TOA masjid yang gede banget itu sudah terpasang di atas tumpukan ban bekas, menghadap langsung ke arah tembok SMA Pertiwi.
"Kita kasih mereka konser pagi yang sebenernya," kata Fattah. "Harry, sikat!"
Harry menyalakan amplifier. Volumenya diputar sampai mentok kanan.
NGIIIIIIINGGGGG!!! (Suara feedback yang memekakkan telinga).
Lalu Harry mulai memetik gitar listriknya dengan distorsi kasar, memainkan intro lagu Enter Sandman-nya Metallica, tapi versi hancur lebur.
JRENG! JRENG! JRENG! JRENG!
Suaranya menggelegar, menembus tembok beton, masuk ke jendela-jendela kelas SMA Pertiwi, dan merusak keheningan pagi yang mahal itu.
"MANTAP!" teriak Fattah dan Ilham barengan, ketawa ngakak sambil headbang di tengah lapangan. Mohan cuma tutup kuping kasihan sama si kucing.
Di Lapangan SMA Pertiwi
Suasana khidmat latihan upacara bendera langsung bubar jalan. Siswi-siswi menutup telinga mereka. Burung-burung gereja kabur dari pohon. Kaca jendela bergetar.
Roseanna Vallerian, yang sedang berdiri di podium untuk mengecek sound system upacara, merasakan urat di pelipisnya berdenyut kencang. Wajahnya yang cantik berubah menjadi topeng kemarahan.
"Siapa..." desis Roseanna, suaranya rendah tapi mematikan. "...yang berani bikin konser sampah di jam sekolah gue?!"
"Itu anak sebelah, Rose! Pasti si Fattah!" lapor Raisa, tangannya sudah mengepal siap nonjok orang. "Gue labrak sekarang ya? Gue panjat temboknya!"
"Jangan, Sa," tahan Roseanna. Dia turun dari podium dengan langkah lebar dan tegas. "Biar gue yang urus. Gue bakal bikin mereka diem selamanya."
Roseanna berjalan menuju tembok pembatas di area belakang sekolah, tempat di mana suara itu paling kencang terdengar. Geng Royals mengikutinya di belakang.
Lia berjalan paling belakang, masih pake headphone, nggak denger apa-apa, tapi ikut aja karena liat temennya jalan.
Roseanna melihat ada tumpukan peti kayu bekas katering di dekat tembok. Dia naik ke atas peti itu dengan anggun, sampai kepalanya dan dadanya muncul di atas tembok pembatas.
Di seberang sana, Fattah juga sedang berdiri di atas tumpukan ban bekas, memimpin "konser" Harry layaknya dirigen gila.
"HEH! KAMPUNGAN!" teriak Roseanna, suaranya harus bersaing dengan distorsi gitar Harry.
Fattah menoleh. Dia melihat Roseanna di atas tembok. Senyum miringnya langsung terbit. Dia memberi isyarat tangan pada Harry untuk berhenti sebentar.
Hening mendadak.
"Wih, ada Tuan Putri nongol," sapa Fattah tengil. "Kenapa, Neng? Kurang kenceng lagunya? Mau request lagu apa? Dangdut koplo?"
"Matikan sampah itu sekarang," perintah Roseanna dingin, matanya menatap Fattah seperti menatap kecoa. "Ini jam belajar. Polusi suara kalian mengganggu konsentrasi siswi-siswi saya yang punya masa depan cerah. Nggak kayak kalian."
"Waduh, pedes bener mulutnya," Fattah tertawa, lalu menepuk dada Ilham di sebelahnya. "Ham, denger tuh. Katanya kita nggak punya masa depan."
Ilham maju, wajahnya sangar. "Heh, Cewek Sombong! Sekolah ini tanah negara! Bebas dong kita mau ngapain! Lo pikir lo siapa ngatur-ngatur?!"
Roseanna tidak menggubris Ilham. Dia menatap Aqeela di bawah.
"Qeel, lempar."
Aqeela dengan polosnya mengeluarkan segepok uang lima puluh ribuan dari tasnya, lalu melemparnya melewati tembok ke arah Fattah. Uang-uang itu berhamburan di udara seperti hujan duit.
Anak-anak Rajawali melongo.
"Ambil duit itu," kata Roseanna angkuh. "Beli headphone atau sumbat kuping kalian. Atau sekalian beli otak baru biar tau sopan santun. Sekarang, diam."
Fattah menatap lembaran uang yang jatuh di sepatu bututnya. Hening sejenak.
Lalu Fattah tertawa. Bukan tawa senang, tapi tawa tersinggung.
Dia memungut satu lembar uang itu, lalu meremasnya menjadi bola kecil, dan melemparnya balik tepat mengenai jidat Roseanna.
Pletak!
"Aw!" Roseanna kaget, memegang jidatnya.
"Denger ya, Ratu," suara Fattah berubah rendah dan berbahaya. "Gue emang miskin. Tapi gue nggak sudi dipelihara sama duit bapak lo. Simpen recehan lo buat beli obat, siapa tau lo sakit jiwa gara-gara kebanyakan gaya."
"BERANI-BERANINYA LO LEMPAR ROSE!" Raisa ikut naik ke tembok, siap loncat.
"Maju sini lo kalau berani, Cewek Jadi-jadian!" tantang Ilham.
Di tengah keributan itu, Lia yang sedari tadi cuma berdiri di belakang Roseanna (masih di tanah), akhirnya merasa terganggu karena Roseanna berhenti jalan. Lia melepas headphone-nya, mendongak.
"Rose, lama banget sih? Gue laper mau ke kantin," keluh Lia datar.
Suara Lia yang datar dan cuek itu terdengar oleh Ilham yang posisinya lebih tinggi di atas ban. Ilham menunduk, melihat Lia.
Lia melihat Ilham sekilas. Tatapan matanya kosong, seolah Ilham itu cuma tiang listrik. Lalu Lia kembali menatap layar HP-nya, scrolling lagi.
Ctrek.
Sesuatu putus di kepala Ilham.
Dia baru saja dimaki-maki sama Roseanna, ditantang Raisa, dilempar duit sama Aqeela. Tapi tatapan bodo amat dari Lia barusan adalah yang paling menyakitkan buat egonya.
"WOY! CEWEK YANG BAWA HP!" teriak Ilham, menunjuk Lia.
Lia tidak menoleh.
"WOY! BUDEK YA LO?!" teriak Ilham makin kencang.
Lia masih tidak menoleh. Dia malah mengetik pesan di HP-nya sambil nyender di tembok.
"AAARGHHH!" Ilham ngamuk. Dia mengambil speaker TOA masjid yang berat itu, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah mau dilempar ke arah Lia.
"ILHAM! JANGAN GILA!" Fattah menahan tangan Ilham. "Itu speaker masjid, woy! Kualat lo nanti!"
"DIA NYUEKIN GUE, BOS! GUE NGGAK TERIMA!"
"Dia emang gitu, bego! Udah turun!"
Fattah menyeret Ilham turun dari tumpukan ban. Di seberang sana, Roseanna menatap mereka dengan jijik.
"Dasar orang-orang barbar," gumam Roseanna. Dia turun dari peti kayu. "Naura, catat kejadian ini. Kita laporin ke Dinas Pendidikan. Biar sekolah kandang ayam itu ditutup sekalian."
"Siap, Rose. Gue udah rekam semuanya," kata Naura sambil menunjukkan HP-nya.
Geng Royals berjalan pergi meninggalkan tembok perbatasan.
Lia berjalan paling belakang, kembali memasang headphone. Dia sama sekali tidak sadar kalau barusan dia hampir dilempar TOA masjid.
"Kantin hari ini menunya apa ya..." gumam Lia pelan.
Di balik tembok, Ilham masih terengah-engah, dadanya naik turun menahan emosi.
"Liat aja tuh cewek," desis Ilham, matanya merah. "Gue tandain mukanya. Suatu hari nanti, gue bakal bikin dia neriakin nama gue sampe suaranya abis."
Harry menepuk bahu Ilham. "Serem amat cita-cita lo, Ham. Mending makan gorengan dulu, adem."
Fattah menatap tembok pembatas yang tinggi itu. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius.
"Perang baru dimulai, Guys," kata Fattah. "Siapin mental lo pada. Tetangga kita kali ini... gigitnya sakit."