NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Hubungan asmara antara Aurora Quinn dan Alexander Kingsley tumbuh semakin dekat, manis, dan mendalam dari hari ke hari.

Namun, di balik kebahagiaan sederhana yang tengah merekah itu, Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa waktu baginya untuk menghadapi kenyataan pahit akan segera tiba. Sebentar lagi, ia akan dipaksa melangkah masuk ke dalam sebuah belahan dunia yang benar-benar berbeda. Sebuah dunia glamor dan eksklusif yang selama ini hanya bisa ia saksikan melalui layar televisi atau halaman majalah bisnis.

Dunia milik dinasti keluarga besar Kingsley.

---

Sore itu, atmosfer kafe kampus tempat Aurora bekerja paruh waktu sedang cukup ramai. Tepat di saat ia sedang mengelap meja konter, ponsel di dalam saku celemeknya bergetar pendek, menandakan sebuah pesan singkat masuk.

Alexander:

"Jangan membuat rencana apa pun untuk Sabtu malam besok."

Aurora mengernyitkan dahinya bingung sembari mengetik balasan dengan sebelah tangan.

Aurora:

"Kenapa memangnya?"

Alexander:

"Karena kamu harus ikut pergi bersamaku."

Aurora:

"Ke mana?"

Beberapa detik berlalu sebelum sebuah jawaban singkat yang sukses membuat pasokan udara di paru-paru Aurora mendadak menipis muncul di layar.

Alexander:

"Pesta keluarga."

Aurora seketika membeku di tempatnya berdiri, kedua matanya membelalak sempurna saat jemarinya dengan panik mengetik balasan dengan huruf kapital.

Aurora:

"KELUARGA?!"

---

Malam harinya, begitu jam kerjanya selesai dan ia sudah berada di kamar apartemen, Aurora langsung menghubungi nomor telepon Alexander. Begitu nada sambungan terhubung dan suara bariton di seberang sana menyapa, Aurora tidak bisa lagi menahan luapan kepanikannya.

"ALEXANDER KINGSLEY!" seru Aurora setengah berteriak menahan kesal.

Alexander di ujung telepon justru tertawa renyah, sama sekali tidak terganggu dengan pekikan kekasihnya. "Aku sangat suka setiap kali kamu memanggil nama lengkapku seperti itu, Aurora," ujar Alexander menggoda.

"Aku sedang serius saat ini, Alex!" tegur Aurora dengan nada suara yang meninggi.

"Aku juga sedang tidak bercanda, Sayang," sahut Alexander tenang, beralih menggunakan panggilan yang sukses membuat jantung Aurora berdesir hebat.

Aurora mengusap dahinya frustrasi, mencoba meredakan debar di dadanya. "Kenapa aku harus repot-repot ikut ke acara seperti itu?" tanya Aurora menuntut kejelasan.

"Tentu saja karena aku ingin mengenalkanmu secara resmi," jawab Alexander lugas.

"Mengenalkanku kepada siapa?" desak Aurora lagi.

"Kepada seluruh keluarga besarku," jawab Alexander tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam nadanya.

Aurora langsung terbungkam seribu bahasa. Detik itu juga, jantungnya mulai berdegup dengan ritme yang jauh lebih kacau dan tidak karuan. "Aku... aku belum siap untuk hal besar seperti itu, Alex," cicit Aurora jujur, mulai dilanda rasa minder yang hebat.

Alexander tersenyum hangat di seberang telepon. "Kamu pasti siap, Aurora," sahut Alexander meyakinkan.

​"Nggak, aku nggak siap!" sangkal Aurora cepat.

​"Kamu siap," balas Alexander tenang.

​"Nggak!" seru Aurora lagi, menggelengkan kepalanya.

​"Siap." Alexander bersikeras.

​"Nggak, Alexander!" tekan Aurora dengan napas memburu.

​"Kamu tetap akan siap," pungkas Alexander, tegas namun lembut.

Aurora mendengus kesal karena pria itu sama sekali tidak memberinya celah sedikit pun untuk mengajukan penolakan. Keputusan Alexander sudah bulat, mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat.

---

Sejak malam percakapan telepon itu, hari-hari Aurora berubah menjadi penuh dengan kecemasan. Ia dilingkupi rasa gugup yang luar biasa besar, bahkan Lily Parker sampai merasa bosan sekaligus pusing menghadapi keluhan sahabatnya yang terus berulang setiap hari.

"Aku benar-benar nggak punya baju yang layak untuk menghadiri pesta elite seperti itu, Lily," keluh Aurora frustrasi sembari mengacak-acak isi lemari pakaiannya yang minimalis.

"Beli yang baru kalau begitu," sahut Lily santai dari atas tempat tidur.

"Aku nggak punya uang sebanyak itu untuk membeli gaun pesta mewah!" seru Aurora merana.

"Pinjam saja gaun milikku," tawar Lily memberikan solusi instan.

Aurora menghela napas panjang, lalu mendudukkan tubuhnya di lantai dengan lemas. "Masalahnya bukan cuma soal baju, Lily. Aku sama sekali nggak tahu bagaimana caranya bersikap dan berbicara dengan orang-orang kaya di sana nanti."

Lily memutar kedua bola matanya malas mendengar kekhawatiran yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Mereka itu juga manusia biasa yang makan nasi, Aurora. Bukan alien," cibir Lily mencoba menenangkan dengan caranya sendiri.

Aurora kembali menghela napas berat, menumpu dagunya dengan kedua tangan. "Tapi mereka itu adalah keluarga besar dari seorang Alexander Kingsley, Lily," gumam Aurora lirih.

"Mengingat betapa dominannya kekasihmu itu... ya, kurasa keluarganya pasti akan jauh lebih menakutkan," timpal Lily yang akhirnya setuju dengan kekhawatiran sahabatnya.

---

Sabtu malam yang mendebarkan akhirnya tiba juga.

Aurora berdiri mematung di depan cermin besar kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan waswas. Ia mengenakan sebuah gaun malam berwarna biru tua berpotongan sederhana namun anggun—gaun terbaik yang dipinjamkan oleh Lily. Rambut panjangnya yang biasanya diikat asal kini dibiarkan terurai indah bergelombang, dengan riasan wajah tipis natural yang menghiasi wajah cantiknya.

Namun, tetap saja jauh di dalam lubuk hatinya, Aurora merasa penampilannya malam ini masih sangat jauh dari kata cukup untuk bersanding di samping seorang Kingsley.

Tepat di saat ia sedang merapikan ujung gaunnya, ponselnya di atas meja berbunyi pendek.

Alexander:

"Aku sudah sampai di lobi gedung apartemenmu."

Aurora langsung menelan ludahnya dengan susah payah, meremas jemarinya yang mendadak terasa sedingin es. "Baiklah, tampaknya ini adalah waktunya aku menghadapi hukuman mati," gumam Aurora pasrah pada takdir.

---

Saat Aurora melangkah keluar dari pintu lift menuju area lobi, langkah kaki Alexander yang semula hendak berjalan menghampirinya mendadak terhenti total. Pria itu berdiri bergeming di tempatnya, menatap lurus ke arah Aurora tanpa berkedip sedikit pun.

Aurora berjalan mendekatinya dengan langkah yang terasa kaku akibat rasa gugup yang kian menyiksa. "Kenapa melihatku seperti itu? Apakah aku terlihat sangat aneh malam ini?" tanya Aurora panik, memecah keheningan.

Alexander tidak memberikan jawaban dan terus menatapnya lekat-lekat, membuat Aurora semakin dilanda kecemasan hebat. "Penampilanku buruk sekali ya, Alex?" tanya Aurora lagi dengan suara yang mulai bergetar.

Pria kasta atas itu masih tetap diam membisu.

"Alexander? Tolong katakan sesuatu, jangan membuatku jantungan," desak Aurora setengah merengek karena takut penampilannya mempermalukan kekasihnya.

Alexander akhirnya tersadar dari keterpakuannya. Ia mengerjapkan matanya sejenak, lalu mengulas sebuah senyuman yang teramat menawan—sebuah senyuman tulus yang tak pelak langsung membuat detak jantung Aurora semakin berjalan di luar kendali.

"Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Aurora," puji Alexander dengan nada suara yang dalam dan penuh kekaguman yang jujur.

Aurora langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gerakan cepat, merasakan kedua belah pipinya mendadak merona merah akibat pujian spontan itu. Menyaksikan respons menggemaskan tersebut, Alexander tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terus-menerus menyunggingkan senyuman di sepanjang jalan.

---

Satu jam kemudian, mobil mewah milik Alexander mulai memasuki kawasan permukiman elite yang terletak di jantung Manhattan.

Aurora yang sejak tadi memilih untuk melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil mendadak terdiam seribu bahasa. Rumah-rumah yang berjajar di sepanjang kawasan ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan megah daripada gedung apartemen minimalis tempat tinggalnya. Lampu-lampu kristal mewah menghiasi setiap sudut pekarangan, dengan deretan mobil-mobil sport mahal berharga fantastis yang terparkir rapi di sepanjang jalan.

Dan ketika kendaraan mereka akhirnya berbelok masuk dan berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi dari mansion megah milik keluarga Kingsley... Aurora benar-benar kehilangan seluruh kemampuannya untuk merangkai kata.

"Ya Tuhan..." bisik Aurora dengan raut wajah syok yang kentara.

Alexander mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh menatap kekasihnya yang tampak pucat. "Ada apa, Aurora?" tanya Alexander lembut.

Aurora menunjuk dengan jemarinya yang bergetar ke arah bangunan raksasa di depan mereka. "Itu... tempat sebesar itu benar-benar sebuah rumah?" tanya Aurora sangsi.

Alexander mengangguk santai sembari melepaskan sabuk pengamannya. "Iya, itu rumah utama keluargaku," jawab Alexander tanpa beban.

Aurora rasanya hampir saja pingsan di tempat saat itu juga. Struktur bangunan di hadapannya saat ini sama sekali tidak terlihat seperti sebuah rumah tinggal, melainkan lebih mirip dengan sebuah istana megah di negeri dongeng.

---

Begitu mereka melangkahkan kaki melewati pintu utama dan masuk ke dalam aula pesta, Aurora langsung dirundung oleh rasa rendah diri yang teramat pekat. Detik itu juga, ia merasa menjadi orang paling miskin dan tidak berharga di dalam ruangan luas tersebut.

Bagaimana tidak? Setiap pasang tamu undangan yang hadir di sana tampak mengenakan pakaian dari perancang busana ternama dunia. Perhiasan berlian berkilauan mewah di bawah sorot lampu gantung kristal, dan wajah-wajah pesohor serta pengusaha terkenal yang sering muncul di berita bisnis tampak memenuhi setiap sudut ruangan.

Atmosfer kemegahan yang sarat akan kepalsuan itu mulai membuat Aurora merasa sangat tidak nyaman dan terasingkan. Tanpa sadar, ia meremas ujung gaun biru tuanya dengan erat untuk menyalurkan rasa takutnya.

Alexander yang berdiri tegap di sampingnya langsung menyadari perubahan gestur tubuh sang kekasih. "Kamu merasa gugup?" tanya Alexander berbisik di dekat telinganya.

"Sedikit," bohong Aurora dengan suara lirih.

Alexander tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang menenangkan. "Hanya sedikit?" tanya Alexander menggoda.

"Baiklah, aku sangat gugup sampai rasanya mau mati," aku Aurora jujur pada akhirnya.

Alexander tersenyum hangat menatapnya. Lalu, tanpa ada keraguan sedikit pun di hadapan ratusan pasang mata yang ada di sana, Alexander mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jemari tangan Aurora, menautkan jemari mereka dengan begitu posesif.

Tindakan berani itu tak pelak langsung memicu perhatian dan membuat beberapa tamu penting di sekitar mereka spontan menoleh dengan tatapan terkejut.

"Tenanglah, Aurora," ucap Alexander menatap lurus ke dalam matanya, memberikan suntikan kekuatan mental. "Aku ada di sini, tepat di sampingmu."

Dan entah kekuatan magis apa yang terkandung di dalam untaian kalimat sederhana itu, Aurora perlahan-lahan merasakan debar ketakutan di dalam dadanya berangsur-angsur menjadi sedikit lebih tenang.

---

Namun sayang, ketenangan yang baru saja Aurora dekap itu tidak mampu bertahan lama.

Sebab dari arah ujung ruangan pesta, sesosok wanita dengan langkah kaki yang teramat elegan tampak berjalan lurus mendekat ke arah posisi mereka berdua berdiri. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna hitam mewah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat. Tatapan matanya tajam sehangat es, dengan gurat wajah yang tampak dingin tanpa ekspresi.

Bahkan sebelum Alexander sempat membuka mulutnya untuk memperkenalkan siapa sosok tersebut, Aurora sudah bisa menebak identitasnya dengan sangat mudah.

Wanita anggun itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan mereka. Sorot matanya yang tajam perlahan bergerak turun, meneliti penampilan Aurora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sarat akan penghakiman sepihak.

Setelah keheningan yang mencekam berlalu, wanita itu akhirnya membuka suara dengan nada yang terlampau datar dan dingin. "Jadi... wanita ini adalah gadis dari kelas bawah yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan karena berkencan denganmu, Alexander?" tanya wanita itu frontal tanpa basa-basi.

Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah menjadi luar biasa tegang dan pekat. Beberapa tamu yang berada di dekat mereka bahkan tampak sengaja menahan napas demi menyimak konfrontasi tersebut.

Alexander menghela napas pendek, tatapan matanya berubah menjadi sedikit lebih serius dari biasanya. "Mom," panggil Alexander dengan nada memperingatkan kehalusan sikap ibunya.

Aurora menelan ludahnya dengan susah payah di tempatnya berdiri, merasai hawa dingin yang mendadak menusuk kulitnya. Karena saat ini ia tahu pasti, bahwa wanita berkuasa yang sedang berdiri di hadapannya adalah sosok yang paling berpengaruh di dalam silsilah hidup seorang Alexander.

Dia adalah Victoria Kingsley.

Dan hanya dari cara serta binar mata tajam yang dilemparkan wanita itu kepadanya, Aurora bisa merasakan satu kenyataan pahit yang mutlak. Victoria Kingsley sama sekali tidak menyukai kehadirannya di tempat ini. Sama sekali tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!