NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYUSUN SERPIHAN

​Aliansi tanpa tanya itu langsung bekerja seperti mesin yang senyap. Di bawah perlindungan Raditya, keberadaan Kirana di apartemen mewah itu benar-benar terisolasi dari dunia luar. Fokus utama mereka saat ini bukanlah bergerak ke lapangan, melainkan memulihkan kondisi fisik Kirana yang sempat berada di ambang batas kematian.

​Sore itu, pintu kamar tidur utama terbuka perlahan. Seorang pria berkacamata dengan jas dokter yang diletakkan di pundaknya melangkah keluar ke ruang tengah. Pria itu adalah Hendrik, dokter pribadi sekaligus sahabat dekat Raditya sejak masa kuliah yang sengaja dipanggil secara rahasia.

​Raditya yang sedang berdiri di dekat jendela besar langsung menoleh begitu mendengar suara pintu. "Bagaimana perkembangannya, Hen?"

​Hendrik melepas sarung tangan medisnya, lalu menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ada gurat takjub yang sangat kentara di wajahnya.

​"Jujur, Dit... secara medis, aku benar-benar tidak paham dari mana perempuan itu mendapatkan kekuatannya," ucap Hendrik, suaranya pelan namun sarat akan ketidakpercayaan. "Daya tahan tubuhnya tidak masuk akal. Setelah mendapatkan luka-luka baru yang begitu sadis—yang bahkan tumpang tindih di atas luka lama yang belum mengering—ditambah dehidrasi parah saat kamu menemukannya... orang biasa mungkin sudah menyerah pada rasa sakitnya. Tapi dia tidak."

​Raditya terdiam, mendengarkan penjelasan sahabatnya dengan saksama.

​"Lebam di wajah dan sekitar matanya menyusut jauh lebih cepat dari perkiraanku," lanjut Hendrik, mengambil segelas air putih yang disediakan Raditya di atas meja. "Luka cambuk di punggungnya memang masih basah dan pasti terasa sangat menyengat setiap kali dia bernapas atau bergerak. Tapi jaringan kulitnya beregenerasi dengan sangat baik. Aku bisa merasakan ada kemauan kuat yang luar biasa dari dalam jiwanya untuk menolak mati. Itu yang membuat fisiknya pulih secepat ini."

​"Terima kasih, Hen. Tolong pastikan obat dan nutrisinya tidak kurang," kata Raditya pelan.

​"Sudah. Aku sudah menyuntikkan vitamin tambahan dan antibiotik dosis tinggi lagi tadi untuk mencegah infeksi pada luka punggungnya. Tapi ingat, Dit, pastikan dia tidak banyak bergerak dulu. Biarkan tubuhnya fokus menyembuhkan diri," pesan Hendrik sebelum akhirnya berpamitan dan melangkah keluar dari apartemen.

​Setelah Hendrik pergi, suasana apartemen kembali sunyi. Raditya berjalan menuju ruang makan, berniat menyiapkan teh hangat. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar kembali terbuka.

​Kirana keluar dengan langkah yang sangat perlahan. Ia mengenakan kemeja putih longgar milik Raditya yang dipadukan dengan celana panjang kain yang dipinjamkan. Rambutnya yang kemarin sempat kusut dan kotor kini sudah tersisir rapi, meski wajahnya masih tampak sangat tirus dan pucat.

​Setiap kali ia melangkah, tangannya refleks memegang sisi rusuknya, menahan rasa perih yang luar biasa akibat luka cambuk yang bergesekan dengan kain kemeja. Namun, tidak ada satu pun rintihan yang keluar dari bibirnya yang pecah.

​"Doktermu baru saja bilang aku harus tetap di tempat tidur," ucap Kirana memecah keheningan, suaranya masih agak parau dan lemah.

​"Hendrik benar. Tubuhmu baru saja melewati fase yang mengerikan, Kirana. Kamu harus istirahat," kata Raditya, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa segan melihat keteguhan hati di balik tubuh yang ringkih itu.

​Kirana berjalan tertatih-tatih menuju sofa panjang di ruang tengah, lalu mendudukkan dirinya dengan sangat perlahan, menjaga agar punggungnya tetap tegak dan tidak menyentuh sandaran sofa.

​"Tidur terlalu lama hanya membuat otot-ototku mengingat rasa sakit itu," bisik Kirana, matanya menatap lurus ke arah tangannya sendiri yang dipenuhi bekas jeratan tali yang mulai mengering menjadi koreng. "Aku harus membiasakan tubuh ini lagi. Aku harus pulih secepatnya."

​Raditya berjalan mendekat, meletakkan segelas teh hangat di atas meja kopi di depan Kirana. "Hendrik bilang kamu keras kepala untuk tetap hidup. Dan melihatmu berdiri sekarang, aku memercayai ucapannya."

​Kirana memandangi uap yang mengepul dari gelas teh tersebut. Ia menghirup aromanya dalam-dalam, merasakan kehangatan yang perlahan menjalar ke rongga dadanya. Di dalam kepalanya, suara tangis adik-adiknya dan bayangan malam jahanam itu masih berputar, namun perlahan-lahan, fokusnya beralih pada denyut nadinya sendiri.

​Ia masih hidup. Jantungnya masih berdetak. Dan setiap rasa perih yang menyengat kulitnya saat ini adalah bukti nyata bahwa neraka di Distrik Amethyst tidak berhasil menghancurkannya sepenuhnya. Malam ini, di bawah atap yang aman, Kirana memilih untuk melupakan sejenak dunia luar. Ia memejamkan matanya, membiarkan kehangatan teh dan obat-obatan bekerja, menuntun tubuhnya yang hancur untuk perlahan-lahan menyusun kembali serpihan kekuatan yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!