NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Sebuah Tempat Bernama Rumah

Pagi itu Rubi bangun dengan perasaan yang berbeda.

Entah kenapa sejak semalam pikirannya terus memikirkan Alexander.

Bahkan setelah pria itu mengucapkan selamat malam dan kembali ke kamarnya sendiri, wajahnya masih terus muncul di benak Rubi.

Mengingatnya membuat Rubi menghela napas panjang.

"Kenapa jadi begini..."

gumamnya pelan.

Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang semakin membesar.

Usia kandungannya kini hampir tujuh bulan.

Tubuhnya memang lebih mudah lelah dibanding sebelumnya, tetapi ia bersyukur karena bayi dalam kandungannya tumbuh sehat.

Tap.

Gerakan kecil dari dalam perut membuat Rubi tersenyum.

"Selamat pagi juga."

bisiknya.

Bayi itu kembali bergerak.

Membuat senyum Rubi semakin lebar.

Kadang ia merasa bayi ini mengerti semua perkataannya.

---

Saat turun ke ruang makan, Alexander ternyata sudah berada di sana.

Pria itu sedang membaca koran bisnis sambil menikmati kopi pagi.

Seperti biasa.

Rapi.

Tenang.

Dan terlihat sangat tampan.

Rubi langsung menggeleng dalam hati.

"Aku benar-benar sudah gila."

gumamnya pelan.

Namun rupanya Alexander mendengar.

Pria itu mengangkat kepala.

"Hm?"

"Tidak ada."

jawab Rubi cepat.

Alexander memperhatikan wajahnya beberapa saat.

Lalu kembali membaca korannya.

Tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Seolah tahu Rubi sedang menyembunyikan sesuatu.

Hal itu justru membuat Rubi semakin gugup.

Untungnya kepala pelayan segera datang membawa sarapan.

"Nyonya muda harus menghabiskan susunya."

ucap kepala pelayan tegas.

Rubi langsung mengerucutkan bibir.

"Aku tidak suka susu."

"Kata dokter tetap harus diminum."

Alexander yang mendengar percakapan itu ikut berbicara.

"Minum."

Rubi langsung menatapnya.

"Kamu juga?"

"Minum."

ulang Alexander tanpa rasa bersalah.

Rubi menghela napas panjang.

Kadang ia merasa seluruh penghuni mansion bekerja sama untuk memaksanya minum susu.

---

Setelah sarapan, Rubi berjalan menuju taman belakang.

Cuaca hari itu sangat cerah.

Langit biru membentang luas tanpa awan.

Bunga-bunga yang ditanam di taman sedang bermekaran dengan indah.

Rubi duduk di bangku kayu dekat kolam kecil.

Matanya menikmati pemandangan di sekeliling.

Namun pikirannya justru melayang jauh.

Ia teringat kehidupannya sebelum mengalami transmigrasi.

Panti asuhan.

Kamar sederhana.

Teman-teman yang tumbuh bersamanya.

Dan pekerjaannya di kafe.

Kadang ia masih merindukan semua itu.

Merindukan kehidupan yang dulu dianggap biasa.

Tetapi jika ditanya apakah ia ingin kembali...

Rubi tidak tahu jawabannya.

Karena sekarang ada terlalu banyak hal yang membuatnya bertahan di sini.

Tangannya kembali mengusap perutnya.

Kemudian tanpa sadar muncul satu nama di dalam pikirannya.

Alexander.

Pria itu sudah menjadi alasan terbesar.

Dan kesadaran itu membuat Rubi terdiam.

---

"Sedang memikirkan apa?"

Suara berat yang familiar membuat Rubi menoleh.

Alexander berdiri tidak jauh darinya.

Pria itu baru saja datang.

Rubi bahkan tidak menyadari langkahnya.

"Kamu mengejutkanku."

kata Rubi.

Alexander duduk di sampingnya.

"Kau terlalu fokus berpikir."

Rubi tersenyum kecil.

"Mungkin."

Mereka terdiam beberapa saat.

Menikmati suasana taman yang tenang.

Tidak ada percakapan penting.

Tidak ada pembahasan bisnis.

Hanya keheningan yang terasa nyaman.

Hal yang dulu tidak pernah dibayangkan Rubi akan terjadi di antara mereka.

"Apa pekerjaanmu sudah selesai?"

tanya Rubi.

"Belum."

jawab Alexander.

"Lalu kenapa ada di sini?"

Alexander menatap taman di depan mereka.

Kemudian berkata santai,

"Aku ingin istirahat."

Jawaban sederhana.

Tetapi Rubi tahu.

Pria ini tidak pernah benar-benar beristirahat.

Kalau sampai ia meninggalkan pekerjaannya di tengah hari, berarti ada alasan lain.

Dan entah kenapa Rubi merasa alasan itu adalah dirinya.

---

Menjelang siang, dokter pribadi keluarga Dimitri datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Seperti biasa, Alexander ikut menemani.

Dokter tersenyum melihat pasangan itu.

"Kondisi ibu dan bayi sangat baik."

ucapnya.

Rubi langsung lega.

"Benarkah?"

"Tentu."

Dokter mengangguk.

"Bayi tumbuh dengan sehat."

Alexander yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Ada hal yang perlu diperhatikan?"

Dokter tersenyum.

"Jangan biarkan Nyonya Muda terlalu lelah."

Tatapan dokter langsung berpindah ke Rubi.

"Dan kurangi berjalan sendiri."

Rubi menghela napas.

"Lagi-lagi itu."

Dokter tertawa kecil.

"Saya hanya menjalankan tugas."

Setelah pemeriksaan selesai, dokter pamit pulang.

Namun sebelum pergi, ia sempat berkata sesuatu kepada Alexander.

"Anda sangat perhatian sekarang."

Pria itu mengernyit.

"Apa maksud Anda?"

Dokter tertawa.

"Anda tahu maksud saya."

Lalu pergi begitu saja.

Meninggalkan Alexander yang terlihat sedikit kesal.

Sementara Rubi yang mendengar percakapan itu hanya menahan senyum.

---

Malam hari.

Hujan turun perlahan di luar mansion.

Suasana terasa tenang dan hangat.

Rubi sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca buku ketika listrik tiba-tiba padam.

Brak.

Seluruh ruangan langsung gelap.

"Astaga!"

Rubi terkejut.

Meski beberapa detik kemudian lampu darurat menyala, jantungnya masih berdetak cepat.

Saat itulah suara langkah kaki terdengar.

Alexander muncul dari arah lorong.

"Apa kau baik-baik saja?"

tanyanya.

"Iya."

jawab Rubi.

"Tadi hanya kaget."

Alexander mengangguk.

Kemudian duduk di sampingnya.

Tidak lama kemudian terdengar suara petir dari luar.

DUARRR!

Rubi refleks menegang.

Alexander langsung menoleh.

"Kau takut petir?"

Rubi terlihat malu.

"Sedikit."

Sebenarnya bukan sedikit.

Sejak kecil ia memang takut suara petir yang terlalu keras.

Alexander memperhatikannya beberapa saat.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menggeser duduk lebih dekat.

Sangat dekat.

Cukup dekat hingga Rubi bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu.

"Kalau begitu dengarkan suaraku saja."

ucap Alexander.

Rubi berkedip.

"Hm?"

"Kau tidak akan terlalu fokus pada petir."

Rubi menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu ia tertawa kecil.

"Itu cara yang aneh."

"Mungkin."

jawab Alexander.

"Tapi berhasil."

Dan memang benar.

Entah karena suara petir yang mulai berkurang atau karena Alexander ada di sampingnya.

Rubi merasa jauh lebih tenang.

---

Malam semakin larut.

Mereka masih duduk di ruang keluarga.

Berbicara tentang hal-hal sederhana.

Tentang masa kecil.

Tentang makanan favorit.

Tentang nama bayi yang belum mereka pilih.

Percakapan yang biasanya tidak pernah dilakukan Alexander dengan siapa pun.

Sampai akhirnya Rubi menguap.

Alexander langsung berdiri.

"Waktunya tidur."

kata pria itu.

Rubi mengerutkan hidung.

"Aku bukan anak kecil."

"Tapi kau mengantuk."

Rubi tidak bisa membantah.

Karena memang benar.

Akhirnya mereka berjalan menuju lantai atas bersama.

Di depan kamar, Rubi berhenti.

Kemudian menoleh kepada Alexander.

"Terima kasih."

Pria itu mengangkat alis.

"Untuk apa?"

"Banyak hal."

Rubi tersenyum tulus.

"Karena membuat tempat ini terasa seperti rumah."

Kalimat itu membuat Alexander terdiam.

Sangat lama.

Karena tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu kepadanya.

Rumah.

Selama bertahun-tahun mansion ini hanya sebuah bangunan besar baginya.

Tempat untuk pulang dan bekerja.

Tidak lebih.

Namun sekarang...

Saat melihat Rubi berdiri di depannya dengan senyum hangat itu, untuk pertama kalinya ia merasa mansion ini benar-benar sebuah rumah.

Dan alasan utamanya adalah wanita tersebut.

"Selamat malam, Alexander."

ucap Rubi pelan.

"Selamat malam."

jawab pria itu.

Mereka masuk ke kamar masing-masing.

Namun malam itu keduanya tidak langsung tidur.

Karena untuk pertama kalinya mereka menyadari satu hal yang sama.

Bahwa perasaan di antara mereka sudah tumbuh terlalu jauh untuk disebut sekadar kepedulian.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana menghadapi perasaan itu.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!