Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJATUHAN PERTAMA KELUARGA KEVIN
Hari H pelaksanaan Festival Budaya Tahunan Harapan Elite International School dibuka dengan kemegahan yang luar biasa. Gerbang besi hitam sekolah bersalin rupa menjadi terowongan bunga arkade yang megah. Ratusan pengunjung dari luar—mulai dari wali murid yang merupakan jajaran direksi korporat, perwakilan sekolah internasional lain, hingga para investor industri kreatif—melangkah masuk memadati area lapangan utama dan koridor gedung barat.
Namun, di tengah keriuhan festival yang dipenuhi suara musik dan tawa remaja, Rina berdiri tenang di dalam area stan kelas 11-A. Penampilannya hari ini begitu memukau; kemeja putih seragamnya dipadukan dengan apron barista denim minimalis berwarna abu-abu gelap, sementara rambut hitamnya diikat tinggi bergaya ponytail, mengekspos leher jenjang dan garis wajah aristokratnya yang sangat cantik.
"Rin! Sistem web pra-pesan kita meledak!" Andi berteriak heboh dari balik meja kasir digital yang terintegrasi dengan laptopnya. Wajah cowok berkacamata tebal itu memerah karena panik sekaligus gembira. "Kuota Fast Track untuk dua ratus porsi Neon Galaxy Mocktail habis terjual dalam waktu kurang dari lima belas menit sejak gerbang dibuka! Sistem kode QR kita berhasil memproses transaksi senilai belasan juta rupiah dalam sekejap!"
"Tetap tenang, Andi," ucap Rina, suaranya terdengar sangat jernih dan menenangkan di tengah bisingnya stan. "Devan, pastikan pasokan es batu kering dan sirup curah tidak terhambat di gudang belakang. Kita harus menjaga efisiensi penyajian tetap di bawah dua menit per porsi."
Konsep Pop-Up Retro Cafe milik kelas 11-A sukses besar. Berkat taktik strategi viral siber (viral cyber marketing) yang diterapkan Rina, stan mereka menjadi primadona utama festival. Deretan pengunjung berbaris rapi di luar pembatas palet kayu pastel yang estetik. Gelang sensor LED berwarna neon yang diberikan oleh Kai berfungsi dengan sangat sempurna; para pembeli yang memiliki akses Fast Track tinggal memindai kode di pergelangan tangan mereka dan langsung menerima minuman mewah berhiaskan awan gula kapas merah muda tanpa perlu mengantre.
Kontras dengan kesuksesan tersebut, stan es krim impor milik kelas 11-B yang digawangi oleh sisa-sisa faksi anak kaya tampak sepi peminat karena harga yang tidak masuk akal dan konsep antrean konvensional yang melelahkan. Rina baru saja menjatuhkan dominasi ekonomi mereka di hari pertama festival.
Di tengah kesibukan mengelola stan, Rina melihat sosok Kevin berjalan merangsek maju melewati kerumunan pengunjung di depan kafe. Namun, penampilan cowok atlet basket itu tidak lagi berseri-seri seperti biasanya. Wajah Kevin tampak sangat kusut, rambutnya berantakan, dan sepasang matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa yang bercampur dengan stres berat.
Kevin tidak datang untuk membeli minuman. Dia langsung melompati pembatas kayu stan, mencengkeram lengan Rina dengan kasar, dan menariknya ke sudut belakang stan yang tertutup tirai kain kanvas dekoratif.
"Rina! Ikut aku sekarang!" ketus Kevin, suaranya bergetar hebat karena emosi yang meluap-luap.
Rina tidak menjerit atau panik. Dia melepaskan cengkeraman tangan Kevin dari lengkannya dengan satu sentakan halus yang sangat bertenaga—sebuah teknik bela diri taktis yang dia hapal dari kehidupan dewasanya. Rina menatap Kevin dengan sepasang matanya yang hitam pekat, sedingin es di kutub utara.
"Jaga sopan santunmu, Kevin. Ini area operasional kelasku," ucap Rina dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh intimidasi.
"Sopan santun?! Kamu masih bisa mikirin sopan santun setelah apa yang terjadi?!" bentak Kevin setengah berbisik, wajahnya memerah menahan frustrasi. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah gawai pintar miliknya, dan menampilkan halaman depan sebuah situs berita ekonomi makro nasional terkemuka. "Lihat ini, Rina! Lihat apa yang baru saja dirilis oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang satu jam yang lalu!"
Rina melirik layar gawai tersebut dengan ekspresi datar yang tak tersentuh. Judul berita utama di layar itu tercetak dengan huruf tebal yang sangat mencolok: "Pemerintah Resmi Nyatakan Wilayah Koridor Timur Sebagai Zona Hijau Lindung, Seluruh Pembangunan Komersial Dilarang Keras."
Di bawah tajuk utama tersebut, terdapat rilis resmi mengenai penyegelan lahan proyek pembangunan real estat fiktif yang baru saja diakuisisi secara agresif oleh perusahaan properti milik ayah Kevin—Wangsa Group—berdasarkan data proposal palsu yang diserahkan Rina di Chapter 11.
"Ayahku... perusahaan ayahku baru saja mentransfer dana modal segar sebesar empat puluh miliar rupiah kemarin malam untuk melunasi sisa pembayaran lahan itu!" suara Kevin bergetar hebat, matanya berkaca-kaca menahan horor kehancuran finansial keluarganya. "Dan sekarang... lahan itu disita negara! Uang modal kami hangus total! Bank langsung membekukan sisa likuiditas saham Wangsa Group karena kami dianggap melakukan kecerobohan investasi skala makro! Ini... ini semua karena data di dalam flashdisk yang kamu kasih ke aku, Rina!"
Kevin melangkah maju, menunjuk wajah Rina dengan jari gemetar. "Kamu... kamu sengaja kan menjebakku?! Kamu sengaja mau hancurin keluargaku?!"
Rina menatap Kevin lurus-lurus. Ketakutan, keputusasaan, dan amarah di wajah cowok manipulatif ini adalah pemandangan paling indah yang pernah dia saksikan sejak terbangun di kehidupan kedua ini. Beban trauma masa lalunya, di mana Kevin pernah tertawa di atas kebangkrutan ayahnya, kini mendadak terasa menguap habis digantikan oleh rasa kepuasan yang sangat dingin.
Rina memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajah cantiknya ke telinga Kevin. Kali ini, dia tidak lagi menyembunyikan nada suaranya yang dewasa, berwibawa, dan mematikan.
"Kevin Wangsa," bisik Rina dengan suara yang sangat rendah, sedingin desis belati yang mengiris kulit. "Aku tidak pernah memaksamu untuk mengambil flashdisk itu. Aku tidak pernah menyuruh kakakmu atau ayahmu untuk meniru strategi analisis pasar di dalamnya. Bukankah kamu sendiri yang datang kepadaku di taman belakang, memanipulasiku dengan kata-kata manis palsumu, dan memintaku untuk mencuri data rahasia ayahku demi keserakan keluargamu?"
Kevin tersentak seolah baru saja dihantam gada besi tidak terlihat. Langkah kai-nya mundur satu langkah, menatap Rina dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa horor yang luar biasa. "K-kamu... kamu tahu selama ini aku cuma..."
"Ya, aku tahu semuanya, Kevin," Rina memotong kalimat Kevin dengan seulas senyuman manis yang dipenuhi racun mematikan. "Aku tahu kamu mendekatiku hanya sebagai spionase bisnis suruhan ayahmu. Jadi, ketika seekor tikus kecil datang untuk mencuri umpan di dalam perangkap, jangan pernah menyalahkan pemilik rumah ketika tuas besi perangkap itu patah dan meremukkan lehermu sendiri. Keserakan keluargamu yang membunuh bisnis kalian, bukan aku."
"Rina! Kamu jalang sialan!" Kevin yang sudah kehilangan akal sehat dan kendali diri mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara, bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan keras ke arah wajah cantik Rina.
Unsur kekerasan itu mendadak terhenti sebelum berkembang lebih jauh. Sebelum lengan Kevin sempat bergerak turun satu sentimeter pun di udara, sebuah tangan lain yang jauh lebih besar, kokoh, dan berurat kuat telah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan Kevin dengan kekuatan cengkeraman besi yang mengunci pergerakannya secara mutlak.
"Sentuh dia dengan satu jari kotormu lagi, Kevin Wangsa... dan aku pastikan sisa nama baik keluargamu akan diseret ke meja hijau hukum pidana sore ini juga," sebuah suara bariton yang sangat rendah, dingin, dan memancarkan aura kemarahan yang mematikan terdengar dari arah balik tirai kanvas.
Kai Mahardika melangkah masuk ke dalam sudut stan. Jas sekolahnya terpasang rapi, namun ban lengan OSIS merah-hitamnya memancarkan otoritas mutlak yang tak terbantahkan. Sepasang mata obsidian miliknya menatap Kevin dengan pandangan mata seorang predator tertinggi yang siap meremukkan mangsanya yang mengganggu territory-nya.
Kai menghentakkan tangan Kevin ke arah bawah dengan kasar, membuat cowok atlet basket itu terhuyung mundur hingga menabrak rak palet kayu dekoratif dengan bunyi berdentum pelan.
"Ketua... Ketua OSIS..." Kevin terbata-bata, nyalinya menciut total dalam hitungan detik saat berhadapan langsung dengan pewaris tunggal Grup Mahardika itu.
"Komite pengawas OSIS baru saja menerima laporan mengenai adanya tindakan intimidasi fisik ilegal di area stan festival," ucap Kai, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. Dia melangkah maju berdiri tepat di depan Rina, memblokade total pandangan Kevin ke arah gadis itu. "Dan melihat kondisi keuangan Wangsa Group yang sedang berada di ambang investigasi penipuan modal oleh OJK pagi ini... kehadiranmu di sekolah ini sudah tidak lagi memenuhi syarat stabilitas lingkungan belajar. Keluar dari area festival sekarang juga sebelum tim keamanan yayasan menyeretmu secara tidak hormat melewati gerbang depan."
Ancaman sosial dan hukum yang sangat presisi dari Kai Mahardika. Kevin yang sudah tidak memiliki kartu as apa pun lagi di tangannya hanya bisa gemetar ketakutan. Dengan wajah merah padam karena menahan malu, frustrasi, dan kekalahan mutlak, Kevin berbalik dan berlari kabur meninggalkan area stan Pop-Up Retro Cafe menembus kerumunan pengunjung yang menatapnya dengan pandangan heran. Bom waktu finansial yang ditanam Rina telah meledak, menghancurkan masa depan Kevin secara total.
Setelah suasana kembali tenang, Kai membalikkan badannya perlahan menghadap Rina. Gumpalan es kemarahan di wajah tampannya mengendur, digantikan oleh binar mata yang sarat akan intensitas ketertarikan intelektual yang sangat dalam. Kai melirik ke arah layar laptop Andi di seberang stan yang menampilkan angka pendapatan kelas 11-A yang terus meroket menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah sekolah.
"Analisis pasar fiktif sebagai racun investasi makro..." Kai mendesis pelan, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya. "Kamu benar-benar tidak menyisakan ruang bernapas bagi musuhmu, Rina Azalea."
Rina membetulkan letak apron denimnya dengan gerakan yang sangat anggun, menatap balik ke dalam manik mata Kai tanpa ada riak kegugupan sedikit pun. "Keserakan adalah instrumen terbaik untuk menghancurkan diri sendiri, Ketua OSIS. Saya hanya menyediakan panggungnya."
Kai terkekeh rendah, sebuah suara jernih yang sangat jarang didengar oleh siapa pun di sekolah ini. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, menurunkan volume suaranya agar hanya bisa didengar oleh Rina seorang. "Sesuai dengan kesepakatan investasi kita di laboratorium tata boga kemarin... stanmu sudah resmi memecahkan rekor omzet tertinggi festival hari ini. Aku tunggu cangkir Cloud Cotton Candy Latte buatanmu... disajikan secara privat di ruang baca khusus OSIS setelah gerbang festival ditutup sore nanti. Jangan terlambat, Partner."
Kai memberikan sebuah anggukan hormat yang tipis sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap membelah kerumunan pengunjung, meninggalkan Rina yang kini menatap kepergian pemuda itu dengan seulas senyuman kemenangan yang sangat manis terukir di bibirnya. Tahap pertama dari kejatuhan eksternal musuhnya telah sukses dilaksanakan secara mutlak, dan kini pintu kekuasaan baru bersama Kai telah terbuka lebar untuknya.