NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Jejak yang Ditemukan

Sore itu, saat tubuhnya mulai beradaptasi dengan rangkaian pengobatan yang baru dijalaninya, Alden menghabiskan banyak waktu beristirahat di rumah.

Ketika rasa nyeri mereda atau efek obat penenang mulai bekerja, ia sering duduk di sofa gantung yang berada di beranda belakang rumah mereka. Dari tempat itu, ia bisa memandang hamparan halaman yang hijau dan tenang, sebuah sudut kecil yang membuat napasnya terasa sedikit lebih lega di tengah tubuh yang masih terus berjuang.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah yang menenangkan.

Saat itulah Pak Armanto datang menghampirinya.

Di tangannya terdapat segelas jus buah yang biasa disukai Alden. Ia duduk perlahan di samping putranya tanpa banyak suara.

"Bagaimana kondisimu? Sudah tidak mual dan pusing lagi?" tanya Pak Armanto sambil meletakkan minuman itu di hadapan Alden.

Alden menoleh dan tersenyum tipis.

Ia memang masih lemah, tetapi setidaknya hari itu terasa sedikit lebih baik dibanding beberapa hari sebelumnya.

"Minumlah. Kamu harus isi tubuhmu dengan nutrisi," ucap Pak Armanto lembut.

"Makasih, Pa."

Alden meraih gelas itu dan meminumnya perlahan.

Kesegaran buah yang dingin mengalir di tenggorokannya, memberi sedikit kenyamanan di antara rasa lelah yang masih tertinggal.

Pak Armanto memperhatikannya diam-diam.

Tatapannya hangat, meski kekhawatiran yang selama ini ia sembunyikan tetap terlihat samar di sana.

"Ayah senang lihat kamu mulai lebih baik hari ini," katanya kemudian.

Alden menurunkan gelasnya lalu mengembuskan napas pelan.

"Masih jauh, Pa," jawabnya lirih.

Ia tahu dirinya sedang berkejaran dengan waktu. Menunggu kabar tentang kepastian keberadaan Anjani membuatnya semakin menyadari satu hal yang selama ini berusaha ia abaikan, waktu yang tersisa untuknya mungkin tidak sebanyak yang ia harapkan.

Pak Armanto menatap putranya beberapa saat. Sorot mata Alden cukup untuk membuatnya mengerti apa yang sedang dipikirkan anak itu.

Ia lalu mengangguk pelan.

"Iya," ujarnya lembut. "Tapi setidaknya kamu nggak menjalaninya sendirian, Nak."

Alden terdiam.

Pandangannya kembali jatuh ke halaman belakang yang tenang.

Dan untuk beberapa saat, keheningan itu terasa cukup untuk membuatnya bertahan.

Langit sore perlahan berubah menjadi jingga keunguan.

Pak Armanto menatap putranya beberapa saat sebelum akhirnya berdiri dari tempat duduknya.

"Papa masuk dulu, ya. Kamu istirahat saja di sini kalau masih nyaman."

Alden mengangguk pelan.

"Iya, Pa."

Pak Armanto menepuk bahu putranya sekali sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Alden kembali menyandarkan tubuh pada sofa gantung.

Pandangannya menerobos halaman belakang yang tenang. Sesekali embusan angin menggerakkan dedaunan dan membawa kesejukan yang membuat pikirannya sedikit lebih ringan.

Di dalam rumah, Pak Armanto berjalan menuju ruang tengah.

Baru beberapa langkah, ponsel di saku celananya bergetar.

Ia berhenti sejenak lalu mengeluarkannya.

Sorot matanya langsung berubah ketika melihat nama yang muncul di layar.

Itu adalah salah satu kenalan yang sejak beberapa waktu terakhir membantunya menelusuri keberadaan keluarga Bu Rahayu di Banjarbaru.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Tanpa menunggu lama, ia segera menerima panggilan itu.

"Selamat sore, Pak."

"Selamat sore," jawab Pak Armanto. "Ada kabar?"

Di seberang sana terdengar jeda singkat. Lalu suara itu kembali terdengar.

"Ada, Pak. Kami berhasil mendapatkan informasi yang Bapak minta."

Pak Armanto Langsung berdiri lebih tegak.

Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

"Kami sudah memastikan keberadaan Bu Rahayu dan Anjani."

Pak Armanto terdiam.

Ia mendengarkan setiap informasi yang disampaikan dari seberang sana dengan saksama, seolah takut melewatkan satu detail pun.

Beberapa kali matanya terpejam pelan.

Bukan karena lelah, melainkan karena lega yang perlahan memenuhi dadanya.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada kepastian.

Tidak lagi sekedar dugaan.

Tidak lagi hanya petunjuk yang samar.

Kini mereka benar-benar memiliki jawaban.

Percakapan itu berlangsung beberapa menit lagi sebelum akhirnya berakhir.

"Terima kasih banyak," ucap Pak Armanto tulus.

"Informasi ini sangat berarti bagi kami."

Panggilan pun terputus.

Pak Armanto menghembuskan napas panjang sambil menatap layar ponselnya yang kini telah gelap.

Untuk beberapa saat ia hanya berdiri diam di tempatnya.

Pikirannya langsung tertuju pada Alden.

Pada wajah putranya yang setiap hari berusaha terlihat kuat meski tubuhnya semakin melemah.

Pada harapan yang selama ini menjadi salah satu alasan terbesar Alden bertahan.

Akhirnya.

Setelah berminggu-minggu menunggu.

Setelah melihat Alden terus berusaha bertahan di tengah kondisi yang naik turun.

Akhirnya ada jawaban.

Namun bersamaan dengan rasa lega itu, muncul kekhawatiran lain di hatinya.

Ia tahu kabar ini akan sangat berarti bagi Alden.

Terlalu berarti.

Dan itulah yang membuatnya harus berhati-hati saat menyampaikannya.

Kondisi putranya belum benar-benar pulih. Ia tidak ingin Alden terlalu terkejut atau larut dalam luapan emosi hingga melupakan keadaan tubuhnya sendiri.

Setelah menarik napas panjang, Pak Armanto melangkah menuju teras belakang rumah.

Di sana, Alden masih duduk beristirahat di sofa gantung itu.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membawa suasana tenang yang sudah beberapa hari terakhir menjadi tempat favorit Alden untuk menghabiskan waktu.

Pak Armanto menghampirinya lalu duduk di kursi sebelah.

Alden yang sejak tadi menatap halaman perlahan menoleh.

Ia langsung menangkap sesuatu yang berbeda dari raut wajah ayahnya.

Lebih serius.

Seolah sedang membawa sesuatu yang penting untuk disampaikan.

"Alden..." panggilnya pelan namun tegas.

"Papa ada kabar untukmu. Kabar yang mungkin sudah lama kamu tunggu."

Jantung Alden langsung berdegup lebih cepat.

Matanya yang sayu seketika dipenuhi cahaya harapan.

"Pa... maksud Papa...?"

Pak Armanto mengangguk pelan.

“Benar, Nak. Kabar tentang Bu Rahayu dan Anjani.”

Napas Alden langsung tertahan.

“Barusan, kenalan Papa di Banjarbaru menelepon. Mereka sudah berhasil menelusuri jejak keberadaan mereka.”

Air mata seketika menggenang di pelupuk matanya.

Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

"Mereka ada di sana, Pa? Mereka benar-benar ada di sana?" tanyanya dengan suara bergetar.

Rasanya ia ingin berteriak dan meluapkan semua yang memenuhi dadanya. Namun tubuhnya tidak cukup kuat. Ia hanya terdiam, membiarkan air mata jatuh satu per satu, mewakili emosi yang tak mampu ia ungkapkan.

"Benar, Nak. Mereka ada di sana," jawab Pak Armanto lembut.

“Sesuai dengan petunjuk sebelumnya. Sejak pindah dari sini sembilan tahun lalu, mereka menetap di Banjarbaru. Tinggal di salah tempat yang tidak jauh dari kota."

Alden nyaris tidak bernapas.

Pak Armanto melanjutkan,

“Dan kabar baiknya, sejauh informasi yang kita dapatkan, mereka masih tinggal di tempat yang sama sampai sekarang.”

"Syukurlah..." suara Alden pecah.

"Syukurlah, Ya Allah..."

Kepalanya menunduk dalam.

Air mata yang selama ini tertahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah lagi.

Pak Armanto hanya membiarkannya.

Memberi ruang bagi putranya untuk meluapkan semua perasaan yang selama bertahun-tahun terpendam.

Ia tahu, nama Anjani menyimpan arti yang jauh lebih besar daripada yang pernah diucapkan Alden.

Setelah beberapa saat, Pak Armanto kembali bersuara.

"Alden..."

Alden mengangkat kepalanya perlahan.

"Papa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Anjani dulu."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi Papa lihat... Anjani masih sangat berarti buat kamu."

Mata Alden kembali memanas.

"Dan kalau memang kamu ingin bertemu dia lagi, Papa tidak akan menghalangi."

Untuk sesaat Alden tidak mampu berkata apa-apa.

"Makasih, Pa..." ucapnya akhirnya.

"Alden memang ingin ketemu dia sekali lagi. Alden cuma ingin minta maaf dan... masih banyak hal yang ingin Alden katakan."

Pak Armanto mengangguk pelan.

"Papa mengerti."

Alden menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Terus... bagaimana keadaan mereka, Pa? Bagaimana keadaan Anjani?"

Pak Armanto terdiam sejenak.

“Bu Rahayu masih menjalankan usaha kue dan katering seperti dulu.”

Lalu ia melanjutkan,

“Sejauh informasi yang Papa dapat, Anjani masih tinggal bersama ibunya. Dia belum berkeluarga."

Hening.

Alden menunduk pelan.

Ada kelegaan kecil yang mengalir di dalam dadanya saat mendengar kabar itu.

Bukan karena ia berharap sesuatu yang lebih.

Bukan pula karena ia membayangkan kemungkinan yang tidak semestinya.

Ia hanya merasa bersyukur.

Bersyukur karena Anjani baik-baik saja.

Setelah bertahun-tahun tidak mengetahui apa pun tentang gadis itu, kabar sederhana tersebut terasa lebih dari cukup.

"Syukurlah..." Bisiknya lirih.

Pak Armanto menangkap perubahan kecil di wajah putranya, tetapi memilih tidak mengomentarinya.

"Yang penting sekarang," lanjutnya kemudian, "kita sudah tahu di mana mereka berada."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Besok kita akan kontrol ke dokter untuk memeriksa kondisimu. Kalau dokter memberi izin dan menyatakan kamu cukup stabil untuk bepergian, kita akan segera berangkat ke Banjarbaru.”

Mata Alden langsung berbinar.

“Tapi semuanya berlaku kalau kamu berjanji tetap menjaga kesehatanmu dengan baik.”

“Baik, Pa. Alden janji.”

Jawabannya keluar tanpa ragu.

Ia merasa lebih tenang sekarang sebab tujuan yang selama ini terasa begitu jauh kini tampak berada dalam jangkauan.

“Terima kasih...” ucapnya pelan.

“Terima kasih untuk semuanya, Pa. Udah nggak pernah capek sama Alden. Udah selalu ada. Bahkan sampai mau nyari mereka... cuma karena Alden.”

Pak Armanto tersenyum hangat.

“Papa cuma ingin kamu jangan terlalu banyak mikir, Nak.”

Ia menepuk bahu Alden pelan.

“Kalau ini bisa bikin kamu punya harapan lagi, itu sudah cukup buat Papa.”

Lalu tanpa banyak kata, Pak Armanto merangkul putranya dan memeluknya erat.

“Papa nggak janjiin apa-apa,” ucapnya pelan.

“Tapi selama kamu masih kuat buat jalan, sekecil apa pun itu, Papa bakal jalan di samping kamu.”

Pelukan itu mengerat sedikit, seolah memberi jeda sebelum lanjut berbicara.

“Kalau nanti kamu capek, kamu boleh berhenti sebentar. Kalau nanti kamu jatuh, kita cari cara buat bangun lagi pelan-pelan. Nggak usah buru-buru mikirin jauh ke depan.”

Ia menghela napas pelan.

“Papa cuma mau kamu tetap bertahan sejauh yang kamu mampu. Itu aja dulu.”

Pelukan itu membuat Alden memejamkan mata.

Hening sejenak menyelimuti mereka.

Lalu perlahan, beberapa detik setelah kata-kata itu selesai, Pak Armanto mulai mengendurkan pelukannya. Tidak langsung melepas sepenuhnya, hanya memberi ruang sedikit demi sedikit, seolah memastikan Alden masih siap berdiri tanpa kehilangan pegangan.

Akhirnya, ia melepaskan pelukan itu sepenuhnya, tapi tangannya tetap berada di bahu Alden, tidak jauh, masih memastikan anaknya tetap merasa ditemani.

Malam itu, Alden tidur dengan hati yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya.

Tidak ada mimpi buruk, tidak ada ketakutan yang diam-diam menghantuinya. Yang ada hanya satu hal.

Harapan.

Ia mulai membayangkan pertemuan yang selama ini hanya hidup di dalam pikirannya.

Tentang kata-kata yang ingin ia sampaikan, tentang permintaan maaf yang tertunda bertahun-tahun, tentang semua kejujuran yang selama ini gagal ia ucapkan.

Apa pun respons Anjani nanti, ia siap menerimanya.

Karena tujuan perjalanannya bukan untuk meminta balasan perasaan.

Bukan pula untuk memulai sesuatu yang baru.

Ia hanya ingin menutup luka lama dengan cara yang benar. Dan Alden merasa cukup berani untuk melakukannya.

Saat pagi menyingsing, Alden terbangun dengan napas yang terasa lebih ringan.

Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya bangkit perlahan dari tempat tidur.

Tubuhnya masih lemah.

Penyakit itu masih ada.

Namun ketika berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya, ia melihat sesuatu yang belum hilang.

Tekad.

Wajahnya memang telah berubah. Tubuhnya semakin melemah. Tetapi ada satu hal yang tidak ikut runtuh bersama semuanya.

Keteguhan yang masih bertahan di dalam sorot matanya.

Meski rasa sakit itu belum pergi, Alden tahu ada satu hal yang tidak berubah: niatnya untuk jujur.

Dan dengan keyakinan itu, ia berdiri sedikit lebih tegak.

Hari ini bukan sekadar perjalanan.

Ini adalah langkah menuju sesuatu yang selama ini hanya hidup di dalam harapan.

Banjarbaru menunggu.

bersambung....

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!