NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penthouse Yang Terlalu Bersih.

Mobil sedan hitam berhenti mulus di depan gedung apartemen mewah di Upper East Side. Lampu kota Manhattan berkelap-kelip di sekitar mereka, tetapi suasana di lantai teratas terasa jauh lebih gelap dan dingin.

Manuel Vin mematikan mesin mobil, lalu menatap Arthur dengan pandangan memperingatkan yang sudah biasa. "Ingat aturan. Jangan sentuh apa pun. Jangan bicara sembarangan di depan tim forensik. Dan yang paling penting, jangan tersenyum seperti itu di dalam."

Arthur, yang memang sedang tersenyum miring sejak tadi, hanya mengangkat bahu santai. "Aku hanya senang keluar rumah, Detektif. Penjara tidak punya pemandangan sebagus ini. Lagi pula, udara malam New York ini terasa menyenangkan setelah empat tahun hanya menghirup bau beton."

Mereka berjalan masuk ke lobi yang mewah, lalu naik lift privat menuju penthouse Anton Harrington. Sepanjang perjalanan, Manuel terus melirik Arthur seolah takut monster itu akan menghilang atau justru melakukan sesuatu yang gila. Arthur sendiri hanya bersiul pelan, menikmati setiap detik kebebasan sementaranya.

Begitu pintu penthouse terbuka, Arthur melangkah masuk lebih dulu dengan kedua tangan tetap berada di saku hoodie-nya. Ruangan itu luas, modern, dan terlalu bersih untuk sebuah tempat kejadian pembunuhan. Karpet putih mahal terbentang rapi, furnitur desainer tersusun indah, dan dinding kaca besar menghadap langsung ke Central Park yang gelap. Hanya noda darah kering di tengah ruangan yang mengingatkan bahwa malam itu bukan malam biasa.

Arthur berhenti sejenak di ambang ruangan, mata hijaunya menyapu seluruh tempat dengan cepat. "Wah," katanya pelan sambil berjalan perlahan ke tengah ruangan. "Anton punya selera bagus. Minimalis, mahal, dan steril. Orang seperti ini biasanya menyimpan banyak rahasia di balik kebersihan."

Manuel menyusul di belakangnya dengan suara rendah. "Korban ditemukan di sofa itu, duduk tegak. Lehernya digorok dari belakang. Jari manis kiri dipotong dan dimasukkan ke mulutnya. Tidak ada tanda paksa masuk. Kamera keamanan gedung mati tepat lima belas menit sebelum kejadian."

Arthur berjongkok di dekat noda darah, ekspresinya berubah dingin dalam sekejap. Senyumnya lenyap, digantikan tatapan tajam yang membuat Manuel merasa bulu kuduknya berdiri.

"Pembunuhnya tahu persis apa yang dia lakukan," gumam Arthur. "Gorokannya rapi, tetapi bukan kerja dokter bedah. Ini lebih menyerupai sebuah karya seni. Jari di mulut itu bukan sekadar simbol agar korban diam, melainkan sebuah pesan pribadi. Anton pernah mengkhianati seseorang dengan kata-katanya. Mungkin membocorkan rahasia bisnis ayahnya, atau memfitnah teman dekat."

Manuel menyilangkan tangan di dada. "Kau bisa tahu itu semua hanya dari melihat noda darah?"

Arthur berdiri lagi, berjalan mengelilingi ruangan sambil sesekali menunjuk hal kecil. "Bukan cuma darah. Lihat gelas anggur di meja. Sidik jari Anton masih ada di satu gelas, tetapi gelas kedua sudah dibersihkan dengan sempurna. Pembunuhnya duduk santai bersama korban sebelum mengeksekusinya. Mereka saling kenal, bahkan mungkin teman dekat atau orang yang sangat dipercaya."

Salah seorang petugas forensik yang sedang bekerja melirik Manuel dengan curiga. Manuel hanya mengangguk pelan untuk memberikan izin.

Arthur berhenti di depan rak buku yang penuh trofi dan foto keluarga. Ia mengambil satu foto dengan hati-hati menggunakan dua jari. "Kelihatannya keluarga yang bahagia," katanya dengan nada sarkastik. "Tetapi lihat senyum Anton di foto ini. Terlihat dipaksakan. Anak sulung yang merasa tertekan karena harus menjadi pewaris tahta. Mungkin dia mulai bosan dan ingin keluar dari bayang-bayang ayahnya. Itu bisa menjadi motif yang kuat."

Manuel mendengus. "Kau baru sepuluh menit di sini dan sudah membuat analisis keluarga yang lengkap?"

Arthur menoleh, mengembalikan senyum miring di bibirnya. "Detektif, aku sudah membunuh tujuh belas orang. Aku tahu bagaimana cara orang mati, dan aku tahu kenapa orang lain berpikir mereka pantas mati." Ia diam sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih ringan, "Tenang, ini hanya teori. Lagipula, kasus ini sepertinya tidak terlalu rumit. Pembunuhnya masih pemula. Besok pagi kita mungkin sudah bisa mengantongi tiga tersangka utama."

Manuel menggelengkan kepala, tetapi di dalam hati ia terpaksa mengakui bahwa cara berpikir Arthur memang luar biasa sekaligus menyeramkan.

Setelah puas mengamati, mereka berjalan keluar dari penthouse. Arthur berhenti sejenak di ambang pintu, menatap ruangan itu sekali lagi sebelum mengangguk pelan.

"Oh, satu lagi," katanya santai sambil melangkah menuju lift. "Pembunuhnya bertangan kidal. Dan dia membenci Anton bukan karena uang, melainkan karena pengkhianatan pribadi. Kita sedang mencari seseorang yang pernah sangat dekat dengannya."

Manuel menutup pintu penthouse dengan agak keras, lalu berjalan di samping Arthur menuju lift.

"Besok kita mulai interogasi keluarga Harrington," kata Manuel datar.

Arthur tersenyum lebar saat pintu lift tertutup.

"Ini bakal menyenangkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!