NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Cahaya matahari menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman mewah keluarga Adiguna.

Di atas meja marmer itu, tersaji makanan kelas atas yang aromanya menggugah selera. Namun, bagi Tryas, suasana pagi itu mendadak terasa hambar saat Papa Yudha meletakkan sebuah lembar foto di samping cangkir kopinya.

"Siapa ini, Pa?" tanya Tryas sambil menyesap jus jeruknya perlahan.

Papa Yudha berdehem, wajahnya tampak serius namun penuh harap.

"Itu Jati. Putra mendiang sahabat Papa. Sesuai janji Papa dulu, Papa ingin menjodohkanmu dengannya. Dia baru saja menyelesaikan studinya di Mesir."

Tryas meletakkan gelasnya, lalu meraih foto itu dengan ujung kuku yang terpoles cantik. Matanya memicing.

Di foto itu, seorang pria berdiri tegak dengan latar belakang bangunan tua.

Wajahnya memang tampan dengan rahang tegas dan tatapan teduh, namun pakaiannya—kemeja batik yang terkancing rapi hingga leher dan rambut yang tertata terlalu klimis—membuat Tryas mendengus.

Tawa kecil yang bernada mengejek lolos dari bibir merahnya.

"Papa bercanda? Dia terlihat sangat kampungan, Pa. Seperti pria yang terjebak di zaman kakek-nenek kita. Aku tidak cocok dengan orang seperti ini."

"Tryas," suara Papa Yudha merendah, memberi peringatan.

"Jati itu lelaki baik-baik. Ilmu agamanya dalam, sopan santunnya luar biasa. Papa mohon, temui dia dulu."

"Tapi, Pa—"

"Nanti malam, jam tujuh, di restoran biasa tempat kita makan keluarga. Jati akan datang ke sana," potong Papa Yudha tidak ingin dibantah. "Hanya makan malam, Tryas. Setelah itu, kamu boleh menilai."

Tryas mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mendorong kursi makannya hingga menimbulkan bunyi decit yang kasar, lalu bangkit berdiri tanpa menyelesaikan sarapannya.

Tanpa pamit, ia melenggang pergi meninggalkan ruang makan, mengabaikan tatapan lelah kedua orang tuanya.

Sesampainya di kamar, Tryas langsung menyambar tas branded-nya dan mengambil ponsel. Jarinya bergerak lincah mencari satu nama.

"Halo, Gayuh? Kamu di mana?" tanya Tryas sesaat setelah sambungan telepon terhubung.

Di seberang sana, terdengar suara helaan napas yang letih namun lembut.

"Aku baru saja menyelesaikan draf bab terakhir novelku, Tryas. Baru mau memejamkan mata sebentar. Ada apa?"

"Jangan tidur dulu! Ini darurat. Temui aku di Cafe Virgo sekarang. Aku butuh bantuanmu, atau aku bisa gila!"

Gayuh, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan sahabatnya itu, hanya bisa menjawab pasrah.

"Baiklah, beri aku waktu tiga puluh menit."

Tryas mematikan sambungan telepon dengan senyum licik yang mulai terkembang.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Jika Jati menginginkan seorang "istri" dari keluarga Adiguna malam ini, maka dia akan mendapatkannya—hanya saja, bukan Tryas yang asli yang akan duduk di sana.

Di sudut lain kota yang jauh dari kebisingan pusat perbelanjaan, sebuah rumah bergaya klasik dengan halaman yang asri tampak tenang.

Di dalam sebuah kamar yang rapi dan dipenuhi rak-rak buku, seorang pemuda duduk tenang di tepi ranjangnya.

Jati menunduk, menatap sebuah foto usang yang pinggirannya sudah sedikit menguning.

Di dalam foto itu, tampak seorang anak perempuan kecil dengan gaun merah muda yang mewah, berdiri angkuh sambil memegang boneka besar.

"Jadi, ini calon istriku?" gumam Jati pelan. Suaranya rendah dan tenang, menyimpan semacam ketulusan yang sulit dijelaskan.

Ia tersenyum tipis. Ingatannya kembali pada janji leluhur dan persahabatan ayahnya yang sangat ia hormati.

Baginya, perjodohan ini bukan sekadar urusan status, melainkan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan kesungguhan hati.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan.

Seorang pria paruh baya yang merupakan asisten keluarga muncul di ambang pintu dengan sikap hormat.

"Tuan Jati, mobilnya sudah siap di depan. Kita harus berangkat sekarang agar tidak terlambat sampai di restoran," lapor pria itu.

Jati bangkit dari duduknya. Ia mengenakan jaket sederhana untuk menutupi kemeja rapi yang ia kenakan.

Matanya melirik ke arah kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu beralih menatap kaca jendela yang memperlihatkan langit sore yang mulai jingga.

Jati menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Tidak usah, Pak. Simpan saja kuncinya."

"Tapi, Tuan, Pak Yudha pasti mengharapkan Anda datang dengan pantas," asisten itu tampak ragu.

"Saya ingin dia mengenal saya apa adanya. Saya naik motor saja," jawab Jati mantap.

Tanpa menunggu balasan, ia menyambar helmnya dan berjalan keluar menuju garasi, di mana sebuah motor tua namun terawat dengan sangat bersih telah menunggunya.

Jati tidak butuh kemewahan untuk menunjukkan siapa dirinya; ia hanya butuh ketulusan untuk menemui wanita yang akan menjadi takdirnya.

Sementara itu, di Cafe Virgo, musik jazz mengalun pelan, kontras dengan raut wajah Tryas yang tampak gusar.

Ia berkali-kali mengetukkan kuku panjangnya ke permukaan meja kayu, menunggu sosok yang ia panggil.

Tak lama kemudian, sebuah motor matic berhenti di depan kafe. Gayuh turun, melepas helmnya, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dengan langkah terburu-buru, ia masuk dan langsung menghampiri meja Tryas.

"Ada apa, Tryas? Suaramu di telepon tadi seperti sedang ada bencana besar," tanya Gayuh sambil menarik kursi di hadapan sahabatnya.

Tanpa basa-basi, Tryas melempar foto Jati ke atas meja.

Foto pria tampan namun berpenampilan "kuno" itu mendarat tepat di depan mata Gayuh.

"Gantikan aku," ucap Tryas singkat, nadanya mutlak.

Gayuh mengerutkan kening, menatap foto itu lalu beralih menatap Tryas dengan bingung.

"Gantikan kamu? Maksudnya, untuk apa?"

"Menyamar lah jadi aku untuk perjodohan ini," jawab Tryas sambil bersedekap.

"Papa menjodohkanku dengan pria itu. Namanya Jati. Lihat saja penampilannya, sangat tidak level denganku! Aku tidak mau membuang waktu malam ini hanya untuk duduk di depan pria kampungan seperti dia.

"Dia itu pria kuno, Gayuh! Paling-paling kerjanya serabutan atau jadi ojol. Aku tidak sudi punya suami yang jemput aku pakai helm bau keringat!"

Gayuh terbelalak. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Menyamar? Tryas, jangan gila kamu! Ini perjodohan keluarga, bukan mainan."

"Justru karena ini dari Papa, aku tidak bisa menolak langsung," potong Tryas cepat.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Gayuh. "Kamu kan penulis novel, Gayuh. Anggap saja ini riset karakter. Temui dia malam ini di restoran, mengaku sebagai Tryas Adiguna. Kalau ternyata dia membosankan atau tidak cocok—yang mana aku yakin 100% memang begitu—kamu buang saja dia di tengah jalan. Selesai, kan?"

Gayuh menggeleng kuat, wajahnya pucat. "Tryas, ini keterlaluan. Kalau dia tahu aku bukan kamu, bagaimana? Kalau orang tuamu tahu, kita berdua bisa habis!"

"Dia tidak pernah melihatku sejak kecil, Gayuh! Dia tidak akan tahu bedanya," desak Tryas, matanya berbinar penuh rencana.

"Please, hanya kamu yang bisa menyelamatkanku dari 'pria purba' ini."

Gayuh menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Baginya, ide ini bukan sekadar gila, tapi juga sangat tidak masuk akal.

"Tidak, Tryas. Menipu orang tentang identitas untuk urusan pernikahan itu keterlaluan. Aku tidak mau terlibat."

Tryas menyandarkan punggungnya ke kursi, sorot matanya yang memohon tiba-tiba berubah menjadi tajam dan dingin.

Ia melipat tangan di dada, menatap Gayuh dengan senyum yang dipaksakan.

"Oh, jadi begitu?" suara Tryas merendah, terdengar mengancam.

"Kamu lupa, Gayuh? Siapa yang membayar semua biaya rumah sakitmu waktu kecelakaan tahun lalu? Siapa yang melunasi semua tagihannya saat kamu bahkan tidak punya uang untuk membeli obat?"

Gayuh terdiam, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Ia menunduk, menatap jemarinya yang mulai bergetar.

"Aku akan menagih uang itu sekarang juga kalau kamu tidak mau membantuku," lanjut Tryas tanpa belas kasihan.

"Kamu tahu kan, aku bisa sangat tidak sabar kalau menyangkut hak-hakku?"

Gayuh memejamkan mata. Kenangan pahit saat kecelakaan itu memang benar adanya, dan kebaikan Tryas saat itu adalah satu-satunya hal yang menyelamatkannya. Namun, ia tidak menyangka kebaikan itu kini dijadikan senjata untuk memaksanya melakukan hal yang salah.

Setelah keheningan yang cukup lama, Gayuh menghela napas panjang, bahunya merosot tanda menyerah.

Tekanan utang budi itu terasa jauh lebih berat daripada rasa takutnya akan penyamaran ini.

"Baiklah... baiklah," ucap Gayuh pelan, suaranya nyaris menyerupai bisikan.

"Aku akan ke sana. Aku akan menemuinya sebagai kamu."

Tryas seketika bersorak riang, wajah ketusnya hilang dalam sekejap.

"Nah, begitu dong! Itu baru sahabat sejatiku. Tenang saja, Gayuh, kamu hanya perlu duduk, makan, lalu buat dia merasa kamu tidak tertarik. Sisanya biar aku yang urus nanti."

Gayuh hanya bisa menatap foto Jati di atas meja dengan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti hatinya, bahkan sebelum pertemuan itu dimulai.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!