NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Keluarga / Selingkuh
Popularitas:56.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

"Pernahkah kalian merasa begitu yakin bahwa seseorang akan menderita tanpamu, hingga kau merasa perlu melihat penderitaan itu dengan matamu sendiri untuk memuaskan egomu? Di episode ini, Bima mencoba memburu bayang-bayang masa lalunya hanya untuk membuktikan kehebatannya. Namun, apa yang ia temukan bukanlah tangisan minta tolong, melainkan sebuah kehampaan yang membuatnya tersentak. Mari kita ikuti jejak Hana yang mulai menghilang di balik kabut harga diri."

.

.

Pagi itu, suasana di meja makan apartemen Bima terasa sangat tegang. Clarissa baru saja membanting katalog perhiasan karena Bima menolak membayar uang muka untuk kalung berlian incarannya dengan alasan prioritas bisnis.

Untuk meredakan kemarahan wanita itu, ego Bima mencoba mencari pengalihan. Ia ingin meyakinkan Clarissa dan dirinya sendiri, bahwa hidup mereka saat ini jauh lebih beruntung daripada Hana.

"Clar, kau tahu? Kadang aku penasaran bagaimana nasib wanita sombong itu sekarang," ucap Bima sambil menyesap kopinya, mencoba memasang wajah meremehkan.

Clarissa mendongak, matanya yang tajam menatap Bima dengan rasa ingin tahu. "Maksudmu Hana? Paling-paling dia sedang menangis di rumah kontrakan sempit sambil menghitung sisa recehannya."

Bima menyeringai sinis. "Bagaimana kalau kita lihat sendiri? Aku ingin menunjukkan padamu bahwa keputusanku membuangnya adalah hal terbaik. Aku ingin kau lihat betapa menyedihkannya dia tanpa kartu kreditku. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang dan menyadari bahwa aku sedang menghemat uang untuk pesta kita, bukan karena aku miskin."

Clarissa tampak tertarik. Ide untuk melihat saingannya hancur memberikan sensasi kemenangan yang ia cari. "Boleh juga. Itu akan menjadi hiburan yang menyenangkan. Di mana dia sekarang? Di rumah orang tuanya?"

Bima segera meraih ponselnya. Ia yakin Hana pasti kembali ke rumah orang tuanya karena tidak punya tempat lain untuk pergi. Dengan percaya diri, Bima menghubungi Mita, ibu tiri Hana. Ia mengharapkan mendengar kabar bahwa Hana sedang menderita di sana.

"Halo, Mama Mita? Ini Bima," ucapnya dengan nada ramah yang dibuat-buat.

"Oh, Bima! Ada apa? Apa kau mau mengirimkan sisa barang Hana? Kirim saja ke gudang, jangan ke ruang tamu, Mama malas merapikannya," sahut Mita dari seberang telepon dengan suara cemprengnya.

Bima mengerutkan kening. "Maksud Mama? Jadi Hana tidak ada di rumah?"

"Ada di rumah? Mana mungkin! Minggu lalu dia datang dengan baju kotor dan koper tua, tapi sudah langsung Mama usir. Mama tidak mau rumah ini ketularan sial karena ada janda hamil. Memangnya dia tidak kembali padamu untuk mengemis?"

Jantung Bima berdegup sedikit lebih cepat. Diusir? "Lalu dia pergi ke mana?"

"Mana Mama tahu! Dia juga memblokir nomor Mama dan Tania. Bahkan Papanya tidak bisa menghubungi dia saat ingin menanyakan surat-surat rumah. Dia benar-benar memutus semua akses keluarga. Kenapa? Apa dia mencuri sesuatu darimu?"

Bima menutup telepon tanpa menjawab. Rasa tidak nyaman yang sempat ia rasakan di tempo hari kini kembali hadir, lebih kuat. Hana memblokir keluarga besarnya? Wanita penurut itu berani memutus tali silaturahmi dengan satu-satunya pelindung yang ia miliki?

"Bagaimana? Dia di sana?" tanya Clarissa tidak sabar.

"Tidak. Dia... dia menghilang," jawab Bima pendek.

"Menghilang? Ah, itu hanya taktiknya agar dicari! Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggu kau merasa bersalah," cibir Clarissa.

Namun, Bima tidak bisa berhenti di situ. Egonya merasa tertantang. Ia segera menghubungi beberapa teman dekat Hana yang dulu sering berkunjung ke apartemen. Jawaban mereka semua sama, Hana sudah menghapus semua akun media sosialnya dan nomor teleponnya tidak lagi aktif.

Rasa penasaran Bima kini berubah menjadi obsesi yang gelap. Ia segera meluncur ke kantornya dan memanggil sekretaris pribadinya.

"Cari tahu di mana Hana Anindita berada sekarang. Periksa semua riwayat transaksi kartu debit terakhirnya, cari rumah sakit atau klinik tempat dia mungkin melahirkan, dan hubungi semua agen properti. Aku ingin alamatnya ada di mejaku dalam waktu dua jam!" perintah Bima dengan nada meledak-ledak.

Dua jam berlalu menjadi empat jam. Sekretaris Bima masuk dengan wajah pucat.

"Mohon maaf, Pak Bima. Saya sudah melacak riwayat transaksinya. Transaksi terakhir adalah penarikan tunai dalam jumlah kecil di sebuah ATM dekat stasiun kereta api, tiga minggu yang lalu. Setelah itu, tidak ada aktivitas perbankan sama sekali atas nama Ibu Hana."

Bima berdiri dari kursinya. "Lalu asuransi kesehatannya? Dia sedang hamil, dia pasti menggunakannya untuk melahirkan!"

"Sudah saya cek ke semua rumah sakit besar di Jakarta, Pak. Tidak ada pasien bernama Hana Anindita. Sepertinya... beliau benar-benar meninggalkan radar."

Bima terhempas kembali ke kursinya. Ia merasa seolah-olah Hana baru saja menguap ke udara. Pencariannya yang awalnya bertujuan untuk menghina, kini justru membuahkan rasa ngeri yang halus. Hana telah pergi seolah-olah Bima dan seluruh dunianya tidak pernah ada.

~~

Sore itu, Bima berdiri di balkon kantornya, menatap hiruk pikuk kota. Ia mengingat kembali saat ia melempar talak itu. Ia mengingat betapa tenangnya Hana saat itu.

Sekarang ia sadar, ketenangan itu bukanlah kepasrahan, melainkan persiapan untuk sebuah pelarian yang sempurna.

Hana tidak ingin ditemukan. Hana tidak ingin uangnya. Hana tidak ingin dihina.

"Kenapa kau tidak berteriak, Hana? Kenapa kau tidak minta tolong?" gumam Bima pada angin.

Di sisi lain kota, Clarissa mulai mengeluh karena rencana menonton kemiskinan mereka gagal. "Sudahlah, Bim! Biarkan saja dia mati di jalanan. Kenapa kita harus membuang waktu memikirkan sampah? Lebih baik kita fokus pada daftar tamu undangan kita."

Bima menatap Clarissa. Untuk pertama kalinya, ia merasa suara wanita itu terdengar seperti suara kikir yang menggores besi. Sangat mengganggu.

Jauh dari kepanikan Bima, di Desa Sukamaju, suasana sangat tenang. Hana baru saja menidurkan Aditya Saka. Ia duduk di ambang pintu rumah tuanya, menatap ponsel tuanya yang hanya berisi nomor Bu Siti dan beberapa pedagang pasar.

Ia baru saja selesai mengganti kartu SIM dan menghapus semua data masa lalunya. Baginya, Hana yang lemah sudah mati di pinggir jalan Jakarta. Yang ada sekarang adalah Ibu dari Saka.

"Biarkan mereka mencari jejak yang sudah tidak ada, Saka," bisik Hana sambil menatap bayinya. "Di sini, kita tidak punya masa lalu. Kita hanya punya hari ini dan hari esok."

Hana tersenyum. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Bima sedang mengerahkan segala cara untuk menemukannya, bukan karena cinta, tapi karena egonya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ada seseorang yang sanggup menghapusnya dari hidup mereka begitu saja.

Bima ingin memamerkan kemiskinan Hana, namun ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa Hana-lah yang memiliki kekayaan sejati, keberanian untuk melepaskan segalanya demi memulai kembali.

Jejak itu memang sudah hilang. Namun, bagi Hana, itulah cara satu-satunya agar ia bisa benar-benar ditemukan oleh takdir yang lebih baik.

Apa yang akan dilakukan Bima saat rasa penasarannya mulai mengganggu fokus bisnisnya? Dan bagaimana Hana bereaksi ketika ia menyadari bahwa ada orang asing yang mulai bertanya-tanya tentang identitasnya di pasar desa?

Ikuti terus pencarian yang penuh emosi ini!

...----------------...

**To Be Continue**....

1
Thewie
lanjut thor💪
Miss Ra: 💪siaaaapppp

🤗
total 1 replies
Arieee
menguras emosiiii,,,, /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Miss Ra: 🤗🙏
/Heart//Kiss/
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Bu Sarah akan datang untuk bertemu dgn Bima .
sunaryati jarum
Hatimu sungguh mulia Hana menyelamatkan orang yang telah menia,,- nyiakanmu
Ma Em
akhirnya masalah yg Bima hadapi sdh selesai , semoga Bima berjodoh dgn. Nadin .
༄⃞⃟⚡R⁹
gaassss terus thooorrrr🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Eva Karmita
semangat Bima ...semoga cepat ketemu Hana dokter Adrian sama Saka ya Bim
Eva Karmita
Hana kamu wanita yang baik... walaupun Bima pernah jahat tapi Hana tidak pernah dendam ataupun benci
Ma Em
Semangat Bima semoga kebenaran cepat terungkap , emang Hana orang baik meskipun sdh disakiti sama Bima tapi msh simpati dan merasa kasihan pada Bima .
Lee Mba Young
Bima lupa dng anak nya dpt gadis daun muda 🤣. gk ingat ngirim nafkah anak nya juga.
Dr sini dah kelihatan bima gk Ada tanggung jawab. sekarang dah ketutup gadis ting ting siapa yg nolak. palagi bima suka free sex dng mantan pa gk nyut nyut itu minta buru buru kawin.
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kasian juga sih sama bima . tapi mau gimana lagi
Yuliana Tunru
kasihan bima apa hrs berhenti saat akan bnemulai hidup x yg hancur ..ayo thorr jgn gitu kasihan hana bantu dgn klarifikasi z lewat medsos biar jgn sampai.kelak rekam jejak ayah saka sangat buruk krn.pasti suatu saat saka akan tau siapa ayah x jg sebagai.manusia pasti tak tega
Lee Mba Young
Anggap saja karma mu krn lalai nafkah anakmu. Dr Lahir blm kau kasih lo anakmu.
mkne usaha mu kali ini gagal lagi. ntar kl punya usaha lagi ingat nafkah anakmu jng ingat perempuan tok, lihat Ada yg deketin bening daun muda lngsung lupa kl punya anak.
Lee Mba Young
Mungkin cobaan ini krn km gk ngirim nafkah buat anakmu pdhl anak sah kan.
mkne rejekimu di mati kan lagi krn Ada hak anakmu yg tak kau berikan.
walau ibunya gk nerima saat kau beri tp itu kewajibanmu lo sbgai bpk. mkne rejekimu di mati kan lagi krn hak anakmu tak kau sampaikan. mlh sibuk main cewek dng nadin gk ingat anak dulu.
hrse tobat, bikin usaha gede buat warisan anak dulu, nafkah kl sdh baru mikir cewek lain.
Yuliana Tunru: jgn terpancing bima krn itu malah yg diharapkam rendy dan jalang x..smoga bima bisa mbalik fakta biar yg jahat dapat karma kasihan bima ..ayo nadin bantu bima
total 1 replies
sunaryati jarum
Ngapain Bima harus menanggapi Clarissa , seharusnya nBima menuntut.harta yang dihabiskan Clarissa,apa ini strategi untuk bisa menghancurkan Randy dan Clarissa tanpa mereka sadari
sunaryati jarum
Cepat amat ,dari membuang Hana lalu memelihara Clarrissa ular kobra rakus harta sekarang diincar Nadin
sunaryati jarum
Emak lega jika Bima sudah berjanji tidak mengusik kehidupan Hana
Ma Em
Semoga Hana selalu bahagia bersama Adrian , semangat Bima kamu juga semoga cepat sukses dan mungkin Nadin akan menjadi pengganti Hana .
anju hernawati
Bima dan Hana harus bahagia menurut versinya masing masing ........................
Machmudah
maaf ye Thor, masih blm rela aja k bima bisa bangkit Dan kaya lg apalagi dpt wanita lg .....karmanya terlalu enak Thor...cm jd miskin, sedangkan pengorbanan Hana diusir kondisi hamil ...itu sesuatu banget Thor perjuangan banget
Miss Ra: iya kak...

tenang ajah, masih banyak kesusahan bima di episode ke depannya...
🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!