Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Rumah yang Tidak Lagi Tenang
Hujan mulai turun di luar rumah kecil Ana.
Suara rintiknya memenuhi suasana yang sejak tadi terasa menyesakkan.
Ana masih belum sadar di kamar miliknya setelah Mita memberinya obat penenang ringan. Wanita itu terlalu syok saat bertemu Damir dan Lavanya secara tiba-tiba.
Sementara di ruang tamu… suasana tidak kalah tegang.
Tak ada yang berbicara cukup lama.
Sabine duduk memeluk lutut di sofa sambil sesekali mengusap air matanya. Dylan berdiri dekat jendela dengan rahang mengeras, jelas masih menahan emosi.
Ajeng hanya diam sambil menggenggam tangan Lavanya yang sedari tadi menangis pelan.
Dan Damir…
Pria itu duduk menunduk dengan wajah hancur.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
“Senang sekarang?”
Suara Damar memecah keheningan.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Pria itu berdiri menyandar di tembok dengan tatapan dingin ke arah ayahnya.
“Kalian nyari Kak Ela bertahun-tahun…”
“Pas ketemu malah bikin dia pingsan.”
Lavanya langsung menutup mulutnya menahan tangis.
“Adek…”
Namun Damar justru tertawa kecil pahit.
“Aku tuh kadang bingung…”
“Kenapa sekarang semua orang tiba-tiba merasa nyesel.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Karena semuanya tahu… ucapan Damar benar.
Kalau saja dulu mereka sedikit lebih peduli pada Ela, mungkin semuanya tidak akan sehancur ini.
Raka yang sejak tadi diam akhirnya menghela napas pelan.
“Tuan…”
Damir perlahan mengangkat kepala.
“Pulanglah dulu malam ini.”
“Keadaan Nona belum stabil.”
Namun Damir langsung menggeleng cepat.
“Aku nggak mau pergi.”
Suara pria itu terdengar lemah. Sangat lemah.
“Aku udah kehilangan Ela lima belas tahun…”
“Aku nggak mau kehilangan dia lagi.”
Dylan yang mendengar itu langsung menatap Damir tajam.
“Lima belas tahun?”
Remaja itu tertawa kecil sinis.
“Yang kehilangan siapa?”
“Kalian?”
Suasana langsung menegang.
“Mima yang hidup sendirian.”
“Mima yang nangis sendirian.”
“Mima yang hampir mati sendirian.”
Dan setiap kalimat Dylan terasa seperti tamparan keras untuk semua orang di ruangan itu.
“Pas Mima sakit…” suara Dylan mulai bergetar, “nggak ada kalian.”
“Pas Mima susah…”
“Pas Mima kerja sampai tangan luka…”
“Pas Mima mimpi buruk tiap malam…”
“NGGAK ADA KALIAN!”
Brak!
Dylan memukul meja cukup keras sampai Sabine kaget.
Air mata remaja itu akhirnya jatuh.
“Aku nggak tau kalian siapa…”
“Tapi kalau kalian datang cuma buat bikin Mima sakit lagi…”
“Lebih baik pergi.”
Sabine langsung memeluk lengan kakaknya sambil ikut menangis.
“Abang…”
Lavanya menangis semakin keras mendengar semua itu.
Karena dari ucapan Dylan saja… ia bisa membayangkan betapa berat hidup Ela selama ini.
Dan lebih menyakitkan lagi…
Anak itu tidak pernah bercerita pada siapa pun.
Tak lama terdengar suara pintu kamar terbuka pelan.
Semua langsung menoleh.
Ana berdiri di sana dengan wajah pucat sambil memegang kusen pintu untuk menopang tubuhnya.
“Mima!”
Sabine langsung berlari memeluk ibunya erat.
Ana mengusap kepala putrinya pelan sambil tersenyum kecil lemah.
“Maaf bikin kaget…”
Namun matanya perlahan berpindah ke arah Damir dan Lavanya.
Dan suasana langsung kembali hening.
Damir berdiri perlahan.
Tatapan pria itu langsung memerah melihat kondisi anak perempuannya yang terlihat jauh lebih kurus dari bayangannya.
“Ela…”
Suara itu penuh rasa bersalah.
Ana langsung menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kenapa datang?”
Pertanyaan sederhana itu justru terasa paling menyakitkan.
Damir sampai kehilangan suara beberapa detik.
Karena ia sadar…
Ia memang tidak punya hak datang tiba-tiba setelah lima belas tahun.
Lavanya berjalan mendekat perlahan sambil menangis.
“Bunda cuma mau lihat kamu…”
Ana menggigit bibirnya pelan.
Air matanya mulai turun lagi.
“Sekarang udah lihat.”
Kalimat itu membuat dada semua orang sesak.
Namun sebelum suasana kembali memanas, Ajeng tiba-tiba berdiri lalu memeluk Ana erat sambil menangis.
“Maafin Ajeng…”
“Kakak jangan nyuruh mereka pergi…”
Ana langsung membeku.
Tangannya perlahan membalas pelukan sang adik kecil.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Tatapan dingin Ana sedikit runtuh saat mendengar tangisan tulus Ajeng di pelukannya.