NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Hutan Timur

Setelah berpamitan dengan penduduk Lembah Kabut dan memastikan bahwa hubungan persaudaraan telah terjalin kuat di sana, rombongan kecil itu kembali menunggangi kuda-kuda mereka dan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Langit di atas kepala mereka bersih dan cerah, namun semakin lama mereka berjalan, pemandangan di sekeliling mereka semakin berubah. Lereng-lereng gunung yang terjal perlahan berubah menjadi tanah yang lebih datar namun bergelombang, dan pepohonan yang tadinya jarang dan pendek kini tumbuh semakin rapat, tinggi, dan lebat.

Mereka kini mendekati wilayah yang dikenal sebagai Hutan Timur. Tempat ini dikenal luas sebagai salah satu wilayah yang paling liar, luas, dan misterius di seluruh kerajaan. Pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun tumbuh berdesak-desakan, cabang-cabangnya saling menyilang dan menjalin di atas kepala, membentuk atap hijau yang tebal sehingga cahaya matahari sulit sekali menembus sampai ke tanah. Di sana, udaranya selalu lembap, sejuk, dan berbau harum tanah serta daun kering. Jalan setapak yang mereka lalui semakin sempit, kadang hampir hilang tertutup semak belukar, dan hanya bisa ditemukan kembali berkat keahlian Kael dan para pengawal hutan yang mengenal jejak alam seperti mengenal telapak tangan mereka sendiri.

Selama berpuluh-puluh tahun, Hutan Timur selalu menjadi tempat yang penuh dengan cerita dan desas-desus. Banyak orang enggan masuk ke sana karena takut akan tersesat, takut akan binatang buas, atau takut akan hal-hal yang misterius dan tak bisa dijelaskan. Konon, di kedalaman hutan itu masih tinggal kelompok-kelompok masyarakat yang sangat tua, yang belum pernah berhubungan dengan dunia luar selama beberapa generasi, yang hidup mengikuti aturan dan cara hidup nenek moyang mereka sejak zaman kerajaan belum berdiri. Banyak cerita yang beredar, ada yang mengatakan mereka adalah orang-orang yang ramah dan bijaksana, ada juga yang mengatakan mereka adalah orang-orang yang tertutup, keras, dan tidak suka diganggu.

“Tempat ini memang penuh rahasia,” kata Kael saat mereka berhenti sejenak untuk minum air di pinggir sungai kecil yang airnya berwarna coklat kemerahan karena disaring oleh akar pohon-pohon besar. “Orang-orang di sini hidup bersatu dengan hutan. Mereka mengambil apa yang dibutuhkan saja dari alam, dan mereka menjaga hutan ini seolah itu adalah bagian dari tubuh mereka sendiri. Dulu, sebelum terjadi kekacauan dan perpecahan, ada hubungan baik antara istana dan mereka. Tapi sejak puluhan tahun lalu, hubungan itu terputus. Tidak ada yang datang ke sini, dan tidak ada dari mereka yang keluar. Kita tidak tahu persis apa keadaan mereka sekarang, apakah mereka masih ada, atau apakah mereka telah menghilang tertelan hutan.”

Taylor mendengarkan dengan saksama, lalu menatap ke dalam kegelapan hutan yang tampak menyambut mereka dengan diam dan penuh teka-teki. “Mereka ada di sini, aku yakin itu,” jawabnya pelan. “Selama ada air yang mengalir bersih, selama ada tanah yang subur, dan selama ada kedamaian, manusia akan tetap hidup dan bertahan. Dan tugas kita adalah menemukan mereka, menyapa mereka, dan membangun kembali jembatan yang telah rusak itu.”

Perjalanan ke dalam hutan itu memakan waktu berhari-hari. Mereka bergerak dengan hati-hati, selalu waspada terhadap akar pohon yang menjulang, semak berduri, atau hewan-hewan liar yang mungkin ada di sekitar mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa waspada itu perlahan berubah menjadi rasa hormat. Mereka melihat betapa indah dan kayanya alam di sini. Setiap pohon, setiap tanaman, setiap sungai, semuanya tumbuh dengan sehat dan kuat, seolah dijaga oleh tangan yang tak terlihat. Tidak ada tanda-tanda penebangan liar, tidak ada tanah yang gundul, tidak ada sampah atau kerusakan. Semuanya teratur, seimbang, dan damai.

Pada sore hari kelima perjalanan mereka di dalam hutan, saat cahaya matahari mulai miring dan menembus celah-celah daun membentuk pola cahaya dan bayangan yang indah di tanah, Kael yang berjalan paling depan tiba-tiba mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Semua orang segera berhenti diam, memegang senjata dengan siap, dan mengamati sekeliling dengan saksama.

“Ada orang di sekitar kita,” bisik Kael pelan namun jelas. “Banyak orang. Mereka telah mengawasi gerak-gerik kita sejak kita masuk ke batas hutan ini. Mereka pandai bersembunyi, tapi jejak kaki yang tak sengaja terinjak dan bunyi ranting yang patah memberi tahu keberadaan mereka.”

Belum sempat Taylor menjawab, tiba-tiba dari balik batang-batang pohon raksasa dan semak belukar, muncul puluhan sosok manusia. Mereka berpakaian dari kulit binatang dan kain anyaman daun yang kuat, berwarna-warni dengan pewarna alami dari tanaman hutan. Tubuh mereka tegap, berotot, dan berjalan dengan kelincahan yang luar biasa, seolah mereka adalah bagian dari hutan itu sendiri. Di tangan mereka ada tombak, busur, dan pisau yang terbuat dari batu keras atau tulang hewan, namun tajam dan berkilau. Wajah mereka keras, tenang, dan penuh kewaspadaan, namun tidak terlihat marah atau ingin menyerang.

Seorang laki-laki yang tampak lebih tua, berambut panjang memutih dan memiliki tanda lukisan khusus di dahinya, melangkah maju. Dia menatap rombongan Taylor satu per satu dengan mata yang tajam dan dalam, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam hati dan pikiran setiap orang yang ada di hadapannya.

“Siapa kalian, orang-orang dari dunia luar?” tanyanya dengan suara yang dalam, berat, namun tidak kasar. Suaranya bergema pelan di antara pohon-pohon besar. “Mengapa kalian melanggar batas dan masuk ke rumah kami? Sudah lama sekali tidak ada orang dari luar yang berani datang ke sini. Biasanya mereka datang untuk mengambil, untuk menebang pohon kami, untuk berburu hewan kami, atau untuk menuntut sesuatu. Kalian tampak berbeda, tapi mata kami telah melihat banyak hal, dan kami tidak mudah percaya lagi.”

Taylor turun dari kudanya, sama seperti yang dia lakukan di Lembah Kabut, melangkah maju dengan tenang dan mengangkat kedua tangan tanda damai. Elizabeth tetap berada di dekatnya, juga turun dari kuda, berdiri dengan tenang dan tersenyum ramah, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

“Tuan yang kami hormati, dan penduduk hutan yang kami cintai,” jawab Taylor dengan suara yang lembut namun tegas, berusaha berbicara dengan nada yang sama tenangnya dengan orang tua itu. “Nama kami Taylor dan Elizabeth. Kami datang bukan untuk mengambil, bukan untuk menuntut, dan bukan untuk mengganggu kedamaian kalian. Kami datang karena kami sadar bahwa saudara-saudara kami ada di sini, hidup dalam kesunyian dan keterasingan, dan kami merasa bersalah karena telah membiarkan waktu berlalu begitu lama tanpa datang menyapa kalian. Kami datang untuk meminta izin berkunjung, untuk belajar dari kalian, dan untuk menawarkan persaudaraan dan persahabatan yang telah lama hilang ini.”

Orang tua itu terdiam lama, menatap mata Taylor dalam-dalam, seolah mencari kepalsuan atau bahaya di sana. Di sekeliling mereka, penduduk hutan lainnya tetap diam dan tak bergerak, namun kehadiran mereka terasa kuat dan mengisi ruang di antara pepohonan.

“Ayahku pernah bercerita tentang zaman dulu,” kata orang tua itu perlahan, matanya menerawang ke masa lalu. “Zaman di mana orang dari istana dan orang dari hutan duduk bersama, makan bersama, dan saling menjaga. Tapi itu sudah sangat lama sekali. Ketika kekacauan datang ke kerajaan kalian, ketika kalian sibuk berperang dan saling membunuh, kami memilih untuk menutup diri. Kami berpikir bahwa dunia luar sudah gila, penuh dengan keserakahan dan kerusakan, dan kami tidak ingin penyakit itu masuk ke sini dan merusak apa yang kami jaga.”

Dia berhenti sejenak, lalu menatap kembali Taylor dan Elizabeth. “Tapi aku melihat sesuatu yang berbeda pada kalian. Kalian tidak membawa banyak senjata, kalian tidak datang dengan wajah sombong atau penuh ambisi. Kalian berjalan perlahan, kalian tidak merusak apa pun yang ada di jalan, dan kalian berbicara dengan bahasa yang lembut namun berisi kebenaran. Baiklah, kami akan memberi kalian kesempatan. Ikutlah kami ke tempat tinggal kami. Tapi ingatlah satu hal: di sini, hutan adalah hukum, dan keseimbangan adalah kehidupan. Jika kalian datang dengan hati yang bersih, kalian akan aman dan disayang. Jika kalian datang dengan niat buruk, hutan ini sendiri yang akan menjadi hukuman bagi kalian.”

Mereka pun diizinkan untuk mengikuti rombongan penduduk hutan itu. Mereka berjalan semakin jauh ke dalam, melewati jalan-jalan yang semakin sulit dan tersembunyi, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah dataran luas yang dikelilingi oleh pohon-pohon tertinggi di seluruh hutan. Di sanalah letak pemukiman utama mereka. Rumah-rumah mereka tidak dibangun di atas tanah, melainkan sebagian besar dibangun menyatu dengan pohon-pohon besar, diikat dan disusun dengan sangat rapi dan kokoh, tinggi menjulang di atas tanah agar aman dari binatang buas dan banjir. Jembatan-jembatan kayu dan tali menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya, membentuk desa yang indah, unik, dan sangat rapi.

Pemandangan itu sungguh menakjubkan. Penduduk hutan ini tidak hanya pandai bertahan hidup, tapi mereka juga memiliki keahlian dan seni yang luar biasa. Setiap bangunan, setiap alat, setiap pakaian, semuanya dibuat dengan indah, penuh dengan ukiran dan hiasan yang memiliki makna mendalam bagi mereka.

Selama beberapa hari berikutnya, Taylor dan Elizabeth serta rombongannya tinggal di sana, menjadi tamu kehormatan. Di sini, mereka belajar banyak hal yang tak pernah bisa mereka pelajari di buku atau di kota besar. Mereka belajar cara hidup yang sederhana namun kaya makna. Mereka melihat bagaimana penduduk hutan ini sangat menghormati alam, bagaimana mereka hanya mengambil apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan bagaimana mereka selalu mengembalikan apa yang mereka ambil dengan cara menjaga dan menanam kembali. Mereka memahami bahwa bagi orang-orang ini, hutan bukan sekadar tempat tinggal atau sumber kekayaan, melainkan bagian dari keluarga mereka, bagian dari jiwa dan identitas mereka.

Namun, di balik kedamaian dan kearifan itu, Taylor dan Elizabeth juga menemukan rahasia dan masalah yang selama ini tersembunyi dari dunia luar.

Malam itu, di depan api unggun besar yang menyala di tengah pemukiman, saat semua orang berkumpul, orang tua yang bernama Kepala Suku Elang Hutan itu berbicara dengan nada yang lebih berat dan serius.

“Kalian datang membawa kabar damai, membawa persaudaraan, dan membawa kebaikan. Kami sangat menghargai itu. Dan kami juga ingin terbuka pada kalian, karena kami merasakan ketulusan hati kalian,” katanya, lalu dia memberi isyarat, dan beberapa orang membawa benda-benda aneh ke depan. Itu adalah potongan-potongan logam, sisa-sisa senjata, dan pecahan-pecahan barang yang bukan buatan penduduk hutan.

“Selama beberapa tahun terakhir,” lanjut Elang Hutan, “kami menemukan orang-orang asing masuk ke wilayah kami. Mereka tidak seperti kalian. Mereka datang diam-diam, bergerak secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak mencari persahabatan, mereka tidak mencari tempat tinggal. Mereka mencari sesuatu. Mereka menggali tanah, mereka menebang pohon di tempat-tempat yang dilarang, dan mereka bertanya tentang gua-gua tua dan tempat-tempat suci kami. Kami mengusir mereka, tapi mereka terus datang kembali dalam kelompok-kelompok kecil. Kami tidak tahu siapa mereka, kami tidak tahu dari mana asalnya, dan kami tidak tahu apa yang sebenarnya mereka cari di sini.”

Mendengar hal itu, hati Taylor dan Elizabeth menjadi waspada. Mereka tahu bahwa masa lalu kerajaan ini menyimpan banyak sejarah, banyak rahasia, dan banyak tempat yang menyimpan kekayaan atau peninggalan zaman dahulu. Meskipun para pemberontak telah dikalahkan dan kedamaian telah dipulihkan, ternyata masih ada hal-hal yang belum selesai, masih ada orang-orang yang berniat jahat, atau mungkin sisa-sisa dari kekuatan lama yang belum sepenuhnya bersih.

“Kami curiga,” kata Elang Hutan sambil menatap mata Taylor tajam, “bahwa mereka mencari sesuatu yang berharga, sesuatu yang tersembunyi di dalam kedalaman hutan ini, sesuatu yang konon bisa memberikan kekuatan besar atau kekayaan yang tak terbayangkan. Sesuatu yang menjadi cerita kuno, legasi dari zaman kerajaan pertama didirikan. Kami tidak peduli dengan kekayaan itu, karena bagi kami, hutan dan kehidupan kami jauh lebih berharga dari emas atau permata apa pun. Tapi kami khawatir, jika mereka terus datang dan terus mencari, mereka akan merusak keseimbangan hutan ini, dan hal buruk akan terjadi bagi kami dan bagi seluruh negeri.”

Taylor berdiri tegak, hatinya penuh tekad dan rasa tanggung jawab. Ternyata perjalanan mereka bukan hanya sekadar menyapa dan memberi bantuan. Tugas mereka lebih besar dari itu. Di sini, di tengah hutan yang sunyi ini, ada ancaman lain yang mengintai, ada rahasia yang harus dibongkar, dan ada bahaya yang harus dihadapi sebelum terlambat.

“Terima kasih telah mempercayai kami dan menceritakan hal ini,” kata Taylor dengan suara yang tegas dan meyakinkan. “Kalian benar. Tidak ada kekayaan atau benda apa pun yang berharga dibandingkan kedamaian, kehidupan, dan keseimbangan alam. Orang-orang yang datang itu pasti adalah sisa-sisa dari mereka yang haus kekuasaan dan harta, atau orang-orang yang dikirim oleh mereka yang masih berniat jahat. Mereka berpikir bahwa karena tempat ini jauh dan tersembunyi, kejahatan mereka takkan diketahui. Tapi mereka salah. Karena kami ada di sini, karena kalian ada di sini, dan karena kebenaran ada di pihak kami.”

Elizabeth menambahkan dengan lembut namun tegas, “Kami tidak akan membiarkan mereka merusak rumah kalian. Kami tidak akan membiarkan mereka mengambil apa yang bukan milik mereka. Kami akan membantu kalian. Bersama-sama, kami akan mencari tahu siapa mereka, apa yang mereka cari, dan kami akan mengusir mereka selamanya dari tanah ini, agar kedamaian dan keutuhan hutan ini tetap terjaga untuk anak cucu kita nanti.”

Malam itu, kesepakatan besar dibuat di bawah naungan pohon-pohon raksasa dan di bawah cahaya bintang yang bersinar terang. Persaudaraan antara penduduk hutan dan kerajaan tidak hanya dibangun kembali, tapi kini diperkuat dengan tujuan bersama: menjaga apa yang suci, melindungi apa yang berharga, dan mengusir segala bentuk kejahatan yang mencoba masuk.

Mereka menyadari bahwa perjalanan mereka belum selesai, dan petualangan baru saja dimulai. Di kedalaman Hutan Timur, ada rahasia yang tersembunyi, ada bahaya yang mengintai, dan ada kebenaran yang harus diungkap demi keselamatan seluruh negeri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!