NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Hari Pertama di Sarang Serigala

BAB 6: Hari Pertama di Sarang Serigala

Pagi itu, Siska benar-benar bertingkah ajaib. Dia yang biasanya tidak pernah sudi menginjakkan kaki di kamar Luna yang sempit, kini sudah berdiri di sana sejak pukul enam pagi. Bukan untuk mengomeli adiknya, melainkan untuk memilah pakaian kerja Luna.

​"Pakai rok yang ini saja, Luna. Potongannya bagus, biar Mas Devano senang melihat asisten pribadinya rapi," ucap Siska sembari menyodorkan sebuah rok span hitam di atas lutut, dipadukan dengan kemeja putih sutra yang menyetak lekuk tubuh Luna dengan pas.

​Siska menyisir rambut panjang Luna, lalu membubuhkan lipstik merah muda di bibir adiknya. "Ingat pesan Kakak semalam, ya? Begitu kamu masuk ke ruangannya, taruh bekal siang ini di mejanya. Bilang kalau Kakak yang memasaknya khusus untuk dia dengan bumbu penuh cinta. Jangan sampai lupa, Luna!"

​Luna hanya bisa menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyuman pahit. Dadanya sesak. Setiap kali Siska menyebut nama Devano dengan mata berbinar penuh harap, rasa bersalah yang teramat besar kembali menghantam ulu hati Luna.

​"Iya, Kak... Luna ingat," lirih Luna pelan.

​"Bagus. Sana jalan, jangan sampai terlambat di hari pertama kerja!" Siska menepuk bahu Luna, lalu mengantarkannya sampai ke pintu depan dengan lambaian tangan penuh semangat. Siska benar-benar merasa sedang menaruh mata-mata terbaiknya di sisi Devano.

​Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di lobi megah Devano Group. Gedung pencakar langit itu tampak begitu sibuk di pagi hari. Puluhan karyawan berlalu-lalang dengan pakaian necis, namun begitu melihat Luna melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Kabar tentang penunjukan adik mantan istri CEO sebagai asisten pribadi baru ternyata sudah menyebar luas di kalangan internal perusahaan.

​Luna meremas tali tasnya, mencoba mengabaikan bisik-bisik miring di sekitarnya. Dia menaiki lift khusus eksekutif, langsung menuju lantai paling atas.

​Bip. Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh.

​Berbeda dengan lantai bawah yang sibuk, lantai ini begitu sunyi, tenang, namun memancarkan kemewahan yang dingin. Di ujung koridor, sebuah meja sekretaris kosong, dan di baliknya terdapat pintu jati besar bertuliskan CHIEF EXECUTIVE OFFICER.

​Luna melangkah dengan ritme jantung yang berdentum tidak karuan. Dia mengetuk pintu itu perlahan.

​"Masuk," suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam.

​Luna mendorong pintu. Ruang kerja Devano yang sangat luas itu sudah benderang oleh cahaya matahari pagi yang menembus dinding kaca raksasa. Di balik meja kerjanya, Devano sudah duduk dengan gagah. Pria itu memakai kemeja abu-abu gelap dengan dasi hitam senada. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura ketampanan yang matang, mutlak, dan tidak tersentuh.

​Begitu Luna masuk, Devano meletakkan pulpen emasnya. Mata elangnya yang kelam langsung mengunci sosok Luna, menyapu penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan mata pria itu menggelap sesaat ketika melihat rok span pendek yang memamerkan kaki jenjang Luna yang mulus.

​"Selamat pagi, Tuan Devano. Saya Luna Maharani, melaporkan diri untuk hari pertama bekerja," ucap Luna seformal mungkin, menolak memanggil pria itu dengan sebutan 'Mas' di lingkungan kantor.

​Devano bangkit dari kursi kebesarannya. Dia tidak menyahut salam Luna. Pria itu berjalan perlahan, melangkah tegap mengikis jarak di antara mereka. Setiap ketukan pantofel mahal Devano di atas lantai marmer terdengar seperti detak lonceng kematian bagi pertahanan diri Luna.

​Devano berhenti tepat di depan Luna. Jarak mereka begitu dekat hingga Luna bisa mencium kembali aroma parfum maskulin woody yang begitu dia kenal—aroma yang sama dengan yang tertinggal di kulitnya setelah malam panas itu.

​"Tuan Devano?" Devano mengulang panggilan itu dengan nada mengejek yang sangat seksi. Dia menundukkan kepalanya sedikit, menatap bibir Luna yang dipoles lipstik tipis. "Sangat formal, Asisten Luna. Tapi kenapa tubuhmu bergetar begitu hebat di depan atasanmu?"

​Luna memundurkan langkahnya, namun punggungnya langsung membentur pintu jati yang tertutup rapat. Devano tidak membiarkan Luna kabur. Pria itu menumpu satu tangan kekarnya di pintu, tepat di samping kepala Luna, mengurung gadis itu dalam teritorinya.

​"Ini... ini lingkungan kantor, Tuan. Mohon jaga jarak Anda," cicit Luna, matanya bergerak panik menatap dada bidang Devano yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

​Devano terkekeh rendah, suara tawa yang begitu parau dan berbahaya. Tangan pria itu yang bebas perlahan naik, jemari kasarnya menyentuh dagu Luna, mendongakkannya agar mata mereka saling bertatapan.

​"Kantor ini milikku, Luna. Ruangan ini diredam suara dengan sangat baik, dan tidak akan ada yang berani masuk tanpa izin dariku," bisik Devano dengan suara yang mendadak merendah, sarat akan gairah posesif yang pekat. "Jadi... jangan pernah mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan pada asisten pribadiku sendiri."

​Ibu jari Devano bergerak perlahan, mengusap bibir bawah Luna dengan penekanan lembut yang sensual, menghapus sedikit silsilah lipstik di sana seolah ingin merasakan kehangatan alami bibir gadis itu lagi. Sentuhan itu seketika membuat seluruh tubuh Luna meremang hebat, memori penyatuan panas di hotel kembali berputar dan membakar akal sehatnya.

​Di tengah suasana yang mendadak panas dan menjerat itu, Luna teringat akan pesan kakaknya. Dengan sisa-sisa napasnya yang memburu, Luna mencoba mengalihkan perhatian Devano.

​"Mas... maksud saya Tuan... Kak Siska... Kak Siska menitipkan bekal makan siang untuk Anda. Dia bilang dia sangat merindukan Anda dan menyesal atas—"

​Brak!

​Luna tersentak hebat saat Devano tiba-tiba memukul pintu jati di samping kepalanya dengan keras. Kehangatan intim yang sempat tercipta sedetik lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh hawa dingin mencekam yang menguar dari tubuh sang CEO.

​Devano menarik tangannya dari dagu Luna, lalu melangkah mundur dua langkah. Dia menatap Luna dengan sorot mata yang dipenuhi rasa muak, benci, dan penghinaan yang teramat dalam. Kedua tangannya kini bersedekap di dada, memandang Luna dari atas ke bawah seolah gadis itu adalah barang rongsokan.

​"Menyesal?" Devano terkekeh sumbang, suara tawanya terdengar sangat kering dan menyakitkan. "Kakakmu mengirimmu kemari untuk menjadi jalang kecil yang merayuku agar aku mau menerimanya kembali, begitu?"

​Luna terbelalak. Wajahnya seketika pias, darahnya seolah berhenti mengalir. "T-Tuan Devano, jaga ucapan Anda! Saya ke sini murni untuk bekerja—"

​"Bekerja?" potong Devano cepat, bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis yang merendahkan. "Jangan berlagak polos di depanku, Luna Maharani. Sandiwara muak itu tidak mempan lagi untukku. Kamu, kakakmu, dan ibumu... kalian semua sama saja. Wanita-wanita serakah yang rela melakukan apa saja demi uang."

​Devano melangkah mendekati meja kerjanya, mengambil sekotak tisu mahal, lalu mengusap jarinya yang tadi sempat menyentuh bibir Luna, seolah kulitnya baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Tindakan sederhana itu seperti ribuan jarum yang menusuk jantung Luna hingga hancur berkeping-keping.

​"Semalam di hotel... aku pikir kamu berbeda dari Siska. Aku sempat berpikir kamu adalah gadis baik-baik yang terjebak keadaan," ucap Devano dingin sembari melempar tisu bekas itu ke tong sampah. "Tapi melihat bagaimana kamu dengan mudahnya menyerahkan kesucianmu malam itu, lalu hari ini datang membawa nama kakakmu demi harta... aku sadar kamu jauh lebih murahan dari Siska."

​Air mata Luna menetes tanpa suara. Dadanya naik turun menahan rasa sakit yang teramat luar biasa. Hinaan itu keluar dari mulut pria yang selama bertahun-tahun dia puja dalam diam.

​"Aku tidak semurahanan itu, Tuan Devano..." bisik Luna dengan suara yang serak dan bergetar hebat. "Malam itu... aku..."

​"Lalu apa namanya kalau bukan murahan?!" bentak Devano, suaranya menggelegar memenuhi ruangan tertutup itu. Pria itu menunjuk koper perhiasan dan dokumen pelunasan utang yang dikirimnya tadi siang. "Kamu menukar tubuhmu malam itu dengan pelunasan utang keluargamu, kan? Kamu menjual dirimu padaku!"

​Devano berjalan mendekati Luna, menatap mata gadis itu dengan tatapan benci murni dari seorang pria yang harga dirinya pernah dihancurkan oleh keluarga tersebut.

​"Dengar baik-baik, Asisten Luna. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu dengan lembut atau terobsesi padamu. Di mataku, kamu tidak lebih dari sekadar alat pelampiasan rasa benciku pada Siska. Aku membayar mahal untuk utang keluargamu, jadi pastikan kamu melayaniku dengan baik di kantor ini tanpa banyak tingkah."

​Devano berbalik memunggungi Luna, kembali duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh. "Sekarang, ambil berkas jadwal meeting di meja depan, lalu bersihkan meja ini. Dan bawa pulang kembali bekal menjijikkan dari kakakmu itu. Aku tidak sudi menyentuh barang dari wanita jalang."

​Luna meremas rok spannya erat-earat. Dengan tubuh yang gemetar menahan tangis dan hati yang telah hancur menjadi abu, dia menunduk dalam. "Baik... Tuan Devano."

​Di balik meja kerjanya, Devano menatap dingin punggung Luna yang mulai bergerak menjauh. Rasa sakit hati akibat dikhianati Siska telah menutup mata hatinya, mengubah rasa bersalahnya pada Luna menjadi kobaran api dendam yang siap membakar gadis polos itu hidup-hidup.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!