NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:999
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH TIGA

Rakha mendorong gelas kecil itu melintasi marmer bar. Sentuhan gelas di permukaan dingin itu menjadi satu-satunya suara di keheningan yang tegang. Maharani segera mengambilnya, jari-jarinya yang halus menggenggam tepi gelas dengan hati-hati.

"Jangan terburu-buru," perintah Rakha, suaranya mengandung nada otoritas yang lembut, lebih sebagai perhatian pribadi ketimbang instruksi.

Maharani menyesap sedikit. Reaksinya cepat, dan itu membuat Rakha terpesona. Matanya langsung melebar, dahi mulusnya berkerut lucu.

"Rasanya aneh," bisik Maharani, nada suaranya seperti bisikan "Seperti grape juice yang sudah basi... dan pedas."

Rakha tidak bisa menahan seulas senyum tipis-senyum yang sangat langka, dan kali ini terukir hanya karena kejujuran dan kepolosan Maharani yang terbungkus dalam busana tidur yang begitu menggoda.

"Itu namanya alkohol, Hani," jawab Rakha, suaranya kembali dalam, sedikit geli. "Efeknya bukan di lidah, tapi di pikiranmu. Minum pelan-pelan. Saya tunggu di sini sampai gelasnya kosong. Setelah itu, tidak ada negosiasi. Tidur." Itu adalah perintah yang diucapkan dengan keintiman, sebuah penjagaan yang sensual.

Rakha kembali duduk di kursi bar, menyandarkan sikunya di marmer. Kini ia memiliki waktu. Ia mengamati Maharani, yang fokus pada gelas wine kecilnya. Sesekali ia menyesap, ekspresinya berganti antara bingung dan bertekad.

Di bawah cahaya lembut dapur, camisole satin berwarna peach itu memancarkan aura kerentanan yang luar biasa. Lekuk leher dan tulang selangka Maharani tampak begitu lembut dan terbuka. Rakha harus memaksakan diri untuk mengunci pandangannya pada gelas di tangan Maharani, berusaha keras mengabaikan kain yang hanya menutupi sedikit dari kulitnya.

Aku melindungi target musuhku dari racun yang lain, pikir Rakha dingin. Tapi, dia sendiri sadar betapa memabukkannya pesona Maharani.

Ia mendengarkan suara dentingan dari gelas yang ditaruh, suara wine yang ditelan oleh Maharani. Maharani berusaha keras menenangkan dirinya dengan minuman yang ia berikan, mencari kedamaian dalam sebotol anggur yang ia izinkan.

Rakha tahu, setiap detik yang ia habiskan di samping Maharani, dalam keheningan yang intim ini, ia semakin mengkhianati sumpah. Tapi sekarang, ia tidak sanggup lagi membiarkan wanita itu sendirian dalam ketakutannya, apalagi setelah melihat betapa rapuhnya dia di bawah lapisan satin tipis itu. Keputusannya adalah sebuah pelepasan diri dari logika dan janji, digantikan oleh naluri posesif yang membara.

Maharani baru menghabiskan setengah gelas kecil Pinot Grigio, tapi efeknya datang dengan cepat dan seketika. Matanya kini sepenuhnya sayu, fokusnya kabur, dan ia mulai bersandar tak beraturan di counter marmer. Bajunya yang longgar dan tidak terkontrol membuat camisole satin peach itu semakin tersingkap dari tubuhnya, memamerkan lekuk yang begitu menggoda.

"Mas Rakha..." Maharani meracau, suaranya melantur dan sedikit cengeng. "Ini panas! Kenapa rasanya panas di sini?" Ia menunjuk kepalanya. "Kepala saya ringan, tapi di sini... di sini sakit."

Rakha langsung berdiri, gerakannya cepat, secepat ia menarik gelas itu dari tangan Maharani, memutus kontak mata yang memabukkan. "Cukup! Sudah saya bilang, Hani. Kamu tidak terbiasa. Kita ke kamar sekarang."

"Jangan!" Maharani menarik tangannya, ekspresinya tiba-tiba berubah total. Air mata yang selama ini ia tahan, kini tumpah membanjiri pipinya yang memerah karena wine. Ia mulai menangis tanpa suara, hanya isakan yang tersengal.

"Saya nggak mau tidur. Kalau saya tidur, Risyad akan ada di mimpi saya lagi!" Ia merangkak turun dari kursi bar yang tinggi, kakinya goyah, dan ia hampir jatuh. Rakha dengan sigap menahan tubuhnya, tubuhnya menyentuh Maharani dalam kontak yang mendadak dan menghangatkan.

"Dia jahat, Mas Rakha! Dia nggak mau saya cantik!" Maharani meracau, isakannya semakin keras. Ia menunjuk memar samar di pergelangan tangannya. "Dia bilang saya nggak boleh sok cantik. Saya harus ingat, saya itu miliknya!"

Dalam keputusasaan yang memilukan dan memabukkan, ia menarik kain satin tipis di dadanya. Gerakan itu membuat camisole-nya tersingkap lebih jauh. Di bawah pencahayaan lembut dapur, Rakha kini melihat lebih dari sekadar bayangan. Payudara Maharani yang penuh dan melengkung tampak jelas di balik renda yang hampir tidak ada. Lekuk sensitif itu, tanpa penopang, bergerak seiring isakannya, sebuah pemandangan yang membuat napas Rakha tercekat.

"Dia nggak cuma ancam. Dia juga... dia mendorong saya sampai jatuh, Mas Rakha. Dia bilang kalau saya melawan, dia akan rusak wajah saya supaya nggak ada yang mau lihat lagi!"

Rakha menegang sepenuhnya. Perutnya bergejolak, bukan hanya karena marah, tetapi juga karena kedekatan fisik yang begitu intens.

Ia segera mengambil tisu dan menyeka air mata Maharani. Jari-jarinya yang kuat dan dingin menyentuh pipi basah itu, gerakannya sangat lembut, sebuah kontradiksi dari ketegangan yang ia rasakan. "Tenang, Hani. Tenang. Risyad sudah selesai. Dia tidak akan menyentuhmu lagi."

Maharani sepenuhnya mabuk, dan semua luka terpendamnya tumpah ruah.

"Saya nggak mau jadi miliknya! Saya mau nyanyi, Mas Rakha! Saya mau fokus dengan karir menyanyi!" Maharani meracau, kini memeluk pinggang Rakha, mencengkeram kemejanya erat-erat. Celana pendek satin itu kini terangkat sedikit karena gerakan, menyingkap paha Maharani yang mulus, putih, dan sedikit bergetar yang menyentuh paha Rakha, sensasi kulit ke kulit yang begitu intim dan menggairahkan. "Dan juga... Ayah nggak boleh tahu saya kotor!"

Air mata panas Maharani membasahi kemeja Rakha, tepat di atas jantungnya. Rakha membalas pelukan itu, menenggelamkan kepala Maharani di bahunya yang kokoh. Tubuh Maharani yang lentur, hangat, dan dibalut satin terasa begitu menggoda dan pas di lengannya.

Ayah tidak boleh tahu saya kotor.

Kalimat itu menusuk Rakha. Hardi Adi Soetomo. Pria yang menuntut kesucian, padahal dialah akar dari kekotoran itu.

"Risyad tidak bisa menyentuhmu lagi, Hani," bisik Rakha, suaranya dipenuhi nada dingin yang mematikan, tetapi sentuhannya pada punggung Maharani terasa sangat protektif, hampir posesif. "Saya bersumpah. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu, apalagi menyakitimu lagi."

Setelah beberapa menit, isakan Maharani mereda. Ia mengangkat wajahnya, menatap Rakha, matanya berkaca-kaca dan kabur. Ia hanya melihat Rakha sebagai pelabuhan yang nyaman.

"Mas Rakha," bisik Maharani, lalu tangannya yang kecil menyentuh rahang Rakha yang tajam dan dingin. "Wajah Mas Rakha... ganteng banget. Dingin. Tapi hangat di sini..." Ia menunjuk dada Rakha, sebuah ajakan sensual yang menggoda.

"Kenapa Mas Rakha baik banget sama saya? Kenapa Mas Rakha mau buang waktu Mas yang berharga buat saya?"

Pertanyaan itu memukul Rakha. Maharani telah membongkar semua pertahanannya. Rakha menatapnya lekat-lekat. Ia menyentuh pipi Maharani yang basah, membersihkan sisa air matanya dengan ibu jarinya, gerakannya kini berani.

"Karena kamu adalah wanita yang kuat, Hani," jawab Rakha, suaranya serak dan dalam, sebuah janji yang disalurkan melalui sentuhan. "Kamu adalah fighter. Dan saya akan memastikan tidak ada lagi yang bisa mematahkanmu."

Maharani tersenyum, senyum seorang anak yang akhirnya menemukan keamanan. Ia memejamkan mata dan kepalanya kembali bersandar di dada Rakha. Tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Rakha, membuatnya merasakan setiap lekuk halus yang tersembunyi di balik kain satin tipis itu.

"Mas Rakha... saya janji besok saya kuat. Saya janji. Tapi sekarang... saya mau peluk Mas Rakha sebentar."

Rakha berdiri tegak, membiarkan Maharani memeluknya erat, menikmati kehangatan dan keintiman dari tubuh Maharani. Setelah beberapa detik yang memabukkan, ia memegangi lengan Maharani, membantunya berdiri. Maharani kini benar-benar tidak sadar, hanya bersandar sepenuhnya pada kekuatan Rakha, membiarkan tubuhnya yang lembut dan rentan dipeluk dan disangga sepenuhnya oleh Rakha. Wajah Rakha kini begitu dekat dengan rambut Maharani, menghirup aroma wine yang bercampur dengan keharuman lembut tubuh Maharani. Itu adalah momen pengkhianatan yang manis.

Rakha mengangkat Maharani. Tubuh wanita itu, yang tertutup kain satin tipis, terasa ringan dan sepenuhnya bergantung padanya. Maharani benar-benar tidak sadar, hanya bersandar sepenuhnya di dada Rakha, napasnya yang berat dan beraroma samar wine menerpa leher Rakha.

Ia menggendong Maharani menaiki tangga spiiral yang menghubungkan lantai satu ke lantai dua penthouse pribadinya. Setiap langkah Rakha, setiap sentuhan antara kulit dan kain, adalah pengkhianatan terhadap kendali dirinya sendiri.

Fokus. Dia adalah klien. Dia adalah putri musuhmu. Rakha mengulanginya, mencoba membangkitkan kembali tembok yang sudah runtuh.

Saat ia berjalan melewati ruang tamu yang luas, Maharani bergerak sedikit. Dalam keadaan mabuk, ia mendongak. Matanya yang sayu tidak fokus, tapi tangannya yang hangat meraba rahang Rakha.

"Dingin," gumam Maharani, suaranya melantur. "Mas Rakha dingin."

Ia kemudian mendekatkan kepalanya, mencium bau single malt yang kuat dari kemeja Rakha. Maharani mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil, lalu menyandarkan wajahnya ke leher Rakha. Keintiman yang tidak disengaja itu membuat Rakha menahan napas.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!