NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Darah, Keringat, dan Bayangan Pembunuhan Pertama

​Pelataran Luar Sekte Pedang Awan Surgawi memiliki area belakang yang berbatasan langsung dengan hutan lebat dan tebing-tebing terjal. Di salah satu sudut terpencil di balik air terjun setinggi seratus meter, Lin Chen menemukan tempat yang ideal untuk berlatih tertutup.

​Suara gemuruh air yang jatuh menghantam bebatuan di bawahnya cukup keras untuk meredam suara apa pun, sementara kabut air yang tebal menyembunyikan sosoknya dari pandangan para murid yang mungkin melintas.

​Di atas sebuah batu karang datar yang licin oleh lumut, Lin Chen duduk bersila. Gulungan kuno [Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan] tergelar di pangkuannya.

​"Teknik ini benar-benar gila," suara Mo Xuan terdengar dari dalam lautan kesadaran Lin Chen. Nada suaranya mengandung campuran antara kekaguman dan kengerian. "Di dunia kultivasi ortodoks, Qi dialirkan melalui meridian secara searah untuk melindungi organ dalam. Tapi teknik iblis ini... ia memaksamu memutar balik aliran Qi di kedua kakimu, mengompresnya di tiga belas titik akupunktur mematikan, lalu meledakkannya keluar secara serentak!"

​Lin Chen menatap barisan aksara merah darah di gulungan itu dengan saksama. "Ledakan Qi dari dalam keluar. Pantas saja tingkat kecacatannya mencapai 99%. Kultivator biasa yang mencoba ini akan langsung meledakkan kedua kakinya sendiri hingga menjadi kabut darah."

​"Benar. Tapi daya tolak dari ledakan internal itu akan mendorong tubuhmu menembus batas kecepatan suara dalam jarak pendek. Dipadukan dengan serangan mematikan, ini adalah seni pembunuhan yang mutlak," jelas Mo Xuan. "Bahkan dengan ketahanan fisik dari Mandi Darah Naga, kakimu akan mengalami cedera parah di setiap percobaan awal. Kau harus bersiap untuk menahan rasa sakit yang tidak manusiawi."

​Lin Chen perlahan menutup matanya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang sarat akan tekad. "Rasa sakit adalah guru terbaikku, Mo Xuan. Mari kita mulai."

​Lin Chen bangkit berdiri. Ia merenggangkan otot-ototnya hingga terdengar bunyi retakan ringan. Ia menarik napas panjang, menghirup udara lembap air terjun, lalu memfokuskan pikirannya ke Dantian.

​Pusaran Taiji Emas di dalam Dantiannya berputar cepat. Sesuai instruksi gulungan, Lin Chen menarik sejumlah besar Qi Emas murni, membaginya menjadi dua aliran, dan memaksanya turun ke meridian di kedua kakinya.

​Balikkan alirannya! batin Lin Chen.

​Seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa menusuk kedua kakinya. Rasanya seperti ada ribuan pisau bedah panas yang merobek urat nadinya dari arah yang berlawanan. Otot-otot betis dan pahanya menegang hebat, menggembung hingga batas maksimal.

​"Kompres di tiga belas titik akupunktur... Tahan... Tahan..." Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri wajah Lin Chen.

​Pembuluh darah di kakinya menonjol keluar berwarna keunguan, nyaris pecah. Udara di sekitarnya mulai bergetar karena tekanan Qi yang tidak stabil.

​"Sekarang! Langkah Pembunuhan Pertama!"

​Lin Chen menghentakkan kaki kanannya ke atas batu karang, melepaskan kompresi Qi yang membara di kakinya.

​BOOOOOM!

​Batu karang raksasa tempatnya berpijak hancur lebur menjadi debu dalam sekejap. Namun, alih-alih melesat ke depan seperti kilat, aliran Qi di kaki Lin Chen kehilangan keseimbangan. Daya ledak yang tidak terkendali itu menyapu kakinya sendiri.

​KRAK! KRAK!

​"Ugh!" Lin Chen mengerang tertahan. Tubuhnya terpelanting ke belakang, menghantam dinding tebing di balik air terjun.

​Ia merosot jatuh ke tanah yang basah. Celana abu-abunya telah robek berkeping-keping di bagian bawah. Kulit di kedua betisnya terkoyak, memperlihatkan otot yang berdarah, dan beberapa tulang kecil di pergelangan kakinya retak.

​"Terlalu terburu-buru! Kau melepaskan Qi di titik akupunktur Yongquan (telapak kaki) sepersekian detik lebih lambat dari titik Zusanli (bawah lutut)! Ledakannya berbenturan di dalam tulang keringmu!" omel Mo Xuan, bertindak sebagai instruktur yang keras.

​Lin Chen terbatuk kecil, memuntahkan darah kotor. Bukannya menyerah, matanya justru menyala semakin terang.

​"Begitu rupanya... Pengendalian Qi harus absolut," gumam Lin Chen. Ia memutar Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Qi Emas yang lembut mengalir ke bagian kakinya yang terluka, meregenerasi sel-sel otot dan menyambung kembali tulang yang retak dengan kecepatan yang kasat mata.

​Hanya butuh waktu setengah jam bagi Meridian Naganya untuk menyembuhkan luka parah tersebut secara utuh.

​Begitu kakinya pulih, Lin Chen kembali berdiri. Ia membersihkan darah dari wajahnya, mengatur napasnya, dan memulai proses yang sama.

​Mengompres Qi. Menahan rasa sakit yang menyayat hati. Meledakkan titik akupunktur.

​KRAK! Gagal lagi. Otot pahanya robek.

Sembuhkan.

​BAM! Gagal lagi. Terlempar ke air terjun.

Sembuhkan.

​Hari berganti malam, dan malam berganti pagi. Lin Chen mengisolasi dirinya dari dunia luar. Ia terus mengulang siklus penyiksaan diri ini puluhan, ratusan, hingga ribuan kali. Setiap kali tulangnya retak dan ototnya hancur, Seni Pemakan Surga Sembilan Naga akan membangunnya kembali menjadi jauh lebih kuat dan lebih tangguh dari sebelumnya.

​Di dunia fana, tidak ada pencapaian instan. Di balik setiap kekuatan yang mengguncang langit, tersembunyi keringat darah dan penderitaan yang tak terlihat oleh orang lain.

​Sementara itu, di Puncak Teratai Es.

​Udara di dalam paviliun Liu Meng'er terasa sangat dingin, hingga lantai batunya tertutup lapisan es tipis.

​Di atas meja batu giok di depan Liu Meng'er, tergeletak dua buah lencana logam hitam yang berlumuran darah kering. Lencana itu dikirim secara diam-diam oleh Sun Li dari Balai Kontribusi pagi ini, disertai laporan yang membuat Liu Meng'er nyaris menghancurkan ruangannya.

​Lin Chen belum mati. Bahkan, dia kini telah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Bintang 7 dan membantai dua ahli Bintang 8 yang dikirimnya layaknya memotong rumput.

​"Bintang 7... Bagaimana mungkin? Dia tidak memiliki sumber daya sekte, dia adalah manusia cacat!" Mata Liu Meng'er memerah, napasnya memburu. Ketenangan ala peri es yang selalu ia banggakan hancur berkeping-keping. "Bahkan jenius ibu kota butuh waktu satu tahun untuk naik dari Bintang 1 ke Bintang 7! Ada rahasia besar di balik tubuhnya..."

​"Meng'er. Tenangkan pikiranmu. Qi-mu bergejolak."

​Sebuah suara tua dan penuh wibawa tiba-tiba bergema di dalam ruangan. Es yang menutupi lantai seketika mencair dan menguap.

​Dari balik tirai ruangan, melangkah keluar seorang pria tua berjubah putih bersih. Ia adalah Tetua Bai, guru dari Liu Meng'er, sekaligus salah satu Tetua Inti di Sekte Pedang Awan Surgawi. Kultivasinya yang berada di Ranah Inti Emas tahap menengah menekan seluruh paviliun.

​"Guru!" Liu Meng'er segera bangkit dan membungkuk hormat. "Murid tidak berguna. Anak bermarga Lin itu telah menjadi duri yang membahayakan reputasi kita."

​Tetua Bai melirik dua lencana berdarah di atas meja. Wajah tuanya mengeras. Ia teringat kembali pada aura mengerikan yang sempat memancar dari mata Lin Chen di Kota Awan Merah. Firasat buruknya ternyata benar; anak itu adalah anomali.

​"Duri yang kecil, jika dibiarkan, akan membusukkan seluruh kaki," ucap Tetua Bai dingin. "Namun, kita tidak bisa lagi bertindak sembarangan. Dia kini bukan lagi orang luar. Dia telah menyelesaikan Misi Pemusnahan Khusus dan menarik perhatian Tetua Feng di Balai Kontribusi. Jika faksi kita ketahuan membunuhnya secara langsung, Tetua Penegak Hukum Sekte pasti akan turun tangan."

​"Lalu apa yang harus kita lakukan, Guru? Membiarkan dia tumbuh? Dalam dua minggu adalah Ujian Peringkat Luar. Jika dia masuk sepuluh besar, dia akan secara otomatis dipromosikan menjadi Murid Dalam. Menghabisinya nanti akan jauh lebih sulit!" protes Liu Meng'er dengan nada cemas.

​Tetua Bai mengelus jenggotnya perlahan, tersenyum sinis. "Siapa bilang kita akan membiarkannya masuk ke Pelataran Dalam? Aturan Ujian Peringkat Luar memperbolehkan pertarungan senjata sungguhan, dengan syarat tidak berniat membunuh. Tapi... 'kecelakaan' yang menyebabkan cacat permanen selalu terjadi setiap tahun."

​Tetua Bai menoleh pada Liu Meng'er. "Pergilah temui Gu Tianying."

​Mendengar nama itu, tubuh Liu Meng'er sedikit tersentak.

​Gu Tianying. Peringkat 1 absolut di Pelataran Luar. Pemuda yang kultivasinya tertahan di puncak Bintang 9 Pengumpulan Qi selama tiga tahun berturut-turut karena ia sedang memadatkan Qi-nya untuk membentuk Inti Emas (Golden Core) yang sempurna. Di Pelataran Luar, dia bukanlah sekadar murid, dia adalah raja tanpa mahkota.

​"Gu Tianying sangat sombong dan tidak tunduk pada faksi mana pun, Guru. Bagaimana saya bisa menyuruhnya?" tanya Liu Meng'er.

​"Katakan padanya, jika dia bersedia mematahkan seluruh meridian Lin Chen di arena Ujian Peringkat Luar, aku secara pribadi akan mensponsori dia dengan sebuah Pil Peringkat Inti Emas Tingkat Bumi saat dia menerobos nanti," janji Tetua Bai dengan nada mutlak.

​Mata Liu Meng'er berbinar. Hadiah sebesar itu pasti akan membuat Gu Tianying tunduk. Lin Chen mungkin bisa mengalahkan pembunuh Bintang 8, tapi Gu Tianying memiliki kekuatan yang setengah langkah menginjak Ranah Inti Emas! Di depan Gu Tianying, Lin Chen tak lebih dari seekor jangkrik!

​"Murid mengerti! Saya akan segera menemuinya!"

​Hari Ketujuh di Balik Air Terjun.

​Lantai tebing yang dulunya berupa tanah berbatu keras kini telah berubah menjadi lautan lumpur yang dipenuhi kawah-kawah ledakan kecil.

​Di tengah kekacauan itu, berdiri sosok Lin Chen. Pakaian bagian bawahnya hanya tersisa kain compang-camping sebatas paha. Namun, kedua kakinya kini tidak lagi terluka. Otot-otot di betis dan pahanya terlihat sangat ramping, namun padat bagai untaian kawat baja, memancarkan kilau perak kemerahan di bawah sinar matahari.

​"Fisikmu telah beradaptasi sepenuhnya dengan tekanan internal teknik ini," puji Mo Xuan. "Tubuhmu adalah senjata paling mengerikan yang pernah kulihat."

​Lin Chen menghembuskan napas pelan. Matanya terkunci pada bongkahan batu marmer putih raksasa seberat ratusan ton yang berada di seberang sungai, sekitar lima puluh meter dari posisinya.

​"Waktunya menguji hasil akhirnya."

​Pusaran Taiji Emas di Dantian Lin Chen berputar dengan kecepatan cahaya. Aliran Qi yang luar biasa masif ditarik, diputarbalikkan, dan dikompresi secara brutal di tiga belas titik akupunktur di kakinya dalam waktu kurang dari seperseribu detik.

​Lin Chen menyipitkan matanya.

​[Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan: Langkah Pertama - Bayangan Kematian!]

​WUSSH!

​Tidak ada ledakan tanah yang menghancurkan bebatuan. Tidak ada suara angin yang melolong.

​Di tempat Lin Chen berdiri sesaat lalu, hanya tersisa sebuah bayangan samar yang perlahan memudar ditiup angin. Ia menembus ruang dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata kultivator Pengumpulan Qi biasa.

​Satu ketukan jantung kemudian.

​ZRAAAASH!

​Di seberang sungai, bongkahan batu marmer putih seberat ratusan ton itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris. Potongannya sangat halus, seolah diiris oleh pedang dewa yang paling tajam.

​Di belakang batu marmer yang terbelah itu, sosok Lin Chen perlahan bermanifestasi. Posisinya masih mempertahankan kuda-kuda tebasan tangan miring. Tidak ada senjata. Batu raksasa itu terbelah murni oleh gelombang kejut udara kental yang ditarik oleh kecepatannya yang ekstrem, ditambah seutas Qi Emas di sisi telapak tangannya.

​"Ini baru Langkah Pertama," Lin Chen menurunkan tangannya perlahan. Senyum kepuasan terlihat di wajahnya. "Dan kecepatannya sudah cukup untuk menggorok leher ahli Bintang 9 sebelum mereka sempat berkedip."

​Lin Chen mendongak, melihat ke arah langit di atas puncak-puncak sekte yang menjulang tinggi, menembus lautan awan.

​Waktu seminggu yang ia miliki sebelum Ujian Peringkat Luar kini tinggal tersisa tujuh hari. Tujuh hari yang hening sebelum badai besar.

​"Bersiaplah, Pelataran Luar," gumam Lin Chen, melangkah pergi dari air terjun untuk kembali ke asramanya. "Raja yang sesungguhnya akan segera menaiki takhtanya."

1
yos helmi
biasanya kalau up nya satu dua bab.. ng akan tamat..
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍💪💪💪💪💪
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!