Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Menghangat
Suara gemericik air hujan yang menghantam atap sirap villa terdengar konsisten, menciptakan simfoni alam yang menenangkan sekaligus mengintimidasi. Di dalam villa, pencahayaan hanya mengandalkan lampu-lampu kuning temaram yang ditenagai genset, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kayu. Sia baru saja selesai membersihkan diri dengan air hangat yang untungnya berfungsi dengan baik. Ia keluar dari kamar mengenakan piyama satin panjang berwarna biru tua, dilapisi cardigan wol tebal untuk menghalau hawa pegunungan yang mulai menusuk tulang.
Di ruang tengah, Arkan masih duduk di sofa kayu besar. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana kain santai. Laptopnya terbuka, namun ia tidak sedang mengetik. Tangannya justru memegang sebuah cangkir keramik berisi teh jahe hangat yang tadi disiapkan oleh penjaga villa.
"Belum tidur, Pak?" tanya Sia sambil berjalan mendekat.
Arkan mendongak. Matanya terlihat sedikit lelah, namun tetap tajam. "Udara di sini terlalu tipis untuk membuat saya cepat mengantuk. Dan suara hujan ini... sedikit mengganggu konsentrasi."
Sia duduk di ujung sofa yang berbeda, menekuk kakinya dan menyelimutinya dengan ujung cardigan. "Atau mungkin Bapak lagi kepikiran soal Bab 19? Adegan hujan, villa terpencil, dan genset yang sewaktu-waktu bisa mati. Benar-benar sesuai dengan apa yang kita alami sekarang, kan?"
Arkan menutup laptopnya perlahan. "Kamu benar. Atmosfernya sudah sempurna. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di kepala saya. Tentang bagaimana Bima akhirnya memutuskan untuk melintasi batas kenyamanan Raya tanpa membuat wanita itu merasa tertekan."
Sia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. "Pak, dalam situasi seperti ini, biasanya bukan 'keputusan' yang bicara. Tapi suasana. Orang yang kaku pun kalau kedinginan pasti bakal cari sumber panas yang paling dekat. Dan di sini, sumber panas paling dekat itu ya... manusia lain."
Arkan menatap Sia dengan intensitas yang membuat Sia mendadak merasa piyamanya terlalu tipis. "Jadi, menurut kamu, Bima harus membiarkan instingnya bekerja?"
"Iya. Jangan dianalisa, Pak. Coba Bapak rasakan saja dinginnya," ujar Sia sambil menggosok-gosok telapak tangannya.
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip-kedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Suara genset di luar yang tadinya menderu pun menghilang, menyisakan kesunyian yang mencekam yang hanya diisi oleh suara hujan. Kegelapan total menyelimuti mereka.
"Pak?" bisik Sia, suaranya sedikit gemetar. Ia memang tidak takut gelap, tapi suasana sunyi di tengah hutan ini memberikan sensasi yang berbeda.
"Saya di sini, Sia," suara Arkan terdengar tenang, hanya berjarak beberapa jengkal darinya.
Sia meraba-raba kegelapan, berusaha mencari ponselnya di atas meja. Namun, tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat dan padat. Tangan Arkan. Pria itu tidak menjauh, ia justru menangkap jemari Sia yang terasa sedingin es.
"Tangan kamu dingin sekali," gumam Arkan.
"Kan saya sudah bilang, Pak. Saya bukan robot yang punya pemanas internal," sahut Sia, mencoba bercanda untuk menutupi rasa gugupnya yang makin menjadi-jadi.
Arkan menarik tangan Sia perlahan, menuntunnya untuk mendekat. Dalam kegelapan yang pekat, Sia bisa merasakan pergerakan Arkan yang bergeser di sofa. "Duduklah di sini. Sofa ini cukup besar untuk kita berdua."
Sia ragu sejenak, namun hawa dingin yang mulai merayap naik dari lantai membuatnya menyerah. Ia bergeser mendekati Arkan sampai bahu mereka bersentuhan. Arkan melepaskan tangan Sia hanya untuk melingkarkan lengannya di bahu asistennya itu, menariknya masuk ke dalam dekapan yang kokoh.
"Ini untuk riset, kan, Pak?" bisik Sia, meski ia tahu pertanyaannya terdengar sangat bodoh.
"Anggap saja begitu," jawab Arkan rendah. Suaranya bergetar tepat di samping telinga Sia. "Bima harus tahu seberapa cepat detak jantung Raya saat mereka berada dalam posisi seperti ini. Supaya dia bisa menuliskan deskripsinya dengan akurat."
Sia menyandarkan kepalanya di dada Arkan. Ia bisa mendengar detak jantung Arkan yang ternyata sama cepatnya dengan miliknya. Tidak ada logika CEO di sini. Tidak ada kontrak kerja. Hanya ada dua orang yang berusaha saling menghangatkan di tengah badai.
"Pak Arkan..."
"Hm?"
"Kalau Bapak terus-terusan pakai alasan riset buat hal-hal kayak gini, lama-lama saya bisa salah paham," ucap Sia jujur. Ia lelah berpura-pura bahwa semua ini hanya profesionalisme.
Arkan terdiam cukup lama. Lengannya yang melingkar di bahu Sia semakin erat. "Salah paham seperti apa?"
"Ya... saya bisa mikir kalau Bapak sebenernya suka sama saya. Bukan cuma sebagai asisten yang jago ngasih ide spicy, tapi sebagai... wanita."
Hening kembali menyelimuti. Hanya ada suara hujan yang kian menderas. Sia merasa ingin menarik kembali kata-katanya. Ia takut ia sudah merusak "permainan" ini. Ia takut Arkan akan kembali menjadi robot dan mengusirnya ke kamar.
Namun, di luar dugaan, Arkan justru menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya ke pelipis Sia. "Sia, saya adalah orang yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu. Tapi sejak kamu masuk ke ruangan saya dengan draf Nightshade itu, saya merasa ada bagian dari diri saya yang tidak lagi bisa saya kendalikan."
Arkan mengembuskan napas panjang, sebuah pengakuan yang terasa sangat berat baginya. "Kalau ini hanya riset, saya tidak akan membuang kopi dari Gibran. Saya tidak akan memaksa kamu duduk di belakang bersama saya selama empat jam. Dan saya tidak akan merasa sefrustrasi ini setiap kali kamu bicara soal 'profesionalitas'."
Sia tertegun. Ia mendongakkan kepalanya, berusaha menatap wajah Arkan di sela-sela kegelapan. "Jadi... Bapak beneran cemburu?"
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menggunakan tangannya yang bebas untuk menangkup pipi Sia. Jempolnya mengusap lembut tulang pipi Sia. "Seorang penulis harus jujur pada perasaannya, kan? Itu yang selalu kamu katakan. Dan malam ini, saya ingin jujur bahwa saya tidak suka berbagi perhatian kamu dengan siapa pun."
Sia merasa dadanya seperti akan meledak. "Pak, ini... ini bakal susah banget ditulis di draf kalau kita nggak tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Arkan terkekeh kecil, sebuah suara yang sangat jarang didengar Sia—suara yang penuh dengan godaan yang halus. "Kalau begitu, mari kita buat kelanjutannya. Tanpa skrip. Tanpa riset."
Arkan mendekatkan wajahnya. Sia bisa merasakan deru napas Arkan di bibirnya. Kali ini, tidak ada keraguan seperti di apartemen tempo hari. Arkan menciumnya dengan kepastian seorang pria yang tahu apa yang diinginkannya. Ciuman itu terasa hangat, dalam, dan penuh dengan emosi yang selama ini terkunci rapat di balik jas mahalnya.
Sia membalasnya, tangannya merambat ke tengkuk Arkan, menarik pria itu lebih dekat. Segala kedinginan di villa itu seolah sirna, tergantikan oleh panas yang menjalar dari titik sentuhan mereka. Di tengah kegelapan hutan Bogor, semua garis yang memisahkan mereka benar-benar terbakar habis.
Beberapa saat kemudian, Arkan melepaskan ciumannya, namun tetap membiarkan wajah mereka berdekatan. "Bab 19... saya rasa saya sudah tahu bagaimana cara mengakhirinya."
Sia tertawa kecil, meskipun napasnya masih tersengal. "Gimana, Pak?"
"Bima menyadari bahwa dia tidak butuh villa mewah atau listrik yang menyala. Dia hanya butuh Raya, dan mulai mendengarkan apa yang dikatakan hatinya," Arkan mengecup kening Sia dengan lembut.
Tiba-tiba, lampu kembali menyala. Genset di luar kembali menderu, memulihkan kehidupan di dalam villa. Cahaya terang mendadak menyilaukan mata mereka, membuat keduanya refleks menjauh sedikit, seolah tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang terlarang.
Arkan kembali berdeham, merapikan duduknya dan mengambil cangkir teh jahenya yang sudah dingin. "Ehem. Sepertinya listriknya sudah aman."
Sia merapikan cardigan-nya yang sedikit berantakan, wajahnya merah padam di bawah cahaya lampu. "I-iya, Pak. Saya... saya rasa saya harus balik ke kamar. Besok kita harus meninjau proyek pagi-pagi."
Arkan mengangguk kaku, kembali menjadi CEO yang disiplin, meski matanya masih berkilat penuh arti. "Benar. Selamat istirahat, Saffiya."
"Selamat istirahat, Pak Arkan."
Sia masuk ke kamarnya dengan jantung yang masih berdisko. Ia menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit dengan senyum yang tidak bisa hilang. Ia tahu, mulai besok, bekerja di kantor Dewangga Group tidak akan pernah sama lagi.
Sementara di luar, Arkan membuka kembali laptopnya. Ia menghapus seluruh draf Bab 19 yang sempat ia tulis tadi siang. Ia mulai mengetik barisan kalimat baru, kalimat yang mengalir deras seperti air terjun, penuh dengan gairah dan kejujuran yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Ia menulis tentang bagaimana kegelapan bisa menyingkap kebenaran yang paling terang. Ia menulis tentang bagaimana seorang pria kaku bisa luluh hanya dengan satu sentuhan di tengah badai. Dan yang terpenting, ia menulis tentang bagaimana "riset" telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih indah dan berbahaya.
Malam itu, Arkan Dewangga menyadari bahwa ia mungkin adalah CEO yang hebat dan penulis Nightshade yang sukses. Namun, di atas semua itu, ia hanyalah seorang pria yang akhirnya menemukan alasannya untuk berhenti sekadar menganalisa hidup, dan mulai menjalaninya.
Besok pagi, proyek hotel itu mungkin akan berlanjut, namun proyek "cinta" Arkan dan Sia baru saja menyelesaikan bab pembukanya yang paling epik. Dan bagi Arkan, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke mode robot lamanya. Karena sekali kamu merasakan kehangatan yang nyata, dinginnya logika tidak akan pernah cukup lagi.