NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tujuh Tahun

Panas merobek lambungnya. Paru-parunya menolak tarikan napas. Segenggam pil beracun yang dipaksa masuk ke kerongkongannya sepuluh menit lalu kini bekerja menghancurkan organ dalamnya secara sistematis. Tubuhnya mengejang kaku di atas karpet berdebu yang bau apak.

Televisi di depannya menyala terang, mengusir sedikit kegelapan ruangan. Layar itu menyiarkan konferensi pers langsung dari aula hotel bintang lima.

Wajah Alvian Restu memenuhi bingkai kamera. Pria itu menunduk di hadapan puluhan kilatan blitz wartawan. Tangan kanannya mencengkeram mikrofon. Tangan kirinya mengusap sudut mata. Sandiwara kelas satu.

"Shanaya butuh bantuan profesional." Suara Alvian terdengar serak, pecah di saat yang tepat. "Keluarga sudah membujuknya berobat. Skandal ini pasti terlalu berat membebani mentalnya sampai dia mengurung diri."

Anastasia berdiri berdampingan di sebelah pria itu. Sepupu yang dulu selalu merengek minta dibelikan tas desainer itu kini memakai gaun hitam mahal yang dibeli dari uang yang bukan miliknya. Uang curian.

Wajah Anastasia ditekuk sedih ke bawah, sementara tangannya mengelus punggung Alvian perlahan. Sepasang pahlawan kesiangan yang hancur hatinya.

Shanaya memuntahkan tawa keras.

Tawanya langsung terputus oleh batuk. Gumpalan merah kental memercik ke dagu dan lantai.

Pintu apartemennya didobrak paksa lima belas menit lalu. Alvian langsung menahan kedua tangannya ke belakang punggung, sementara Anastasia menjejalkan paksa pil-pil sialan itu ke dalam mulutnya, menuangkan air, dan membungkam hidungnya sampai ia tersedak menelan semuanya.

"Minum aja deh, Kak. Biar cepat selesai," bisik Anastasia santai waktu itu, merapikan rambutnya yang baru di-blow. "Besok pagi publik pasti langsung simpati. Cerita orang depresi yang bunuh diri karena menyesali utangnya itu selalu laku keras."

Shanaya meronta di lantai, menatap tajam pria yang dulu pernah melamarnya. "Kalian yang curi uangnya. Kalian yang bikin perusahaanku hancur."

Alvian berjongkok. Jari pria itu mencengkeram rahang Shanaya keras. "Tapi kamu yang tanda tangan semua dokumen pencairannya, Sayang."

Napas Shanaya memburu tajam. Matanya merah. "Ibu... Ibuku meninggal gara-gara berita palsumu."

Anastasia tertawa kecil. Gadis itu mencondongkan tubuh, membawa aroma parfum mawar murahan yang langsung menusuk hidung Shanaya.

"Kakak pikir Tante Rini mati karena serangan jantung biasa?" Anastasia menyeringai. "Alvian yang masuk ke kamar rawat ibumu malam itu. Dia yang mematikan alat pacu jantungnya."

Sesuatu di dalam diri Shanaya patah total. Udara di sekitarnya menguap habis.

Ia menatap mata Alvian lekat-lekat. Pria yang memeluknya saat ayahnya dimakamkan. Pria yang berjanji akan menjaganya. Kini ia tahu, tangan yang sama telah membunuh ibunya.

Marah? Tidak. Kemarahannya sudah melewati batas kewarasan hingga berubah menjadi ruang hampa yang membekukan darah.

Ia memaksakan sebuah senyuman.

Senyum lebar yang membuat Alvian secara refleks melepaskan cengkeramannya dan mundur selangkah.

"Pastikan aku benar-benar mati malam ini, Alvian," bisik Shanaya. Suaranya serak, tajam menyayat. "Karena kalau aku bangun besok pagi, aku akan membuat kalian berharap malam ini kalian benar-benar berhasil membunuhku."

Anastasia memucat mendengar nada putus asa itu. Gadis itu segera menarik lengan Alvian keluar ruangan, mengunci pintu dari luar, dan membiarkan Shanaya mati membusuk sendirian.

Kini, lantai karpet terasa semakin dingin. Jantungnya berdetak makin lambat.

Dalam sisa kesadarannya yang mulai menggelap, ingatannya bergeser pada satu-satunya pria yang bisa mengubah akhir cerita ini sebulan lalu.

Hujan badai menghantam keras kaca lobi gedung stasiun televisi swasta terbesar di ibu kota. Shanaya berdiri kedinginan, baju basah kuyup, sengaja mencegat langkah Steven Aditya di area parkir VIP. Sang produser berita paling berkuasa di negeri ini baru saja keluar dari lift pribadinya.

"Kamu punya rekaman CCTV aslinya," tuntut Shanaya, menghalangi pintu mobil pria itu. "Kameramu merekam mobil Alvian di lobi hotel. Bukan mobilku. Kamu tahu aku difitnah malam itu."

Steven merapikan kerah kemeja hitamnya. Wajahnya datar, menatap lurus menembus keputusasaan Shanaya. "Saya punya datanya."

"Lalu kenapa televisimu merilis berita yang memutarbalikkan fakta?"

Steven meraih gagang pintu mobilnya. "Karena publik tidak peduli pada fakta."

"Publik butuh hiburan," lanjut pria itu dingin. "Berita putri pewaris konglomerat yang jatuh miskin dan menggelapkan dana jauh lebih laku dijual. Kamu sudah tidak punya nilai tawar."

Shanaya mengepalkan tangan. Kuku jarinya menembus kulit. "Kamu tahu persis aku tidak bersalah!"

Langkah Steven terhenti. Pria itu menoleh menatapnya. Sorot matanya tajam, tidak ada belas kasihan di sana, hanya kenyataan pahit yang ditampar keras ke wajah Shanaya.

"Di dunia ini, menjadi pihak yang tidak bersalah itu tidak ada gunanya." Suara Steven mengalahkan rintik hujan. "Kamu menyerahkan senjatamu sendiri ke tangan musuh, lalu menangis minta tolong saat dirimu ditebas. Belajar bertahan hidup, Shanaya. Atau mati saja dengan tenang."

Steven masuk ke mobil dan pergi. Meninggalkannya berdiri menelan kekalahan di tengah dinginnya beton parkiran.

Kata-kata pria itu benar.

Napas Shanaya tersendat putus-putus. Siaran di televisi kini berganti menjadi iklan sabun cuci.

Ujung jari tangan dan kakinya kebas. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit yang retak.

Aku tidak kalah karena mereka lebih pintar.

Aku kalah karena aku memilih mencintai orang yang salah.

"Tunggu aku, Alvian. Anastasia."

Ruangan perlahan menjadi gulita. Suara televisi memudar menjadi dengungan statis. Hampa. Kegelapan menelannya tanpa sisa.

***

Ketukan keras di kayu terdengar bertubi-tubi.

"Non Shanaya? Udah bangun belum Non?"

Suara itu melengking, menerobos ruang hitam di kepalanya. Itu suara Bi Inah. Pelayan tua kesayangannya yang sudah meninggal tiga tahun lalu karena diusir paksa oleh lintah darat suruhan Alvian.

"Nyonya Besar nungguin di bawah lho. Hari ini kan jadwal ukur gaun pertunangan sama Den Alvian. Jangan telat turun, Non!"

Gaun pertunangan? Alvian?

Dadanya seperti disengat listrik. Udara mendadak merangsek masuk ke kerongkongan, memaksa paru-parunya mengembang brutal menarik napas panjang.

Matanya terbuka. Langit-langit yang sama. Kamarnya yang dulu. Dan kalender di meja: Tujuh tahun sebelum semua dimulai.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!