NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melarikan diri

Semua berawal dari ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tidak menyadari anaknya tertinggal di belakangnya.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba "brukk" mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara.

Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan. Gerakan sederhana itu, membuat puluhan prajurit terpental.

Sany hanya berkata, "Ikuti aku,"

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, dan memberinya uang. Sany pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi anak itu tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan

bertemu lagi dengannya.

Namun, sebelum itu. Dia sendiri tidak tahu berada di mana. Ia mulai berjalan menuju ke arah yang tidak pasti.

Hening.

Hanya suara sandal jepitnya yang menggesek jalanan. Sesekali angin menggoyang rambutnya, tapi ia tidak menepis. Matanya lurus ke depan, tapi kosong. Kosong seperti masa depannya yang tak punya peta.

Dia berjalan dan terus berjalan.

Sampai di sudut jalan yang hampir gelap, matanya menangkap nyala lampu temaram. Sebuah kios kecil yang masih terbuka. Papan kayu tua bergantung di atas pintu, dan di atasnya terukir lusuh:

Jasa Peramal.

Ia berhenti.

Angin berembus lebih kencang seolah memberi peringatan. Atau ajakan.

Ia ragu sejenak. Tapi entah mengapa, kakinya tetap melangkah masuk.

Di dalam.

Ia melihat seorang perempuan yang sedang melukis sesuatu di pasir.

Dia terlihat muda, tapi usia aslinya tidak ada yang tahu.

"Permisi," ucapnya dengan ragu.

"Iya," balas perempuan itu tanpa menoleh.

Tangannya masih sibuk melukis, lembut dan hati-hati, seolah-olah setiap goresan pasir adalah nyawa.

"Bisakah kau membantuku?"

Perempuan itu menghela nafas, dan berkata.

"Bisa,"

"Ha?" anak itu terkejut.

"Tapi aku belum menjelaskannya,"

Perempuan itu berhenti melukis. Untuk pertama kalinya ia menatap wajah pengunjung malam itu.

"Tidak perlu," katanya dengan suara pelan.

Suaranya dingin, tapi anehnya membawa kehangatan.

"Aku sudah tahu masalahmu,"

Diam sejenak. Hanya suara pasir yang bergeser karena angin dari celah pintu.

"Lalu," suara pengunjung itu bergetar tipis,

"bagaimana solusinya?"

"Sebelum itu, perkenalkan dirimu dulu. Aku belum tahu nama dan kemampuanmu," jawabnya sebelum membantu.

Ia menghela napas. Ia sadar, tidak semua orang bisa percaya begitu saja.

"Mungkin setelah itu, aku bisa membantumu," sambung perempuan itu.

"Namaku Mizuki. Aku punya kemampuan untuk meniru apa saja,"

Mizuki mulai memperlihatkan kemampuannya. Seluruh tubuhnya perlahan memancarkan cahaya putih.

Samar di awal, lalu semakin terang.

Bentuknya mulai berubah, melebar, merapat, hingga dalam sekejap ia berubah sempurna menjadi lampu tidur kecil yang sama persis dengan yang ada di sudut ruangan.

Setelah itu, ia kembali menjadi ke wujud manusianya.

Perempuan itu hanya mengangguk. Wajahnya datar. Matanya tidak berkedip. Seperti tidak terkesan sama sekali.

"Hmm," suaranya pelan, tapi menusuk.

"Dengan kemampuanmu sekarang dan masalah yang kau hadapi... sepertinya sulit bagimu untuk bertemu ibumu,"

Mizuki tersentak. Jantungnya berdegup kencang.

"Kumohon, bantu aku. Aku akan memberikan semua uangku,"

Tangan Mizuki gemetar saat mengeluarkan isi kantongnya. Beberapa koin, dan satu kalung kecil yang sudah pudar. Semuanya diletakkan di atas meja kayu yang usang.

Perempuan itu menatap tumpukan uang itu beberapa saat. Matanya bergerak pelan, lalu berhenti pada satu koin emas di sudut meja.

Ia mengambilnya.

"Aku akan membantumu," katanya.

Dia mendorong sisa uang itu kembali ke arah Mizuki dengan ujung jarinya yang lentik.

"Kau bisa mengambil sisanya,"

Mizuki menelan ludah.

"Terima kasih," ucapnya dengan lega. Suaranya masih bergetar, tapi hatinya sedikit tenang.

Mereka berdua mulai membahas sesuatu.

"Kau tahu masalah yang menimpa ibumu?" tanya perempuan itu. Matanya tajam, seperti pisau yang perlahan menghunus sarung.

Mizuki menggeleng pelan. "Aku tidak tahu,"

Perempuan itu menghela napas. Panjang. Berat. Seperti membuang sesuatu yang sudah lama ia pendam.

"Aku kira kau tahu,"

Mizuki terdiam. Ada yang mengganjal di dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Emang... masalah apa yang menimpa ibuku?" Suaranya kecil. Seperti anak kecil yang takut mendengar jawaban.

Perempuan itu menunduk sesaat. Lalu menatap Mizuki. Tatapan yang membuat bulu kuduknya merinding.

"Ibumu dituduh sebagai anggota kelompok pemberontak istana,"

Mizuki merasa bumi di bawah kakinya tiba-tiba hilang.

"Apa?"

Dia mundur selangkah. Dua langkah. Hingga punggungnya membentur dinding kayu kios yang lapuk.

"Apa?!" ulangnya lebih keras. Suaranya pecah. Tangannya mengepal. Seluruh tubuhnya gemetar.

"Tapi... kenapa? Kenapa?! Ibu tidak mungkin... dia tidak pernah..."

Perempuan itu tetap duduk tenang. Angin dari celah pintu masuk membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

"Aku tahu," potong perempuan dengan suara pelan.

"Menurutku, itu tuduhan yang serius,"

Ia berhenti. Matanya menyorot Mizuki seperti membaca sesuatu yang tak terucapkan.

"Kau tahu... istana tidak perlu butuh bukti untuk menghukum seseorang,"

Mizuki jatuh terduduk. Air matanya tumpah. Bahunya tersedu-sedu, tangannya menggenggam erat ujung bajunya sendiri, seperti berusaha menahan tubuhnya agar tidak hancur berkeping-keping.

"Jangan menangis," suara perempuan itu tegas, tapi tidak dingin.

"Menangis tidak akan mempertemukanmu dengan ibumu,"

Mizuki terdiam. Napasnya masih tersengal. Perlahan, ia menatap perempuan itu. Matanya sembab, merah, tapi sesuatu mulai muncul di sana.

"Lalu," suaranya serak, nyaris tak terdengar.

"Aku harus bagaimana?"

Perempuan itu menatapnya lama. Matanya seperti menyelam hingga ke dasar jiwa Mizuki.

"Aku akan melatihmu,"

Mizuki mengerjap. Keningnya berkerut.

"Melatihku?"

"Iya," Perempuan itu berdiri.

"Kau harus menjadi kuat sebelum mendaftar sebagai anggota Guild,"

"Kenapa?" Mizuki ikut berdiri, masih belum mengerti.

Perempuan itu hendak membuka suara. Bibirnya sudah terbuka.

Tapi...

Terdengar suara langkah kaki berat, yang mulai mendekat.

Dari sela-sela papan kayu kios yang lapuk, Mizuki melihat banyak prajurit kerajaan.

Perempuan itu bergerak cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan Mizuki.

"Cepat sembunyi," bisiknya sambil mendesak.

"Mereka datang mencarimu,"

Mizuki tidak sempat bertanya. Jantungnya berdegup begitu keras, seolah ingin keluar dari dadanya. Ia hanya mengangguk sekali, dengan cepat.

Lemari tua di sudut ruangan. Pintunya mengerang pelan saat dibuka.

Mizuki meringkuk di dalam. Aroma kayu lapuk dan debu memenuhi lubang hidungnya.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Langkah kaki prajurit istana semakin dekat.

Bumi terasa bergetar. Atau mungkin hanya tubuh Mizuki yang gemetar tak terkendali di balik lemari.

Ia menggigit bibirnya, sampai hampir berdarah. Jantungnya berdebar begitu kencang, seperti ingin memecahkan tulang rusuknya sendiri.

Dari celah sempit pintu lemari, ia melihat.

Pintu kios terbuka lebar. Sembilan orang prajurit kerajaan masuk berbaris. Seragam hitam mereka berkilat terkena lampu temaram. Helm tertutup rapat, dan senapan laser.

Semuanya mengarah ke satu sasaran.

Dimana anak itu?" suara prajurit di depan.

Ujung senapannya menyentuh dahi perempuan itu.

Tapi perempuan itu tidak bergerak. Tidak berkedip.

Ia hanya tersenyum.

Bibirnya tersenyum, tapi matanya seperti lautan beku di tengah musim dingin.

"Anak apa?" tanyanya balik.

Suaranya datar. Tenang. Seolah-olah yang menodongnya bukan senapan maut, tapi sebatang lilin.

"Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak prajurit lain.

"Kami tahu dia masuk ke sini!"

Salah satu prajurit mulai mengamati ruangan. Matanya menyusuri setiap sudut.

Meja. Pasir. Lampu tidur.

Dan kemudian, tatapannya berhenti.

Tepat ke arah lemari.

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!