Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kawah Puncak Merah dan Serigala Mata Satu
Udara di sekitar Kawah Puncak Merah bergetar karena suhu panas yang ekstrem. Semakin jauh Lin Tian melangkah mendaki tebing vulkanik, pepohonan berdaun hijau perlahan digantikan oleh pepohonan mati yang hangus menjadi arang. Tanah di bawah kakinya terasa seperti pelat besi yang dipanggang di atas tungku.
Lin Tian menyembunyikan seluruh fluktuasi Qi miliknya dan merayap tanpa suara di balik formasi batu obsidian raksasa di bibir tebing. Dari ketinggian itu, ia menatap ke dasar kawah yang luas.
Pemandangan di bawah sana membuat napasnya sedikit tertahan.
Di tengah kolam lava yang mendidih dan meletup-letup, terdapat sebuah daratan kecil dari batu hitam legam. Tepat di tengah daratan itu, tumbuh sekuntum bunga teratai seukuran dua kepalan tangan. Berbeda dengan teratai air yang suci, bunga ini memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan. Akar-akarnya yang setebal pergelangan tangan menembus batu hitam, menyedot energi langsung dari dalam inti lava.
Lapisan kabut ungu tipis beracun melayang di sekitar teratai tersebut, melindungi sang herbal dari siapa pun yang berani mendekat secara gegabah.
"Bunga Teratai Api Berdarah," batin Lin Tian, matanya berkilat penuh hasrat.
Namun, pandangannya segera beralih ke formasi pertahanan yang mengelilingi tepian kolam lava. Lebih dari seratus anggota Kelompok Taring Darah berdiri melingkar dengan senjata terhunus. Mayoritas berada di ranah Mortal tingkat tiga dan empat, belasan letnan di tingkat lima, dan tiga kapten di tingkat enam.
Formasi itu dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa yang duduk di atas kursi berukir tengkorak hewan. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang dipenuhi bekas luka. Sebuah penutup mata hitam menutupi mata kirinya, sementara mata kanannya memancarkan kekejaman murni. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tombak perak tebal bergerigi.
Itu adalah Serigala Mata Satu. Fluktuasi energi yang menguar dari tubuhnya sesekali mendistorsi udara di sekitarnya—bukti nyata dari kekuatan ranah Mortal tingkat tujuh puncak.
"Waktunya hampir tiba, Bos!" lapor salah satu kapten tingkat enam, membungkuk hormat. "Kelopak kelima mulai membuka. Dalam hitungan menit, teratai itu akan mekar sempurna."
Serigala Mata Satu tertawa parau, suaranya mengalahkan suara gemuruh lava. "Hahaha! Bagus! Jaga perimeter! Jika ada burung atau serangga yang berani mendekati kawah ini, panah sampai hancur! Begitu aku menyerap teratai ini, aku akan langsung menembus tingkat delapan. Saat itu tiba, Kelompok Taring Darah tidak lagi harus bersembunyi di pegunungan kumuh ini. Kita akan meratakan sekte-sekte kecil di perbatasan dan membangun kerajaan kita sendiri!"
Sorak-sorai buas meledak dari ratusan tentara bayaran itu.
Di atas tebing, otak Lin Tian berputar cepat layaknya mesin hitung. Jika ini adalah pertarungan satu lawan satu, ia yakin bisa membunuh Serigala Mata Satu dengan mengandalkan Tinju Runtuh Sembilan Lapis lapis kedua atau ketiga. Namun, dengan ratusan bawahan yang siap menebasnya dari segala arah, ia akan terkuras habis sebelum bisa mendekati sang bos. Ia tidak boleh bertarung frontal.
Ia menatap dinding tebing vulkanik yang rapuh di atas kolam lava, lalu menatap kabut beracun dan letupan magma di bawah. Sebuah rencana gila melintas di kepalanya.
WUSH!
Sebuah gelombang panas yang dahsyat tiba-tiba meledak dari tengah kolam lava, menyapu seluruh kawah. Suhu melonjak drastis hingga membuat beberapa tentara bayaran tingkat rendah menjerit dan jatuh berlutut karena kulit mereka melepuh.
Di tengah pulau batu hitam, kelopak kesembilan dari Teratai Api Berdarah perlahan membuka. Aroma manis yang memabukkan menembus bau belerang, menandakan herbal spiritual tingkat menengah itu telah matang sempurna.
"Mekar! Teratai itu milikku!" raung Serigala Mata Satu. Ia melompat dari kursinya, mengalirkan Qi biru pekat yang melindungi tubuhnya dari panas lava, dan melesat maju melintasi jembatan batu sempit menuju tengah kolam.
Tepat pada detik Serigala Mata Satu melompat, Lin Tian bergerak.
Ia tidak melompat ke arah teratai, melainkan menjatuhkan dirinya dari tebing tinggi ke arah dinding kawah yang dipenuhi retakan vulkanik. Saat melayang turun, Lin Tian memutar seluruh Qi ungu keemasan di meridiannya dan mengompresinya secara brutal ke lengan kanannya.
Cahaya keemasan meledak menyilaukan mata dari atas kawah, menarik perhatian ratusan tentara bayaran di bawah.
"Siapa di sana?!" teriak salah satu kapten.
"Tinju Runtuh Sembilan Lapis..." desis Lin Tian di udara, mengarahkan tinjunya bukan pada manusia, melainkan pada titik terlemah dari dinding vulkanik kawah tersebut. "...Lapis Pertama!"
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan yang jauh lebih dahsyat dari letusan meriam menghantam tebing kawah. Gelombang kejut ungu keemasan menghancurkan ratusan ton batu obsidian. Dinding kawah runtuh seketika, menciptakan longsoran batu raksasa yang bercampur dengan debu tebal, meluncur deras menimpa kolam lava di bawah.
BYUR! WUSHHH!
Batu-batu raksasa menghantam magma, menciptakan tsunami lava setinggi belasan meter yang menyapu ke arah formasi tentara bayaran. Jeritan histeris dan lolongan kesakitan meledak seketika saat puluhan anggota Taring Darah tersapu oleh cairan api mendidih tersebut.
"BEDEBAH! APA YANG TERJADI?!" Serigala Mata Satu, yang baru saja berada di pertengahan jembatan batu, terpaksa menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak melihat ombak lava dan bongkahan batu raksasa menukik tepat ke arahnya.
Sambil mengutuk marah, ia menyalurkan seluruh kekuatannya ke tombak bergeriginya dan memutar senjatanya untuk menciptakan pusaran angin Qi guna menahan hujan batu dan magma.
Dalam kekacauan debu, letupan lava, dan jeritan kepanikan itu, sesosok bayangan abu-abu melesat menyusuri dinding tebing yang tersisa dengan kecepatan yang tak masuk akal. Tubuh bayangan itu dilapisi oleh lapisan tipis Qi ungu keemasan yang menolak panas magma dan racun ungu secara mutlak.
Itu adalah Lin Tian.
Memanfaatkan kebutaan sesaat dari Serigala Mata Satu yang sedang menangkis batu raksasa, Lin Tian mendarat di pulau batu hitam di tengah kolam. Tangannya melesat cepat, mencabut Teratai Api Berdarah beserta akarnya, dan langsung memasukkannya ke dalam kantong spasial.
Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, ia menjejakkan kakinya dengan kekuatan murni Beruang Punggung Besi, melompat sejauh tiga puluh meter ke udara, meminjak puing-puing batu yang beterbangan sebagai pijakan, dan melesat ke arah tebing yang berlawanan.
Hujan batu mereda seiring dengan pendaratan terakhir Lin Tian di bibir tebing seberang.
Di bawah sana, Serigala Mata Satu baru saja menghancurkan bongkahan batu terakhir yang menghalanginya. Ia menoleh ke arah pulau batu hitam. Kosong. Bunga Teratai yang diimpikannya telah lenyap, hanya menyisakan lubang bekas cabutan di batu.
Urat-urat di leher Serigala Mata Satu menonjol hingga nyaris meletus. Matanya yang tersisa satu menjadi semerah darah. Ia mendongak ke atas tebing dan melihat sesosok pemuda berjubah abu-abu menatapnya dengan dingin.
"Herbalnya cukup bagus," ucap Lin Tian datar, suaranya diperkuat oleh Qi hingga terdengar jelas menembus kawah. "Aku mengambilnya."
Setelah mengatakan itu, Lin Tian berbalik dan menghilang ke dalam rimbunnya Hutan Darah Besi.
"BAJINGAAAAAAAAAN!"
Raungan Serigala Mata Satu menggetarkan seluruh kawah, membawa niat membunuh yang cukup tebal untuk memadatkan darah. Ia menghentakkan tombaknya hingga jembatan batu di bawahnya hancur.
"Semuanya, bangun! Tinggalkan yang mati! Kejar bocah itu! Aku akan menguliti kulitnya hidup-hidup, meminum darahnya, dan mengambil terataiku kembali! PENGGAL KEPALANYA!"
Ratusan tentara bayaran yang tersisa bangkit dari puing-puing dengan amarah yang mendidih, melesat mengejar bayangan Lin Tian layaknya sekawanan anjing neraka yang dilepas dari rantainya.