BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Penawaran dari Sang Ratu
Gedung pencakar langit Rani Group berdiri kokoh bak menantang langit malam Jakarta yang temaram. Bagi Riko, gedung ini adalah simbol dari semua hal yang gagal dia raih. Dulu, dia bermimpi bisa membangun gedung setinggi ini bersama Rani. Namun kini, dia datang ke sini bukan sebagai rekan sejajar, melainkan sebagai seorang pecundang yang sedang diujung tanduk.
Langkah kaki Riko menggema pelan di atas lantai marmer mengilap saat dia keluar dari lift khusus yang membawanya langsung ke lantai paling atas—lantai lima puluh. Begitu pintu lift terbuka, dia langsung disambut oleh pintu kaca ganda berbingkai emas yang menuju ke ruang kerja utama sang CEO.
Gita, asisten Rani yang sudah menunggunya, langsung berdiri dari meja sekretaris. "Ibu Rani sudah menunggu di dalam, Pak Riko. Silakan masuk."
Riko hanya mengangguk samar. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang tercecer, lalu mendorong pintu kaca tersebut.
Aroma lilin aromaterapi beraroma kayu cendana yang menenangkan langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta di malam hari. Di balik sebuah meja kerja berbahan marmer hitam yang megah, seorang wanita sedang duduk sembari menatap dokumen di tablet digitalnya.
Rani.
Wanita itu mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang pas di tubuhnya, mempertegas kesan elegan sekaligus berkuasa. Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan tergerai indah di bahunya. Parasnya secantik dulu, bahkan kini memancarkan aura kedewasaan dan ketegasan seorang Alpha Woman yang sangat kuat.
Mendengar suara langkah kaki, Rani meletakkan tabletnya. Sepasang mata indahnya yang tajam langsung menatap lurus ke arah Riko. Tidak ada senyum mengejek di wajahnya, hanya ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Tepat waktu. Jam sembilan kurang dua menit. Aku senang kamu tidak membiarkan gengsimu menang kali ini, Riko," suara Rani terdengar merdu, namun sarat akan penekanan yang dingin.
Riko berjalan mendekat, lalu berhenti tepat tiga langkah di depan meja Rani. Dia menolak untuk duduk di kursi yang tersedia sebelum dipersilakan, memilih berdiri tegap demi menjaga wibawanya yang tersisa.
"Jangan bertele-tele, Rani," ujar Riko dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin mungkin. "Asistenmu bilang kamu tahu tentang masalah bank yang kuhadapi. Jadi, katakan saja apa maumu. Kamu memanggilku ke sini pasti bukan hanya untuk menikmati pemandangan seorang rival yang sedang hancur, bukan?"
Rani menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan. "Kenapa tidak? Melihat pria yang tiga tahun lalu pergi sambil membanting pintu kantorku dan bersumpah akan menghancurkanku, sekarang berdiri di sini tanpa daya... bukankah itu pemandangan yang sangat memuaskan?"
Rahang Riko mengatup rapat. Urat di pelipisnya berdenyut. "Kalau kamu hanya ingin menghinaku, aku pergi sekarang. Aku lebih baik melihat kantor dan rumahku disita besok daripada harus berdiri di sini mendengar bualanmu!"
Riko berbalik, bersiap melangkah pergi. Gengsinya berontak hebat. Namun, baru dua langkah dia berbalik, suara Rani kembali menghentikannya.
"Aset pribadimu mungkin bernilai dua miliar, Riko. Sisa utangmu empat setengah miliar. Kalau bank menyita semuanya, kamu masih punya sisa utang dua setengah miliar yang harus dibayar. Kamu tahu apa artinya? Kamu akan berakhir di balik jeruji besi atas tuduhan penipuan korporat dan gagal bayar. Lalu bagaimana dengan nasib para karyawanmu? Tiga puluh kepala keluarga akan kehilangan pekerjaan dalam semalam karena keegoisan bos mereka."
Kata-kata Rani bagai belati yang menusuk tepat di ulu hati Riko. Langkah kaki Riko terpaku di lantai. Rani tahu persis di mana titik lemahnya.
Rani bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja marmernya dengan langkah yang anggun, lalu berhenti tepat di samping Riko. Dia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam pekat dari laci meja, lalu meletakkannya di atas meja. Di samping map itu, Rani menjatuhkan sebuah lembaran cek tunai yang sudah ditandatangani. Di sana tertulis angka yang sangat jelas: Rp 4.500.000.000,-.
Mata Riko terbelalak menatap cek tersebut. Uang yang bisa menyelamatkan seluruh hidupnya kini berada hanya beberapa sentimeter dari jangkauannya.
"Aku bisa mencairkan uang itu ke rekening bankmu malam ini juga. Detik ini juga, semua masalah utangmu selesai. Pratama Corp bisa tetap beroperasi, dan rumah orang tuamu aman," ucap Rani pelan, matanya menatap lekat pada wajah Riko yang tampak tegang.
Riko menelan ludah dengan susah payah. "Apa syaratnya? Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, apalagi dari seorang Rani. Apa yang kamu inginkan sebagai gantinya? Saham perusahaanku? Atau kamu ingin aku menjadi pesuruhmu?"
Rani tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Riko meremang. Rani membuka map hitam tersebut, menampilkan beberapa lembar kertas dokumen dengan judul yang dicetak tebal di bagian atasnya.
Riko menunduk untuk membaca judul tersebut. Begitu matanya menangkap untaian kata di sana, napasnya seolah tercekat di tenggorokan.
SURAT PERJANJIAN KONTRAK PERNIKAHAN
Riko menatap Rani dengan tatapan tidak percaya, mengira wanita di hadapannya ini sedang membuat lelucon paling gila sedunia. "Pernikahan... kontrak? Kamu sudah gila, Rani?!"
"Aku sangat waras, Riko," balas Rani tenang, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Aku bayar seluruh utangmu sebesar empat setengah miliar rupiah. Dan imbalannya, kamu harus menjadi suamiku di atas kertas selama satu tahun. Tanda tangani ini, dan kita menikah besok pagi."
Riko tertawa hambar, kepalanya menggeleng frustrasi. "Ini tidak masuk akal! Kamu adalah wanita terkaya dan paling sukses di industri ini. Ribuan pria kaya, anak pejabat, dan konglomerat mengantre untuk mendapatkanmu. Kenapa kamu harus 'membeli' seorang CEO bangkrut seperti aku untuk jadi suamimu? Apa ini taktik barumu untuk mempermalukanku di depan umum?!"
Rani berjalan menuju dinding kaca, menatap lampu-lampu kota yang berpendar di bawah sana. Sisi ketegasan yang tadi dia tampilkan perlahan surut, digantikan oleh gumpalan kelelahan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
"Karena aku tidak punya pilihan lain, Riko," gumam Rani, suaranya melembut namun terdengar getir. "Ibuku... dia memaksaku untuk menikah dengan Hendra, anak dari rekan bisnisnya, minggu depan. Kamu tahu siapa Hendra, bukan? Pria arogan yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tuanya dan mengincar aset Rani Group. Aku menolak, tapi ibuku mengancam akan menggunakan hak suaranya di dewan komisaris untuk mendepakku dari posisi CEO jika aku tidak membawa calon suami pilihanku sendiri dalam waktu tiga hari."
Rani berbalik, kembali menatap Riko dengan mata yang berkilat penuh determinasi. "Aku tidak sudi menyerahkan perusahaan yang kubangun dengan darah dan air mata ini kepada pria seperti Hendra. Aku butuh suami pajangan. Suami yang cerdas, yang tahu dunia bisnis agar bisa mengelabui ibuku dan dewan komisaris, dan yang paling penting... suami yang posisinya bisa kukendalikan lewat kontrak agar tidak berani menyentuh harta perusahaanku."
Rani melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Riko bisa mencium aroma parfumnya yang memabukkan.
"Kamu memenuhi semua kriteria itu, Riko. Kamu cerdas, kamu tahu seluk-beluk bisnis, aku tahu latar belakangmu, dan yang paling penting... kamu sedang butuh uangku untuk selamat. Hubungan kita murni bisnis. Satu tahun pernikahan palsu, setelah itu kita bercerai dan kamu bebas dengan perusahaanmu yang sudah pulih. Bagaimana?"
Riko terdiam seribu bahasa. Otak bisnisnya berputar cepat, menimbang-nimbang setiap risiko. Di satu sisi, harga dirinya berteriak menolak menjadi suami sewaan dari wanita yang menjadi rivalnya. Namun di sisi lain, ini adalah satu-satunya jalan keluar logis dari kehancuran total. Tidak ada kerugian finansial baginya, hanya harga dirinya yang dipertaruhkan.
Mata Riko beralih dari wajah Rani, lalu turun menatap pena hitam yang terletak di atas map kontrak tersebut. Tangannya bergerak perlahan, meraih pena itu dengan jemari yang masih sedikit kaku.
"Satu tahun, Rani," ujar Riko dengan nada suara yang berat dan penuh penekanan. "Hanya satu tahun. Di depan publik aku akan memainkan peran sebagai suamimu dengan sempurna. Tapi ingat, setelah kontrak ini selesai... kita kembali menjadi asing. Dan uang empat setengah miliar ini... akan kuanggap sebagai pinjaman yang akan kukembalikan beserta bunganya."
Rani mengangguk, menyetujui syarat tambahan tersebut. "Kesepakatan yang bagus. Silakan tanda tangan, Suamiku."
Dengan helaan napas panjang yang menandai berserahnya sang elang yang terluka, Riko menurunkan penanya ke atas kertas, menggoreskan tanda tangannya di atas meterai. Sebuah tanda tangan yang tidak hanya mengubah status finansialnya dalam semalam, melainkan mengikat seluruh hidup dan hatinya ke dalam sebuah permainan takdir yang paling berbahaya bersama sang ratu bisnis.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄