NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kesepakatan yang Tidak Diinginkan

Pagi hari setelah gala dinner seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Almira Valencia Pradipta.

Acara Indonesia Future Business Summit telah memasuki hari terakhir.

Setelah sesi penutupan selesai, semua peserta akan kembali ke kehidupan masing-masing.

Tidak ada lagi seminar. Tidak ada lagi sesi diskusi. Tidak ada lagi kamera media yang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan.

Dan yang paling penting, tidak ada lagi Reynard Arsenio Mahardika.

Setidaknya itulah yang Almira harapkan.

Sayangnya, harapan dan kenyataan sering kali tidak berada di pihak yang sama.

Almira duduk di dekat jendela restoran hotel sambil memegang secangkir kopi yang sudah mulai dingin.

Sejak bangun pagi, ia sudah membaca pesan dari panitia sebanyak tujuh kali.

Isinya tidak berubah.

Dan itulah masalahnya.

SELAMAT! ANDA TERPILIH MENGIKUTI PROGRAM KOLABORASI EKSKLUSIF PESERTA MUDA.

Di bawah kalimat itu terdapat empat nama.

Nama pertama:

Almira Valencia Pradipta

Nama kedua:

Reynard Arsenio Mahardika

Nama ketiga:

Keisha Hartono

Nama keempat:

Darren Wijaya

Almira menghela napas panjang.

Jika seseorang mengatakan bahwa semua ini hanya kebetulan, ia sudah tidak percaya lagi.

Tidak mungkin.

Tidak setelah semua yang terjadi selama tiga hari terakhir.

Ponselnya bergetar.

Nama Nadia muncul di layar.

Almira langsung menyesal mengangkat panggilan itu.

"Aku baru lihat foto gala dinner."

Almira langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Jangan."

"Kalian benar-benar terlihat seperti pasangan."

"Nadia."

"Bahkan ibuku mengira kalian tunangan."

Almira memejamkan mata.

"Aku tidak ingin tahu kenapa ibumu melihat foto itu."

"Karena viral."

"Tentu saja."

Nadia tertawa puas.

"Kapan aku dikenalkan?"

Klik.

Almira menutup panggilan tanpa rasa bersalah.

Di lantai yang berbeda, Reynard sedang mengalami penderitaan yang hampir sama.

Bedanya, sumber masalahnya adalah Raka.

"Jadi kalian masuk program yang sama lagi?"

"Iya."

"Hebat."

"Tidak."

"Takdir memang indah."

"Raka."

"Aku serius."

"Kamu tidak pernah serius."

"Itu benar."

Reynard langsung mematikan telepon.

Lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Anehnya, ia tidak benar-benar kesal.

Atau mungkin lebih tepatnya, ia terlalu lelah untuk kesal.

Karena jauh di dalam pikirannya, ada satu pertanyaan yang terus muncul.

Kenapa mereka terus dipertemukan?

Pukul sembilan pagi, keempat peserta program kolaborasi berkumpul di ruang konferensi khusus yang berada di lantai dua belas hotel.

Ruangan itu jauh lebih kecil dibanding ballroom utama.

Suasananya lebih tenang.

Lebih formal.

Dan jauh lebih cocok untuk bekerja.

Almira tiba lebih dulu.

Setidaknya itulah yang ia kira.

Begitu membuka pintu ruangan, ia langsung berhenti.

Karena seseorang sudah berada di sana.

Reynard.

Pria itu duduk di dekat jendela sambil membaca dokumen yang dibagikan panitia.

Ketika melihat Almira masuk, ia hanya menganggukkan kepala.

Almira membalas dengan anggukan singkat.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada percakapan.

Namun kali ini keheningan mereka terasa berbeda.

Tidak seburuk sebelumnya.

Tak lama kemudian dua peserta lainnya datang.

Keisha Hartono.

Seorang wanita energik yang terkenal sebagai pendiri platform pendidikan digital terbesar di Asia Tenggara.

Dan Darren Wijaya.

Pria ramah yang sudah memimpin salah satu perusahaan logistik keluarganya sejak usia dua puluh enam tahun.

Dalam waktu kurang dari lima menit, Keisha sudah membuat suasana menjadi lebih hidup.

"Jadi kalian berdua yang viral itu?"

Almira langsung menyesal duduk di ruangan tersebut.

Reynard tampak ingin pindah negara.

"Itu hanya kesalahpahaman," jawab Almira.

"Tentu."

Keisha tersenyum lebar.

Jawaban yang sama sekali tidak terdengar percaya.

Darren bahkan lebih parah.

"Aku bertaruh kalian akan menikah dalam lima tahun."

"Keluar."

"Itu bukan cara memperlakukan rekan satu tim."

Untungnya fasilitator segera datang.

Namanya Aditya.

Seorang konsultan bisnis yang cukup terkenal.

Ia berdiri di depan ruangan sambil menyalakan layar presentasi.

"Selamat pagi semuanya."

Para peserta menjawab salamnya.

"Hari ini kalian akan mengikuti Program Kolaborasi Eksklusif."

Slide pertama muncul.

"Tujuan program ini adalah menguji kemampuan kolaborasi para pemimpin muda."

Almira mulai merasa tidak nyaman.

Kata "kolaborasi" terdengar berbahaya.

Terutama setelah melihat nama peserta kedua dalam daftar.

Aditya melanjutkan penjelasannya.

Setiap tim harus membuat proposal bisnis yang menggabungkan beberapa sektor sekaligus.

Teknologi.

Distribusi.

Investasi.

Dan pemberdayaan UMKM.

Mereka hanya diberi waktu dua jam.

Setelah itu proposal harus dipresentasikan di depan para mentor dan investor yang hadir.

Ruangan langsung menjadi serius.

Karena semua peserta tahu bahwa kesempatan seperti ini sangat berharga.

Kemudian tibalah momen yang menentukan.

Pembagian tim.

Aditya membuka daftar peserta.

"Tim pertama..."

Almira langsung punya firasat buruk.

"...Almira Valencia Pradipta dan Reynard Arsenio Mahardika."

Hening.

Keisha langsung menunduk.

Darren memalingkan wajah.

Keduanya berusaha keras menahan tawa.

Sementara Almira dan Reynard tampak sama-sama pasrah.

Takdir jelas sedang menikmati pertunjukan ini.

Begitu sesi dimulai, mereka duduk berhadapan.

Sebuah laptop terbuka di tengah meja.

Namun tidak ada yang berbicara.

Tiga puluh detik.

Empat puluh detik.

Lima puluh detik.

Akhirnya Reynard membuka suara.

"Kita tidak punya banyak waktu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu mari fokus."

"Aku juga ingin begitu."

"Bagus."

"Bagus."

Keisha yang mendengar percakapan itu langsung berbisik kepada Darren.

"Mereka seperti pasangan yang habis bertengkar."

"Pasangan yang belum sadar kalau mereka pasangan."

Sepuluh menit pertama berjalan buruk.

Sangat buruk.

Mereka kembali pada kebiasaan lama.

Saling membantah.

Saling mengoreksi.

Saling mengkritik.

"Kita perlu membuat platform nasional."

"Terlalu besar."

"Kalau terlalu kecil tidak akan menarik investor."

"Kalau terlalu besar tidak realistis."

"Kita harus berani mengambil risiko."

"Kita juga harus menghitung konsekuensinya."

Perdebatan terus berlangsung.

Namun kali ini berbeda.

Karena tidak ada emosi pribadi.

Tidak ada sindiran.

Mereka hanya benar-benar berbeda cara berpikir.

Dan anehnya, itu mulai terasa menarik.

Setelah sekitar tiga puluh menit, sesuatu mulai berubah.

Almira memperhatikan cara Reynard menganalisis pasar.

Pria itu mampu melihat peluang yang tidak dipikirkan orang lain.

Ia berani.

Visioner.

Dan cukup percaya diri untuk mempertahankan idenya.

Sementara Reynard mulai menyadari sesuatu yang sama.

Almira memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca risiko.

Ia memikirkan detail yang sering diabaikan.

Menemukan celah.

Memastikan setiap rencana memiliki fondasi yang kuat.

Awalnya mereka tampak bertolak belakang.

Namun perlahan mereka mulai memahami bahwa perbedaan itu justru bisa menjadi kekuatan.

Satu jam berlalu.

Proposal mulai terbentuk.

Mereka merancang sebuah platform digital yang menghubungkan UMKM daerah dengan jaringan distribusi nasional serta akses pendanaan.

Keisha dan Darren sesekali melirik ke meja mereka.

Dan semakin lama mereka semakin terkejut.

Karena dua orang yang awalnya terlihat seperti musuh ternyata bekerja sangat efektif ketika berada dalam satu tim.

Ketika Almira menyusun strategi implementasi, Reynard memperluas potensi pasar.

Ketika Reynard menciptakan ide baru, Almira memastikan ide itu bisa dijalankan.

Tidak ada lagi perdebatan yang tidak perlu.

Tidak ada lagi adu ego.

Yang ada hanyalah dua orang cerdas yang sedang mencoba menyelesaikan masalah bersama.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, mereka benar-benar berada di sisi yang sama.

Menjelang akhir sesi, seorang mentor bisnis menghampiri meja mereka.

Ia membaca proposal tersebut selama beberapa menit.

Kemudian tersenyum.

"Menarik."

Almira dan Reynard menunggu penjelasannya.

"Kalian tahu apa yang paling sulit dalam dunia bisnis?"

"Apa?" tanya Reynard.

"Menemukan partner yang bisa melengkapi kekurangan kita."

Pria itu menunjuk bagian proposal.

"Kamu terlalu berani."

Ia menunjuk Reynard.

"Kamu terlalu hati-hati."

Ia menunjuk Almira.

"Lalu entah bagaimana kalian berhasil menciptakan keseimbangan."

Mentor itu tersenyum.

"Itu langka."

Setelah pria tersebut pergi, keduanya terdiam.

Entah kenapa komentar itu terus terngiang di kepala mereka.

Sore hari, presentasi dimulai.

Ruangan dipenuhi investor dan mentor.

Ketika nama mereka dipanggil, Almira dan Reynard berjalan ke depan.

Untuk pertama kalinya, mereka berdiri sebagai satu tim.

Dan hasilnya mengejutkan banyak orang.

Presentasi berjalan nyaris sempurna.

Mereka saling melengkapi.

Saling mendukung.

Bahkan beberapa kali menyelesaikan kalimat satu sama lain tanpa sadar.

Investor yang hadir tampak terkesan.

Begitu pula para mentor.

Saat sesi penilaian selesai, hasil akhir diumumkan.

Proposal mereka meraih nilai tertinggi.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Keisha bersiul keras.

Darren berdiri memberikan tepuk tangan.

Almira menoleh ke arah Reynard.

Pria itu juga menatapnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Namun keduanya tahu satu hal.

Mereka tidak akan memenangkan kompetisi ini sendirian.

Mereka menang karena bekerja bersama.

Dan pengakuan itu terasa jauh lebih penting daripada trofi apa pun.

Setelah acara selesai, para peserta mulai bersiap pulang.

Di depan hotel, Almira memasukkan koper ke bagasi mobilnya.

Ia akhirnya bisa bernapas lega.

Summit ini selesai.

Kekacauan ini selesai.

Atau setidaknya begitu yang ia pikirkan.

Karena saat ia hendak masuk ke mobil, sebuah suara terdengar dari belakang.

"Almira."

Ia menoleh.

Reynard berdiri beberapa meter darinya.

Untuk sesaat suasana menjadi canggung.

Lalu pria itu mengulurkan tangan.

"Selamat atas kemenangannya."

Almira menatap tangan tersebut.

Kemudian tersenyum tipis.

"Selamat juga."

Ia menjabat tangan itu.

Singkat.

Sederhana.

Namun entah kenapa terasa berbeda.

Seolah mereka baru saja menutup satu babak.

Tanpa menyadari bahwa babak berikutnya sudah menunggu.

Karena jauh di tempat lain, empat orang tua yang tergabung dalam grup rahasia Proyek Masa Depan sedang tersenyum puas.

Tahap pertama berhasil.

Dan tahap kedua akan segera dimulai.

Sebuah tahap yang akan membuat Almira dan Reynard kembali bertemu.

Bukan sebagai peserta summit.

Bukan sebagai rekan satu tim.

Melainkan sebagai dua pewaris perusahaan yang akan dipaksa bekerja sama dalam dunia nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!