NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Cahaya lampu kristal menggantung tenang di atas ruang makan itu, memantulkan kilau lembut ke meja panjang yang dipenuhi hidangan mewah. Setiap detail tampak dipersiapkan dengan sempurna, dari susunan piring porselen hingga lilin-lilin ramping yang menyala stabil tanpa gangguan. Tidak ada yang terlihat salah di permukaan, semuanya tertata rapi seperti perayaan keluarga yang sudah direncanakan sejak lama.

Malam itu terasa hangat, tetapi kehangatan itu tidak sepenuhnya menenangkan. Ada sesuatu yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari biasanya, meski tidak cukup jelas untuk langsung dijelaskan. Seraphina duduk dengan punggung tegak, gaun merah anggurnya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya, sementara rambut panjangnya tergerai rapi di bahu.

Ia tampak seperti pusat dari seluruh suasana itu, seperti seseorang yang seharusnya menikmati setiap detik yang ada. Namun di balik ketenangan wajahnya, ada perasaan kecil yang terus mengganggu. Perasaan itu tidak memiliki bentuk, hanya hadir sebagai bisikan samar yang sulit diabaikan.

Di hadapannya, Darius tersenyum lembut seperti biasa. Tatapannya penuh perhatian, seolah seluruh fokusnya hanya tertuju pada Seraphina tanpa terpecah sedikit pun.

“Kamu terlihat cantik malam ini.”

Nada suaranya pelan, cukup untuk terdengar pribadi meski mereka berada di meja yang sama.

Seraphina membalas dengan senyum tipis. “Seharusnya aku yang mengatakan itu. Semua ini terlihat luar biasa.”

Ia tidak berbohong, karena semuanya memang tampak sempurna. Namun kata-kata itu tetap terasa sedikit hampa di telinganya sendiri, seperti diucapkan hanya untuk menjaga alur percakapan.

Darius mengangguk ringan, menerima pujian itu tanpa banyak reaksi. “Malam ini memang penting.”

Kata penting itu kembali terngiang di benak Seraphina, membuatnya tanpa sadar mencoba mengingat sesuatu yang terasa samar. Ia tahu ini adalah sebuah perayaan, tetapi detailnya terasa seperti tertutup kabut tipis. Seharusnya ada alasan yang jelas, tetapi ia tidak bisa menangkapnya dengan pasti.

Di sisi kanan, Lysandra menatapnya dengan senyum manis yang tampak sempurna dari sudut mana pun. Tatapan itu hangat, penuh perhatian, tetapi ada sesuatu yang membuat Seraphina tidak sepenuhnya nyaman.

“Ibu harus menikmati semuanya. Kami sudah menyiapkan ini dengan sangat hati-hati.”

Kata kami terdengar ringan, seolah hanya bentuk kebersamaan biasa. Namun entah kenapa, Seraphina merasa ada makna lain yang tersembunyi di baliknya, sesuatu yang tidak diucapkan secara langsung.

Ia mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Jawaban itu sederhana, tetapi ia tidak menambahkan apa pun setelahnya. Ada jeda kecil yang tidak diisi, lalu suasana kembali berjalan seperti semula.

Di sisi lain meja, Kael duduk tanpa banyak bergerak. Wajahnya tetap tenang, dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Ia tidak ikut berbicara, hanya sesekali mengalihkan pandangan ke arah mereka tanpa benar-benar terlibat.

Seraphina memperhatikannya lebih lama dari biasanya, mencoba membaca sesuatu dari sikapnya. Ada jarak yang terasa jelas, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam cara ia menempatkan dirinya di meja itu.

“Kael, kamu tidak lapar?”

Kael mengangkat pandangannya perlahan, menatap Seraphina tanpa perubahan ekspresi. “Sudah makan.”

Jawaban itu singkat, tidak memberi ruang untuk percakapan lanjutan. Tidak ada nada kasar, tetapi juga tidak ada kehangatan di dalamnya.

Seraphina tidak memaksanya berbicara lebih jauh. Ia hanya mengangguk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah gelas di depan Kael yang kosong sejak awal. Tidak ada anggur, tidak ada tanda ia akan menyentuh minuman apa pun malam ini.

Hal kecil itu seharusnya tidak penting, tetapi cukup untuk membuatnya berpikir lebih lama dari yang seharusnya.

“Setidaknya minum?”

Kael menggeleng tipis. “Tidak ingin.”

Nada suaranya tetap datar, seperti sebelumnya. Tidak ada penjelasan tambahan, dan ia tidak terlihat merasa perlu memberikan alasan.

Seraphina menarik napas pelan, mencoba mengabaikan hal itu. Ia kembali mengalihkan perhatiannya ke meja, membiarkan percakapan bergerak ke arah lain.

Darius mengangkat gelas anggurnya, memecah jeda yang mulai terasa terlalu lama.

“Kita belum bersulang.”

Gerakannya tenang, seolah semuanya berjalan sesuai rencana yang sudah ia pikirkan sebelumnya.

Seraphina mengikuti, mengangkat gelasnya perlahan. Cairan merah gelap di dalamnya berkilau terkena cahaya lilin, menciptakan pantulan halus yang tampak menenangkan.

“Untuk malam ini,” ucap Darius.

“Untuk malam ini,” ulang Lysandra dengan nada yang sama lembutnya.

Seraphina mengangguk kecil. “Untuk malam ini.”

Gelas mereka bertemu dengan bunyi pelan, tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk terdengar jelas di antara keheningan singkat itu.

Ia membawa gelas ke bibirnya, mencium aroma anggur yang lembut. Wangi manis yang familiar membuatnya sedikit rileks, setidaknya untuk sesaat.

Ia menyesapnya perlahan.

Hangatnya terasa menyebar di tenggorokan, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Rasa itu tidak sepenuhnya asing, namun juga tidak sepenuhnya dikenal.

Seraphina berhenti sejenak, membiarkan cairan itu meninggalkan jejak di lidahnya. Ia mencoba mengenali perbedaan itu, tetapi tidak menemukan jawaban yang jelas.

“Mengapa berhenti?”

Suara Darius terdengar ringan, seolah pertanyaannya hanya bentuk perhatian biasa.

Seraphina menatapnya. “Rasanya sedikit berbeda.”

Darius tersenyum tanpa ragu. “Itu karena ini kualitas terbaik. Kamu hanya belum terbiasa.”

Penjelasan itu terdengar masuk akal, cukup sederhana untuk diterima tanpa banyak pertanyaan. Lysandra ikut tertawa kecil, menambah kesan santai dalam percakapan mereka.

“Ibu memang jarang minum.”

Nada itu terdengar ringan, seperti candaan yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Tidak ada yang tampak mencurigakan dari luar.

Seraphina mengangguk, mencoba menganggapnya wajar. Ia kembali menyesap anggurnya, kali ini sedikit lebih banyak, membiarkan rasa hangat itu menyebar lebih luas.

Ia meletakkan gelasnya kembali ke meja, jemarinya masih menyentuh permukaan kaca yang dingin. Sensasi kontras itu terasa jelas, dingin di ujung jari dan hangat di dalam tubuhnya.

Percakapan kembali berjalan, dengan topik ringan yang tidak benar-benar ia ikuti. Darius berbicara dengan tenang, Lysandra menimpali dengan nada ceria, menciptakan suasana yang terlihat hidup.

Namun bagi Seraphina, semuanya mulai terasa sedikit menjauh. Suara mereka masih terdengar, tetapi tidak lagi terasa dekat seperti sebelumnya.

Ia berkedip pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Pandangannya masih jelas, tetapi ada sensasi ringan di kepalanya, seperti kehilangan keseimbangan tanpa benar-benar bergerak.

Seraphina menyentuh pelipisnya, mencoba memastikan semuanya masih normal. “Mungkin aku terlalu cepat minum,” gumamnya pelan.

Darius langsung memperhatikannya. “Kamu baik-baik saja?”

“Ya,” jawabnya cepat, meski suaranya terdengar sedikit lebih pelan.

Ia tidak ingin membuat suasana berubah hanya karena hal kecil. Lysandra menatapnya dengan perhatian yang tampak tulus, meski ada sesuatu yang sulit dijelaskan di baliknya.

“Kalau tidak nyaman, berhenti saja dulu.”

Seraphina tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”

Ia tidak langsung mengambil gelasnya lagi. Sebaliknya, ia mencoba fokus pada sekelilingnya, seolah ingin memastikan semuanya masih sama seperti beberapa menit yang lalu.

Cahaya lampu masih hangat, suara percakapan masih terdengar, tetapi ada lapisan tipis yang membuat semuanya terasa sedikit melayang. Ia tidak benar-benar kehilangan kendali, hanya merasa sedikit terlepas dari kenyataan.

Pandangan Seraphina kembali tertuju pada Kael. Anak itu masih duduk dengan posisi yang sama, tanpa menyentuh makanan atau minuman di depannya.

Tatapannya tenang, tetapi kali ini terasa berbeda. Ada kesan ia sedang mengamati, bukan sekadar melihat.

Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul, lebih jelas dari sebelumnya. Seraphina menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ia meraih gelasnya lagi, seolah ingin mengalihkan pikirannya. “Mungkin hanya perasaanku saja,” katanya dalam hati.

Ia menyesap sedikit, tidak sebanyak sebelumnya. Namun sensasi hangat itu kembali datang lebih cepat, menyebar tanpa jeda seperti sebelumnya.

Kepalanya terasa semakin ringan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menjaga fokusnya tetap stabil.

“Aku...” suaranya terhenti sebentar. “Sepertinya sedikit pusing.”

Darius langsung merespons dengan nada yang tetap lembut. “Karena kamu tidak terbiasa minum.”

Penjelasan itu kembali terdengar masuk akal. Seraphina mengangguk pelan, mencoba menerimanya tanpa berpikir lebih jauh.

Lysandra tersenyum. “Istirahat saja sebentar, ibu.”

Seraphina membalas senyum itu, meski gerakannya terasa sedikit lambat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba memberi tubuhnya waktu untuk menyesuaikan diri.

Pandangannya mulai sedikit kabur di bagian tepi. Bukan gelap, hanya tidak setajam sebelumnya.

Lampu kristal di atas tampak lebih terang, hampir menyilaukan. Pantulan cahayanya berlipat, membuat matanya sulit fokus dalam waktu lama.

Seraphina mengangkat tangan ke pelipisnya. “Kenapa…” gumamnya pelan.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena panik, tetapi seperti tubuhnya sedang bereaksi terhadap sesuatu yang tidak biasa.

Ia mencoba duduk lebih tegak, namun dunia terasa sedikit bergeser. Perubahan itu halus, tetapi cukup jelas untuk disadari.

“Seraphina?” suara Darius terdengar lagi, kali ini lebih dekat dari sebelumnya.

Ia menoleh perlahan, gerakan sederhana itu terasa lebih berat. “Aku hanya... sedikit pusing,” katanya, berusaha tetap terdengar tenang.

Ia tersenyum tipis, meski kepalanya semakin ringan. Suasana di meja masih sama, hangat dan tenang, seolah tidak ada yang berubah.

Namun bagi Seraphina, semuanya mulai terasa jauh. Seperti perlahan menjauh darinya tanpa bisa ia hentikan.

Dan tanpa ia sadari, jemarinya mengendur dari gelas anggur di tangannya. Gelas itu hampir terlepas, sementara rasa pusing itu semakin jelas, menyelimuti kesadarannya sedikit demi sedikit.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!