Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru yang Harum
Pagi ini, aroma kopi hitam dan roti panggang mentega memenuhi dapur kami. Tidak ada lagi suasana tegang, tidak ada lagi bisik-bisik rahasia di telepon, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayang-bayang map perak yang menghantui meja makan. Jakarta di luar jendela apartemen kami masihlah kota yang sama—bising, terburu-buru, dan penuh debu—tapi di dalam sini, waktu seolah berjalan lebih lambat dan lebih ramah.
Bimo duduk di depanku, masih mengenakan kaus oblong abu-abu favoritnya. Rambutnya agak berantakan, jauh dari citra CEO Wijaya Group yang biasanya klimis dan menakutkan di halaman depan koran bisnis. Dia sedang sibuk dengan tabletnya, tapi bukan memeriksa pergerakan saham, melainkan sedang membandingkan desain taman untuk renovasi gedung baru panti asuhan kami.
"Nara, menurutmu anak-anak lebih suka perosotan yang bentuknya spiral atau yang lurus biasa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
Aku menyesap kopi perlahan, menikmati rasa pahit yang pas. "Spiral, Bim. Di panti dulu, kami selalu membayangkan perosotan spiral itu seperti portal menuju dimensi lain. Lebih seru."
Bimo tersenyum, lalu mengetuk layar tabletnya dengan mantap. "Oke, dimensi lain masuk ke dalam anggaran. Kita juga butuh perpustakaan yang lebih luas. Aku mau mereka punya koleksi buku yang lengkap, bukan cuma buku pelajaran bekas, tapi novel-novel terbaru, komik, dan tentu saja... seluruh karya Nara Adrian."
Mendengar nama "Nara Adrian" disebut, jantungku masih memberikan reaksi kecil. Sebuah kebanggaan yang bercampur dengan rasa haru. Nama itu sekarang bukan lagi sekadar identitas di atas kertas, tapi simbol dari sebuah kebenaran yang sudah merdeka.
Setelah sarapan, aku bersiap menuju kantor yayasan. Hari ini adalah hari besar. Kami akan meresmikan program beasiswa "Adrian-Hendra", sebuah inisiatif untuk anak-anak jurnalis dan aktivis yang gugur dalam tugas. Ini adalah caraku dan Bimo untuk menyatukan dua sejarah yang selama ini saling bertolak belakang.
Di lobi gedung yayasan, aku bertemu dengan Panji. Pria itu tampak lebih segar, seolah beban menjadi "mata-mata" dan "penjaga" Bimo selama bertahun-tahun telah luruh.
"Siap untuk pidato pertamamu sebagai Direktur Yayasan, Mbak Nara?" goda Panji sambil menyerahkan setumpuk dokumen.
"Jangan panggil 'Mbak', Panji. Rasanya aku jadi sepuluh tahun lebih tua," balasku sambil tertawa. "Dan soal pidato, aku ini penulis. Menulis seribu halaman saja sanggup, tapi bicara di depan sepuluh orang saja rasanya mau pingsan."
"Tenang saja, Pak Bimo sudah menyiapkan tim pendukung. Dan katanya, kalau kamu gugup, lihat saja ke arahnya. Dia akan duduk di baris paling depan," Panji mengedipkan sebelah mata.
Acara dimulai satu jam kemudian. Ruangan aula kecil itu penuh dengan tamu undangan. Ada rekan-rekan jurnalis lama ayahku, ada anak-anak panti, dan tentu saja ada Ayah Hendra. Beliau duduk di baris depan, mengenakan batik terbaiknya, tampak sangat bangga. Di sampingnya, Bimo duduk dengan tegak, sesekali melambaikan tangan kecil padaku saat aku naik ke atas podium.
Aku menarik napas panjang. Mikrofon di depanku terasa sangat dingin.
"Terima kasih sudah datang," aku memulai, suaraku sedikit bergetar. "Selama ini, saya menghabiskan hidup saya untuk menulis cerita orang lain. Saya menciptakan karakter-karakter fiksi untuk melarikan diri dari kenyataan yang saya pikir terlalu menyakitkan. Tapi hari ini, saya berdiri di sini bukan sebagai karakter dalam novel seseorang. Saya berdiri di sini sebagai putri dari dua orang pria hebat."
Aku melirik ke arah Ayah Hendra, lalu ke arah Bimo.
"Yayasan ini dibangun bukan hanya dari dana perwalian, tapi dari keinginan untuk menebus waktu yang hilang. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita punya pena untuk menuliskan masa depan yang berbeda. Program beasiswa ini adalah bentuk penghormatan bagi mereka yang berani bicara saat orang lain diam, dan bagi mereka yang berani menjaga janji saat dunia menuntut mereka berkhianat."
Saat aku menutup pidato, ruangan itu riuh dengan tepuk tangan. Tapi bagiku, satu-satunya suara yang paling berarti adalah suara Bimo yang berbisik "Aku bangga padamu" saat aku kembali ke tempat duduk.
Sore harinya, kami memutuskan untuk mengunjungi makam ayah kandungku sekali lagi. Kali ini, suasananya berbeda. Kami membawa bunga matahari, bunga yang menurut Ayah Hendra sangat disukai ibu kandungku.
Kami duduk di atas rumput hijau yang rapi. Bimo membantu mencabut beberapa rumput liar yang mulai tumbuh di sela-sela batu alam itu.
"Tahu nggak, Nara?" ucap Bimo tiba-tiba. "Aku sempat berpikir untuk mengganti nama belakangku. Melepaskan nama 'Wijaya' sepenuhnya."
Aku menoleh, terkejut. "Lalu kamu mau pakai nama apa? Bimo Adrian? Nanti orang-orang bingung."
Bimo terkekeh. "Nggak juga. Aku cuma merasa nama itu membawa terlalu banyak luka. Tapi setelah dipikir lagi, kalau aku membuangnya, aku sama saja dengan pengecut yang lari dari sejarah. Aku akan tetap menggunakan nama itu, tapi aku akan memastikan bahwa mulai dari generasiku, nama Wijaya akan dikenal karena kebaikannya, bukan karena intriknya."
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Itu keputusan yang bijak, Bim. Kita tidak perlu membenci akar kita untuk bisa tumbuh menjadi pohon yang baru."
Saat matahari mulai terbenam, memberikan warna keemasan pada nisan batu itu, aku merasakan kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tidak ada lagi rahasia yang mengganjal. Ratih sudah tenang di Swiss dengan perawatannya, Bram sedang menjalani masa hukumannya, dan perusahaan sedang dalam proses pembersihan total di bawah kendali Panji dan tim profesional lainnya.
"Oh ya, ada satu hal lagi," Bimo merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci kecil yang terlihat sangat modern.
"Kunci apa lagi ini? Jangan bilang ada gudang rahasia lagi?" tanyaku curiga.
Bimo tertawa lepas. "Bukan, bukan. Ini kunci studio barumu. Aku tahu apartemen kita terlalu berisik buat kamu menulis. Jadi, aku menyewa sebuah ruang kecil di lantai paling atas gedung yayasan. Menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Di sana cuma ada meja kayu, mesin ketik tua kalau kamu lagi merasa puitis, dan satu rak buku kosong yang menunggu diisi oleh karya-karyamu selanjutnya."
Aku tertegun. "Bimo... kamu nggak perlu melakukan itu."
"Aku perlu," katanya lembut, menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Dunia butuh lebih banyak cerita dari Nara Adrian. Dan aku ingin menjadi orang pertama yang membaca setiap babnya."
Malam harinya, aku mencoba studio baru itu. Benar kata Bimo, pemandangannya luar biasa. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu, seperti jutaan ide yang sedang menunggu untuk dipetik. Studio itu sunyi, harum aroma kayu dan kertas baru.
Aku duduk di kursi kerja, membuka laptop, dan menatap kursor yang berkedip di layar putih. Kali ini, tidak ada tekanan untuk menulis skenario "istri kontrak" untuk melunasi hutang. Tidak ada tuntutan untuk membuat plot yang penuh dengan penderitaan agar pembaca merasa kasihan.
Aku mulai mengetik judul bab pertama dari novel baruku.
Bab 1: Cahaya di Atas Puing
Hidup seringkali memberikan kita sebuah awal yang berantakan. Kita lahir di tengah badai, dibesarkan dalam kebohongan, dan terkadang dipaksa memakai topeng yang tidak pas di wajah kita. Namun, ada satu kekuatan yang lebih besar dari semua konspirasi di dunia ini: kekuatan untuk memilih siapa diri kita hari ini.
Aku pernah menjadi seorang istri dalam sebuah kontrak yang dingin. Aku pernah menjadi putri yang mencari-cari sosok ayah dalam kegelapan. Tapi malam ini, di bawah langit yang sama yang dulu tampak begitu mengancam, aku menemukan bahwa namaku bukan hanya tentang siapa orang tuaku. Namaku adalah tentang setiap langkah yang kuambil untuk bangkit kembali.
Bimo masuk ke studio, membawakan aku camilan tengah malam—martabak manis kesukaanku. Dia berdiri di belakangku, membaca beberapa paragraf pertama yang baru saja kutik.
"Terlalu serius ya?" tanyaku sambil mendongak.
"Nggak," jawabnya sambil tersenyum nakal. "Tapi menurutku, kamu perlu tambahkan satu adegan di sana. Adegan di mana si pahlawan pria datang membawa martabak untuk menyelamatkan penulisnya dari kelaparan."
Aku tertawa dan menariknya untuk duduk di sebelahku. Kami berbagi martabak di tengah ruangan yang masih setengah kosong itu. Di sinilah kami, dua orang yang seharusnya menjadi musuh menurut sejarah, kini menjadi rekan setim yang paling solid.
Tinta hidupku malam ini tidak lagi merembes karena air mata. Ia mengalir dengan tenang, membentuk garis-garis harapan yang kuat. Kami tahu perjalanan ke depan mungkin tidak selalu mulus. Akan ada tantangan baru di yayasan, mungkin ada gosip-gosip miring yang mencoba menjatuhkan kami, atau mungkin ada masa-masa sulit dalam pernikahan kami nanti.
Tapi saat aku menatap mata Bimo, aku melihat sebuah janji yang jauh lebih kuat dari kontrak mana pun. Aku melihat sebuah rumah.
"Bim," panggilku saat dia sedang asyik mengunyah martabak keju.
"Iya?"
"Makasih ya. Untuk semuanya."
Bimo menggenggam tanganku erat. "Terima kasih kembali, Nara. Terima kasih sudah mengizinkan aku menjadi bagian dari ceritamu."
Aku mematikan laptop, memutuskan bahwa cukup sudah untuk malam ini. Masa depan masih panjang, dan aku punya banyak waktu untuk menuliskannya. Untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati momen ini. Momen di mana tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kontrak, hanya ada aku, dia, dan aroma martabak yang memenuhi ruangan.
Kami berjalan keluar dari studio, mematikan lampu, dan meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan yang hangat. Besok adalah hari yang baru, dan aku sudah tidak sabar untuk melihat bab apa lagi yang akan dituliskan takdir untuk kami.
Cerita tentang kontrak itu mungkin sudah tamat. Tapi cerita tentang Nara dan Bimo? Cerita itu baru saja dimulai. Dan kali ini, kamilah pemegang penanya.