Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gift
“Kamu gak tanya aku kenapa sendirian?” Tanya Tias.
“Lah, itu.” Delana menunjuk arah dengan wajahnya. Tias menoleh ke belakang, nampak Rex dan Angga sedang berjalan.
“Owalah, kenapa gak bareng aja sih. Aku malah disuruh berangkat duluan. Eh, Delana. Itu dia …..”
“Cukur jenggot sama kumis.”
Tias segera kembali menoleh pada Delana. “Kamu masih bisa mengenali Pak Rex? Aku aja pangling kalau gak lihat Angga, gak akan tau itu Pak Rex.”
Delana tidak peduli, dia melanjutkan makan nya. Mengambil beberapa potong Cake dan buah.
“Tias, naik apa kamu ke sini?” Tanya Angga.
“Onta.”
“Wah, hebat. Kenapa gak naik permadani terbang.”
“Dikira aku putri jasmin.”
“Kan aku aladin nya.”
“Bukan, lebih pas kalau jadi jin nya aja,” Delana menimpali.
Tias tertawa puas.
“Pak, boleh saya jitak nggak kepala Delana?”
“90%.”
“Maaf, Pak.”
Delana tidak menoleh sama sekali. Dia kembali mengambil potongan buah segar. Delana tidak benar-benar lapar, dia hanya sedang mengalihkan pikiran dan emosinya.
“Tias, kamu sudah mengambil pesanan saya?”
“Sudah, Pak. Ini saya bawa.”
Tias memberikan paper bag pada Rex.
“Ikut saya.”
Rex menarik tangan Delana yang sedang membawa piring kecil. Tias segera mengambil piring itu agar tidak terjatuh dari tangan Delana.
Sikap Rex pada Delana menarik perhatian banyak orang termasuk Rayden.
Rex membawa Delana ke luar ruangan di mana para tamu sedang berada.
“Pak, kenapa sih? Sakit tau, malu lagi ditarik-tarik kayak mau diapain aja.”
Rex mengerutkan kening. Lalu dia mendekat pada Delana.
“Memangnya kamu mau saya apain?”
Delana mundur dua langkah karena dia merasakan nafas Rex di wajahnya. Jarak mereka begitu dekat.
“Lepas perhiasan murah itu.”
“Kenapa? Nggak ah, ini mama yang belikan.”
Tanpa basa basi Rex menarik paksa kalung Delana sampai putus. Gadis itu membelalak.
“Pak, putus jadinya. Itu pemberian mama buat aku.”
“Ini imitasi.”
Delana yang bersiap untuk kembali berbicara, hanya bisa diam.
“Orang lain tidak akan sadar jika tidak melihatnya dari dekat, tapi saya tau.”
Delana kemudia teringat saat dia berhadapan dengan Rayden. Pria itu sempat melirik lehernya, lalu tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
Dengan hati-hati, Rex melepas semua perhiasan yang diapaki Delana.
“Pakai ini.”
“Aku memang tidak mengerti masalah perhiasan tapi ini pasti sangat mahal.”
“Limited Edition dan hanya kamu yang memiliki ini di ruangan ini.”
“Apa nanti malah jadi pusat perhatian.”
“Itu tujuanku.”
Delana menatap Rex tidak mengerti.
“Agar mereka tahu, kalau kamu adalah wanitaku.”
“Ih, sejak kapan? Sembarangan.”
“Sejak orang tuamu berhutang padaku.”
“Tapi kan harusnya kak Dara yang nikah sama bapak, bukan aku.”
“Aku tidak suka ditolak, pakailah.”
Wajah serius Rex, membuat Delana merasa terintimidasi. Dia bahkan seolah tidak bisa melawan dan hanya bisa diam saat Rex memakaikan perhiasan itu.
“Nice.”
Delana memegang kalung yang melingkar di lehernya. Entah memang barang itu memiliki nilai tinggi, atau entah kenapa, tapi Delana merasa kepercayaan dirinya meningkat.
“Ayo.” Rex meminta Delana agar mengaitkan tangan nya pada lengan Rex.
Pintu kembali terbuka, Delana dan Rex masuk dengan bergandengan tangan.
Benar saja, semua mata tertuju pada mereka. Terutama pada benda yang mengkilau di tubuh Delana.
Semua orang saling berbisik sambil melihat Delana.
“Pak ….” Bisik Delana.
“Tenang saja, aku di sini.” Ujar Rex sambil menumpangkan jari tangan nya di atas jari Delana yang menggandeng tangan Rex.
Untuk pertama kalinya Delana merasa ada yang bisa dia jadikan sandaran untuk berlindung.
“Pak Rex. Terimakasih sudah datang. Wah, saya pangling sekali melihat bapak klimis seperti sekarang. Terlihat jauh lebih muda.”
Delana nyaris tertawa mendengar ucapan Raharjo. Rex melirik nya kesal.
“Nyonya Raharjo, selamat ulang tahun. Semoga ke depannya jadi lebih baik.”
“Terimakasih Pak Rex. Oh iya, ini siapa? Tumben sekali Pak Rex ke pesta membawa gandengan, biasa hanya Tias yang selalu ngintil.”
“Dia calon istri saya.”
“Oh ya? Wah, selamat ya akhirnya Pak Rex menikah juga. Saya pikir mau jadi perjaka tua. Hahaha”
Kali ini Delana tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Bu Raharjo.
“Maaf, maaf. Tapi ternyata nyonya sangat lucu ya.”
“Gak apa-apa, kita memang harus humoris biar sering tertawa, itu salah satu cara awet muda.”
“Setuju, nyonya. Jangan terlalu serius dalam hidup, nanti selain cepat tua, cepat naik darah juga. Takutnya malah struk.”
“Nah, benar. Wah, Pak Rex sepertinya saya satu frekuensi sama calon istri bapak ini. Masih muda tapi bisa loh dia masuk sama saya.”
“Itulah kenapa saya sangat menyukai dia. Karena dia berbeda dengan perempuan lain,” ujar Rex.
Entah itu hanya omong kosong di hadapan Raharjo atau bukan, tapi ucapan Rex berhasil membuat hati Delana goyah.
“Ngomong-ngomong, siapa orang tuamu, Nak?” Tanya Bu Raharjo.
“Pak Sharga dan Bu Prami.”
Ekspresi wajah ceria Raharjo dan istrinya langsung berubah. Mereka nampak canggung, cenderung tidak suka.
Delana hanya menghela nafas dalam. Dia sudah tidak asing lagi dengan ekspresi seperti itu.
“Pak Rex, saya pikir …. Em, kenapa tidak mencoba mencari wanita dari keluarga lain saja?”
Rex tertawa kecil.
“Ada apa, Pak Raharjo? Apa karena dia berasal dari keluarga kasta bawah?”
“Bukan begitu, hanya saja …..”
“Tidak peduli dia anak siapa, kalau saya ingin maka harus saya miliki.”
Wajah ramah yang ditunjukkan Rex sebelumnya, kini menjadi saja dingin yang terlihat murka. Seperti serigala yang ingin menerkam buruan nya.
Tanpa basa basi, Rex pergi meninggalkan si mpunya hajat.
Rex menyadari jika Rayden sedang menatap wanitanya, dia menarik pinggan Delana, agar tubuh nya semakin dekat padanya.
Gadis itu berjalan tanpa ekspresi. Dia masih terbawa suasana hatinya sendiri yang merasa sedang dibela oleh Rex di hadapan orang yang terpandang jauh di atas keluarganya.
Harga dirinya sedang dijaga seseorang, sesuatu yang selama ini tidak pernah dianggap oleh orang tuanya. Selama dia bisa menghasilkan sumber uang, apalah arti harga diri Delana bagi Sharga.
Delana menarik tangan nya dari gandengan Rex, lalu mencengkeram erat jemari pria itu.
Apa yang dilakukan Delana membuat Rex langsung menoleh. Bukan rasa bahagia karena akhirnya Delana takluk padanya, tapi Rex merasa iba dan kasian pada gadis itu. Dia tahu, Delana sedang berusaha bersikap kuat saat ini.
“Haruskah kita pergi?” Tanaka Rex.
“Ya, pergi sangat jauh.”
“Baiklah.”
Mereka berjalan di tengah keramaian, tidak peduli banyaknya mata memandang. Tias dan Angga mengikuti dari belakang. Mereka berjalan membelah ratusan tamu yang sedang berdiri.