Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1 - Aroma
"Mil, kalau kamu terus-terusan melototin laptop sambil ngaduk adonan, bunda bakal jamin deh rasa kue kamu bakal rasa teori akuntansi, bukan rasa cokelat, Nak!"
Milana Stefani Hardianto yang biasa dipanggil dengan sebutan Mila, ia tersentak dan setelahnya meletakkan whisker yang sedari tadi ia pegang ke dalam wadah baja antikarat, lalu menoleh ke arah Bunda Selfia Yulinar yang biasa dipanggil dengan bunda Selfi kini sedang bersandar di meja kasir Milana’s Cake.
"Aaaa, Bunda, Mila lagi stres nih... dosen pembimbing Mila minta revisi bab dua dan harus selesai sore ini, tapi pesanan custom cake buat acara di kantor Ayah juga harus beres jam dua siang ini, Bund," keluh Mila sambil menyeka noda tepung di pipinya.
Bunda Selfi terkekeh, tangannya meraih sepotong cookies hangat dari nampan. "Ya itulah, Nak, resikonya jadi pemilik toko kue merangkap mahasiswa tingkat akhir."
Ya, kesibukan Mila selain menjadi mahasiswa tingkat akhir adalah menjadi pemilik toko kue yang merupakan hadiah ulang tahun Mila ke-20 dari ayah Fauzul Rahmansyah Hardianto yang biasa dipanggil dengan sebutan Ayah Faul.
Mila tersenyum tipis. Aroma mentega cair dan vanila yang dipanggang memang selalu berhasil menenangkan sarafnya yang tegang. Bagi Mila, toko ini adalah kemerdekaannya. Di sini, ia bukan sekadar "Putri Hardianto", melainkan seorang pengusaha muda yang membangun mimpinya sendiri.
Tepat saat itu, denting lonceng di atas pintu berbunyi. Mutia Maharani, sahabat Mila yang sering sekali menemaninya di toko itu.
"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Mutia menghampiri bunda Selfi.
"Wa'alaikumussalam, Mut, sini duduk makan cookies buatan Mila nih, masih hangat," ujar bunda Selfi sembari menyodorkan nampan yang terdapat cookies hangat di atasnya.
"Makasih bunda cantik!"
Mutia setelahnya mendekat pada Mila, "Mil, ngampus gak? Gue bimbingan jam 3 nih sama Prof Ramzi, duh, ngantuk gue kelarin bab 2 sampai tengah malem," keluhnya.
"Untung Lo udah kelar, lah gue lagi rempong sama pesenan custom cake nih buat kantor ayah," ucap Mila.
"Ngomong-ngomong soal Ayah Faul, Mil," Mutia merendahkan suaranya, "Abang lo tumben pagi gini gak mampir ke sini?" tanya Mutia.
Mila menggeleng, matanya beralih ke jendela besar yang menghadap ke gedung megah Hardianto Group di seberang jalan. Karena memang Milana's Cake terletak tepat di hadapan gedung megah Hardianto Group.
...Gambaran toko kue Mila seperti gambar di atas ini, Guys....
"Bang Robi lagi sibuk banget urus proyek baru, Mut. Dia bilang Ayah lagi sering lembur belakangan ini. Kayaknya... mereka lagi nyiapin sesuatu buat nyambut Oma Soimah yang mau balik ke Indonesia."
Mendengar nama itu, Mutia mendadak tersedak. "O-oma? Oma Soimah? Singa betina dari keluarga Hardianto itu? Wah, kalau beliau sampai tau lo lebih sering di dapur daripada di kampus, bisa gawat, Mil."
Mila hanya bisa menghela napas panjang. Bayangan tentang sang Oma yang disiplin dan dingin itu selalu menjadi awan mendung di tengah aroma manis kuenya.
"Ekhm! Mut, hati-hati, CCTV di toko ini nyambung ke ponsel Oma Soimah lho!" kekeh Selfi mengerjai sahabat Mila itu.
"Aaaa bunda, seriusan, Bund?" tanya Mutia panik.
Melihat raut wajah panik Mutia, bunda dan Mila tertawa bersamaan.
Tak lama dari itu, custom cake yang Mila buat, telah selesai dan siap diantarkan ke dalam gedung megah itu. Bersamaan pula dengan datangnya pesanan kopi yang Mila sendiri tidak tau pesanan itu milik siapa.
Tepat saat itu, denting lonceng di atas pintu berbunyi. Aroma lain merangsek masuk—bukan aroma tepung, atau pun aroma vanila, melainkan aroma kopi arabika yang kuat dan sedikit sentuhan kayu yang maskulin.
"Pesanan kopi untuk pak Robi diminta untuk diantarkan ke toko kue ini," suara berat itu terdengar dari arah pintu.
Mila mendongak. Di sana, berdiri seorang pemuda dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, membawa nampan berisi dua gelas kopi berlogo tulisan Wangsa Cafe.
_____
Tunggu kelanjutannya ya, Guys!
Love u All❤️