Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pengasingan sang raja jalanan
Pagi itu, area parkir SMA Garuda Nusantara mendadak riuh hanya karena suara raungan mesin motor sport berwarna hitam pekat yang baru saja memasuki gerbang.
Langit Sterling Surya Agung turun dari motornya dengan gerakan santai, membuka helm full face-nya, dan menyisir rambut acak-acakannya dengan jemari. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah dikerumuni oleh teman-temannya.
Menjadi putra bungsu keluarga Surya Agung bukan hanya memberinya akses pada uang yang tak berseri, tapi juga wajah tampan blasteran London-Jawa yang menjadikannya primadona sekolah sejak hari pertama menginjakkan kaki di sana.
"Gila, motor baru lagi, Lang?" celetuk Raka sambil menepuk tangki motor Langit. Langit hanya menyeringai tengil, mengeluarkan tumpukan uang dari saku seragamnya yang tidak rapi, lalu memberikannya pada Bimo.
"Traktir semua orang di kantin pagi ini, bilang dari Langit Sterling," ucapnya santai yang langsung disambut sorak-sorai. Di kelas, Langit memang dikenal cerdas tanpa harus belajar keras, namun otaknya yang encer justru ia gunakan untuk merancang aksi-aksi nekat bersama geng motornya.
Baginya, sekolah hanyalah tempat bermain, dan jalanan adalah rumah yang sebenarnya.
Namun, kejayaan sang raja sekolah itu runtuh dalam satu malam yang nahas. Di bawah lampu remang jalur balap liar, Langit memacu motornya melampaui batas waras demi sebuah taruhan gengsi.
Saat mencoba melakukan manuver tajam untuk menyalip lawan, ban motornya selip di atas tumpahan oli. Suara decitan besi yang beradu dengan aspal membelah keheningan malam, disusul dentuman keras saat tubuh Langit terpental menghantam pembatas jalan.
Malam itu, bukan hanya motor mahalnya yang hancur berkeping-keping, tapi kebebasan Langit pun ikut terkubur saat sang ayah, Alistair, menatapnya dengan kemarahan dingin di ruang ICU, memutuskan bahwa Jakarta bukan lagi tempat bagi putra bungsunya.
Suasana di lorong rumah sakit terasa begitu mencekam. Di depan pintu ruang ICU, Hj. Retno tak henti-hentinya terisak, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Alistair Surya Agung hanya bisa mendekap erat istrinya, mencoba memberikan kekuatan meskipun raut wajahnya sendiri memancarkan kecemasan yang mendalam. Ketegasan yang biasanya terpancar dari sosok Presdir itu luntur, digantikan tatapan kosong ke arah pintu kaca yang tertutup rapat.
Ketegangan itu baru mencair saat dokter spesialis keluar dan mengabarkan bahwa Langit telah melewati masa kritisnya. Isak tangis Mami Retno berubah menjadi tangis lega. Setelah kondisinya stabil, Langit dipindahkan ke ruang VVIP yang luas dan mewah, namun raganya masih terbaring lemah, jauh dari sosok pemberontak yang biasanya tak bisa diam.
Beberapa hari kemudian, saat kondisi Langit mulai membaik, Alistair memenuhi janji untuk bertemu dengan sahabat lamanya, Kyai Danardi, di sebuah kafe tenang di pinggiran Jakarta. Kyai Danardi tidak datang sendiri; ia ditemani putrinya, Senja Ardhani.
Selama pertemuan itu, Alistair tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Senja bukan hanya cantik secara fisik, tapi tutur katanya yang santun, tatapannya yang teduh, serta kecerdasannya yang terpancar saat berbicara membuat Alistair terpana. Dalam hatinya, ia berbisik, "Inilah sosok yang bisa menjinakkan Langit." Ia ingin sekali menikahkan mereka, namun ia sadar tidak bisa memaksa di situasi seperti ini.
Keputusan final pun diambil. Begitu Langit dinyatakan sembuh total, Alistair menjatuhkan vonis yang tak terbantahkan: Langit harus meninggalkan Jakarta, geng motornya, dan seluruh kehidupan mewahnya.
Dengan perintah yang mutlak, Langit dipaksa menempuh pendidikan di SMA favorit di Yogyakarta sekaligus mondok di Pesantren Mambaul Ulum. Tak ada bantahan, tak ada tawar-menawar; Langit harus tunduk pada titah sang ayah yang ingin menyelamatkan masa depannya melalui tangan keluarga Kyai Danardi.
Malam terakhir sebelum keberangkatan ke Yogyakarta menjadi malam yang paling emosional di markas besar geng mereka. Di sebuah kafe yang biasa menjadi tempat berkumpul, suasana yang biasanya penuh gelak tawa mendadak berubah menjadi hening dan berat.
Raka, Bimo, Kevin, Ardi, dan Genta duduk melingkar mengelilingi Langit, menatap pemimpin mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan. Mereka tidak menyangka bahwa kecelakaan itu akan menjadi akhir dari petualangan liar mereka bersama sang primadona sekolah.
"Beneran besok, Lang?" suara Genta pecah, ia yang biasanya paling sangar kini menunduk sambil meremas kunci motornya. Langit hanya mengangguk pelan dengan tatapan kosong, luka bekas kecelakaan di pelipisnya masih tampak memerah.
"Gue nggak punya pilihan. Bokap udah mutusin, kalau gue nolak, semua fasilitas dicabut dan gue nggak dianggap anak lagi," jawab Langit dengan nada suara yang serak, menyembunyikan sesak yang menghimpit dadanya.
Satu per satu temannya mulai bicara, mengenang kegilaan yang mereka lalui, mulai dari bolos bersama hingga konvoi di jalanan Jakarta. Bimo bahkan tidak menyentuh makanan di depannya, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat mereka melakukan pelukan perpisahan (group hug), suasana benar-benar pecah. Langit yang selama ini dikenal sebagai cowok tengil yang tak punya rasa takut, matanya berkaca-kaca melihat kesedihan sahabat-sahabatnya.
Ia menyadari bahwa besok, ia tidak hanya meninggalkan Jakarta, tapi juga meninggalkan separuh jiwanya untuk menuju tempat asing yang sama sekali tidak ia inginkan.
Pagi keberangkatan itu menjadi momen paling memilukan di kediaman mewah keluarga Surya Agung. Di depan mobil yang sudah siap melaju, Langit berdiri dengan bahu merosot, kehilangan semua ketengilan yang biasanya ia banggakan.
Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, dunianya akan benar-benar runtuh. Mami Retno hanya bisa menangis sesenggukan, berkali-kali menciumi kening putra bungsunya itu dengan berat hati, namun ia tak kuasa melawan keputusan suaminya.
"Pa, Langit mohon... jangan di pondok, Pa. Langit janji akan berubah. Langit nggak akan balapan lagi, nggak akan keluyuran malam lagi. Langit bakal jadi anak baik, tapi tolong jangan buang Langit ke sana," rintih Langit dengan suara bergetar, nyaris bersimpuh di depan ayahnya.
Matanya yang memerah menatap penuh harap, mencari sedikit saja celah belas kasih di wajah sang ayah. Ia merasa seolah sedang dijatuhi hukuman pengasingan yang paling kejam.
Namun, Alistair berdiri tegak dengan wajah sedingin es, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun merasa hancur melihat putranya memohon seperti itu. Ia mengabaikan permintaan Langit dan tetap memasukkan koper terakhir ke dalam bagasi.
"Keputusan Papa sudah bulat, Langit. Janji kamu sudah terlalu sering dilanggar. Kali ini, Papa tidak sedang menghukummu, tapi Papa sedang menyelamatkan nyawamu," ucap Alistair dengan nada final yang tak terbantahkan.
Tanpa menunggu balasan lagi, ia memberi isyarat pada sopir untuk segera berangkat, membiarkan Langit masuk ke dalam mobil dengan isak tangis yang tertahan, meninggalkan kemewahan Jakarta menuju takdir baru yang sama sekali tak ia duga.
Dalam keputusasaan yang memuncak, Langit menoleh ke arah Liam, kakak sulungnya yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah kaku. Langit berlari kecil dan mencengkeram lengan jas kakaknya itu, menjadikannya tumpuan harapan terakhir.
"Bang, tolong gue... lo yang paling didenger Papa. Bilang sama Papa, pindahin gue ke sekolah asrama di luar negeri aja, jangan ke pondok, Bang. Gue nggak bakal bisa bertahan di sana," pinta Langit dengan suara serak, matanya menatap Liam dengan tatapan memelas yang jarang ia tunjukkan.
Liam menghela napas panjang, menatap adiknya dengan tatapan iba namun penuh ketegasan. Ia melepaskan tangan Langit perlahan dari lengannya.
"Lang, lo tahu sendiri Papa kayak gimana. Kalau Papa sudah ketuk palu, nggak akan ada yang bisa ngerayu, apalagi ngebujuk dia, termasuk gue," jawab Liam pelan namun jujur.
Ia menepuk bahu Langit dengan berat, seolah memberi isyarat bahwa kali ini tidak ada jalan keluar. "Jalanin aja, Lang. Ini satu-satunya cara supaya lo nggak berakhir di penjara atau di liang lahat gara-gara balapan itu."
Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia bagi Langit. Sepanjang jalan, ia hanya menatap kosong ke luar jendela, mengabaikan usaha ibunya yang sesekali mengelus rambutnya untuk menenangkan.
Saat mobil memasuki gerbang besar bertuliskan Pondok Pesantren Mambaul Ulum, jantung Langit mencelos. Suasana teduh, suara santri yang mengaji, dan bangunan-bangunan sederhana di sana terasa sangat asing dan menyesakkan bagi jiwanya yang terbiasa dengan hingar-bingar ibu kota.
Turun dari mobil, mereka disambut dengan kehangatan luar biasa oleh Kyai Danardi dan Ibu Nyai Aminah. Senyum ramah kedua pengasuh pondok itu sangat kontras dengan wajah muram Langit yang ditekuk dalam.
Di ruang tamu ndalem yang asri, Alistair menjabat tangan Kyai Danardi dengan sangat erat. "Danardi sahabatku, aku titipkan Langit padamu. Tolong didik dia, arahkan dia ke jalan yang benar. Aku ingin dia belajar apa artinya tanggung jawab dan iman," ucap Alistair dengan nada suara yang berat namun penuh ketegasan. Kyai Danardi mengangguk mantap, menepuk bahu Alistair pelan.
"InsyaAllah, Alistair. Langit sudah kami anggap anak sendiri di sini. Kami akan membimbingnya dengan sepenuh hati."
Waktu berlalu begitu cepat hingga matahari mulai condong ke barat. Saatnya Alistair dan Mami Retno harus berpamitan. Mami Retno memeluk Langit sangat lama sambil membisikkan doa, sementara Alistair hanya menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang dan ketegasan yang tak goyah.
"Jaga dirimu baik-baik, Lang," hanya itu kata terakhir sang ayah sebelum berbalik masuk ke mobil. Langit tak mampu berkata-kata; lidahnya terasa kelu. Ia hanya berdiri mematung di teras pondok, sesekali mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi di pipinya, melihat mobil mewah keluarganya perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan dirinya sendirian di tempat yang ia anggap sebagai "penjara suci" ini.