NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Dua Dunia yang Saling Menjauh

​Waktu adalah pencuri yang paling kejam, namun ia juga merupakan satu-satunya hakim yang adil bagi mereka yang bersalah. Di London, waktu seolah berhenti di dalam mansion besar milik Victor Louis Edward. Sementara di Zurich, waktu berputar dengan kencang, membawa harapan-harapan baru yang menyilaukan mata. Dua kehidupan ini kini berbanding terbalik, seperti siang dan malam yang tak akan pernah bisa bertemu dalam satu cakrawala.

​Sisi Gelap: London, Kediaman Keluarga Edward

​Mansion megah itu kini tak lebih dari sebuah museum kesunyian. Victor masih mempertahankan rutinitasnya yang kaku, namun jiwanya tak lagi ada di sana. Setiap pagi, ia duduk di meja makan yang panjang, menatap kursi kosong di ujung sana yang biasanya ditempati oleh seorang gadis dengan binar mata penuh pemujaan. Kini, yang ada hanyalah sepiring sarapan yang tak pernah habis ia makan dan keheningan yang menyesakkan.

​Victor menjadi pria yang semakin dingin dan tertutup. Hubungannya dengan Clara sudah lama berakhir; pria itu memutus semua kontak setelah menyadari bahwa setiap kali ia melihat Clara, ia teringat pada fitnah kalung yang menjadi awal mula kehancurannya. Ia bahkan sering kali menghabiskan malam di kamar Achell, duduk di lantai sambil menyentuh benda-benda yang ditinggalkan gadis itu—sebuah pita rambut, sebuah buku puisi yang sudah menguning, atau sekadar menatap jendela tempat Achell biasa melambaikan tangan saat ia berangkat kerja.

​Penyesalan itu layaknya kanker yang menggerogoti Victor dari dalam. Ia masih kaya, ia masih tampan, namun ia seperti mayat yang berjalan. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu lokasi Achell secara diam-diam melalui intelijen pribadinya, namun Jake benar-benar menutup semua celah. Victor hanya bisa menatap langit, bertanya-tanya apakah Achell sedang melihat bintang yang sama, atau apakah Achell sudah benar-benar menghapus namanya dari memori otaknya.

​Sanksi bagi Victor bukan hanya kehilangan Achell, tapi menyaksikan dirinya sendiri menjadi tua dalam penyesalan yang tak punya ujung.

​Sisi Terang: Zurich, Kota Harapan

​Berbanding terbalik dengan Victor yang layu, Gabriella Rachel kini tumbuh mekar seperti bunga Alpen di musim semi. Di bawah langit Zurich yang cerah, Achell benar-benar memulai hidupnya dari titik nol. Ia bukan lagi "keponakan titipan" atau "anak yang haus perhatian". Ia adalah mahasiswi kedokteran yang ambisius, cerdas, dan penuh energi.

​Kehidupan di Zurich tidaklah sesepi yang ia bayangkan. Ternyata, dua sahabat setianya—Sophie dan Julian—benar-benar membuktikan ucapan mereka untuk menjadi keluarga baru bagi Achell. Mereka tidak membiarkan Achell pergi sendirian. Meskipun dengan perjuangan yang tak mudah, keduanya berhasil meyakinkan orang tua masing-masing untuk melanjutkan studi di Swiss.

​Ketiganya tinggal di sebuah apartemen sederhana namun nyaman di dekat pusat kota. Sophie, dengan kepribadiannya yang eksentrik, mengambil jurusan Fashion Design & Management. Ia ingin membangun kerajaan mode yang tidak hanya menjual keindahan, tapi juga kekuatan bagi wanita. Sementara Julian, si otak cerdas yang tenang, memilih jurusan International Law. Ia bertekad menjadi pengacara yang bisa membela mereka yang tertindas oleh kekuasaan sebuah cita-cita yang lahir karena ia benci melihat bagaimana Victor memperlakukan Achell dulu.

​Meskipun mereka bertiga tinggal bersama dan selalu terlihat "mengekor" satu sama lain, tidak ada cinta romantis yang terjalin di antara mereka. Sophie dan Julian sangat menghormati batasan tersebut. Mereka bertiga adalah sebuah "pakta persahabatan" yang kokoh. Fokus mereka hanya satu: masa depan.

​"Achell! Jika kau terus-terusan membaca buku anatomi itu, kepalamu bisa meledak!" teriak Sophie suatu sore di apartemen mereka, sambil mencoba sepotong kain pada manekin di ruang tamu.

​Achell mendongak dari meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan buku tebal dan catatan medis. Ia tertawa—sebuah tawa yang tulus dan lepas, sesuatu yang tidak pernah ia miliki di London. "Aku harus lulus ujian besok, Soph. Aku tidak mau kalah dari Julian yang sudah hafal semua pasal hukum itu."

​Julian yang sedang duduk di kursi seberang sambil menyeruput kopi hitamnya hanya tersenyum tipis. "Jangan bawa-bawa namaku, Achell. Aku hanya tidak ingin kita bertiga gagal dan harus pulang ke London dalam keadaan malu."

​Mendengar kata "London", suasana mendadak hening sejenak. Namun, tidak ada lagi kesedihan di mata Achell. Ia hanya menarik napas panjang dan menutup bukunya.

​"Aku tidak akan pernah kembali ke sana sebagai orang yang lemah," ucap Achell dengan nada tenang namun tegas. "London adalah masa lalu yang sudah terkubur bersama kecelakaan itu. Di sini, aku menemukan diriku yang sebenarnya."

​Julian menatap Achell dengan bangga. "Itulah Achell yang kami kenal. Kau tidak perlu pria tua itu untuk menjadi hebat."

​Kehidupan mereka di Zurich diisi dengan kerja keras. Achell sering kali harus begadang di perpustakaan universitas, mempelajari saraf-saraf manusia dan prosedur bedah yang rumit. Ia menemukan gairah hidupnya di sana. Setiap kali ia berhasil membedah organ dalam praktik laboratorium, ia merasa sedang membedah luka-lukanya sendiri dan membuang bagian yang busuk.

​Ia tidak lagi memikirkan piano. Ia tidak lagi memikirkan cara berpakaian agar terlihat elegan di depan rekan bisnis Victor. Ia kini lebih sering mengenakan jas lab putih dengan rambut yang diikat asal-asalan karena terlalu sibuk. Tapi, dalam kesederhanaan itu, Achell tampak sepuluh kali lebih cantik dan berwibawa.

​Sering kali, di akhir pekan, mereka bertiga akan berjalan-jalan di pinggir Danau Zurich. Mereka akan membicarakan tentang mimpi-mimpi besar mereka. Sophie yang ingin tampil di Paris Fashion Week, Julian yang ingin bekerja di PBB, dan Achell yang ingin menjadi dokter bedah saraf terbaik.

​"Apakah kalian terpikir untuk pacaran?" tanya Sophie suatu kali saat mereka sedang duduk di rerumputan.

​Achell dan Julian menjawab serempak, "Tidak."

​Achell melanjutkan, "Cinta bukan prioritasku sekarang, Soph. Aku sudah pernah memberikan seluruh hatiku pada satu orang dan aku berakhir hancur di aspal. Sekarang, aku ingin memberikan hidupku untuk sesuatu yang lebih bermakna—menyelamatkan orang lain."

​Julian mengangguk setuju. "Aku juga. Aku lebih suka melihatmu sukses, Achell, daripada melihatmu terjebak dalam hubungan yang hanya akan membatasi langkahmu."

​Inilah sanksi yang sesungguhnya bagi Victor Louis Edward. Bukan hanya ia kehilangan keberadaan fisik Achell, tapi ia kehilangan "jiwa" Achell yang dulu memujanya. Di Zurich, Achell telah membangun benteng yang begitu kuat, di mana nama Victor Edward tidak lagi memiliki kekuatan magis apa pun.

​Achell telah bertransformasi dari seorang gadis yang memohon cinta menjadi wanita yang menciptakan takdirnya sendiri. Dan di kejauhan sana, di mansion yang gelap, Victor masih menunggu sebuah surat yang tak akan pernah datang, tanpa menyadari bahwa orang yang ia tunggu sudah lama mati dan lahir kembali sebagai sosok yang tak akan pernah ia kenali lagi.

1
shabiru Al
akhirnya ngaku juga achell cinta sama victor
shabiru Al
sama sama keras kepala angkuh dan berego tinggi,,, kapan bisa bersama keburu victornya makin tua 🤭
shabiru Al
eleehhh sanksi saja terus,, dan akan berubah sesuai keadaan.. klo begini kapan selesainya....
shabiru Al
siapa marco,, kenapa begitu detail tahu kisah victor dan achell ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
Hanja
🤍🫶🏻
panjul man09
author memang 👍 diawal ,pemeran victor kami benci, tapi saat ini victor bisa menarik simpatik dan dukungan untuk mendapatkan achell 😄
christian Defit Karamoy
mantap thor👍
panjul man09
sosok victor yg dulu dan yg sekarang sangat kontras
panjul man09
untuk bisa sepenuhnya lepas dari victor ,achell harus menikah dgn orang lain .
panjul man09
untuk laki2 usia 32 bukan tua tapi matang , kenapa di cerita ini victor selalu disebut tua.
Anny
jgn kau hukum Victor begitu keras Gabriel aku merasa kau terlalu kejam dan tidak punya hati untuk seukuran perempuan yg pernah mencintai dan memujanya dahulu
Anny
Menurut aku yaa disini tg paling tersiksa adalah Victor karena kesalahan dia yg tidak terlalu berat dimasa lalu harus menerima hukuman yg berkali kali lipat GK adil bgt bagi dia
panjul man09
di awal cerita disebut usia victor 25 dan memasukkan achel ke asrama selama 3 tahun ,saat achel lulus usia victor 28 ditambah achel kuliah 4 tahun berarti usia victor sudah 32 tahun ,iya kan thor ???
panjul man09
sangat puitis dan/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
alur ceritanya sangat menarik ,terlihat sangat berbeda dari novel2 yg lain , sangat menyentuh hati , ada pelajaran yg bisa diambil , tata bahasanya sangat bagus ,saat membaca novel ini seolah olah kita menonton film barat romance di layar tv .
panjul man09
hanyut terbawa cerita ....lanjut
panjul man09
semoga achell mau membuka hatinya
shabiru Al
semangat up nya ya thor,, ntar senin ta kasih vote.. besok ta kasih bunga sampe abis tuh poin 😄🤭
panjul man09
jangan pernah mengingatnya lagi achell !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!