Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Yang Menyesakan
Seketika, keheningan ruangan sidang pecah. Semua pasang mata tertuju pada satu titik.
"Raisa Swandi, umur 35 tahun, beralamat di Jalan... " Suara hakim menggema, namun terasa begitu jauh dan samar di telinga Raisa.
"Sebelas tahun... sebelas tahun aku mengabdikan diriku untuknya, untuk keluarga ini. Apa semua itu tidak berarti apa-apa baginya? Apa cintaku tidak cukup untuk membuatnya bertahan?"
Hakim, dengan wajah tanpa ekspresi, membacakan putusan.
Tok... tok... tok...
Dengan langkah lunglai, Raisa meninggalkan ruangan sidang itu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menariknya ke bawah.
Tak jauh dari tempat itu, di sudut lorong, Raisa melihat Adam bersama Mbok Inah, pengasuhnya yang setia.
Wajah suram Adam, berubah ceria ketika melihat Raisa. Senyum polosnya adalah satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang melanda hati Raisa.
"Mamah..." Adam memanggil Raisa dengan suara riang, berlari kecil menghampirinya.
Raisa tersenyum getir, berusaha menyembunyikan kesedihan yang menggerogoti hatinya. Ia berjongkok, menyambut Adam dengan pelukan erat.
"Adam nunggu lama, ya?" tanya Raisa lembut, seraya menatap Adam dalam-dalam.
"Iya, Mamah lama banget. Adam bosan," celetuk Adam terbata-bata,
"Maaf, ya," sahut Raisa lirih, mencium pipi Adam dengan sayang.
Namun, seketika perhatian Adam teralih. Matanya tertuju pada Darma, ayahnya, yang baru saja melintas di hadapan mereka. Langkah Darma tampak tergesa, seolah ingin segera menjauh dari tempat ini.
"Ayah..." Nada suara Adam terdengar nyaring, memecah kesunyian lorong. Sontak, Darma menoleh ke arahnya.
"Adam..." Sahut Darma, tersenyum tipis menyambut kedatangan Adam. Kemudian, mereka saling berpelukan, Darma membelai rambut Adam dengan lembut.
"Adam baik-baik di rumah sama Mamah ya. Ayah kerja dulu," ucap Darma lembut, namun Raisa merasakan ada jarak yang tak terucapkan dalam kata-katanya.
Mata Darma kemudian menatap Raisa, tatapan yang dulu penuh cinta, kini hanya menyisakan kehampaan.
"Dulu, tatapan itu selalu membuatku merasa aman dan dicintai. Sekarang, yang kulihat hanyalah penyesalan dan keinginan untuk segera pergi."
"Nggak mau, Adam mau sama Ayah," sahut Adam, masih memeluk Darma dengan erat. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi, yang ia tahu hanyalah ia ingin selalu berada di dekat ayahnya.
"Iya, Sayang. Ayah kerja dulu, ya," Darma segera melepaskan dekapan Adam, dengan hati yang terasa berat.
"Tolong jaga Adam," ucap Darma tegas, menatap Raisa dengan nada dingin. "Aku akan rutin memberikan nafkah setiap bulannya."
Dan tak lama kemudian, sebuah suara memanggil Darma dari kejauhan.
"Darma!" Suara Mariana, ibu Darma, terdengar nyaring memanggil namanya. Darma menoleh ke arah Mariana, yang berdiri bersama adiknya, dengan tatapan tidak sabar.
"Iya, Mah," sahut Darma sambil bergegas beranjak mengikuti ibu dan adiknya dari arah belakang. Ia bahkan tidak menoleh lagi pada Adam, putranya yang sangat mencintainya.
Adam, yang melihat ayahnya pergi, seketika histeris.
"Ayah! Adam ikut!" Adam berteriak memanggil Darma, air mata mulai membasahi pipinya.
Namun, Darma tak menghiraukan Adam. Ia terus melenggang pergi menjauh, seolah tak mendengar teriakan putranya.
Saat itu, Adam hendak mengejar ayahnya, namun Raisa berhasil menghentikannya. Dengan sekuat tenaga, Raisa berusaha menahan Adam yang meronta-ronta.
"Tidak... Tidak... Adam mau ikut Ayah!" Teriak Adam, masih memukul Raisa dengan tangan kecilnya.
"Adam, nanti Ayah pulang," ucap Raisa pelan, mencoba menahan tangisnya.
"Maafkan mamah, Adam karena tidak bisa memberikanmu keluarga yang utuh. Maaf karena membuatmu merasakan sakit seperti ini."
"Mamah bohong! Adam mau ikut Ayah!" ungkap Adam sambil mengamuk, menendang-nendang kakinya ke udara.
Yang paling membuat hati Raisa hancur, Darma tak menghiraukan Adam, padahal suara teriakan Adam sangat keras. Ia terus berjalan menjauh, seolah tak ada ikatan batin antara dirinya dan putranya.
Mbok Inah, yang berdiri tak jauh dari tempat itu, segera menghampiri mereka, berusaha membantu untuk menenangkan Adam.
"Mas Adam tenang, ya," ucap Mbok Inah lembut, mengusap rambut Adam dengan sayang.
"Nggak!" sahut Adam masih meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Raisa.
"Yuk, pulang yuk," bujuk Raisa, mencoba mengalihkan perhatian Adam.
"Nggak!" teriak Adam lagi, kali ini diikuti dengan tendangan yang nyaris mengenai perut Raisa. Beruntung, Raisa sempat mengelak.
Dengan susah payah, mereka membawa Adam pergi dari tempat itu.
Dan akhirnya, usaha mereka tak sia-sia. Adam berhasil diamankan ke dalam mobil.
"Mas tenang, ya. Kasihan Mamah," ucap Mbok Inah sambil menangis.
Jeduk...
Jeduk...
Adam mulai membenturkan kepalanya ke kaca jendela. Raisa dan Mbok Inah saling bertukar pandang, mencoba untuk tidak panik.
"Mas Adam, Mbok Inah punya permen," ucap Mbok Inah lembut, sambil memperlihatkan sebuah permen lolipop berwarna-warni.
"Mas Adam mau?" tanya Mbok Inah lagi, dengan nada membujuk.
"Mau!" jawab Adam singkat, mengulurkan tangannya meraih permen itu.
Seketika, perhatian Adam pun teralihkan. Ia segera meraih permen lolipop itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Mbok Inah bisa menarik napas lega sekarang, begitupun Raisa. Ia bisa mengemudi dengan tenang, setidaknya untuk sementara waktu.
Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan tempat itu.
Walau sedang mengemudi, pikiran Raisa sering teralihkan. Kenangan-kenangan pahit kembali menghantuinya.
Sekelebat ingatan kembali muncul di kepalanya.
"Dari awal menikah mereka sering ribut, mereka tidak cocok. Dari awal saya sudah tidak setuju anak saya menikah dengan wanita itu," Ungkap Mariana di depan majelis hakim. Suara itu terus terngiang di kepala Raisa, menusuk-nusuk hatinya seperti pisau.
"Wanita itu... dia selalu menyebutku seperti itu. Seolah aku adalah orang asing yang tidak pantas berada di keluarganya."
Saat itu, Raisa benar-benar merasa seorang diri. Orang-orang yang dia pikir adalah keluarganya, malah tega menyerangnya, menghancurkan harga dirinya di depan umum.
"Kakak ipar saya orangnya dominan, keras, dan tidak menghormati ibu saya. Kakak saya sudah tidak tahan lagi dengan istrinya,"
Seketika, lamunan Raisa buyar ketika mendengar suara klakson yang memekakkan telinga.
Tin... Tin... Tin...
Sebuah mobil menyalip mobil Raisa dari arah dalam dengan kecepatan tinggi.
Cekitt...
Raisa menginjak rem mendadak saking kagetnya. Jantungnya berdebar kencang, ia terdiam sejenak mengatur napasnya untuk meredakan paniknya.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Mbok Inah panik, memegang erat tangan Adam.
"Nggak apa-apa," jawab Raisa lirih, sedikit menoleh sambil tersenyum mencoba membuat suasana lebih tenang.
Setelah dirasa lebih tenang, Raisa kembali melaju dengan mobilnya. Dan tak lama kemudian, mereka pun tiba di kediamannya.
Greeek...
Raisa membuka pagar rumahnya, dan memarkir mobil itu di garasi depan rumahnya.
Raisa segera membantu Mbok Inah menuntun Adam keluar dari mobil.
"Adam ngantuk, mau bobo," Tiba-tiba saja Adam berceloteh, Dia tampak kelelahan sambil sesekali menguap.
"Iya, sayang. Tunggu, ya," sahut Raisa sambil membuka kunci rumahnya. Adam pun menunggu dengan sabar sampai akhirnya pintu itu terbuka.
"Mas Adam mandi dulu, ya," ucap Mbok Inah lembut, mencoba membujuk Adam.
"Nggak mau, Adam mau bobo," sahut Adam, dia langsung saja bergegas masuk ke dalam rumah, mencari kamarnya.
Raisa tersenyum ke arah Mbok Inah yang nampak ingin menegur Adam.
"Biarin aja, Mbok. Adam capek," ucap Raisa masih tersenyum kearah Mbok Inah.
"Tapi, Bu, Adam belum cuci tangan dan kaki," sahut Mbok Inah sedikit gelisah, merasa tidak enak hati pada Raisa.
"Sudah nggak apa-apa, Mbok Nah juga istirahat sana," kata Raisa lagi, mencoba meyakinkan Mbok Inah.
Namun, Mbok Inah tiba-tiba menunduk, tak lama kemudian dia menatap Raisa, mata Mbok Inah berkaca-kaca dan sekarang dia menangis.
"Lho, kenapa, Mbok? Kok nangis?" Raisa sedikit kaget melihat hal itu. Ia tak menyangka, Mbok Inah yang selalu ceria, kini menangis di hadapannya.
"Bu, Mbok sedih melihat Ibu sama Mas Adam," ucap Mbok Inah pelan, kemudian dia menunduk lagi, menyembunyikan air matanya. Raisa langsung memeluk Mbok Inah yang sudah Raisa anggap seperti keluarganya sendiri.
"Kita baik-baik aja, Mbok Nah," ucap Raisa pelan, seraya menatap Mbok Inah dengan senyum tulus.
"Mbok Inah adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli padaku dan Adam. Dia adalah malaikat penolong yang selalu ada di saat-saat sulit."
"Bapak kok tega ya, Bu," Mbok Inah kali ini menangis lebih lepas, membiarkan air matanya mengalir deras. Raisa pun menepuk bahu Mbok Inah dengan lembut, mencoba menenangkannya.
"Sudah nasib saya sama Adam, Mbok," ucap Raisa masih tersenyum, meski hatinya terasa sangat sakit.
"Ibu yang sabar, ya," ucap Mbok Inah masih terisak, memeluk Raisa erat.
"Bu, saya pamit masuk, ya," ucap Mbok Inah lagi, seraya beranjak pergi meninggalkan Raisa, menuju kamarnya.
Setelah itu, Raisa pun memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Ia merasa sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mental.
Setelah mandi, ia segera berbaring di atas tempat tidurnya yang terasa dingin dan kosong.